PPIA-VOA Fellowship, atau Kenapa Saya Bisa Adegan Telenovela Di Restoran
“Tak ada salahnya kembali mencoba.”
Itulah yang ada di pikiran saya ketika mendaftar fellowship ini untuk kedua kalinya. Tahun 2017 adalah kesempatan terakhir saya, karena saya sudah jadi jurnalis tiga tahun. Seminggu sebelum tenggat, saya membuka formulir saya tahun sebelumnya dan mencoba merevisinya di sana-sini. Pekan itu sangat padat namun saya memaksakan diri untuk pulang ke kosan lebih awal untuk riset dan menulis aplikasi. Malam itu saya ditemani dua cangkir kopi! Tic-tic-pomp! Email sent!
Tak ada kabar dari VOA sampai saya sendiri lupa. Saya mendaftar pelatihan lain, ikut lomba menulis esai, sibuk di komunitas. Mungkin sebaiknya saya mencari beasiswa S2 tahun ini. Saya sudah mendaftar tes IELTS. Googling universitas terkemuka. Daftar Australia Awards.
Saya tidak mau benar-benar memikirkan fellowship ini sampai tiba-tiba, awal Maret, saya ditelepon untuk wawancara pertama. Seterusnya dan seterusnya hingga Selasa 15 Maret, siang hari di tengah-tengah pelatihan, iPhonesaya berdering. Nomor itu tanpa nama, saya belum menyimpannya, namun demikian saya hapal betul itu VOA Biro Jakarta. Lalu jantung saya seperti berhenti dan memberi jeda.
“Hi Rio, this is Barbara.”
Ya ampun! Apakah ini berarti saya dapat fellowship-nya? Saya keluar ruangan dan mencari tempat sepi.
“One last question, what kind of food do you like?”
Saya bukan tidak mendengarnya tapi saya kok nggak yakin dia menanyakan makanan favorit saya.
Saya takut ini adalah kokologi–tes psikologi yang dikembangkan di Jepang–dan sebenarnya pertanyaan Barbara adalah untuk mengetes saya. Maka saya menjawab klise dan diplomatis. “I am open to any kind of food.”
“Well I hope you like fast food because we will bring you to the country where it begins.”
“Mmmm...?” saya menggumam dengan keraguan. RAM otak saya tidak cukup untuk menerka maksudnya.
Barbara nampaknya menangkap kelemotan saya sehingga harus mengejawantahkan kalimatnya. “OK, Rio, to make this clear: We select you as the fellow this year.”
Adegan selanjutnya adalah telenovela! Saya mengucapkan ‘Oh MyGod’ sepertinya sampai 20 kali. (Pasang kamera zoom in! zoom in! zoom in!) Lalu saya menyandar di dinding, berpegangan, lemas... (Ini adalah bagian ketika tokoh utama pingsan)
“I didn’t fail, it just needed extra time to accomplish.”
Proses dari Maret sampai Mei terasa begitu padat dan cepat. Mulai dari urusan visa, administrasi di KBR, membereskan kosan di Cikini, juga giveaway puluhan barang. Semua terasa tidak nyata sampai saya benar-benar duduk di @america untuk konferensi pers. Orangtua saya, yang tinggal di Bandung dan selama tiga tahun tak pernah mengunjungi anaknya di Jakarta, akhirnya datang ketika saya akan pergi.
Besoknya, saya dan keluarga ke Bogor untuk bertemu keluarga besar. Dari situ, kami berangkat ke Bandara Soekarno Hatta. Car is parked, bags are packed, but what kind of heart doesn’t look back? Momen ini terasa begitu nostaljik dan juga intim. Namun saya menetapkan hati: adegan telenovela tidak boleh terulang di sini. (Ini adalah bagian ketika, seperti telenovela, tulisan ini bersambung)
(Gambar 1: Selain orangtua, tiga teman datang Konferensi pers PPIA-VOA Fellowship di Jakarta)
(Gambar 2: Orangtua saya begitu semangat namun juga merasa berat.)
*Telepon dari Barbara selalu jadi kisah di tulisan pertama blog para fellow. Saya berusaha tidak mainstream dengan tidak mengikuti fellow-fellow sebelumnya, namun saya gagal! Telepon dari Barbara adalah bagian tak terpisahkan dan segar untuk diceritakan.