Pengaruh jadwal posting terhadap banyaknya like di ig~
Mungkin perlu diteliti 😂😂
seen from Slovakia
seen from Tanzania
seen from United States
seen from Palestinian Territories

seen from Switzerland
seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands
seen from China

seen from Netherlands

seen from United States

seen from Switzerland
seen from China

seen from United States

seen from Nigeria

seen from Norway

seen from United States

seen from Brazil
seen from Israel

seen from United States
Pengaruh jadwal posting terhadap banyaknya like di ig~
Mungkin perlu diteliti 😂😂
Chapter 14 [end] - Accounting for Changing Prices and Inflation
Berikut ini adalah #catatankuliah terakhir tentang teori akuntansi yaitu Chapter 14 yang saya dapatkan di kelas Pak Zaki pada tanggal 8 Desember 2015. Semoga bisa membantu saya dan kalian yang mau ujian :’D
Akuntansi untuk perubahan harga dan inflasi. Berarti ada 2 pengertian. Jika kita melihat laporan BPS, inflasi sekian persen, inflasi sekian persen artinya adalah telah terjadi perubahan harga umum. Tapi kalau kita ke toko, kalau kita ke pabrik, kalau kita mau beli sesuatu, belum tentu yang mau kita beli itu naiknya sama seperti inflasi. Jadi misalnya kita mau beli sepatu, inflasi dikatakan 5%, tahun lalu harga sepatunya 100ribu, 5% harapannya jadi 105 ribu. Tapi bisa harganya dibawah 105 dan diatas 105, belum tentu sama dengan 105. Ini yang disebut dengan changing prices. Kita pakai istilah perubahan harga umum untuk inflasi, perubahan harga khusus untuk jenis barang-barang tertentu yang belum tentu perubahannya sama dengan inflasi.
Jadi, karena ada dua jenis perubahan harga, akuntansi mencoba meresponnya dengan dua jenis. Jadi kita lihat dulu akuntansi kita selama ini kan memakai historical cost, baru belakangan kita berubah memakai fair value. Dulunya historical cost terus. Kalau kita pakai historical cost, sedangkan asumsinya historical cost itu adalah monetary unitnya stabil, begitu monetary unitnya tidak stabil (ada perubahan harga) maka asumsi kita sudah tidak terpenuhi. Misalnya kita mau membuat bangunan 10 tingkat, asumsi kita tanahnya keras. Begitu kita mengasumsi tanahnya keras, kita merancang fondasinya. Tapi begitu mau mudah membangun, di tes, ternyata tanahnya tidak keras, kalau begitu ini asumsinya salah. Kalau asumsinya salah, model bangunan kita dengan fondasi yang kita rancang jadi salah. Kalau kita nekat membangun dengan fondasi yang salah, bisa bisa bangunannya ambruk, paling tidak miring. Ini berarti asumsinya tidak terpenuhi, tapi modelnya tetap dipakai. Itulah yang kita alami selama ini bahwa asumsi mata uang stabil itu tidak terpenuhi tapi kita nekat pakai historical cost.
Baru belakangan kita sadar, kalau begitu jangan pakai historical cost, kita pakai fair value. Ada usaha di negara-negara tertentu kalo perubahan harga umumnya (inflasinya) besar mereka menyebutnya hyperinflationary economy (ekonominya inflasi tinggi). Kalau sudah seperti itu mereka mencoba memperbaiki historical cost. Tidak semua negara melakukan, ada beberapa negara yang melakukan. Misalnya, jaman dulu Jerman pernah mengalami inflasi tinggi. Coba bayangkan pagi ini harga 1000, siang 1100, sore nanti 1200, besok 1500, terus gimana ? Bingung kalo setiap hari harga berubah begitu. Akhirnya mereka mengatakan mari harga itu disetarakan dengan jumlah emas. Jadi misalnya harga emas 1 gram itu 1000, kita beli barang 1000 rupiah, maka dicatatnya barang kita 1 gram. Tidak pakai uang, tapi pakai emas. Nanti akhir tahun pas buat laporan keuangan, emasnya dirupiahkan pakai harga pada hari itu. Ini mengatasi harga yang berubah terus. Itu pernah terjadi.
Ada masalah inflasi yang berdampak pada akuntansi. Harga yang kita catat hari ini, berikutnya sudah tidak cocok lagi. Terus kita mau lapor, kita beli gedung harganya 1 M, dalam setahun inflasinya misalnya hyper 200%, berarti akhir tahun kalo dibeli gedung ini harga 3 M, misalnya. Terus kita lapor di neraca pakai historical cost, 1 M. Total assetnya terlalu rendah, rasio-rasio keuangannya salah semua. Labanya berapa terus dibagi dengan total asset ketemu return on asset (ROA), ROAnya besar karena asetnya kecil. Manajemennya kita anggap baik. Artinya manajemen itu tidak bisa kita ambil untuk mengambil keputusan. Bahasanya teori, informasinya tidak relevan. Yang paling bermasalah adalah relevansi. Reliability tidak terlalu terganggu, karena bukti belinya ada, bukti penerimaan barangnya ada, bukti yang lain ada semua, pencatatannya ada semua, ngitungnya bener semua, reliabilitynya terpenuhi. Faithful representationnya terpenuhi. Yang tidak terpenuhi itu relevansi.
Lalu apa gunanya laporan keuangan yang informasinya tidak relevan. Tujuan menyajikan laporan keuangan itu menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan. Artinya kita menyajikan informasi yang relevan. Kalau kita menyajikan informasi yang tidak relevan, untuk apa disajikan. Itu masalahnya.
Terpikirkan oleh profesi kalo inflasinya itu kecil gapapalah. 100 dan 105 ribu itu tidak terlalu signifikan bedanya. Mungkin materialitas kita masih meng-ok-kan itu. Jadi kalau begitu masih relevan. Inflasi yang kecil mengganggu relevansi tapi mengganggunya kecil. Keputusannya masih bisa dijalankan. Kalau begitu ok.
Inflasi yang besar, keputusannya menjadi terganggu karena informasinya menjadi tidak relevan. Monetary unitnya sudah berubah nilai, tapi akuntansinya masih tetap pakai historical cost. Tidak bisa, tidak berguna informasinya. Harus disesuaikan supaya mendekati harga sekarang. Akuntansi memilih dua cara, yaitu menyesuaikan historical cost atau mengganti historical cost dengan fair value. Yang pertama, Meng-adjust historical cost ini ada dua cara, yaitu : Perubahan harga umum untuk inflasi dan Perubahan harga khusus untuk perubahan harga barang-barang tertentu saja. Yang kedua, Historical costnya dibuang, diganti dengan fair value. Dulu sebelum historical cost kita buang, kita meng-adjust historical cost. Supaya apa ? Supaya informasinya relevan. Supaya berguna untuk pengambilan keputusan. Jadi intinya itu.
1. Meng-Adjust Historical Cost
Kalo kita masih tetap pakai historical cost, inflasinya besar, kemudian kita mau mengubah historical costnya supaya berguna, ada 2 metode, yaitu :
a. Untuk yang inflasi, nama metodenya General Price Level Accounting
General Price Level Accounting ini adalah akuntansi tingkat harga umum atau nama lainnya General Purchasing Power Accounting (Akuntansi Daya Beli Umum). Dua nama ini dipakai untuk inflasi yaitu perubahan harga umum, karena kata-kata di depannya general (umum). Kemudian FASB melalui SFAS No. 33 mengganti namanya menjadi Constant Dollar Accounting. Apa ini ? Yaitu kalau dollarnya dianggap konstan. Sama dengan dua nama sebelumnya. Jadi ada 3 nama akuntansi untuk inflasi, metodenya sama.
b. Untuk perubahan harga khusus, metodenya adalah Current Cost Accounting atau ada yang menyebutnya dengan Replacement Cost Accounting.
Melakukan akuntansi untuk perubahan harga ini, kita harus mengubah cara mengklasifikasi aset, hutang, biaya, pendapatan. Caranya tidak lagi current asset, non current asset. Tapi kita harus bisa memisahkan menjadi monetary dan non monetary, baik itu asset maupun liability.
monetary, asset atau liability, yaitu yang akan jadi uang atau akan memerlukan pembayaran pakai uang, yang jumlahnya pasti. Contoh : kas, piutang, surat berharga obligasi, hutang dagang, hutang obligasi, hutang pajak
non monetary, asset atau liability, yaitu yang akan jadi uang atau akan memerlukan pembayaran pakai uang yang jumlahnya belum pasti. Contoh : surat berharga saham, persediaan, pendapatan diterima dimuka.
Jadi kita klasifikasikan asset dan liability tadi ke dalam moneter dan non moneter. Lalu yang moneter dikumpulkan jadi satu, yang non moneter dikumpulkan jadi satu. Daftar klasifikasi asset dan liability yang moneter dan yang non moneter ada di lampiran SFAS No. 33 yang diterbitkan oleh FASB. Jadi neraca perusahaan itu kalo mau dibuat akuntansi inflasi harus diubah dulu menjadi monetary dan non monetary.
Purchacing Power Gains and Losses
Uang yang kita simpan 4 bulan yang lalu, kita pakai hari ini, nilai uangnya sudah berkurang, karena ada inflasi. Berarti kita akan kehilangan purchasing power (daya beli). Uang kita berkurang sebesar inflasi. Kalo 4 bulan lalu bisa untuk makan 3 kali, sekarang hanya cukup untuk 2,5 kali, kalo 3 kali ga cukup, harus ditambahi. Daya beli uang kita turun. Ini namanya purchasing power losses (rugi daya beli). Daya belinya berkurang, nominalnya tidak berkurang.
Sebaliknya, kalau kita dipinjami uang, kita minjam 100 juta, 2 tahun lagi hutangnya kita lunasi. Lebih bernilai uang yang kita terima atau uang yang kita bayarkan ? lebih bernilai uang yang kita terima. Uang yang kita bayarkan nanti nilainya sudah turun. Berarti kalau kita punya hutang, kita mendapatkan purchasing power gains (laba daya beli). Kalau kita punya piutang, kita mendapatkan rugi daya beli.
Kalo utang tadi kita pakai untuk mewakili hutang moneter, piutang tadi kita pakai untuk mewakili aset moneter. Berarti kalo ada inflasi, punya aset moneter, kita akan kena rugi daya beli (purchasing power losses). Kalo ada inflasi, kita punya hutang moneter, kita akan mengalami laba daya beli (purchasing power gains).
Jadi cara menghitung laba rugi daya beli, kita bandingkan monetary dengan non monetary. Kalo monetary asset lebih besar daripada monetary liability, dalam keadaan inflasi kita rugi daya beli. Sebaliknya, kalo monetary asset lebih kecil daripada monetary liability, dalam keadaan inflasi kita laba daya beli. Deflasi sebaliknya. Kalo deflasi, lebih banyak punya aset moneter, lebih laba. Jadi, kalo kita pakai perhitungan yang moneter, kita nanti menghitung tabel rugi daya beli, tergantung jumlah aset moneter dibandingkan dengan hutang moneter.
Holding Gains and Losses
Untuk yang non moneter, kita tidak akan melihat daya belinya. Tapi kita akan menghitung perubahan harga khususnya. Kalo harga khususnya itu naik, kita punya laba. Kalo harga khususnya itu turun, kita rugi. Laba ruginya disebut holding gain atau holding loss. Contoh, kita beli tanah sekarang harganya 100 juta, perubahan harga khusus tanah tahun depan harganya menjadi 120 juta. Berarti karena kita memiliki tanah, kita memiliki laba 20 juta, 20 juta itu namanya holding gains. Sebaliknya kalo setelah kita beli harga tanahnya jadi turun berarti kita mengalami holding loss. Umumnya untuk non monetary asset jarang terjadi holding loss. Seringnya holding gains, tapi tidak menutup kemungkinan ada holding loss.
Masalah lainnya, akuntansi itu kalo mengakui laba harus realized. Pada waktu kita bicara revenue, itu ada realisasi. Realisasi itu berubahnya suatu aset menjadi aset yang lebih lancar. Jadi kalo kita punya inventory, kita jual menjadi piutang atau berubah menjadi kas, berarti terjadi realisasi, kita bisa mengakui revenue. Kalo kita bisa mengajui revenue, kita bisa me-match biaya ke revenue, kita bisa menghitung besarnya laba atau rugi. Kalo revenuenya belum direalisasi, tidak boleh menghitung laba atau rugi di akuntansi konvensional. Kita mengakui revenue dalam 4 situasi, 4 situasi itu dasarnya realisasi, critical eventnya terjadi.
Sekarang yang namanya holding gain ini kan belum dijual, harganya belum naik, berarti sebetulnya unrealized (belum direalisasi). Makanya kalo kita pakai metode ini, di dalam laporan keuangan kita ada holding gains-nya yang belum dijual harus dituliskan unrealized. Yang sudah dijual itu sudah langsung menjadi laba. Kalo kita pakai comprehensive income, unrealized gain itu masuk dalam perhitungan comprehensive income.
Satu lagi masalah yang kita hadapi disini adalah kalo kita punya tanah 1000, sekarang harga tanah menjadi 1200, holding gain kita 200. Kalo inflasinya satu tahun itu 5%, maka 200 ini bisa kita bagi menjadi 2, yaitu karena inflasi dan karena memiliki. Karena inflasi berarti 50, dan selisihnya sebesar 150. Yang 50 disebut monetary holding gains. Yang 150 disebut real holding gains. Total hoding gains tetap 200.
SFAS No. 33
Di Amerika, mereka menerbitkan SFAS 33 tentang akuntansi inflasi dengan persyaratan tertentu. Persyaratannya itu supaya hanya berlaku untuk perusahaan besar. Aktiva lancar, persediaan, lebih dari 125 juta dollar, total asset lebih dari 1 M dollar. Kalo perusahaannya seperti itu wajib menerapkan SFAS No.33.
SFAS no. 33 itu minta laporan keuangan menghitung 3 laba, yaitu :
historical cost
purchasing power
holding gains atau loss yang disebut dengan current cost
SFAS No. 82
SFAS 82 ini membuat ketentuan pada akhir tahun 1984 dengan mengeliminasi pengungkapan income pada constant dollar accounting seperti yang disyaratkan pada SFAS No.33 karena terdapat informasi yang overload dan dapat membingungkan pengguna.
SFAS No. 89
Current cost accounting dan replacement cost accounting jadi tidak wajib. Kembali ke historical cost.
Current Cost dan Replacement Cost
Historical cost itu harga yang dibayar pada waktu membeli yaitu pada waktu aset itu masuk ke dalam perusahaan, makanya disebut entry value (nilai masukan). Entry value pada waktu aset itu dibeli namanya historical cost. Sekarang ada namanya current cost atau replacement cost, yaitu cost sekarang, bukan cost waktu dulu beli. Artinya kalo saya beli sekarang costnya berapa, itulah yang disebut current cost atau disebut dengan replacement cost. Itu tetap entry value, kalau asetnya masuk sekarang berapa yang harus dibayar harganya. Itu yang disebut juga entry value. Jadi historical cost, current cost, replacement cost itu semuanya adalah entry value yaitu pada waktu aset itu masuk ke dalam perusahaan. Jadi, akuntansi inflasi kita yang lalu, kalau tidak memakai indeks, kita memakai entry value. Entry valuenya itu current cost atau replacement cost.
Deprival Value
Ini ada konsep baru, deprival value adalah pengukuran current atau fair value. Cara menghitungnya, hitung dulu net realizable value (exit value). Kalo barang itu kita jual laku berapa, itu namanya net realizable value atau disebut dengan exit value. Bandingkan dengan present value of future cash flow dari aset itu. Kita punya aset ini, kita akan punya cash flow, hitung present valuenya, bandingkan net realizable tadi dengan present value itu pilih yang lebih tinggi antara net realizable value dengan present value of future cash flow. Pilih angka yang lebih tinggi terus bandingkan dengan replacement costnya. Kita pilih yang lebih rendah. Yang lebih rendah itulah deprival value.
Contoh, kita punya mobil, kalo mobilnya dijual berarti kita punya uang namanya net realizable value (exit price) atau harga jual. Misalnya harga jual mobilnya itu 100 juta, itu exit pricenya, terus kalo mobilnya dipakai cash flow dari mobil itu berapa. Kita harus hitung. Misalnya disewakan, kita terima berapa. Misalnya 5 tahun kedepan. Mobil itu kalo disewakan 5 juta sebulan, berarti setahun 60 juta, kedepan 5 tahun berarti 300 juta. Lalu kita present valuekan dengan tingkat diskonto yang berlaku di pasar. Ketemu angka present value dari future cash flow mobil kita. Kita bandingkan harga jual dengan present value cash flownya. Kita pilih yang lebih tinggi. Kalo dijual 100, kalo disewakan present valuenya 120, pilih 120. Sekarang bandingkan dengan replacement cost. Kalo kita beli mobil itu sekarang berapa harganya. Misalnya kita bisa beli mobil itu dengan harga 90. Deprival value adal ah mana yang lebih rendah antara 120 dengan 90. Pilih yang paling rendah. Kenapa ? Kalo kita beli 90, nilai aset kita 90. Kalo dijual 100, kalo di present valuekan 120, kalo kita beli 90, dipakai yang rendah. Kenapa ? Ini konservatism, tapi menghitung 100 dan 120 juga belum tentu benar. Yang lebih rendah yang dipilih itulah deprival value. Ini tapi tidak dipakai di standar akuntansi. Hanya digunakan untuk analisis.
2. Mengganti Historical Cost dengan Fair Value
Historical cost itu harga belinya dulu, replacement cost itu harga belinya sekarang. Fair value itu exit price, kalau dijual hari ini berapa. Terjadilah perbedaan antara yang dulu. Yang dulu itu historical cost, replacement cost, general purchasing power accounting semuanya berbasis entry value. Fair value berbasis pada exit value.
Dalam SFAC No. 5 ada lima atribut pengukuran, yaitu :
historical cost
replacement cost
exit price atau net realizable value
liquidition value
present value of future cash flow.
Berarti sbetulnya ada 5 atribut. Atribut yang dulu kita pakai historical cost, pernah juga kita pakai replacement cost. Sekarang kita mau berubah menjadi fair value. Kalo dulu semuanya entry price serang kita mau berubah ke exit price. Masih dalam satu kerangka pemikiran SFAC No. 5.
Kalo kita pakai fair value, berarti kita sudah memasukkan akuntansi inflasi dalam akuntansi. Nilai yang berubah, harga yang berubah, itu sudah termasuk di dalamnya perubahan karena inflasi. jadi yang diceritakan tadi itu sudah tidak ada lagi kalo kita memakai fair value. Kalo masih pakai historical cost itu masih berlaku.
Tadi di awal disebutkan ada 2 cara meng-adjust historical cost, atau yang kedua mengganti historical cost dengan fair value. Ini yang akan dibahas. Berarti mencantumkan aset di neraca itu melihat harga jualnya sekarang, bukan harga belinya. Berarti sekarang sudah berubah. Kalo dulu aset itu adalah jumlah uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul untuk memperoleh suatu aset. Kalo sekarang dibalik, jumlah uang yang diterima atau uang yang timbul dari aset. Kalo dulu entry value, sekarang exit value.
Dari standar akuntansi di dunia ini ternyata bukan IASB yang paling maju, ternyata yang paling maju tetap FASB. Amerika walaupun belum sepenuhnya menerima fair value tapi sudah menerbitkan SFAS No. 157 dan itu menjadi pedoman bagi IASB juga untuk menerbitkan standar akuntansi mengenai fair value.
Jadi, dipakai beberapa pendekatan teknik penilaian, yaitu :
1. Market approach
Penentuan harga jual untuk asset dan liability yang identik (sama persis) atau paling tidak yang sebanding. Misalnya, kita punya mobil, mau kita jual, kita liat mobil yang mirip mobil kita, tahunnya sama, mereknya sama, kondisinya sama, tapi buka mobil saya, hanya mirip (similar). Lalu tanya berapa harga jualnya. Itu berarti menilainya dengan harga pasar untuk produk yang similar.
2. Income approach
Kalau tidak ada yang identik di pasar, tidak ada yang similar di pasar, kita bisa pakai pendekatan income. Income approach yaitu cash flow atau laba di masa yang akan datang didiskontokan untuk mengira-ngira harga jual. Misalnya, buat gedung untuk kost-kostan. Aset terdiri dari kamar dan gedung. Ada 100 kamar kost. Setiap kamar sebulan 1 juta rupiah. Berarti 100 juta rupiah, dikurangi biaya macem-macem misalnya 40 juta, tinggal 60 juta. Berarti cash flow 60 juta. Gedungnya di present value-kan. Kalau lebih rendah tidak dijual. Tidak ada pasarnya. Untuk itu kita perlu menaksir harga jualnya pakai present value. Laba atau present value cash flow. Itulah nanti fair value yang menggunakan income approach.
3. Cost approach
Cost approach yaitu menggunakan current cost untuk mengganti kapasitas jasa aset itu. Kalo kita belinya sekarang berapa.
Jadi penentuan penilaian fair value tekniknya ada 3, market, income, cost. Kalo kita pakai market approach, hirarki penentuan fair value ada 3 level :
Level 1 : Yaitu harga yang dicantumkan di bursa (quoted price) dalam pasar aktif untuk aset atau utang yang identik. Contoh, kita punya saham PT Astra, sudah kita beli beberapa waktu sebelumnya, kalo kita mau cantumin di neraca, kita menggunakan harga saham Astra penutupannya di bursa. Karena Astra dengan Astra yang dibursa itu identik dan kita menggunakan quoted price. Ini penentuan fair value yang terbaik.
Level 2 : kalau tidak ada level 1, tidak ada yang identik di pasarnya, yang ada itu similar, kita menggunakan level 2 ini. Level 2 menunjukkan harga quoted price untuk harga aset dan hutang yang mirip di pasar aktif. Contoh, ada dealer jual beli mobil bekas, bisa cek harga jualnya disana. Level ketepatannya dibawah level 1
Level 3 : input yang berasal dari situasi dimana pasar aktifnya itu kecil. Marketnya ga ada, inputnya jadinya unobservable. Oleh karena itu, informasi yang berasal dari input yang tidak diobservasi harus didasarkan pada informasi terbaik yang tersedia. Informasi terbaik yang tersedia itu mencakup juga asumsi yang dibuat oleh perusahaan yang melaporkan itu tentang bagaimana pasarnya menentukan harga. Masalah comparability dan reliability menjadi sangat penting di dalam level 3 ini. Cara menentukan fair value di level ini ditaksir oleh appraiser.
Inilah masalahnya fair value. Kalo kita punya neraca, neraca kita itu kita beri catatan fair valuenya itu pakai level. Level 1 nya berapa rupiah, level 2 nya berapa rupiah, level 3 nya berapa rupiah. Kalo proporsi rupiah level 3 nya tinggi berarti sebetulnya kita punya masalah dengan fair value. Tapi kalo level 1 yang proporsinya besar sekali, bagus tidak ada masalah. Fair value itu tidak mengatasi semua masalah, lebih relevan iya, tapi ada masalah baru yang muncul, tergantung level berapa yang dipakai.
Dengan berakhirnya chapter ini maka berakhir pulalah #catatankuliahTA ini..
Sesungguhnya seluruh catatan ini dibuat untuk memudahkan saya belajar dan memahami pelajaran serta memudahkan saya dalam menjawab soal ujian. Semoga catatan ini bermanfaat juga untuk orang lain yang menemukan catatan ini.
Semoga diberi kekuatan ingatan dan pemahaman untuk menjawab soal ujian..
Mohon maaf lahir batin.. mohon doanya :’)
Sekian.
Yogyakarta, 14 Desember 2015 | 01.12 am | annisafithria
Chapter 13 - Statement of Cash Flow
Berikut ini adalah #catatankuliah teori akuntansi Chapter 13 yang saya dapatkan di kelas Pak Zaki pada tanggal 1 Desember 2015. Semoga bisa membantu saya dan kalian yang mau ujian :’D
Yang disebut cash flow statement itu menggunakan cash basis, sedangkan accounting itu menggunakan accrual basis. Kalau kita melihat satu set laporan keuangan sekarang itu ada :
Neraca
Laporan laba rugi
Laporan arus kas
Laporan perubahan ekuitas.
Laporan 1,2, dan 4 itu akrual, yang nomor 3 cash flow statement itu cash basis.
Ceritanya jaman dulu mulainya akuntansi itu cash basis, kemudian berkembang kita menggunakan accrual basis. Mulai tahun 60an, sebagian orang yang termasuk dalam kelompok manajer keuangan menyatakan mereka butuh informasi arus kas untuk kebutuhan keputusan keuangan, jadi tidak untuk informasi laba rugi. Misalnya begini, kita mau mengganti mesin laba dengan mesin baru, kita harus tau berapa uang yang harus dibayar dan berapa uang yang tersedia, atau perlu meminjam uang, atau perlu menerbitkan saham baru, itu semua urusannya urusan keputusan keuangan, itu tidak ada accountingnya. Semuanya urusan kas.
The Statement of Changes in Financial Position
Informasi mengenai arus kas tidak ada dulu, yang ada The Statement of Changes in Financial Position (SCFP). Sebelum itu, fund flow statement. Jadi pelaporannya arus kas itu melalui 3 kali perubahan bentuk :
1. Funds Flow Statement (Laporan Arus Dana)
Menunjukkan modal kerja pada waktu kita mendifinisikan modal kerja sebagai gross working capital. Jadi dulu definisinya adalah modal kerja itu gross. Modal kerja yang gross itu sama dengan current asset. Jadi kalau begitu kalau mau tau jumlah working capital lihat aja current assetnya. Tapi orang bilang current asset itu masih harus dipakai untuk membayar current liability, yang bisa dipakai harusnya sesudah dikurangi current liability. Kalau begitu konsepnya berubah. Yang working capital itu dari gross berubah menjadi net. Cara menghitung net working capital = current asset – current liability. Kalau pada waktu kita menggunakan konsepnya working capital itu yang gross, laporan yang dibuat adalah funds flow statement. Bagi direktur keuangan, fund flow statement tidak terlalu bermanfaat. Yang mereka tuntut adalah cash flow, tapi yang diberikan adalah aktiva lancar. Ada kas, ada surat berharga, ada piutang, ga terlalu berguna untuk pengambilan keputusan keuangan. Karena pengambilan keputusan keuangan adalah uang. Mereka tetap menuntut terus.
2. The Statement of Changes in Financial Position (SCFP)
Setelah konsep working capitalnya berubah menjadi net, laporan keuangannya juga kita ubah. Kita tidak fund flow lagi karena sudah net. Kita membuat The Statement of Changes in Financial Position (SCFP). Ada sources of resources, ada uses of resources, ada logika debit kredit yang berbeda dengan double entry. Buat direktur keuangan sama aja ga ada gunanya karena yang dia tuntut cuma kas. SCFP ini membingungkan karena sources dan usesnya ini kebalikan dari debit kredit kita.
3. Statement of Cash Flow (SCF)
Lalu keluar standar penyusunan cash flow. Nyusun cash flow jadi lebih mudah sekarang. Direktur keuangannya senang karena laporan arus kas nya sudah ada. Contoh logikanya kita punya uang di dompet, tanggal 1 januari isinya berapa ditulis, tahun ini kita nerima uang berapa ditulis, tahun ini kita ngeluarkan uang berapa ditulis, saldo akhir cashnya akan terlihat disitu. Itu laporan cash flow, cuma masih kasar. Supaya halus, dibagi menjadi 3 kelompok. Penerimaan dan pengeluarannya dibagi untuk operasi, untuk investasi, dan untuk pendanaan. Tidak ada estimasi, taksiran umur ekonomi, kemungkinan dibayar atau tidak, itu tidak ada semuanya, yang ada uang masuk dan uang keluar. Sangat sederhana.
Kalau kita sebagai direktur keuangan, ini sangat berguna. Kita jadi tau berapa uang akan kita terima. Kalau kita menyiapkan cash flow statementnya bulanan, bulan ini kita akan punya uang berapa (kalau prediksi kita buat). Kita butuh uang, tapi tidak cukup, kita harus meminjam berapa ke bank, kita harus jual saham berapa. Kita kelebihan uang, uangnya mau dipakai buat apa, buat beli apa. Keputusan manajer keuangan sangat terbantu dengan cash flow.
Di Amerika itu ada disebut Financial executive Institute (FEI), lalu mereka berubah nama menjadi Financial Executive, anggotanya direktur keuangan dan manajer keuangan. Ini kelompok yang paling kuat dituntut dibuatkan laporan arus kas. Sudah lama tuntutannya, tapi dipikirin orang akuntansi kita kan accrual basis, tapi kita diminta membuat cash basis, itu baru tahun 1978 diterima logikanya masuk dalam SFAC No. 1, yaitu tujuan laporan keuangan ada 3, yang nomor 2 itu menyediakan informasi cash flow. Itu konsepnya. Standarnya dari tahun 1978 ke tahun 1987, 9 tahun, baru keluar SFAS No. 95 mewajibkan perusahaan menyusun laporan arus kas. SFAS itu lembaganya FASB.
Sponsoring organization untuk FASB ada 8, salah satunya Financial Executive. Jadi Financial Executive punya power yang lebih besar. Ini yang disebut political factor seperti yang pernah kita bahas di chapter sebelumnya. Dari sisi teori akuntansi juga telah diteliti bahwa cash flow ini berguna, untuk memprediksi kedepan, berarti punya predictive power, berarti berguna untuk pengambilan keputusan. Maka dibuatlah laporan arus kas.
Pada tahun 1987 di Amerika itu akuntan belum terbiasa menghitung saldo awal berapa, yang keluar berapa, itu direct method, seperti cerita uang di dompet tadi itu direct method, mereka belum terbiasa. Artinya belum terbiasa itu karena sistem informasi akuntansinya belum dibuat untuk arus kas. Sistem informasi yang ada untuk SCFP. Jadi kalau kita membuat laporan arus kas, sistemnya belum siap, harus dirancang baru komputernya, hardwarenya, softwarenya, semua harus ada penyesuaian dan itu memakan waktu. Tidak bisa langsung jadi. Akibatnya karena diminta harus melaporkan arus kas, maka dicarilah metode yang bisa mereka lakukan yang akuntannya sudah pandai.
Jadi dibuat laporan laba rugi, terus dikoreksi laporan laba ruginya. Accrualnya dibuang semua dari laporan laba rugi, yang tersisa adalah arus kas. Penjualan, yang penjualan kredit dibuang, yang penjualan tunai dibiarkan. Harga pokok penjualan yang kredit dibuang, yang tunai ditinggalkan, depresiasi dibuang, bunga yang masih harus dibayar, semua accrual dicoret. Berarti laporan laba rugi yang sudah tidak ada accrual itulah cash flow statement tapi hanya untuk kegiatan yang operasi. Beli saham perusahaan lain tidak tampak di laporan laba rugi. Menerbitkan obligasi juga tidak tampak disitu. Berarti yang ada adalah cash flow dari operasi memakai indirect method.
Supaya jadi cash flow lengkap, ada investasi, ada pendanaan, ditambahi dengan neraca, saham yang dibeli apa, dan seterusnya. Tapi lalu dikritik yang indirect itu membingungkan dan segala macam kritikannya. Pada awalnya kita memang harus memakai indirect karena sistemnya belum siap. Perusahaan itu bukan cuma dompet, perusahaan itu pakai sistem. Kalau mau buat cash flow harus diubah dulu sistemnya. Kalau tidak mau diubah buat indirect method. Buat laporan laba rugi, buang yang accrual, tinggallah yang cash flow, tapi cuma cash flow operasi. Tambahilah dengan investasi dan pendanaan, jadilah cash flow.
Sekarang sistemnya sudah dibuat, kita bisa pakai direct method. Awalnya indirect karena sistemnya belum jadi. FASB meminta kalau kita membuat dengan direct method, kita wajib merekonsiliasi. Rekonsiliasinya itu buatlah indirect, cocokkan angkanya. Karena direct itu bisa dibuat setelah mengganti sistem, harus pasti sistemnya gak salah. Supaya bisa pasti, coba laba ruginya di adjust, hasilnya cocok atau tidak dengan indirect. Kalau cocok hasilnya berarti sistemnya sudah betul. Jadi ini cerita perkembangannya.
Accounting itu tidak semuanya memakai accrual basis. Accounting itu pakai dua-duanya, accrual basis dan cash basis. Arus kasnya pakai cash basis, yang lainnya pakai accrual basis. Orang yang senang dengan cash basis itu bilang accrual basis itu informasinya kalah bagus dengan cash basis. Bagus itu dilihat dari yang bisa memprediksi lebih baik. Setelah diteliti ternyata terbukti yang bisa memprediksi lebih baik tetap accrual. Cash flow bagus tapi tidak mengalahkan accrual. Jadi kalau mau bermanfaat betul pakailah dua-duanya.
Teori yang disampaikan dalam memorandumnya FASB sebagai berikut :
Memberi feedback on actual cash flow.
Membantu mengidentifikasi hubungan laba akuntansi dan cash flow. Kalau pakai indirect itu bisa terlihat laba dengan cash flow itu bedanya cuma accrual. Jadi hubungan keduanya dapat diidentifikasi.
Informasi kualitas laba. Dengan mengetahui cash flow kita bisa tahu informasi laporan laba ruginya kualitasnya bagus atau tidak.
Improve comparability of information in financial reports. Neraca dan laporan laba rugi itu pakai accrual, berarti dalam accrual itu ada metode akuntansi. Kalau metodenya sama berarti kita bilang itu uniform, ada rigid ada finite. Kalau itu uniform, kita katakan itu comparable. Berarti keseragaman meningkatkan comparability. Cash flow statement antar perusahaan itu sangat comparable karena metodenya tidak ada metode untuk cash flow, berarti semuanya sama. Cuma uang masuk dan uang keluar. Tidak ada FIFO, LIFO, weighted average, depresiasi, ga ada apapun. Kalau begitu laporan arus kas itu sangat bisa dibandingkan. Jadi meningkatkan comparability. Kualitas cash flownya baik atau tidak itu urusan lain. Perusahaan yang cash flow operasinya kecil itu berisiko. Kebutuhan arus kas perusahaannya dipenuhi dari jual saham perusahaan lain yang kita miliki, kalau habis jual mesin, kalau tidak mau jual mesin berarti cari pinjaman. Jadi cash flow investasi atau cash flow pendanaan yang dipakai untuk menutup cash flow operasi. Berisiko bagi perusahaan, jangka panjangnya bisa bangkrut. Perusahaan yang bagus kalau cash flow operasinya itu cukup. Jadi informasi kualitas cash flow bisa dilihat dari cash flow statement. Sama saja kayak laporan laba rugi, labanya negatif, artinya tidak bisa menutup biaya, revenuenya tidak cukup, masa depannya kalo terus menerus begitu bisa bangkrut. Laba atau rugi itu sebanding dengan cash flow bagian operasi. Jadi kalo cash flow operasinya kecil atau negatif, itu sebanding dengan kalau labanya negatif. Jadi kualitas laporan arus kas bisa dipakai untuk memprediksi masa depan perusahaan. Laba rugi juga bisa. Kalau rugi terus bisa bangkrut. Jadi comparabilitynya sangat tinggi karena tidak ada metodenya. Comparability itu sangat tinggi kalau metodenya uniform. Yang pakai metode itu akuntansi akrual. Kalo yang cash karena tidak ada metode berarti sangat comparable.
Membantu menilai fleksibilitas dan likuiditas. Flexibility bisa dilihat dari cash flownya. Kalau fix asset dan inventorynya besar, kasnya kecil, berarti tidak flexible. Kalau kasnya besar, inventory dan assetnya kecil, itu flexible. Berarti laporan arus kas membantu kita menilai fleksibilitas perusahaan. Likuiditas juga, semakin banyak uangnya semakin likuid.
Membantu memprediksi arus kas masa depan. Kalau kita punya arus kas sekarang, kita bisa memprediksi arus kas yang akan datang.
Classification Problem of SFAS No. 95
Sekarang timbul masalah, kita itu mau melaporkan item-item di cash flow ini terutama yang terkait dengan investasi dan terkait dengan pendanaan. Kalau kita menerbitkan obligasi, uang yang kita terima masuk cash flow pendanaan. Kita membayar bunga obligasi setiap 6 bulan, setiap setahun, itu masuknya ke dalam cash flow operasi. Tidak cocok. Harusnya pembayaran bunga obligasi itu harusnya menjadi cash flow pendanaan. Kita beli obligasi perusahaan, kita beli obligasi ini di cash flow keluar membeli obligasi perusahaan lain itu masuk dalam cash flow investasi. Membeli saham perusahaan lain itu juga cash dlow investasi. Kalau kita membeli obligasi perusahaan lain, kita mendapat bunga, kita dapat dividen, SFAS No. 95 mengatakan ini masuk aktivitas operasi.
Sedangkan obligasi yang dibeli, uang untuk membeli itu adalah investasi. Kita membeli saham, uang untuk membeli saham itu cash flow investasi. Dividen yang kita terima kenapa dibagian operasi ? Mayoritas tetap mangakui ini masuk ke bagian operasi. Kenapa ? Coba misalnya dimasukkan ke aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan, indirect methodnya jadi ga jalan. Indirect method itu laba rugi di adjust, accualnya dibuang, yang tertinggal adalah cash flow operasi. Pasti di dalamnya masih ada pendapatan bunga obligasi, masih ada penerimaan dari dividen yang kalau itu tidak boleh disitu berarti laporan laba rugi kita tidak cocok dengan cash flow. Tidak cocok karena pendapatan bunga dan pendapatan dividen itu masuk ke laba rugi. Laba rugi itu harus cocok dengan cash flow. Itu menunjukkan sulitnya mengambil keputusan, karena akan ada dampak dari keputusan yang kita ambil.
The Nonarticulation Problem
Masalah lainnya adalah masalah artikulasi. Masalah artikulasi tidak setiap tahun terjadi. Salah satu yang terjadi adalah pada waktu akuisisi anak perusahaan. Terjadi masalah nonartikulasi karena selisih empat bulan di perusahaan anak tidak dikonsolidasi.
Tambahan dari non artikulasi yang disebabkan oleh akuisisi ditengah tahun, masalah non artikulasi juga bisa disebabkan oleh transaksi yang terjadi dalam rekening modal kerja yang tidak mempengaruhi kas. Jenis transaksi ini mempengaruhi perusahaan yang tidak dikonsolidasi dan juga mempengaruhi perusahaan yang dikonsolidasi. Jadi kalau begitu, untuk laporan keuangan subsidiary yang tidak dikonsolidasi juga nanti harusnya mempengaruhi laporan keuangan hasil konsolidasinya. Kalo ada kejadian-kejadian ini nanti hasilnya bisa tidak cocok antara yang konsolidasi dengan anak perusahaan yang tidak dikonsolidasi. Itulah yang disebut dengan non artikulasi.
Kemudian ada 3 masalah lagi penyebab non artikulasi, yaitu :
1. Kalau ada menaikkan dan menurunkan item modal kerja, terutama inventory, kalau perusahaan itu diakuisisi dengan metode pembelian.
Ini masalahnya kalau kita beli anak perusahaan, kita bisa menaikkan nilai inventorynya kalau nilainya terlalu rendah. Atau kita bisa menurunkan nilai inventorynya kalau nilai inventorynya terlalu tinggi. Akibatnya angka inventorynya berubah. Modal kerjanya berubah. Kalo dikonsolidasi tetap ga cocok.
2. Alokasi depresiasi diantara inventory yang dibuat di perusahaan itu.
Jadi depresiasinya itu dialokasikan ke inventory, berarti jumlah dalam inventorynya berubah. Kalau jumlah dalam inventorynya berubah, sedangkan depresiasi itu adalah non cash, inventory nanti menjadi bagian dari modal kerja, bisa terjadi laporan di arus kas tidak cocok dengan laporan neraca di modal kerjanya, terjadi lagi non artikulasi.
3. Any type of reclassification of working capital accounts between current and noncurrent categories.
Kalau ada perubahan modal kerja, dipindahkan dari current menjadi non current. Modal kerjanya apa ? Piutang misalnya, piutangnya ini tidak dibayar, berarti ini menjadi non current, dikeluarkan dari situ. Berarti modal kerjanya berubah tanpa ada perubahan kas. Itu masalahnya. Harusnya kalau modal kerja turun, kasnya nambah. Depresiasi tadi harusnya juga ada, kalo inventorynya bertambah berarti ada kas yang turun atau yang lain, tapi ini tidak ada. Ini yang menyebabkan terjadinya non artikulasi.
Free Cash Flow
Kalau kita sekarang diberi laporan arus kas operasi, investasi, pendanaan. Ada saldo awal menjadi saldo akhir. Kita punya saldo akhir kas 1 M. 1 M ini bisa digunakan untuk apa ? Apakah saldo akhir untuk cash flow itu bisa digunakan untuk keputusan apapun. Ternyata tidak. Kita mungkin punya kas, tapi kasnya mungkin sudah ada tujuan penggunaannya. Yang kas betul-betul free itu harus dihitung lagi.
Jadi, statement of cash flow yang dihasilkan dari proses penyusunan laporan, untuk pengambilan keputusan masih harus dianalisis lebih lanjut. Dan analisisnya itu datanya tidak tersedia di laporan keuangan. Ini yang jadi masalah. Akibatnya, seringkali orang tidak menganalisis lebih lanjut karena harus mencari data tambahan. Kalau datanya ada di laporan keuangan itu mudah.
Misalnya, cash flow operasi kita itu dibandingkan dengan total cash flow, kalo cash flow operasi kita negatif, lebih banyak pengeluaran operasional daripada penerimaan operasional, berarti kebutuhan cash flow saya akan dipenuhi dari investasi dan pendanaan. Ini tidak sehat. Tidak bisa dilakukan terus menerus. Perusahaan yang sehat yaitu cash flow operasinya harus positif. Kalo terlalu besar sementara bisa diinvestasikan. Kalo masih berlebih, bisa dipakai untuk pendanaan. Lunasi saja obligasinya, sudah tidak butuh obligasinya. Utangnya dilunasi, dari cash flow operasi.
Tapi kalo cash flow operasinya negatif, bayar utang, bayar gaji, bayar biaya tidak cukup dari penerimaan operasional. Ini tidak bisa, kita harus mencukupi itu. Pegawai harus digaji, listrik harus dibayar, bahan harus dibeli, utang harus dilunasi, tidak bisa ditunda. Caranya, kita lihat investasi apa yang tidak terpakai, mungkin waktu kelebihan uang kita beli saham, sekarang sahamnya dijual untuk menutup kekurangan cash flow operasi. Kalau kita tidak punya investasi yang bisa kita pakai, kita harus pendanaan.
Pendanaan ada 2, dari kredit atau dari pemilik. Jadi bisa utang jangka panjang, bisa juga tambahan ekuitas. Tidak bisa menerbitkan saham setiap tahun, tidak bisa dipercaya sahamnya. Kita harus mengevaluasi kinerja perusahaannya sebelum membeli saham, kalau bagus baru dibeli. Kinerja dlihat dari mana ? Accrual dilihat dari laba rugi, cash basis dari cash flow operasi. Labanya positif atau tidak, cash flow operasinya positif atau tidak. Jika semuanya bagus berarti ada harapan masa depannya tidak bangkrut, bisa dibeli sahamnya. Kalau cash flow operasinya negatif, lalu kita menerbitkan saham, mungkin di tahun pertama kita bisa janji, tahun ini memang negatif harapannya tahun depan bisa positif. Kalau tahun depan negatif lagi lalu menerbitkan saham lagi berarti janjinya tidak terpenuhi, janji palsu :D
Tidak bisa ditutupi terus-menerus. Jadi akibatnya utang tidak bisa dibayar, menerbitkan saham tidak bisa, berarti harus menjual asset. Itu investasinya, sampai habis. Sampai declare kebangkrutan. Jadi arus kas saja itu masih perlu analisis lebih lanjut, supaya kita tau bisa apa. Rumus yang dipakai adalah :
FCF = NOPLAT – investment in operating invested capital
FCF = Free Cash Flow
NOPLAT = Net Operating Profit Less Adjusted Taxes
Profit itu accrual basis, kenapa dipakai ? Angka yang dihitung itu nanti di dalamnya masih ada accrualnya. Kalau mau betul-betul tanpa accrual, NOPLATnya diganti. NOP (Net Operating Profit) sama dengan cash flow operasi. Bedanya accrual. Jadi kalau mau lebih pasti, rumusnya dikeluarkan aja cash flow operasi less adjusted taxed. Terus dikurangi dengan investment in operating invested capital, investasi dalam aktiva tetap yang digunakan untuk operasi. Berarti ini cash flow investasi untuk operating asset. Kalau kita beli saham perusahaan lain itu non operating, itu karena kelebihan uang. Daripada uangnya disimpan di rekening giro, jasa gironya kecil, kita beli obligasi atau beli saham nanti kalau butuh kita jual, itu non operating asset. Operating asset itu inventory, mesin, dan apapun yang dipakai untuk kegiatan operasi. Jadi, cash flow investasi untuk operating asset.
Asset itu ada aset operasional dan aset non operasional. Kalo kita berencana mau ekspansi 10 tahun lagi, daripada nanti belinya mahal, kita beli tanahnya sekarang untuk perluasan pabrik kita. Tapi tanahnya dibiarin aja gitu, tanahnya tidak dipakai untuk operasional perusahaan. Kalau begitu itu investasi tapi aset yang dibeli adalah non operating. Tidak boleh dikurangkan disitu, yang dikurangkan yang operating.
Salahkah keputusan membeli tanah yang belum mau dipakai ? Bisa tidak salah, daripada tanahnya dibeli orang lain, terus tidak punya tanah disebelah pabrik, nanti kalo mau perluasan harus di tempat lain, bisa jadi ribet, makanya dibeli sekarang, tapi belum bisa dipakai karena belum mampu ekspansi. Kalau mau menghitung free cash flow, yang seperti ini tidak boleh dimasukkan. Investasi dalam operating asset aja.
Jadi kalau diganti NOPLATnya, supaya lebih logis diganti cash flow operasi. Kita punya cash flow operasi yang free itu berapa ? Rencana investasinya kita keluarkan, tapi rencanan investasi hanya untuk yang operating asset. Yang nonoperating asset itu bukan rencana, hanya dilakukan kalau kelebihan uang. Kita beli saham itu kalo kelebihan uang. Tidak perlu direncanakan karena kegiatan operasional perusahaan kita buat jual beli saham.
Jadi logika cash flow itu yang paling gampangnya begini :
kenali operasi perusahaan itu kegiatannya apa, berproduksi dan menjual. Untuk bisa berproduksi dan menjual, perusahaan harus membayar apa dan bisa menerima uang dari apa. Itu saja logika operasional.
Yang disebut investasi itu aset. Kita beli, berarti pengeluaran uang untuk investasi. Kita jual, berarti penerimaan uang dari investasi.
Financing itu memodali perusahaan kita. Ada modal sendiri, ada modal asing. Modal sendiri itu ekuitas saham. Modal asing itu hutang, dari kreditur. Yang paling umum kalo di pasar modal itu obligasi. Kalau tidak ke pasar modal bisa ke bank, ambil kredit jangka panjang.
Untuk membuat cash flow, kenali aja ketiga jenis kegiatan itu.
Yogyakarta, 14 Desember 2015 | 00.48 WIB | annisafithria
Chapter 12 - The Income Statement
Berikut ini adalah #catatankuliah teori akuntansi Chapter 12 yang saya dapatkan di kelas Pak Zaki pada tanggal 24 November 2015. Semoga bisa membantu saya dan kalian yang mau ujian :’D
Pendekatan chapter ini sama seperti pendekatan chapter yang lalu, mulai dari definisi dan perkembangan definisinya ditunjukkan dari perkembangan definisi yang paling awal sampai yang paling akhir. Yang paling awal itu committee on terminology, yang ditengah itu APB Statement No.4, yang terakhir adalah SFAC No. 6. Jadi pola ini juga dipakai yang lalu dan dipakai lagi sekarang.
Definisinya ada 3, income, revenue termasuk gain, expense termasuk loss. Yang mau dicoba dilihat itu adalah adakah perubahan pendekatan dari revenue-expense ke asset-liability. Revenue-expense itu berarti ”pendekatan laba rugi”. Asset-liability berarti ”pendekatan neraca ”. Kita lihat definisinya satu persatu. Kalau itu lebih mendekati laporan laba rugi berarti itu revenue-expense. Kalau itu lebih mendekati neraca berarti itu sudah asset-liability. Yang nanggung nanti APB Statement No.4.
Income Definitions
Menurut Committee on Terminology, Income dan profit menunjukan jumlah yang dihasilkan dari pengurangan dari revenue, atau dari operating revenue, cost of good sold, biaya lain, dan rugi lain. Ini laporan laba rugi, kalau begitu ini adalah pendekatan revenue-expense.
Menurut APB Statement No.4, Net income (net loss), adalah kelebihan atau kekurangan dari revenue diatas biaya untuk satu periode akuntansi. Sama, revenue dibandingkan dengan expense. Itu juga ada di laba rugi, berarti pakai pendekatan revenue-expense.
Menurut SFAC No.6, Comprehensive income adalah perubahan ekuitas (net asset) suatu entitas selama periode akuntansi tertentu dan kejadian keadaan tertentu yang bukan dari sumber pemilik. Nonowner sources berarti sumber bukan pemilik. Kalau pemilik nyetor tidak boleh masuk ke income.
Chapter sebelumnya kita membahas treasury stock, kita menerbitkan saham lalu kita beli lagi, tidak boleh selisihnya masuk laba atau rugi. Jadi kalau owner sources itu bukan income dan bukan loss. Kalo nonowner sources sumbernya bukan dari pemilik maka selisihnya menjadi laba atau rugi. Makanya definisinya disebutkan disini from nonowner sources karena kita berbicara mengenai laba atau rugi.
Jadi cara menghitung laba comprehensive adalah perubahan ekuitas suatu entitas selama periode tertentu yang berasal bukan dari pemilik. Jadi kalau begitu, modal awal berubah menjadi modal akhir asal tidak berasal dari pemilik, selisihnya adalah comprehensive income. Tapi kalo ada setoran pemilik, dikeluarkan dulu setoran pemiliknya. Perubahan modal (ekuitas) yang bukan dari pemilik itulah yang masuk comprehensive income. Ini adalah asset-liability. Laba itu perubahan modal, modal itu di neraca, kalau begitu kita mengukur laba memakai neraca, berarti kita menggunakan pendekatan asset-liability.
Revenues and Gains
Kalau dari kegiatan utama dan rutin itu namanya revenue, atau namanya expense. Kalau dari kegiatan yang tidak utama dan tidak rutin itu namanya gain atau loss.
Ada revenue dari main product, ada revenue dari by product. Dipisahkan ada revenue utama, ada revenue sampingan. Kenapa sampingan ? Karena jumlahnya kecil dan tujuan utama perusahaan bukan itu. Tapi karena rutin maka tetap disebut revenue, bukan gain. Gain itu accidental. kalo manufacturing company punya mesin yang sudah tua mau diganti mesin baru, kita jual, nilai bukunya kita bandingkan dengan harga jual, kita akan mendapatkan gain atau loss. Investasi juga sama, kita punya uang lebih lalu kita beli saham punya perusahaan lain, nanti kalo butuh uang sahamnya dijual. Kalau jualnya laba namanya gain, bukan revenue karena accidental dan bukan usaha pokok. Expense dan loss sebaliknya.
Revenue Recognition
Empat titik alternatif waktu untuk pengakuan pendapatan didiskusikan dalam literatur akuntansi dan digunakan dalam praktek akuntansi:
Selama produksi
Saat selesainya produksi
Saat penjualan
Ketika kas diterima
Pendapatan diakui saat selesainya produksi untuk kegiatan pertanian tertentu dan pertambangan tertentu. Tidak semua pertanian dan pertambangan. Kita oleh mengakui revenue no.2 pada waktu produksinya selesai untuk industri pertanian tertentu dan pertambangan tertentu. Ada syaratnya, yaitu :
Produksi bisa dijual, pasarnya pasti
Harganya pasti, yaitu harga yang berlaku di pasar itu
Tidak ada biaya pemasaran yang besar
Kalau syarat tersebut dipenuhi, kita boleh mengakui revenue pada saat produksinya selesai. Produksi pertanian selesai itu pada saat panen, berarti kita boleh mengakui revenue pada saat panen. Contoh, pertanian gandum di Amerika, tambang emas menjual logam mulia.
Yang umum di revenue itu yang ketika, critical eventnya adalah penjualan. Sebagian besar perusahaan itu critical eventnya menjual. Akibatnya sebagian besar perusahaan mengakui revenuenya pada waktu terjadi penjualan.
Yang keempat kalo uangnya sudah diterima, biasanya untuk installment sales yaitu penjualan cicilan, dibayar angsurannya untuk jangka waktu yang panjang. Akibatnya kepastian dilunasinya itu menjadi menurun, tidak sepasti kalau jangka pendek. Oleh karena itu, untuk penjualan angsuran jangka panjang pengakuan pendapatannya pada waktu kas diterima. Ini bisa diulas dengan menggunakan critical event.
Mengenai realisasi, ada critical event, ada realisasi. Kalau yang diartikan realisasi itu adalah terjadi perubahan suatu aset menjadi aset lain yang lebih liquid seperti laba. Jadi kalo kita menjual barang, persediaan kita diubah menjadi piutang atau berubah menjadi kas. Berarti dari persediaan menjadi piutang atau kas itu lebih liquid. Itulah yang kita akui sudah terjadi realisasi. Itu saat pengakuan pendapatan itu saat terjadinya realisasi, asetnya berubah menjadi aset lain yang lebih lancar. Ada istilah realized, ada istilah realization. Prinsip realisasinya itu realization, sudah direalisasi itu namanya realized. Kalo bisa direalisasi itu namanya realizable.
Expenses and Losses
Inti dari revenue-expense itu adalah matching. Kita harus mempertemukan revenue dengan expense dalam rangka menghitung laba atau rugi. Kita akan membagi expensenya menjadi 3, yaitu :
1. Biaya-biaya yang dapat dihubungkan secara langsung dengan revenue.
Biaya yang memenuhi syarat ini dipertemukan dengan revenue pada saat revenue diakui. Contoh pabrik sepatu, mengeluarkan biaya bahan, biaya upah, dan biaya overhead pabrik, 3 biaya ini jadilah biaya produksi. Kalo sekarang kita memproduksi 1000 pasang sepatu, per pasangnya biaya produksi (bahan, upah overhead) sebesar 100.000 rupiah berarti total biaya produksinya 100.000 x 1000 pasang = 100.000.000 rupiah. Masuk ke inventory. Kalo ada yang dijual barulah inventorynya menjadi cost of good sold. Kapan terjadi COGS ? pada waktu kita mengakui revenue yaitu pada waktu terjadi penjualan. Kalau begitu COGS dipertemukan dengan revenue pada saat diakuinya revenue tadi, yaitu pada saat penjualan. Kalo revenuenya nol, kita produksi 1000 tapi tidak bisa jual. Berapa COGS ? nol. Cost of production 1000 pasang, COGSnya nol. Kalo dijual 800, COGSnya 800. Kalo terjual semua 1000, COGSnya 1000. Berarti bahan, upah, overhead adalah jenis biaya yang punya hubungan langsung dengan revenue, oleh karena itu akan dipertemukan dengan revenue pada waktu revenuenya diakui. Kalo tidak ada pengakuan revenue berarti tidak ada matching untuk jenis biaya ini. Revenue nol, COGS mesti no, gross profit mesti nol. Itu prinsip nomor 1.
2. Biaya yang dihubungkan ke periode atas dasar lain selain dari hubungan langsung dengan revenue.
Pabriknya disebelah sana, kantornya disebelah sini. Kantornya gedungnya didepresiasi pakai garis lurus berarti biaya dihubungkan dengan revenue berdasarkan periode waktu. Karena depresiasinya pakai garis lurus, garis lurus itu dasarnya waktu, bukan dasarnya penjualan. Jadi kalo gedung itu kita depresiasi 10 tahun berarti setiap tahun 10%. Tidak peduli ada revenue atau tidak ada revenue, depresiasi gedung kantor tadi tetap kita bebankan. Jadi kalau begitu kita matchingkan pada periode terjadinya biaya itu. Jadi biaya kategori akan dimatchingkan pada periode terjadinya biaya. Revenue nol, COGS tidak ada, tapi depresiasi tetap ada, tapi jadinya rugi.
3. Cost yang tidak dapat dihubungkan dengan salah satu periode untuk alasan praktis.
Contoh, pada tahun 2015 kita mengiklankan secara besar-besaran produk yang kita hasilkan. Biaya iklan untuk tv, koran, billboard menghabiskan 1 M. Hasil iklannya tidak tau kapan dinikmati. Bisa cuma November, bisa November-Desember, bisa november-desember dan tahun depan, bisa tahun depan saja november-desember tidak, kita tidak tau. Berarti biaya iklan tadi tidak dapat kita hubungkan dengan salah satu periode. Akibatnya kita bebankan semuanya pada waktu terjadinya biaya itu. Bukan menunggu revenue, bukan menunggu periode, tapi kita bebankan semuanya november 2015 karena kita mengeluarkannya pada bulan november 2015. Revenue nol, biaya iklan tetap ada.
Revenue nol yang tidak ada itu COGS, itu kelompok biaya no 1. Tapi kelompok biaya no 2 dan 3 itu ada. Jadi kita akan mempertemukan biaya dengan revenuenya pakai 3 kategori yang berbeda :
Dipertemukan dalam periode diakuinya revenue, yaitu biaya-biaya yang punya hubungan langsung dengan revenue.
Punya hubungan langsung dengan periode, tidak punya hubungan langsung dengan revenue, diakui pada periodenya.
Yang tidak dapat dihubungkan dengan periode, diakui semuanya pada waktu terjadinya biaya itu.
Current Operating Versus All-inclusive Income
Ini sebetulnya 2 aliran, yang satu bilang kalo sebetulnya laba itu hanya untuk yang operating dan yang terjadi tahun ini. Kalo bukan operating jangan dimasukkan ke dalam perhitungan laba rugi. Kalo terjadinya bukan tahun ini jangan diperhitungkan dalam perhitungan laba rugi. Kalo begitu berarti itu pakai aliran current operating. Aliran yang kedua bilang, semua, pokoknya mempengaruhi laba, tidak peduli operating atau nonoperating, tidak peduli terjadi tahun ini atau tahun-tahun yang lain, semua harus diperhitungkan dalam perhitungan laba rugi. Kalau begitu ini alirannya all-inclusive.
Di Amerika itu AICPA memilih all-inclusive. AICPA itu yang punya CAP, APB, yang berikutnya menjadi FASB. Trus ada American Accounting Association, kompartemen akuntan pendidik, kumpulan dosen yang tidak punya otoritas membuat standar akuntansi. Mereka lebih setuju pada current operating. Ini bentrokan. Alirannya ini cukup keras akibatnya dicari cara pemecahan lalu digabung keduanya. Itungan pertama adalah current operating, terus masukkan item-item berikutnya menjadi all-inclusive. Jadi dua aliran tadi terwakili dalam satu laporan, current operatingnya ada, all inclusivenya juga ada. Selesai. Pakai bahasa sekarang namanya Comprehensive Income.
Comprehensive Income
Dalam SFAC No. 5 ada earnings, ada comprehensive income, ada present net income. Present net income itu praktik. Konsep earnings itu current operating income. Comprehensive income itu all-inclusive. Jadi kalau begitu hitung dulu earnings, masukkan item-item lain jadilah comprehensive income. Contohnya, translation adjustment of subsidiary yang menggunakan mata uang bukan dollar. Jadi kalo perusahaan di Amerika punya anak perusahaan di Indonesia, perusahaan di Amerika pakai dollar, anak perusahaannya di Indonesia pakai rupiah. Rupiahnya nanti harus dijabarkan menjadi dollar. Pada waktu dijabarkan menjadi dollar itu ada selisih. Selisihnya disebut translation adjustment. Translation adjustment tidak boleh masuk laba rugi. Translation adjustment masuknya di neraca bagian ekuitas. Tapi sebetulnya itu memenuhi syarat untuk masuk comprehensive income. Tidak boleh menghitung earnings pakai itu, tapi bisa untuk menghitung comprehensive income.
Kalo pakai dasar jaman dulu, yang namanya current operating itu sebetulnya laba yang menunjukkan kinerja manajemen. All inclusive itu adalah laba yang merupakan kinerja perusahaan. Manajemen hanya dituntut untuk hal-hal yang bisa dia kendalikan saja yaitu yang current dan yang operating. Current operating itu maksudnya hal-hal yang bisa dikendalikan oleh manajemen. All inclusive yang membawa dampak ke perusahaan, bisa dikendalikan atau tidak dikendalikan oleh manajemen tapi berdampak ke perusahaan, laporkan di all-inclusive yang sekarang namanya comprehensive income.
Nonoperating Sections
Nonoperating section itu maksudnya bagian non operasi. Bagian non operasi terdiri dari :
Extraordinary
Accounting principle changes
Discontinued operation
Prior period adjustment --> dilaporkan di dalam retained earnings
Jadi non operating sectionnya itu extraordinary, perubahan prinsip akuntansi, dan discontinued operation. Prior period adjustment tidak masuk disini, tapi masuk ke retained earnings statement.
1. Extraordinary
Extraordinary ada 2 kriterianya, yaitu :
Unusual nature
Infrequency of occurence
Ini dua-duanya harus terpenuhi. Dan, bukan atau. Unusual nature dan infrequency of occurrence. Contohnya bencana alam. Bencana alam itu unusual, itu bukan usaha perusahaan. Infrequency of occurrence, tidak bisa diharapkan terjadi dalam waktu pendek, tidak rutin terjadinya. Kalau begitu memenuhi syarat disebut extraordinary. Dilaporkan di bagian non operasi. Tapi kalo kita punya pabrik, tempat pabriknya itu rendah dan tiap tahun kebanjiran, berarti unusual naturenya terpenuhi, tapi infrequencynya tidak terpenuhi. Kalo begitu itu bukan extraordinary. Itu ordinary. Harus dilaporkan dibagian operasi. Jadi kalau mau dimasukkan di bagian non operasi sebagai extraordinary, dua syarat tadi harus terpenuhi.
2. Accounting principle changes
Accounting changes itu ada 3, yaitu :
a. Perubahan prinsip akuntansi
Metode akuntansi dari A berubah ke B yang dua-duanya metode yang berlaku, selisihnya dimasukkan di non operating.
b. Perubahan estimasi akuntansi
Garis lurus depresiasi umurnya diubah taksirannya, perhitungan depresiasinya berubah, perubahan masukkan di non operating.
c. Perubahan entitas pelaporan
Dulunya PT ABC saja, sekarang mengakuisisi anak perusahaan baru menjadi PT ABCD, perubahan entitas, perubahannya dilaporkan di non operating.
3. Discontinued operation
Kalo kita punya satu bagian usaha, bagian usaha itu kita anggap sudah tidak menguntungkan, kita mau menjual. Misalnya, ada pabrik sepatu, punya juga pabrik karton. Kartonnya nanti dipakai untuk membuat box untuk sepatu. Terus ada orang lain yang menawari harga karton yang lebih murah daripada biaya produksi sendiri. Berarti produksi karton sendirinya tidak efisien, berarti lebih baik dijual, beli kartonnya dari orang luar. Berarti kita mendiscontinue operasinya karton. Divisi kartonnya dijual. Disini ada dua tanggal :
Tanggal memutuskan untuk menjual, menjadi dasar menghitung nilai revenue.
Tanggal penjualannya adalah realisasi pejualan, selisihnya diakui sebagai laba atau rugi yang timbul dari discontinued operation.
Kalau nilai bukunya 1000, pas tanggal mau dijual dihitung nilai bukunya 1000. Terus bulan depan baru terjual 1200, berarti ada keuntungan mendiscontinue operasi sebesar 200. 200 nya itu dilaporkan di non operating.
Non operating section ini tidak rutin ada, sekali-sekali aja, akan muncul di laporan laba rugi.
Earnings Per Share
Laba per saham adalah laba yang dibagi dengan jumlah saham yang beredar. Masalahnya timbul dulu di Amerika itu ada standar akuntansi yang minta kalo perusahaan itu modalnya complex (rumit) itu ngitungnya dua, yaitu Primary earnings per share dan Fully diluted earnings per share. Terus direvisi pakai SFAS No. 128, primary EPS dibuang, syarat 3% selisih juga dibuang, kita cuma menghitung satu yaitu fully diluted EPS. EPS terdilusi karena kita mengkonversikan obligasi menjadi saham. Jadi EPS nya turun, terdilusi.
Earnings Management
Earnings management dikatakan menggunakan teori keagenan, ada konflik kepentingan antara agent (manajemen) dengan principal (pemilik). Sehingga timbullah kemungkinan adanya earnings management.
1. Management compensation
Kalau kita sebagai manajemen diberi tau akan diberi bonus oleh pemilik, tergantung dari laba akuntansi yang dihasilkan maka manajemen akan berusaha laba akuntansinya tinggi. Meninggikan labanya bisa dengan kerja keras (positif) atau bisa gak kerja keras. Accrualsnya diubah-diubah namanya discretionary accruals. Labanya naik, diberi bonus, tapi sebetulnya pemiliknya rugi karena kinerja perusahaan tidak membaik sebetulnya. Itulah yang disebut dengan earnings management. Adanya intervensi untuk kepentingan pribadi dalam proses pelaporan keuangan. Jadi yang utama adalah kompensasi manajemen, melalui bonus tadi.
2. Income smoothing
Laba itu kalo naik turun setiap tahunnya, tahun ini dapat bonus, tahun depan tidak ada bonus. Dari lima tahun mungkin tiga kali dapat bonus dan dua kali tidak dapat bonus, atau sebaliknya. Lalu labanya diperhalus, tiap tahun labanya naik, tiap tahun dapat bonus, total dari perubahan kenaikan dan penurunan yang diperhalus itu totalnya kurang lebih sama, di smoothing.
Pemilik perusahaannya (pemegang saham) suka ga ? Kalau pasarnya itu ”tidak efisien” pas anomali berarti smoothing ini juga direspon oleh pasar. Laba naik, harga saham naik. Manajemen dapat bonus, pemegang saham gembira karena harga sahamnya naik. Jadi dalam kondisi pasarnya tidak efisien, smoothing ini bisa diseukai oleh kedua belah pihak. Tapi kalau pasanya efisien, smoothingnya tidak direspon. Responnya ya sesuai dengan apa adanya.
Cara melakukan smoothing :
Timing of transaction. Penjualan desember dijadikan penjualan januari, atau dibalik januari dijadikan desember.
Choice of allocation methods/procedures. Alokasi biayanya diubah-ubah.
Classificatory smoothing antara operating dan nonoperating income. Biaya yang nonoperating dijadikan operating, atau biaya operating dijadikan nonoperating.
Earnings management merupakan praktik yang umum berlaku di seluruh dunia.
Semangat UAS! :D
Yogyakarta, 14 Desember 2015 | 00.33 WIB | annisafithria
Chapter 11 - The Balance Sheet
Berikut ini adalah #catatankuliah teori akuntansi Chapter 11 yang saya dapatkan di kelas Pak Zaki pada tanggal 17 November 2015. Semoga bisa membantu saya dan kalian yang mau ujian :’D
Kita punya 4 laporan keuangan, satu set laporan keuangan itu ada neraca, ada laba rugi, ada arus kas, ada perubahan ekuitas. Kalau menurut standar akuntansi ada 5, satunya lagi catatan atas laporan keuangan, tapi bukan dalam format laporan. Yang dalam format laporan hanya 4. Dari yang 4 itu, neraca dan laba rugi disebutkan yang paling utama. Mengapa paling utama? Karena dengan neraca dan laba rugi kita bisa nyusun laporan arus kas, kita bisa nyusun laporan perubahan ekuitas. Tapi kalau kita hanya punya dua yang terakhir (laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas), kita tidak bisa membuat laporan laba rugi dan neraca.
Dua yang utama itu (neraca dan laporan laba rugi) dalam bahasa inggrisnya disebut financial statement proper. Proper disini artinya bukan layak, bukan wajar, tapi proper disini berarti utama. Jadi yang utama adalah neraca dan laba rugi. Dalam sistem double entry yang kita pakai, neraca dan laba rugi kita itu berhubungan, dalam bahasa inggrisnya berartikulasi. Digambarkan sebagai berikut:
Articulation
Accounting Classification System
Dari gambar diatas dalam terlihat, neraca kita itu akan balance (seimbang) kalau penghitungan laba ruginya (selisihnya apakah itu laba atau rugi) sudah kita pindahkan ke ekuitas. Di ekuitasnya masuk ke dalam retained earnings. Inilah yang disebut dengan artikulasi, dua laporan berhubungan.
Di pengantar akuntansi itu ada lajur 10 kolom, terdiri dari 2 kolom pertama trial balance, 2 kolom berikutnya adjustments, 2 kolom berikutnya adjusted trial balance, 2 kolom berikutnya income statement accounts (laba rugi), 2 kolom berikutnya balance sheet accounts (neraca). Dua kolom pertama, trial balance harus balance (kanan kiri harus sama), adjustment harus balance, adjusted trial balance harus balance, income statement dan balance sheet tidak balance. Kalau income statement itu balance berarti break even (tidak ada laba, tidak ada rugi). Tapi karena ada laba atau rugi maka laba atau ruginya itu harus dipakai untuk mem-balance kolomnya. Kalo yang kredit lebih banyak daripada debit berarti laba. Selisihnya tuliskan di debitnya supaya jumlahnya balance. Selisih tadi kalau di income statement masuknya di sisi debit berarti kreditnya lebih banyak, berarti di neraca assetnya lebih banyak, debitnya lebih banyak, berarti kreditnya yang kurang, kurangnya sebesar selisih tadi yaitu laba yang harus dipindahkan. Masuknya ke retained earnings. Jumlahnya jadi balance lagi. Ini yang kita sebut dengan artikulasi.
Masalahnya apa?
Revenue-Expense Approach
Sekarang ada dua laporan, ada neraca, ada laba rugi. Sudut pandang kita mementingkan yang mana? Kita tidak bisa mementingkan keduanya. Kita harus menekankan pada salah satu. Jadi kalau kita mengatakan bahwa laba rugi itu lebih utama karena laba itu mengukur kinerja dan berbagai alasan kita sampaikan, itu berarti kita memberi tekanan pada laporan laba rugi. Kalau kita memberi tekanan lebih pada laporan laba rugi berarti kita dikatakan menggunakan Revenue-Expense Approach, yaitu pendekatan yang menekankan pada pengukuran revenue dan pengukuran expense. Akibatnya apa? Kalau ada sisa-sisa pengukuran, maka sisa-sisa pengukuran itu masuk ke neraca. Akibatnya di neraca, assetnya disamping berisi aset akan ada sisa pengukuran revenue dan expense namanya deferred debets. Di sisi pasivanya, selain berisi liabilites dan owners’ equity, juga akan berisi sisa-sisa pengukuran dari laba rugi yaitu deferred credits. Akibatnya apa? Neraca kita asetnya tidak meyakinkan, karena disamping ada aset, ada juga deferred debets yaitu debet yang ditangguhkan, misalnya deferred charges (beban ditangguhkan). Harusnya beban, tapi karena tidak dibebankan pembebanannya ditangguhkan. Gimana meletakkan yang ditangguhkan ini? Jadi aset kita berisi aset dan bukan aset. Jadi nilai informasi asetnya turun, tidak bagus. Begitu juga untuk passiva, liabilities dan owners’ equity. Disitu ada deferred credits.
Jadi dampaknya apa?
Kita punya 2 laporan, yaitu neraca dan laba rugi. Kalau kita mengutamakan laba rugi, dengan kata lain berarti kita “mengorbankan neraca”. Kita mengorbankan neraca karena informasi yang ada disitu tidak sepenuhnya memenuhi definisi elemen neraca. Aset tidak sepenuhnya aset, ada deferred debets. Passiva tidak sepenuhnya, liabilities dan owners’ equity tidak sepenuhnya liabilities dan owners’ equity, ada deferred credits.
Asset-Liability Approach
Sekarang dibalik, bagaimana kalau kita lebih mementingkan neraca. Berarti kita fokus pada mengukur aset dan liability. Carilah ukuran-ukuran yang bagus untuk mengukur aset dan untuk mengukur liability. Kalau ada sisa-sisa pengukuran, sisa pengukurannya masuk ke laba rugi. Sama seperti tadi, tapi ini kita balik, yang ditekankan adalah asset dan liability, berarti kita menekankan neraca, berarti dengan kata lain kita “mengorbankan laba rugi”. Asetnya bagus, tidak ada deferred charges. Liabilitynya bagus, tidak ada deferred credits. Tapi ukuran revenue dan expensenya ibaratnya punya kuliatas kedua, bukan kualitas no1. Yang kualitasnya 1 nya neraca karena kita pakai pendekatan asset-liability. Revenue dan expensenya kualitas ke 2. Berarti kita korbankan laporan laba rugi.
The Nonarticulated Approach
Coba bayangkan, laporan utama ada 2, karena artikulasi maka 1 kita korbankan. Berarti laporan yang “tidak dikorbankan” yang isi informasinya bagus itu cuma 1. Situasi seperti ini tidak bagus. Kita harus menghasilkan 4 laporan, dua itu ikutan, dua lagi utama. Tapi dari dua yang utama itu yang bagus cuma 1 tergantung pendekatan mana yang kita gunakan. Kalau menggunakan revenue-expense approach berarti laporan laba ruginya bagus. Kalau menggunakan asset-liability approach berarti neracanya yang bagus.
Jadi, kalau kita kembali ke chapter 8, kita mau menguji apakah informasi yang kita hasilkan direspon oleh pasar atau tidak, kita pakai teori pasar efisien. Terus hasilnya direspon, tapi kadang-kadang tidak direspon. Yang tidak direspon itu kita sebut anomaly, karena kita menyalahkan pasarnya tidak efisien, sudah diberi informasi kok tidak direspon berarti pasarnya tidak efisien. Sekarang kita sampai pada situasi anggap saja kita menghasilkan cuma 2 laporan, neraca dan laba rugi, tapi yang bagus cuma 1. Masa pasar tidak merespon informasi yang tidak bagus? Yang salah bukan pasarnya, yang salah kita menghasilkan informasi yang tidak bagus. Jadi, ada kemungkinan kedepan nanti research pasar modal akan menemukan anomali-anomali. Selama kita tetap menghasilkan hanya 1 laporan yang bagus.
Coba kita pakai pengukuran untuk asset dan liabilitynya pakai prinsip capital maintenance. Tujuannya supaya capitalnya termaintain, berarti sebetulnya kita pakai pendekatan asset-liability. Pengukuran revenue, pengukuran expense kualitas kedua. Akibatnya angka laba kita kualitas dua. Terus kita pakai laba tadi untuk mengukur reaksi pasar, abnormal return, diukur kok ga respon ya? Berarti anomaly ini. Pasarnya tidak efisien. Nanti dulu. Laba kita itu bagus tidak ukurannya? Kalau tidak bagus jangan salahkan pasar. Tidak direspon karena informasi labanya tidak bagus.
Jadi bagaimana memperbaiki ini? Tidak bisa diperbaiki kecuali kita pakai pendekatan non artikulasi. Belum ada di dunia ini standar akuntansi yang menggunakan non artikulasi. Tapi di level teori kita bisa bilang, laporan neraca tidak berhubungan dengan laporan laba rugi. Kok bisa? Di teori itu bisa, di praktik tidak ada. Artinya apa? Kita buat ukuran asset dan ukuran liability untuk neraca. Kita buat ukuran revenue dan expense untuk laba rugi. Berarti neraca lajur 10 kolomnya nanti tidak nyambung. Tidak harus nyambung karena memang tidak berartikulasi. Pikirkanlah sistem yang baru, neraca yang tidak berartikulasi dengan laba rugi.
FIFO itu bagus untuk neraca tidak informasinya? Atau bagus untuk laba rugi? FIFO, harga awal jadi cost of good sold, harga akhir jadi persediaan di neraca. Jadi harga akhirnya cocok dengan harga sekarang ga? Harga akhir lebih cocok dengan harga sekarang. Berarti informasi persediaan di neraca itu sesuai dengan harga sekarang. Kalau begitu kita bisa bilang neracanya bagus informasinya. Berarti kalau begitu untuk neraca kita pakai FIFO.
Sekarang FIFO itu untuk laba rugi bagus ga? COGS kita itu terlalu rendah kalau ada inflasi, laba kita tidak cocok. Berarti FIFO tidak cocok untuk menghasilkan informasi laba yang bagus, harusnya kalau begitu pakai LIFO. Kalau non artikulasi, neracanya pakai FIFO, laba ruginya pake LIFO. Nanti angkanya tidak cocok.. Siapa yang suruh cocok? Karena pendekatannya adalah non artikulasi, jadi ya memang tidak cocok :D
Coba pikirkan sistem yang baru, yang tujuannya menghasilkan dua laporan yang dua-duanya memuat informasi yang bagus. Tapi jadinya apa? Jadinya tidak berhubungan. Itu termasuk ke model yang non articulation.
Kita mau buat neraca, yang penting itu untuk aktiva tetap itu book valuenya harus sesuai dengan harga sekarang. Kita mau buat laporan laba rugi, laporan laba rugi biaya depreasinya harus menunjukkan biaya untuk masa sekarang. Yang ini kalau pakai double entry artikulasi ga bisa ini. Kita menekankan book value, berarti kita meremehkan biaya depresiasi, itulah asset-liability approach. Kalau kita mementingkan biaya depresiasi, kita meremehkan nilai buku, itu yang disebut revenue-expense approach kalo artikulasi. Kalau dua-duanya mau dipentingkan jadinya ga nyambung, itu namanya non artikulasi.
***
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa owners’s equity terbagi 3, yaitu contributed capital, retained earnings, dan unrealized capital adjustment.
Contributed capital itu biasa disebut dengan modal disetor. Kalau kita menerbitkan saham, kita jual ke bursa, saham kita itu nominalnya 1000 rupiah, kita tawarkan di bursa 1100, berarti pembelinya harus nyetor 1100 per lembarnya. Kalau kita beli 1 lot (100 lembar) saham x 1100 = 110.000. Uangnya diterima oleh perusahaan, dicatat dalam 2 akun yang berbeda, yaitu legal capital dan other contributed capital. Legal capital itu nilai nominal/nilai pari, 1000 rupiah dicatat disitu. Sisa 100 nya masuk premium atau bahasa lainnya agio itu other contributed capital (modal setoran yang lain). Jadi 1100 dibagi ke 2 akun, nominalnya masuk kea kun nominal, selisihnya disebut agio kalo diatas nominal atau disebut disagio kalo dibawah nominal.
Selanjutnya retained earnings, akan dijelaskan setalah ini. Unrealized capital adjustment itu apa? Kita ambil contoh, kalo perusahaan kita punya anak di luar negeri, anak perusahaan kita (subsidiary) itu harus dikonsolidasi dengan induknya. Laporan keuangannya harus dikonsolidasi. Karena mata uang di luar negeri berbeda dengan mata uang kita, maka ada proses penjabaran (translation). Proses penjabaran ini menimbulkan selisih lebih atau selisih kurang. Zaman dulu itu disebut laba atau rugi, selisih laba atau ruginya masuk ke laba rugi. Zaman sekarang, selisih lebih/kurang karena perubahan kurs itu tidak boleh masuk ke laba rugi, tapi masuk ke capital adjustment yang belum direalisasi. Jadi akan ada unrealized translation adjustment, yaitu adjustment akibat penjabaran yang belum direalisasi. Artinya realisasi apa? Kalo anak perusahaan kita dijual, kita menerima uangnya dalam bentuk dollar, kita rupiahkan ke Indonesia itulah realisasi. Selama perusahaan kita masih berdiri di luar negeri maka namanya unrealized. Jadi selisih kursnya yang tadi, kurs dollarnya naik/turun, itu cuma selisih angka, itu selisih angka atau penyesuaian akibat penjabaran. Tapi itu belum direalisasi, makanya masuk ke neraca.
Jadi di owners’ equity itu ada apa? Ada modal setoran (nominal, agio/disagio), ada laba ditahan, ada selisih-selisih yang belum direalisasi, salah satu contohnya adalah selisih dari penjabaran laporan keuangan anak perusahaan di luar negeri. Itu akan ada disana selamanya, angkanya berubah-ubah, tergantung dari perubahan kurs. Ini akan hilang, akan masuk ke laba rugi kalau perusahaannya kita jual. Unrealized capital adjustmentnya menjadi realized setelah dijual. Begitu jadi realized pindah ke laba rugi, keluar dari neraca.
Selanjutnya retained earnings. Retained earnings itu isinya ada 3. Kita bisa lihat ini dalam laporan perubahan ekuitas. RE 1 januari ditambah laba atau dikurangi rugi tahun itu. Laba atau ruginya dari income statement accounts (akun-akun laba rugi) itu. Ada debit, ada kredit. Kalo debit itu ada biaya dan rugi, kalo di kredit itu revenue dan gain. Keduanya ada yang ordinary dan ada juga yang extraordinary. Selisihnya laba/rugi masuk ke retained earnings. Jadi retained earning awal ditambah laba atau dikurangi rugi jadilah retained earnings akhir.
Kalo ada dividen, dividennya kita kurangkan. RE awal ditambah laba atau dikurangi rugi, kurangi dividen ketemu RE akhir.
Kalo ada koreksi dari tahun sebelumnya (prior period adjustment), prior period adjustment tidak boleh masuk ke laba rugi. Tapi prior period adjustment langsung dilaporkan ke retained earnings.
Jadi komponen retained earningsnya akan ada 3, RE awal tambah laba atau kurangi rugi, kurangi dividen, tambah/kurangi prior period adjustment tergantung angkanya positif atau angkanya negative.
Misalnya, kita mengukur gedung dengan taksiran 20 tahun. Sekarang kita ubah taksirannya menjadi 40 tahun, berarti depresiasi yang lalu-lalu jadi salah. Kita harus perbaiki depresiasi yang lalu-lalu, itu namanya adjustment untuk periode sebelumnya. Koreksi dari depresiasi itu yang disebut prior period adjustment. Tidak boleh membebaninya laba rugi, tapi langsung dilaporkan di retained earnings. Kenapa? Karena laba rugi yang sebelum-sebelumnya sudah masuk ke retained earnings. Setiap tahun saldo laba masuk ke retained earnings. Kesalahan-kesalahan ini ngumpul di retained earnings. Kalo begitu retained earningsnya yang dikoreksi.
Jadi skema itu menunjukkan artikulasi laba rugi ke retained earnings, retained earnings ke neraca.
*** Chapter ini membahas 3 elemen dari neraca, ada asset, ada liability, ada owners’ equity.
ASSETS
Definisi Aset
Ada 3 kali usaha formal, di luar formal juga ada ahli-ahli akuntansi yang melakukan definisi, tapi yang formal itu ada 3 kali.
Defenisi aktiva yang dirumuskan profesi akuntansi AS:
Defenisi dari Committee on Terminology (1953), menyatakan aktiva sebagai sesuatu yang dinyatakan dalam saldo debit yang akan dipindahkan melalui penutupan akun menurut aturan akuntansi, dengan dasar bahwa sesuatu tersebut menyatakan baik hak milik atau perolehan nilai atau terjadinya suatu pengeluaran yang menimbulkan sebuah properti atau layak diterapkan untuk masa yang akan datang. Defenisi ini menekankan pada legal property, tetapi juga memasukkan beban ditangguhkan dengan alasan beban ditangguhkan terkait dengan LLR periode yang akan datang. Defenisi ini menunjukkan pendekatan pendapatan-biaya atas laporan keuangan.
Defenisi dari APB (1970), APB Statement No. 4 menyatakan aktiva sebagai sumber-daya ekonomis dari suatu perusahaan yang diakui dan diukur sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Dalam aktiva juga termasuk beban ditangguhkan, yang bukan merupakan sumber-daya tetapi diakui dan diukur sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.
Defenisi dari FASB (1985), SFAC No. 6 menyatakan aktiva sebagai manfaat ekonomi masa mendatang yang kemungkinan besar (probable) diperoleh atau dikontrol oleh suatu entitas sebagai hasil transaksi atau kejadian masa lalu.
Executory Contracts
Ada yang menyalahi dalam praktik. Sebetulnya kontrak untuk pembelian jangka panjang, kontrak untuk kepegawaian, itu sudah memenuhi syarat untuk dicatat sebagai aset dan kewajiban. Cuma praktik kita tidak. Kalo kontrak jangka panjang itu semacam MoU, kalo sudah ada kontrak walaupun barangnya belum di order harusnya diakui. Tapi praktik kita tidak mengakui itu. Kalau sudah melakukan order pembelian barulah dilakukan pencatatan. Jadi ada praktik yang sudah lama dalam akuntansi yang sebenarnya salah tapi kita tetap melakukan praktik akuntansi yang seperti itu.
Recognition and Measurement of Assets: Summary of Asset Measurement.
Recognition and measurement untuk piutang itu kita mau menaksir net realizable valuenya. Caranya bisa pakai analisa umur piutang, dan sebagainya.
Investments (subject to SFAS No. 115), surat berharga dibagi 3, yaitu available for sale, trading, held to maturity. Available for sale dan traning pakai fair value. Held to maturity pakai historical cost.
Investments (subject to APB Opinion No. 18), kalau kita punya kurang dari 20%, 20-50%, atau lebih dari 50% saham yang beredar. Kurang dari 20% pakai cost method. 20-50% pakai equity method. Lebih dari 50% equity method pakai konsolidasi.
LIABILITIES
Definisi Liabilities
Definisi dari FASB, SFAC No. 6 menyatakan kewajiban adalah potensi pengorbanan manfaat-manfaat ekonomik di masa depan yang timbul dari kewajiban saat ini dari suatu entitas tertentu untuk mentransfer aset atau menyediakan jasa kepada entitas-entitas lain sebagai akibat dari transaksi-transaksi atau kejadian-kejadian masa lalu.
Karakteristik utang ada 3, yaitu:
Kewajiban itu ada
Kewajiban itu tidak bisa untuk ditiadakan / Tidak bisa dihindari / Tidak boleh dihapus.
Kejadian yang menimbulkan kewajiban untuk perusahaan itu sudah terjadi.
Kita tidak boleh menghapus hutang. Kita boleh menghapus piutang. Piutang itu aset kita. Tapi kalau kewajiban kita itu tidak boleh dihapus kecuali kreditor kita menyatakan sudah tidak akan menagih lagi. Lain dengan aset. Kalau aset kita yang menghapus, kalau utang kita tidak boleh menghapus kecuali diberi penghapusan oleh kreditor.
Ada 5 pengelompokan utang:
Contractual liabilities
Constructive obligation
Equitable obligation
Contingent liabilities
Deferred credits
Yang utang sesungguhnya hanya yang contractual. Yang constructive dan equitable lebih karena nilai moral, tapi secara hukum tidak ada dasarnya. Contingent itu utang bersyarat, jadi utang kalo syaratnya terjadi. Misalnya, kita jual barang, lalu ada pembeli, ada jaminan atas kerusakan. Kalo barangnya rusak, kita harus mengganti. Ini contingent liabilities bagi kita sebagai penjual. Akan jadi liabilities kalo syaratnya dipenuhi yaitu barangnya rusak. Kalo barangnya tidak rusak, kita tidak harus membayar ganti ruginya, berarti tidak ada liabilities. Perusahaan kita punya sengketa, dituntut ke pengadilan dimintai ganti rugi. Harus dilaporkan di neraca sebagai contingent liabilities. Baru jadi utang kalo pengadilan menyatakan kita kalah lalu harus membayar ganti rugi, barulah itu jadi utang. Kalo dinyatakan kalah oleh pengadilan di persidangan akhir, baru menimbulkan hutang. Kalo tidak kalah, bukan utang. Deferred credit harusnya menurut definisi itu bukan hutang, tapi dalam praktik itu masuk di bagian liability.
Recognition and Measurement of Liabilities.
1. Notes payable with below market rates of interest
Jadi harusnya pengakuan utang itu harga pasar. Kalau kita mengeluarkan utang wesel, utang wesel kita itu berbunga, harusnya bunganya itu sesuai bunga pasar. Tapi kalo utang wesel itu dibawah, bunganya dibawah tingkat bunga pasar, hutang weselnya harus dikoreksi angkanya. Bisnis itu adalah arm length transaction (kesepakatan sepanjang lengan). Kalo kita mengeluarkan surat utang, bunganya pakai bunga pasar. Kalo bunganya dibawah pasar berarti sebetulnya utangnya itu tidak sebesar itu. Berarti harus dihitung utangnya 1000, bunganya 6%. Berarti bunganya 60, sedangkan tingkat bunga itu 9%. Berarti harusnya utangnya itu memberi bunga 90. Kalo bunganya cuma 60 berarti utangnya bukan 1000. Utangnya 1000:60 x 9% itu tadi. Harus dikoreksi seperti itu.
2. Bonds payable
Ada penghitungan agio dan disagio.
3. Convertible bonds
Convertible bonds ini utang sampai tanggal dikonversikan berubah menjadi saham. Sebelum dikonversi itu utang.
4. Debt with stock warrants
Stock warrants, ada penjual obligasi, ada lembar disitu kalo kita beli obligasi kita boleh beli saham dengan harga sekian. Berarti harga jual obligasi adalah harga jual obligasi dan harga jual warrant. Harganya harus dialokasikan untuk keduanya.
5. Redeemable preferred stock and other hybrid security
Yang namanya stock tidak pernah jatuh tempo, yang jatuh tempo itu hutang. Kalo itu preferred stock juga tidak boleh boleh jatuh tempo. Kalau disebut redeemable preferred stock (preferred stock yang bisa dibeli kembali oleh perusahaan) itu bukan preferred stock, itu utang. Jadi dalam praktik itu banyak kreativitas menciptakan transaksi. Bagaimana kita menilai. Kalau saham tidak boleh jatuh tempo, kalo jatuh tempo artinya utang. Kalo ini namanya saham tapi bisa dilunasi, berarti ini cuma nama sahamnya, tapi sebetulnya hutang. Berarti redeemable preferred stock harusnya masuk dibagian liability.
6. Securitizations
Sekuritisasi sekarang ini adalah transaksi yang umum dilakukan. Kita punya aset keuangan, punya piutang, piutangnya baru mau dibayar 3 tahun lagi. Kita butuh uang, yang punya piutang baru mau bayarnya 3 tahun lagi. Kita jual piutangnya. Jaman dulu namanya factoring, jaman sekarang namanya sekuritisasi. Kalo kita jual piutang, lalu ada yang beli, mereka harus membayar ke kita, tapi yang mau beli ini ga punya uang. Lalu yang mau beli ini menerbitkan obligasi dulu. Piutangnya dijadikan jaminan untuk obligasi itu. Jadi obligasinya di secure oleh financial asset kita, oleh piutang, transaksi seperti ini namanya sekuritisasi. Yang sudah banyak terjadi, bank-bank menjual tagihan kartu kreditnya ke multifinance.
***
Owners’ Equity
Masalahnya disini adalah treasury stock dan stock dividend.
Treasury stock
Kita jual saham ke bursa, boleh dibeli lagi. Kita jual 1000, trus kita beli lagi 900, berarti laba 100. Tapi akuntansi tidak membolehkan transaksi saham sendiri menerbitkan laba atau rugi. Jadi kalau kita beli saham kita sendiri namanya treasury stock. Selisihnya tadi mengurangi modal disetor atau menambah modal disetor, tergantung selisihnya. Tidak boleh masuk ke dalam laporan laba rugi. Ini namanya capital transaction, bukan revenue transaction. Kalau kita beli saham perusahaan lain, kita jual harganya naik, kita dapat selisih laba, masuk ke laba rugi. Tapi kalau yang kita beli itu saham kita sendiri, tidak ada dampaknya ke laba rugi, tapi masuk ke ekuitas
Stock Dividend
Kita kalo bagi stock dividen sebetulnya karena ga punya uang, kalo punya uang kita harusnya memberi dividen tunai. Masa mau ngasi dividen malah ngasi saham. Jadi kalo ga cukup likuiditasnya, maka diberi dividen tapi bukan uang, nanti kalo butuh uang bisa dijual sahamnya.
Semangat UAS!
Yogyakarta, 14 Desember 2015 | 00.02 WIB | annisafithria
Random Minggu Pagi
Jadi ceritanya belajar tentang apresiasi lagi, kali ini dari melingkar. Jadi kalo kata kakak mentor, mengapresiasi itu beda dengan memuji, kalo pujian itu kalo bisa sebisa mungkin dikurangi, terutama pujian terkait fisik, cukup Allahlah yang dipuji. Nah, beda dengan apresiasi. Justru kita harus memperbanyak apresiasi ini. Seperti kata Pak Er, apresiasi itu ada positif ada negatif. Setidaknya kita berusaha untuk menghargai setiap usaha orang lain. Dan ternyata memberikan apresiasi itu dampaknya bisa luar biasa. Saya sudah merasakan sendiri. Ditambah cerita kakak mentor tadi tentang temannya yang mendapatkan dosen pembimbing yang sangat apresiatif. Setiap membalas email selalu diawali dengan kalimat-kalimat apresiasi walaupun ujung-ujungnya semua hasil kerjaannya dicoretin, hehe, tapi merasa bahagia karena setidaknya usahanya dihargai.. Jadi teringat Pak Er :D
Cerita berikutnya bukan tentang apresiasi, kali ini tentang KNKEI. Jadi tadi abis melingkar nyempatin singgah ke FEB ngambil sertifikat KNKEI. Agak-agak shock liat sertifikatnya, kirain cuma sertifikat biasa doang, ternyata ada nilainya. Jadi kayak semacam rapor gitu, ada hasil ujiannya, tapi ga rinci, cuma nilai secara keseluruhan aja. Yang bikin kaget itu nilainya, haha. Memanglah, usaha itu sebanding dengan hasil. Terbukti dengan sekitar 2-3 kali ga masuk kuliah dan ga pernah belajar setiap mau kuis, nilainya jadi “cantik”, huhu. nyesel kuliahnya ga serius, karena ga ada tekanan gini jadinya ga serius, duh alesan. dan sayangnya kalo mau memperbaiki nilai itu baru bisa ikut lagi tahun depan. haha. yauda deh ya, yang penting kan ilmunya, bukan nilainya. Supaya ga nyesel, lain kali segala sesuatunya itu memang harus dilakukan dengan sepenuh hati. Kayak kata Pak Halim, apapun kuliahnya, suka atau tidak suka, berusahalah lakukan sebaik mungkin. Supaya terbiasa.. ini cukup jadi pelajaran untuk kedepannya. nilai pertama yang didapatkan selama kuliah, walaupun kuliah non kurikuler :D
Terus dijalan pulang, ngelewatin sunmor yang padat, nemu ibu-ibu yang nuntun orangtuanya jalan.. teringat mamak.. rasanya udah lama ga bisa ngajak mamak jalan-jalan, karena memang mamak ga kuat lagi buat diajak jalan terlalu lama. Terus dibelakangnya ayahnya mengikuti. Saya berjalan dibelakang ayahnya itu. Karena teringat kalo kita ga boleh mendahului orang tua kalo jalan, jadilah saya jalan pelan-pelan sambil mengamati ibu itu yang sedang menuntun ibunya.. rinduuu mamak ayah :’(
Semangat UAS! Usaha yang terbaik dan perbanyak do’a. Tiket udah manggil-manggil untuk pulang :’D
Yogyakarta, 13 Desember 2015 | annisafithria
Chapter 10 - International Accounting
#catatankuliah teori akuntansi kali ini akan membahas tentang Akuntansi Internasional yang saya dapatkan dari kelas Pak Zaki pada tanggal 10 November 2015. Semoga bermanfaat :)
International Accounting
Ada perusahaan yang semakin besar, perusahaan yang semakin besar ini ada 2 kegiatannya, bisa berkeinginan mengekspor (menjual barangnya ke luar negeri), dan mungkin juga dia butuh menggunakan berbagai fasilitas mesin dan lain-lain atau mungkin bahan baku dari luar negeri. Jadi ada ekspor, ada impor.
Perusahaan yang mulai masuk ke perdagangan internasional ini biasanya tidak langsung jadi perusahaan internasional, tapi mungkin buka cabang dulu seperti agen di luar negeri. Kita mengirim barang ke agen itu, agen yang menjualkan barang. Kalau sudah lebih besar mungkin jadi cabang. Kemudian kalo sudah lebih besar lagi, mungkin akan lebih murah kalau barang itu diproduksinya disana. Berarti ada anak perusahaan yang disebut subsidiary.
Akibat dari perkembangan seperti ini timbullah yang disebut perdagangan internasional. Timbullah anak perusahaan yang ada di luar negeri. Kemudian timbullah keperluan untuk mempunyai akuntansi yang sama.
Coba bayangkan, perusahaan Indonesia di Indonesia menggunakan standar akuntansi Indonesia, pakai rupiah. Punya cabang atau anak perusahaan di Singapura. Perusahaan di Singapura harus pakai standar akuntansi Singapura dan harus pakai mata uang dollar Singapura. Berarti ada masalah, akuntansinya beda, mata uangnya juga beda. Kalau perusahaan nantinya harus digabung jadi satu, berarti dua masalah tadi harus diatasi, akuntansinya harus disamakan, mata uangnya juga harus disamakan. Ga mungkin kita menjumlahkan rupiah dengan dollar. Di rupiahkan dulu dong :D
Timbullah kebutuhan, ini tidak cuma di Indonesia tapi di semua negara yang perusahaannya berkembang bisnis luar negerinya. Timbul banyak yang disebut multinational companies, perusahaan yang sudah ada di banyak negara, mungkin induknya di salah satu negara. Tapi kalau kita lihat mobil misalnya, mobil keluaran Jepang. Kita tau itu mobil Jepang, tapi produksinya dimana? Kalau di Indonesia berarti kita pakai mobil buatan Indonesia walaupun mereknya merek Jepang. Di Amerika pun begitu, karena tidak menguntungkan mengirim mobil dari Jepang ke Indonesia, seperti itu juga dari negara lain kemana-mana gitu.
Ini jadi perkembangan, kalau begitu ada kebutuhan antar negara. Kalau mata uangnya tidak bisa disamakan itu urusan lain, tapi akuntansinya bagaimana? Ini masalah pertama yang timbul. Kalau kita cuma mau terserah akuntansinya beda-beda, nanti pada waktu penjabaran, mau mengkonsolidasi laporan keuangan akuntansinya kita sesuaikan. Misalnya, perusahaan di Singapura itu harus pakai FIFO, yang di Indonesia misalnya pakai LIFO. Anak perusahaan Indonesia di singapura dikirim laporan keuangannya ke Indonesia. Berarti harus di LIFO-kan, dan ini perubahan yang tidak mudah. Itu satu, mengubah akuntansinya.
Yang kedua, penjabaran mata uangnya, dari dollar Singapura menjadi rupiah. Ini yang nantinya menimbulkan ada usaha hamonisasi, konvergensi, ada International Accounting Standards Board (IASB), dll. Ya sebetulnya masalahnya itu tadi. Jaman dulu tidak terlalu besar tuntutannya karena multinational companiesnya tidak sebanyak sekarang. Ini dorongan nantinya kita merasakan perlu hanya satu standar kalau bisa, sedunia.
Ide besarnya itu, ada kebutuhan untuk menyatukan. Sebelum ini bersatu, dulunya itu negara-negara yang mulai menggunakan akuntansi double entry itu diubah. Ada 2 kelompok negara di Eropa yang di daratan dan Inggris. Jadi ada istilah Anglo-American, aslinya adalah Anglo Saxon. Karena model akuntansi Anglo Saxon ini berkembangnya di Amerika, karena penulis buku ini orang Amerika, mengganti nama Saxon ini yang nama orang Eropa menjadi American. Yaitu akuntansi yang berasal dari Inggris yang dibawa berkembang ke Amerika dan berbagai negara lain.
Model yang lain adalah model eropa daratan. Continent itu benua. Benua eropa yang di darat itu, Inggris kan lepas. Yang didaratan itu yang besar adalah di Jerman, di Perancis, mereka memakai sistem yang berbeda dengan yang di Inggris, yang disebut sistem continental (continental model).
Jadi kalau begitu ada 2 sistem yang bisa kita lihat pada waktu yang lalu, yaitu:
Anglo-American Model
Ada Anglo-American Model yang diikuti oleh banyak negara, yaitu Inggris (United Kingdom), Amerika (United States), Kanada, Australia, Belanda, dan New Zealand. Kita bisa melihat keterkaitan antara penjajahan dengan berkembangnya akuntansi anglo-saxon. Amerika itu jajahan inggris. Kanada juga, Australia juga, new Zealand juga, mereka jajahan Inggris dan mereka pakai anglo-saxon. Kenapa? Karena cocok, orangnya sama, bisnisnya sama, berarti kalau begitu sistem itu yang dipakai. Dan negara yang jajahannya terbanyak di dunia itu adalah Inggris. Sampai sekarang dia punya common wealth (persemakmuran), sudah merdeka tapi masih bergabung sebagai mantan jajahan.
Sekarang dicari dasar atau karakteristik umum. Kalau orang menggunakan yang anglo-american ini karakteristiknya seperti apa? Kalau yang menggunakan continental karakteristiknya seperti apa?
Karakteristik yang menggunakan anglo-american model, yaitu menunjukkan adanya profesi akuntansi yang kuat, peran pemerintahnya agak terbatas, pasar modal itu sangat penting di dalam pencarian penambahan modal bagi perusahaan, dan tekanan para true and fair view. Memang betul, contohnya Inggris dan Amerika.
Yang pertama, profesi akuntansi yang terbesar itu di Amerika, kemudian di Inggris, berikutnya di negara-negara yang pakai anglo-american, seperti Australia dan seterusnya. Ada AICPA, ada FASB. Di Amerika itu auditornya bergelar CPA, di Inggris auditornya bergelar CA (Chartered Accountant). Jadi di dunia ini ada 2 gelar, dua2nya datang dari anglo-american countries. Jadi profesinya kuat.
Yang kedua, Campur tangan pemerintah dalam profesi akuntansi itu kurang. Ini betul, dulu. Setelah Sarbanes-Oxley (SOX) keluar, di Amerika berubah, di negara lain masih tidak campur tangan pemerintahnya, di Amerika pemerintahnya sudah sangat campur tangan karena adanya fraud, pemerintahnya marah, dibuatlah undang-undang yang mengambil kewenangannya profesi, seperti yang sudah pernah dibahas di chapter sebelumnya.
Yang ketiga, pasar modal sangat penting untuk menambah modal. coba lihat pasar modal paling besar di dunia itu di amerika. Perusahaan itu hampir semuanya public companies, modalnya diperoleh dari pasar modal. kredit bank ada tapi bukan yang utama. Karena pentingnya pasar modal untuk menambah modal, membuat lebih banyak perusahaan go public, public companiesnya lebih banyak, laporan keuangannya harus diaudit. Jadi profesi akuntansinya menjadi terdorong besar. Kalau kredit ke bank, kalau diatas jumlah tertentu juga ada ketentuan harus diaudit, dibawah itu tidak ada ketentuan harus diaudit.
Yang keempat, sudut pandang true and fair, yang di Amerika bergerak berubah menjadi present fairly (disajikan secara wajar). True and fair artinya sesuai dengan standar akuntansi, yang di amerika juga menjadi present fairly yang itu sesuai dengan standar akuntansi.
Jadi, negara-negara yang mengikuti anglo-american itu coba dilihat 4 karakteristiknya tadi kira-kira sama atau tidak. Pasar modalnya besar ga? Profesi akuntansinya besar ga? Campur tangan pemerintahnya banyak tidak? Kecuali amerika sekarang karena adanya SOX.
Pengikutnya anglo-american itu ada Inggris, Amerika, Kanada, Australia, ASEAN, dan negara lain (Belanda dan New Zealand).
The Continental Model
Sebaliknya yang continental, continental model umumnya menunjukkan profesi akuntansi yang lemah, campur tangan pemerintah yang kuat, termasuk pengaruh pajak dan proteksi kreditor dalam penyajian laporan keuangan. Jadi lawannya karakteristik tadi itu.
Kelompok yang kedua adalah kelompok continental, yang artinya benua, daratan, yang terutama itu daratan eropa. Disini disebutkan lawan dari anglo-american karakteristiknya. Profesi akuntansinya kecil, tidak berkembang. Standar akuntansi bisa tidak ada, tapi undang-undang termasuk undag-undang perjakan, di dalamnya mengacu juga ketentuan-ketentuan tentang standar akuntansi. Berarti kalau begitu laporan keuangan berdasarkan pada ketentuan formal, yang ini seringkali berlawanan dengan yang kita kenal. Yang kita kenal itu substance over form (substansi itu yang lebih diutamakan daripada bentuk legalnya). Kalau di continental tidak, legalnya itu yang nomor satu. Berarti kalau laporan keuangan itu tidak bisa dikatakan true and fair disini. Laporan harus berguna untuk pengambilan keputusan dan lain-lain, ada judgement, nanti dulu, kalau di continental itu tidak ada, yang ada harus sesuai dengan hukum yang berlaku yang disebut dengan legislative fiat. Fiat itu persetujuan. Undang-undangnya harus disetujui oleh badang legilatifnya, laporan keuangan berarti mengikuti itu.
Yang pakai continental ini Perancis, Jerman. Jepang itu sistemnya mirip dengan sistem continental. Yang masuk continental harusnya yang dibenua eropa, Jepang kebetulan sama sistemnya mendekati. Belakangan Jepang juga menggunakan anglo-american.
Sekarang, sesudah ada harmonisasi, sesudah ada konvergensi, semuanya mulai berubah. Standar akuntansi yang berlaku dulu, sekarang sudah diganti dengan standar akuntansi yang lebih internasional. Pada waktu IASC, standarnya kita sebut SAK. Sekarang pada waktu FASB, standarnya kita sebut IFRS. Negara-negara continental pun ikut berubah. Jerman jaman dulu tidak ada kewajiban mengkonsolidasi anak perusahaan di luar negeri, jadi yang dikonsolidasi di dalam negeri. Belakangan berubah, yang diluar negeri pun dikonsolidasi.
Dalam kaitannya dengan perbedaan-perbedaan akuntansi antar negara, ada banyak penulis yang mencoba membangun teori-teori terkait dengan perbedaan akuntansi antar-negara. Ada yang memakai teori ekonomi, bahwa berdasarkan teori ekonomi yang diterapkan di negara itu, maka karakteristik akuntansi negara itu bisa ditunjukkan. Ada yang menunjukkannya mencoba mengelompokkan berdasarkan culture (budaya). Ada 4 bidang budaya ini misalnya budaya bangsa yang individualistic dan budaya bangsa yang collectivism (bersama-sama/gotong-royong), kemudian dilawankan gitu. Apakah bisa memakai teori budaya ini untuk nanti menunjukkan bahwa akuntansi di negara yang seperti ini akan menggunakan akuntansi begini. Jadi ada teori-teori yang dicoba dikembangkan.
International Harmonization of Accounting Standards
Mengenai harmonisasi, harmonisasi ada 2, yaitu:
Harmonisasi material (de facto harmonization) mengarah pada harmonisasi praktik akuntansi dari perusahaan-perusahaan yang berbeda baik dengan peraturan maupun tidak
Harmonisasi formal (de jure harmonization) mengarah pada proses/tingkat harmonisasi akan kebijakan dan peraturan akuntansi antara negara
Harmonisasi itu ada 2, yaitu Harmonisasi Material (de facto harmonization) dan Harmonisasi Formal (de jure harmonization). Kalau formal itu proses atau tingkat harmonisasi yang ada dalam standar akuntansi atau regulasi akuntansi negara-negara yang berbeda. Indonesia dengan Malaysia sama berarti de jure, ada formal harmonization. Kalau antar perusahaan, dari praktik yang berbeda-beda, yang tidak berasal dari regulasi akuntansi disebut material harmonization.
Siapa yang mendorong harmonisasi? Masyarakat eropa yang akhirnya menjadi EU (European Union), mereka itu mau menyatu karena mereka merasa kecil-kecil sendiri-sendiri ini repot. Pada akhirnya mereka sepakat antar mereka tidak membutuhkan visa, dan sepakat mata uangnya dijadikan satu, pakai euro. Keseragaman ini dirasakan kebutuhannya disana, termasuk untuk akuntansi. Dulunya negaranya sendiri-sendiri, sesudah menjadi EU mereka harus mulai menyeragamkan ini. Bagaimana caranya? Bukan membuat undang-undang yang berlaku untuk setiap negaranya, tapi mereka membuat arahan (directive). Berdasarkan arahan itu, setiap negara akan menyesuaikan ketentuan di negaranya sehingga jadi lebih harmonis antar negara di Eropa.
Yang terkenal directivesnya itu ada 2 yang terkait dengan akuntansi, yaitu directive nomor 4 (Fourth Directive) dan directive nomor 7 (Seventh Directive). Eropa untuk kebutuhan mereka sendiri, mereka membutuhkan harmonisasi.
Kemudian dibentuklah International Accounting Standards Board (IASB) yang dulunya adalah International Accounting Standards Committee (IASC). Yang menggunakan standar akuntansi internasional itu baru sedikit negara dan standarnya baru sedikit, belum lengkap. Tapi kita sudah diminta untuk mengikuti itu, yang mendorong IOSCO. IOSCO mendorong Bapepam, Bapepam mendorong IAI. Bapepam sama dengan SEC, yang punya kewenangan itu mereka. Jadi menambah negara yang mau menggunakan standar akuntansi yang sama. Kalau begitu ada peningkatan harmonisasi, oleh siapa? Oleh IASC, berubah belakangan menjadi IASB untuk ikut mendorong kesamaan penggunaan standar.
Usaha kesitu tidak cuma harmonis, tapi kalau bisa di converge. Standarnya itu kalau bisa dipakai di dalam negeri sini, dipakai di dalam negeri sana, berarti tingkat keseragamannya lebih tinggi. Yang tidak sesuai yang melanggar hukum saja yang digunakan. Yang tidak melanggar hukum itu tetap digunakan. Akibatnya menjadi keseragaman yang lebih tinggi. Yang masih jadi masalah adalah belum lebur sepenuhnya amerika ke dalam penggunaan standar akuntansinya ASB. Walaupun sebetulnya yang dibuat oleh IASB itu menggunakan punya Amerika.
Principles-Based Versus Rules-Based Standards
Standar yang berdasarkan aturan (Rules-Based Standards) biasanya sangat detil, terkadang banyak pengecualian, membutuhkan petunjuk implementasi yang luas, dan terkadang memiliki garis perbedaan yang jelas antar aturan. Terkadang garis perbedaan yang jelas inilah yang sering dipatahkan oleh manajemen.
Standar yang berdasarkan prinsip (Principles-Based Standards) biasanya lebih pendek daripada standar yang berdasarkan aturan dan sangat bergantung pada penilaian, baik oleh manajemen atau auditor, untuk melaksanakan niat dari lembaga pengatur standar dalam hal relevansi, reliabilitas, dan mencapai realitas ekonomi.
Standar akuntansinya Amerika itu adalah detail. Ada aturan-aturan yang harus dilaksanakan makanya disebut rules-based. Ada perbedaan yang jelas untuk melakukan ini atau untuk melakukan itu.
Standar akuntansinya IASB tidak mau menggunakan rules-basednya Amerika ini, tapi mereka maunya menggunakan principles-based. Principles-based itu detailnya dikurangi. Banyak ditekankan pada judgement manajemen atau auditor. akan timbul flexibility, akan berkurang uniformity.
Conceptual Framework
Ada sedikit perbedaan, conceptual frameworknya FASB itu tidak punya power untuk menekan DSAK, itu hanya digunakan sebagai basic background pengetahuan. Sedangkan conceptual frameworknya IASB itu punya ketentuan mengatur FASBnya. Jadi ada perbedaan antara conceptual frameworknya FASB dengan conceptual frameworknya IASB.
Fair Value
Ada SFAS No. 157 yang membagi ketentuan fair value itu menjadi 3 level. Level 1 itu kalau ada harga pasar yang sama barangnya, level 2 harus yang sejenis, level 3 kalau tidak ada. Kalau tidak ada berarti harus pakai appraisal. Ada penilaian. Masalahnya penilaian antar penilai itu tidak sama, apalagi antar penilai antar negara. oleh karena itu dibentuklah yang disebut disini International Valuation Standards Committee (IVSC) yang ada dibawahnya UN (United Nations) yang mempunyai kewenangan untuk metodologi penilaian aset.
Sekian #catatankuliah kali ini. Semangat nulis papernyaa!
Yogyakarta, 9 Desember 2015 | annisafithria
Chapter 9 - Uniformity and Disclosure: Some Policy-Making Directions
As always, tulisan ini adalah #catatankuliah teori akuntansi yang saya dapatkan dikelas Pak Zaki pada tanggal 3 November 2015. Semoga bermanfaat :)
Uniformity
Uniformity berarti perlakuan akuntansi yang sama, artinya sama itu apa? Maksudnya pencatatan akuntansinya itu uniform (seragam). Dampak dari uniformity pencatatan ini adalah pada peningkatan comparability. Comparability itu apa? Comparability itu termasuk dalam output oriented principle. Berarti kalau sudah menerapkan prinsip orientasi input dengan benar, kita akan mendapatkan output principle. Jadi prinsip berorientasi output itu adalah akibat kalau kita menggunakan prinsip input yang benar. Prinsip inputnya ada yang general, ada yang constrain. Kalau input diterapkan dengan benar hasilnya adalah output. Output itu apa? Comparability, consistency, dan uniformity. Jadi kalau sekang yang kita lihat uniformity ini pencatatannya, berarti kita mencatat dengan cara yang sama, berarti laporan hasil pencatatan tadi bisa dibandingkan (comparable). Yang dibahas dalam chapter ini hanya perbandingan perusahaan, tidak berpikir tentang antar negara (internasional), tapi hanya antar perusahaan.
Kalau kembali ke SFAC No.8 Bab 3, Comparability itu enhancing the fundamental characteristic. Jadi kita akan punya informasi relevant, faithful, kalo itu akan lebih baik kalo salah satunya adalah comparable. Kalau laporan keuangan tidak bisa dibandingkan, masih relevant bisa, masih faithful bisa, tapi tidak sebaik relevant dan faithfulnya kalo comparable. Comparable ini bisa dicapai kalau kita menggunakan pencatatan yang uniform.
Finite and Rigid Uniformity
Contoh, sekarang dibuat aturan siswa sekolah pakai seragam. Seragam siswa sekolah itu menghasilkan uniformity, pakaian sekolah. Semua siswa, tidak peduli laki-laki dan perempuan, bawahnya harus merah, atasnya harus putih untuk SD, semua siswa diperlakukan sama, ini Rigid. Sekarang ditambah lagi, siswi harus pakai rok bawahnya dan baju atasnya, siswa harus pakai celana bawahnya dan baju atasnya, itu Finite.
Jadi, siswa (sebagai event) untuk berpakaian seragam itu ada relevant circumstancesnya (keadaan yang membedakan). Kalau di akuntansi ada keadaan ekonomi yang membedakan. Kalau untuk siswa tadi, laki-laki dan perempuannya yang membedakan. Jadi, kalau eventnya itu bisa dibedakan, jangan dipaksakan hanya satu aturan.
Misalnya, seragam untuk anak SMA semua tidak peduli laki-laki atau perempuan harus abu-abu dan putih warnanya tapi harus pakai rok semuanya, laki-laki juga harus pakai rok, itu gimana? Itu namanya rigid. Harusnya jangan diperlakukan rigid, karena apa? Ada beda antara laki-laki dan perempuan, ada relevant circumstances. Yang cocok seharusnya pakai finite uniformity, yang seragam untuk perempuan pakai rok, yang seragam untuk laki-laki pakai celana. Harusnya relevant circumstancesnya dipertimbangkan, harusnya pake finite.
Contoh lain yang ada yang relevant circumstancesnya, di Amerika tahun 70-an pada awalnya FASB dibentu, FASB menerbitkan SFAS No. 2, yaitu standar akuntansi untuk research and development. Sebelum SFAS No.2, standar akuntansi yang berlaku adalah finite uniformity karena research and development (R&D) itu complex event, ada relevant circumstancesnya. R&D itu bisa gagal, bisa berhasil, itulah relevant circumstancesnya. Riset bisa berhasilkan mengembangkan dan menghasilkan sesuatu, atau riset bisa gagal dan tidak menghasilkan apa-apa. Itulah yang disebut dengan relevant circumstances. Harusnya akuntansinya berbeda untuk yang berhasil dan yang gagal. Dulu kalau berhasil dicatat sebagai asset, kalau gagal dicatat sebagai expense, itu finite, mempertimbangkan relevant circumstances. Ternyata ada dibahas manajemen itu berperan mengatur relevant circumstances. Apa tujuan manajemen? manajemen itu punya kepentingan, ada 3:
The role of management in relevant circumstances, ada 3:
Memaksimalkan laba jangka pendek yang dilaporkan, jika kompensasi manajerial berdasarkan laba tersebut
Meminimalkan laba jangka pendek, jika terdapat kekhawatiran adanya intervensi pemerintah terkait dengan antitrust.
Meratakan laba (smoothing income) untuk menunjukkan kepada pemegang saham bahwa perusahaan mempunyai risiko yang cukup rendah.
Contohnya begini, laba saya (manajer) dianggarkan 1 M, sekarang laba saya sudah 1,1M, berarti saya mencapai target anggaran, berarti kinerja saya dinilai positif, berarti ada kemungkinan saya diberi bonus. Lalu ini ada biaya R&D 300 juta 1 tahun, ternyata risetnya gagal, berarti 300 juta harus di expense-kan. Laba saya tidak lagi menjadi 1,1, berarti tinggal 800jt, sedangkan anggaran 1M. Berarti saya tidak mencapai anggaran, kinerja saya buruk, bonus saya mungkin tidak diberikan. Lalu saya berpikir, relevant circumstancesnya saya atur, supaya bisa tidak dicatat sebagai biaya tapi dicatat sebagai aset. Trus saya bilang sekarang belum berhasil, tapi nanti akan berhasil. Jadi karena ada harapan berhasil maka saya masukkan ke dalam aset. Laba saya tetap 1 M.
Lalu FASB melihat, apa gunanya diberi standar akuntansi finite kalau relevance circumstancesnya diatur. Maka terbitlah SFAS No.2, semua biaya R&D tidak peduli sukses ataupun gagal dimasukkan ke expense. Jadi dulunya finite dengan mempertimbangkan relevan circumstances, tapi karena manajemen ngatur-ngatur relevant circumstancesnya, FASB menerbitkan standar yang rigid uniformity.
Karena manajemen dalam praktiknya ikut mengatur relevant circumstances, berarti measurabilitynya itu susah diperoleh. Kalau measurabilitynya susah diperoleh menurut formulating accounting policy harusnya pakai rigid, karena sulit measurenya. Kalau bisa di measure baru pakai finite.
Jadi, masalah uniformity ini sebetulnya sederhana masalahnya. Kita punya event, lalu kita putuskan event ini simple atau complex. Kalau simple langsung rigid, standar akuntansinya tidak boleh yang lain. Kalau complex, ada relevant circumstances, misalnya leasing, misalnya R&D. Kalau begitu yang bener kalau bisa diukur relevant circumstancesnya dan tidak mahal maka kita harus membuat standar akuntansi yang finite. Bisa capital lease, bisa operating lease sepanjang syaratnya dipenuhi. Syarat apa? Syarat relevant circumstances.
Flexibility
Kecenderungan akuntansi zaman dulu itu dulu-dulunya unregulated, baru belakangan ada regulasi. Unregulated berarti yang memilih akuntansi siapa? Manajemen perusahaan yang memilih metodenya karena tidak ada akuntansi jadi terserah manajemen. Pendapat yang beredar pada waktu itu adalah manajemen itu adalah pihak yang paling tau kondisi perusahaan dibanding yang lain. Untuk itu maka diberilah kewenangan bagi manajemen untuk memilih standar akuntansi yang bisa menggambarkan perusahaannya dengan baik. karena yang paling tau dia, maka diberilah kewenangan kepadanya. Akibatnya apa? Berlakulah pemilihan metode akuntansi sesuka manajemen yang kita sebut dengan flexibility.
Eventnya simple, tapi metodenya beda-beda. Contohnya persediaan, persediaan itu sebelum LIFO dihapus oleh IFRS, persediaan itu boleh pake LIFO, weighted average, atau FIFO. Jaman sebelum tahun 1930 itu banyak metode lain. Setelah ada standar akuntansi, standar akuntansinya masih fleksibel. Ada 3 metode silahkan pilih, tidak diberi catatan kalau begini harus pilih ini, kalau begitu harus pilih itu, tidak ada. Kamu kok pilih FIFO? Tetangga saya juga pake FIFO. Kenapa pake LIFO? Disana kelompok saya perusahaan ini semua pake LIFO. Tidak ada aturan. Ini yang disebut dengan flexibility.
Akibatnya apa? Ini lawannya uniformity, akibatnya comparabilitynya rendah. Dulu belum terpikir comparability itu sebagai suatu kualitas. Informasi harus comparable dulu tidak terpikir. Baru belakangan comparability terpikirkan. Jikalau begitu supaya comparable jangan menerapkan prinsip flexibility.
Sedapat mungkin jangan ada yang flexibility. Misalnya persediaan kok masih ada? Itu sisa lama yang belum bisa dihapus. Kalau sekarang ada perusahaan pakai LIFO, terus dilarang LIFOnya, terus dia harus berubah ke FIFO, jangan dikira tidak mahal. Dia harus mengganti software akuntansinya, dia harus menguji dulu, dan itu memakan waktu dan biaya. Jadi mengubah tidak mudah apalagi yang memakai detail rincian seperti persediaan. Ini masalahnya.
Walaupun kita tau flexibility harus dihindari tapi dalam praktik kita lihat masih ada sisa-sisa dari konsep flexibility. Kedepan kalau bisa dihilangkan, supaya nantinya uniform. Uniform yang baik yang rigid atau yang finite? Harus dibagi 2, simple atau complex. Complexnya bisa diukur dan tidak mahal, pakai finite. Tidak bisa diukur atau mahal jadikan sama dengan simple, pakai rigid.
Disclosure (Pengungkapan)
Jadi, pengungkapan informasi di laporan keuangannya (neraca, laba rugi, dst) dan informasi tambahannya (catatan atau lampiran) itu semua masuk bidang disclosure walaupun di SFAC di definisikan berbeda, selain recognition, tapi ini kita pakai arti luas. Semua informasi yang diungkapkan itu adalah disclosure.
Pencatatan akuntansi yang menimbulkan masalah uniformity dan menjadi konsep comparability, itu adalah masalah standar akuntansi. Yang mengatur standar akuntansi harusnya SEC. tapi sejak awal SEC sudah bilang silahkan AICPA membuat standar. AICPA membentuk CAP, APB, lalu dikritik-kritik jadi FASB. Jadi, standar akuntansi yang membuat adalah profesi. Termasuk di Indonesia, DSAK (Dewan Standar Akuntansi keuangan) itu adalah profesi akuntansi, bukan bapepam. Jadi, standar akuntansinya yang mengarah pada nanti ada uniformity, itu yang menyiapkan adalah profesi akuntansi.
Disclosure yaitu pengungkapan informasi itu adalah bidangnya SEC yang tidak banyak diserahkan kepada profesi. Jadi SEC tetap aja buat aturan sendiri. Akibatnya apa? Standar akuntansi tidak terlalu banyak mengatur disclosure. Standar akuntansi banyak mengatur akuntansi, pencatatan, pengukuran, pengakuan, tapi pengakuan informasinya itu diatur melalui peraturan SEC. Di Indonesia dulu BAPEPAM, sekarang OJK.
Jadi kita punya 2 set aturan. Aturan pencatatan itu ada recognition, measurement, kemudian pencatatan itu yang mengatur adalah standar akuntansi. Menyusun laporan menjadi laporan apa saja yang harus diungkap itu standar mengenai pengungkapan (disclosure) yang membuat BAPEPAM. Jadi ada dua pihak, akuntansinya oleh profesi, pelaporannya pengungkapannya oleh SEC atau BAPEPAM. Di Amerika, urusan disclosure adalah urusannya SEC, urusan accounting adalah urusannya AICPA. Sehingga yang dijelaskan disini adalah disclosure function of the SEC.
The Disclosure Function of the SEC
Jadi, sesudah krisis tahun 1929-1930 di amerika dibentuk SEC, ada undang-undang, dll, mulailah ada regulasi. SEC meregulasi disclosure. Tujuannya apa? Karena krisisnya di Amerika itu tadi akibat dimulai dari crashnya pasar modal, yang dirugikan pertama kali adalah para investor. Berkembang menjadi krisis ekonomi. Maka SEC mencoba mengatur disclosure dalam rangka memproteksi investor. Supaya investornya aman tidak dirugikan. Maka disebutlah protective disclosure, perusahaan diminta mengungkap informasi supaya investornya terjaga, terproteksi.
Informasi yang harus diungkap untuk memproteksi investor adalah informasi yang sudah terjadi (historical transaction), datanya sudah ada, namanya data yang sudah ada itu ada transaksinya disebut dengan data keras (hard data). Laporan keuangan, rincian transaksi yang sudah terjadi, itu semua adalah hard data. Jadi SEC menugasi perusahaan menerbitkan informasi itu tadi yang disebut dengan nama protective disclosure.
Sesudah itu, tambah informasi lagi sampai timbul kesadaran bahwa sebetulnya keputusan investor ini adalah untuk masa yang akan datang. Keputusan yang dibuat investor tentang jual beli saham itu sebetulnya mempertimbangkan kondisi masa yang akan datang. Kok informasinya cuma yang masa lalu ini. Lalu mereka meminta sekarang perusahaan menerbitkan ramalan mengenai masa yang akan datang. Buatlah forecast. Forecast itu datanya belum terjadi, tapi baru ramalan. Oleh karena itu disebut soft. Disclosure yang seperti ini memberi informasi kepada investor untuk memperbaiki keputusannya, karena itu disebut informative disclosure.
Jadi bukan berarti yang protective dihilangkan, yang protective itu diawal-awal diminta. Sesudah protectivenya diminta, sudah ada, ditambahi dengan yang informative. Jadi disclosure terdiri dari dua jenis data, yang hard dan soft.
Imperfections of The Disclosure Process
Ada juga informasi yang tidak dipublikasi, tapi oleh SEC perusahaan diminta melaporkannya ke SEC. ada 2 laporan, yaitu laporan 10-K dan laporan 10-Q. 10-K itu laporan tahunan, rinci sekali, tapi hanya setahun sekali. 10-Q itu quarter, seperempat, triwulan, 3 bulanan. Ini tambahan informasi ke SEC, tidak dipublikasi.
Forms and Methods of Disclosure
1. Management’s Discussion and Analysis (MD&A)
Ada di annual report perusahaan go public, MD&A isinya minimum ada 4 poin:
harus ada hasil operasi, termasuk informasi perubahan harga jual, perubahan biaya, perubahan volume
harus ada penilaian likuiditas masa yang akan datang dari perusahaan itu
harus ada sumber modal dan rencana capital expenditure.
tren, ketidakpastian, dan peristiwa di masa yang akan datang yang dapat memiliki pengaruh pada 1-3.
itu salah satu bentuk disclosure, isinya sebagian data masa lalu, sebagian forecast. Berarti itu termasuk protective dan informative disclosure.
2. Signaling and Management earnings forecasts
Jadi perusahaan itu diluar MD&A bisa menambah lagi dengan forecast-forecast, seperti forecast laba. Ini apa? Ini tambahan, ini sebetulnya tidak masuk mandatory, tapi masuk ke voluntary (sukarela).
Perusahaan go public dituntut oleh BAPEPAM untuk membuat laporan dua kali setahun, desember dan juni. Tapi banyak perusahaan menerbitkan akhir maret, akhir juni, akhir September, akhir desember, ini voluntary disclosure. Untuk apa? Memberi sinyal ke pasar modal. menerbitkan informasi itu membutuhkan biaya, mereka mau membayar biaya demi memberi sinyal ke pasar modal. supaya pasar bereaksi positif.
3. SFAS No. 131
Mengatur mengenai segmen, pelaporan segmen. Segmen itu bagian operasi yang dilihat cukup besar. Harus diungkap sendiri, perusahaan punya segmen apa. Pelanggan yang besar itu segmen, daerah penjualan yang besar itu segmen, jenis produk yang lebih dari sekian persen itu segen, itu harus dilaporkan khusus ada pengungkapannya.
4. Quarterly information
Informasi 3 bulanan. Ada 2 pendekatan:
Discrete view: berdiri sendiri setiap 3 bulan, berarti dianggap sama seperti time periodenya menjadi 3 bulanan
Integral view: time periodnya masi 1 tahun, cuma sekarang dilaporkan 3 bulanan, jadi 3 bulanan adalah bagian dari satu tahun.
Akibatnya apa? Tidak ada perataan dalam discrete view. Dalam integral view, ada perataan. Dalam integral view, Kalau ada laporan keuangan maret, labanya 1 M, kira2 laba setahunnya nanti 4M, karena disitu ¼ dari satu tahun. Tapi kalo discrete view, 3 bulan pertama 1 M, 3 bulan kedua belum tentu 1 M lagi, 3 bulan berikutnya juga belum tentu karena dia berdiri sendiri. Praktik kita menggunakan yang integral view.
5. Small Firms vs Larger Firms
Keberadaan standar overload. Kasian perusahaan kecil kalo diperlakukan sama dengan perusahaan besar. Kemampuan perusahaan kecil mengeluarkan biaya akuntansi tidak sebesar perusahaan besar. apakah perlu dibuat standar akuntansi yang berbeda untuk perusahaan kecil dan untuk perusahaan besar.
Amerika pernah melakukan itu pada waktu menerbitkan SFAS No. 33, yaitu pada waktu inflasi tinggi. Hanya perusahaan besar yang kena standar itu, yang diluar perusahaan besar tidak kena standar. Di Indonesia kita punya 2 standar sekarang, IFRS dan ETAP. Kalo perusahaan publik wajib pakai IFRS. kalo perusahaannya tidak go public, standar yang digunakan adalah ETAP. Asumsinya yang tidak go public itu yang kecil, yang besar itu yang go public. Berarti kita memakai small vs larger firms.
Alhamdulillah.. setelah dihitung-hitung rata-rata sepertinya saya memang butuh waktu sekitar 5-6 jam untuk mengerjakan satu bab catatan kuliah ini, mulai dari mendengarkan rekaman, ngetik di ms word, sampai merapikan dan membaca ulang di tumblr.
Mungkin sebagian orang, terutama saya sendiri pernah mikir ngapain coba ngetik capek-capek terus ntar orang tinggal baca dan ngopy paste. tapi harus cepat-cepat dihapus tuh pikiran gitu. kembali ke niat awal, catatan ini dibuat untuk membagikan ilmu yang sudah saya dapatkan karena sayang kalo cuma saya sendiri yang baca dan sekalian buat memudahkan saya memahami pelajaran dan mempersiapkan ujian.
Cara belajar tiap orang itu beda-beda. Mungkin cara saya ini tidak terlalu ampuh buat orang lain. tapi yang saya rasakan bahwa tentu ada beda antara orang yang mendengar, menulis, dan membaca, dengan orang yang hanya membaca saja. Tapi tetep aja balik ke diri masing-masing lagi.
Selamat menemukan cara belajar terbaik untuk diri kita sendiri ;)
Yogyakarta, 9 Desember 2015 | menjelang pagi, 01.44 am | annisafithria