‘hidden curriculum’
Terbiasa mengajar di tempat bimbel nyatanya engga menjamin bisa luwes mengajar di sekolah. Yes, that’s what I feel now. Semuanya berbeda. Lalu aku jadi semakin salut dengan guru guru favorit waktu sekolah dulu, yang sampai saat ini masi terngiang bagaimana beliau beliau mengajar sekaligus mendidik di kelas. Sejauh ini, banyak pelajaran yang bisa diambil, yang engga bisa aku dapat di magang pekerjaan lain.
Menjadi semakin hati hati lagi saat bicara dan bersikap. Ketika segala apa yang diucapkan di depan kelas benar benar diserap oleh mereka, tanpa koreksi. Bagaimana mungkin, jawaban ulangan yang ditulis ternyata mirip betul dengan apa yang kusampaikan di pertemuan sebelumnya, sama persis. Ya walaupun tida semua murid seperti itu. Padahal mereka bisa saja mengikuti kata kata yang tercetak di buku, atau mungkin uraian jawaban yang disusun dengan kalimat sendiri, yang bisa membantuku mengetahui apa yang ada di kepala mereka. Apakah sudah paham atau belum, bagaimana jalan pikiran mereka.
Itu baru jawaban materi pelajaran. Lalu bagaimana dengan sikap, mungkin selama ini diam-diam mereka pun meniru segala tindak yang dilihat, bagaimana cara kita mengambil keputusan, dan hal hal lain yang terkadang dianggap remeh, yang luput dari perhatian. Kemudian tertanam begitu saja dalam keseharian.
mungkin ini yang disebut dengan hidden curriculum














