Chapter 14 [end] - Accounting for Changing Prices and Inflation
Berikut ini adalah #catatankuliah terakhir tentang teori akuntansi yaitu Chapter 14 yang saya dapatkan di kelas Pak Zaki pada tanggal 8 Desember 2015. Semoga bisa membantu saya dan kalian yang mau ujian :’D
Akuntansi untuk perubahan harga dan inflasi. Berarti ada 2 pengertian. Jika kita melihat laporan BPS, inflasi sekian persen, inflasi sekian persen artinya adalah telah terjadi perubahan harga umum. Tapi kalau kita ke toko, kalau kita ke pabrik, kalau kita mau beli sesuatu, belum tentu yang mau kita beli itu naiknya sama seperti inflasi. Jadi misalnya kita mau beli sepatu, inflasi dikatakan 5%, tahun lalu harga sepatunya 100ribu, 5% harapannya jadi 105 ribu. Tapi bisa harganya dibawah 105 dan diatas 105, belum tentu sama dengan 105. Ini yang disebut dengan changing prices. Kita pakai istilah perubahan harga umum untuk inflasi, perubahan harga khusus untuk jenis barang-barang tertentu yang belum tentu perubahannya sama dengan inflasi.
Jadi, karena ada dua jenis perubahan harga, akuntansi mencoba meresponnya dengan dua jenis. Jadi kita lihat dulu akuntansi kita selama ini kan memakai historical cost, baru belakangan kita berubah memakai fair value. Dulunya historical cost terus. Kalau kita pakai historical cost, sedangkan asumsinya historical cost itu adalah monetary unitnya stabil, begitu monetary unitnya tidak stabil (ada perubahan harga) maka asumsi kita sudah tidak terpenuhi. Misalnya kita mau membuat bangunan 10 tingkat, asumsi kita tanahnya keras. Begitu kita mengasumsi tanahnya keras, kita merancang fondasinya. Tapi begitu mau mudah membangun, di tes, ternyata tanahnya tidak keras, kalau begitu ini asumsinya salah. Kalau asumsinya salah, model bangunan kita dengan fondasi yang kita rancang jadi salah. Kalau kita nekat membangun dengan fondasi yang salah, bisa bisa bangunannya ambruk, paling tidak miring. Ini berarti asumsinya tidak terpenuhi, tapi modelnya tetap dipakai. Itulah yang kita alami selama ini bahwa asumsi mata uang stabil itu tidak terpenuhi tapi kita nekat pakai historical cost.
Baru belakangan kita sadar, kalau begitu jangan pakai historical cost, kita pakai fair value. Ada usaha di negara-negara tertentu kalo perubahan harga umumnya (inflasinya) besar mereka menyebutnya hyperinflationary economy (ekonominya inflasi tinggi). Kalau sudah seperti itu mereka mencoba memperbaiki historical cost. Tidak semua negara melakukan, ada beberapa negara yang melakukan. Misalnya, jaman dulu Jerman pernah mengalami inflasi tinggi. Coba bayangkan pagi ini harga 1000, siang 1100, sore nanti 1200, besok 1500, terus gimana ? Bingung kalo setiap hari harga berubah begitu. Akhirnya mereka mengatakan mari harga itu disetarakan dengan jumlah emas. Jadi misalnya harga emas 1 gram itu 1000, kita beli barang 1000 rupiah, maka dicatatnya barang kita 1 gram. Tidak pakai uang, tapi pakai emas. Nanti akhir tahun pas buat laporan keuangan, emasnya dirupiahkan pakai harga pada hari itu. Ini mengatasi harga yang berubah terus. Itu pernah terjadi.
Ada masalah inflasi yang berdampak pada akuntansi. Harga yang kita catat hari ini, berikutnya sudah tidak cocok lagi. Terus kita mau lapor, kita beli gedung harganya 1 M, dalam setahun inflasinya misalnya hyper 200%, berarti akhir tahun kalo dibeli gedung ini harga 3 M, misalnya. Terus kita lapor di neraca pakai historical cost, 1 M. Total assetnya terlalu rendah, rasio-rasio keuangannya salah semua. Labanya berapa terus dibagi dengan total asset ketemu return on asset (ROA), ROAnya besar karena asetnya kecil. Manajemennya kita anggap baik. Artinya manajemen itu tidak bisa kita ambil untuk mengambil keputusan. Bahasanya teori, informasinya tidak relevan. Yang paling bermasalah adalah relevansi. Reliability tidak terlalu terganggu, karena bukti belinya ada, bukti penerimaan barangnya ada, bukti yang lain ada semua, pencatatannya ada semua, ngitungnya bener semua, reliabilitynya terpenuhi. Faithful representationnya terpenuhi. Yang tidak terpenuhi itu relevansi.
Lalu apa gunanya laporan keuangan yang informasinya tidak relevan. Tujuan menyajikan laporan keuangan itu menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan. Artinya kita menyajikan informasi yang relevan. Kalau kita menyajikan informasi yang tidak relevan, untuk apa disajikan. Itu masalahnya.
Terpikirkan oleh profesi kalo inflasinya itu kecil gapapalah. 100 dan 105 ribu itu tidak terlalu signifikan bedanya. Mungkin materialitas kita masih meng-ok-kan itu. Jadi kalau begitu masih relevan. Inflasi yang kecil mengganggu relevansi tapi mengganggunya kecil. Keputusannya masih bisa dijalankan. Kalau begitu ok.
Inflasi yang besar, keputusannya menjadi terganggu karena informasinya menjadi tidak relevan. Monetary unitnya sudah berubah nilai, tapi akuntansinya masih tetap pakai historical cost. Tidak bisa, tidak berguna informasinya. Harus disesuaikan supaya mendekati harga sekarang. Akuntansi memilih dua cara, yaitu menyesuaikan historical cost atau mengganti historical cost dengan fair value. Yang pertama, Meng-adjust historical cost ini ada dua cara, yaitu : Perubahan harga umum untuk inflasi dan Perubahan harga khusus untuk perubahan harga barang-barang tertentu saja. Yang kedua, Historical costnya dibuang, diganti dengan fair value. Dulu sebelum historical cost kita buang, kita meng-adjust historical cost. Supaya apa ? Supaya informasinya relevan. Supaya berguna untuk pengambilan keputusan.
Jadi intinya itu.
1. Meng-Adjust Historical Cost
Kalo kita masih tetap pakai historical cost, inflasinya besar, kemudian kita mau mengubah historical costnya supaya berguna, ada 2 metode, yaitu :
a. Untuk yang inflasi, nama metodenya General Price Level Accounting
General Price Level Accounting ini adalah akuntansi tingkat harga umum atau nama lainnya General Purchasing Power Accounting (Akuntansi Daya Beli Umum). Dua nama ini dipakai untuk inflasi yaitu perubahan harga umum, karena kata-kata di depannya general (umum). Kemudian FASB melalui SFAS No. 33 mengganti namanya menjadi Constant Dollar Accounting. Apa ini ? Yaitu kalau dollarnya dianggap konstan. Sama dengan dua nama sebelumnya. Jadi ada 3 nama akuntansi untuk inflasi, metodenya sama.
b. Untuk perubahan harga khusus, metodenya adalah Current Cost Accounting atau ada yang menyebutnya dengan Replacement Cost Accounting.
Melakukan akuntansi untuk perubahan harga ini, kita harus mengubah cara mengklasifikasi aset, hutang, biaya, pendapatan. Caranya tidak lagi current asset, non current asset. Tapi kita harus bisa memisahkan menjadi monetary dan non monetary, baik itu asset maupun liability.
monetary, asset atau liability, yaitu yang akan jadi uang atau akan memerlukan pembayaran pakai uang, yang jumlahnya pasti. Contoh : kas, piutang, surat berharga obligasi, hutang dagang, hutang obligasi, hutang pajak
non monetary, asset atau liability, yaitu yang akan jadi uang atau akan memerlukan pembayaran pakai uang yang jumlahnya belum pasti. Contoh : surat berharga saham, persediaan, pendapatan diterima dimuka.
Jadi kita klasifikasikan asset dan liability tadi ke dalam moneter dan non moneter. Lalu yang moneter dikumpulkan jadi satu, yang non moneter dikumpulkan jadi satu. Daftar klasifikasi asset dan liability yang moneter dan yang non moneter ada di lampiran SFAS No. 33 yang diterbitkan oleh FASB. Jadi neraca perusahaan itu kalo mau dibuat akuntansi inflasi harus diubah dulu menjadi monetary dan non monetary.
Purchacing Power Gains and Losses
Uang yang kita simpan 4 bulan yang lalu, kita pakai hari ini, nilai uangnya sudah berkurang, karena ada inflasi. Berarti kita akan kehilangan purchasing power (daya beli). Uang kita berkurang sebesar inflasi. Kalo 4 bulan lalu bisa untuk makan 3 kali, sekarang hanya cukup untuk 2,5 kali, kalo 3 kali ga cukup, harus ditambahi. Daya beli uang kita turun. Ini namanya purchasing power losses (rugi daya beli). Daya belinya berkurang, nominalnya tidak berkurang.
Sebaliknya, kalau kita dipinjami uang, kita minjam 100 juta, 2 tahun lagi hutangnya kita lunasi. Lebih bernilai uang yang kita terima atau uang yang kita bayarkan ? lebih bernilai uang yang kita terima. Uang yang kita bayarkan nanti nilainya sudah turun. Berarti kalau kita punya hutang, kita mendapatkan purchasing power gains (laba daya beli). Kalau kita punya piutang, kita mendapatkan rugi daya beli.
Kalo utang tadi kita pakai untuk mewakili hutang moneter, piutang tadi kita pakai untuk mewakili aset moneter. Berarti kalo ada inflasi, punya aset moneter, kita akan kena rugi daya beli (purchasing power losses). Kalo ada inflasi, kita punya hutang moneter, kita akan mengalami laba daya beli (purchasing power gains).
Jadi cara menghitung laba rugi daya beli, kita bandingkan monetary dengan non monetary. Kalo monetary asset lebih besar daripada monetary liability, dalam keadaan inflasi kita rugi daya beli. Sebaliknya, kalo monetary asset lebih kecil daripada monetary liability, dalam keadaan inflasi kita laba daya beli. Deflasi sebaliknya. Kalo deflasi, lebih banyak punya aset moneter, lebih laba. Jadi, kalo kita pakai perhitungan yang moneter, kita nanti menghitung tabel rugi daya beli, tergantung jumlah aset moneter dibandingkan dengan hutang moneter.
Untuk yang non moneter, kita tidak akan melihat daya belinya. Tapi kita akan menghitung perubahan harga khususnya. Kalo harga khususnya itu naik, kita punya laba. Kalo harga khususnya itu turun, kita rugi. Laba ruginya disebut holding gain atau holding loss. Contoh, kita beli tanah sekarang harganya 100 juta, perubahan harga khusus tanah tahun depan harganya menjadi 120 juta. Berarti karena kita memiliki tanah, kita memiliki laba 20 juta, 20 juta itu namanya holding gains. Sebaliknya kalo setelah kita beli harga tanahnya jadi turun berarti kita mengalami holding loss. Umumnya untuk non monetary asset jarang terjadi holding loss. Seringnya holding gains, tapi tidak menutup kemungkinan ada holding loss.
Masalah lainnya, akuntansi itu kalo mengakui laba harus realized. Pada waktu kita bicara revenue, itu ada realisasi. Realisasi itu berubahnya suatu aset menjadi aset yang lebih lancar. Jadi kalo kita punya inventory, kita jual menjadi piutang atau berubah menjadi kas, berarti terjadi realisasi, kita bisa mengakui revenue. Kalo kita bisa mengajui revenue, kita bisa me-match biaya ke revenue, kita bisa menghitung besarnya laba atau rugi. Kalo revenuenya belum direalisasi, tidak boleh menghitung laba atau rugi di akuntansi konvensional. Kita mengakui revenue dalam 4 situasi, 4 situasi itu dasarnya realisasi, critical eventnya terjadi.
Sekarang yang namanya holding gain ini kan belum dijual, harganya belum naik, berarti sebetulnya unrealized (belum direalisasi). Makanya kalo kita pakai metode ini, di dalam laporan keuangan kita ada holding gains-nya yang belum dijual harus dituliskan unrealized. Yang sudah dijual itu sudah langsung menjadi laba. Kalo kita pakai comprehensive income, unrealized gain itu masuk dalam perhitungan comprehensive income.
Satu lagi masalah yang kita hadapi disini adalah kalo kita punya tanah 1000, sekarang harga tanah menjadi 1200, holding gain kita 200. Kalo inflasinya satu tahun itu 5%, maka 200 ini bisa kita bagi menjadi 2, yaitu karena inflasi dan karena memiliki. Karena inflasi berarti 50, dan selisihnya sebesar 150. Yang 50 disebut monetary holding gains. Yang 150 disebut real holding gains. Total hoding gains tetap 200.
Di Amerika, mereka menerbitkan SFAS 33 tentang akuntansi inflasi dengan persyaratan tertentu. Persyaratannya itu supaya hanya berlaku untuk perusahaan besar. Aktiva lancar, persediaan, lebih dari 125 juta dollar, total asset lebih dari 1 M dollar. Kalo perusahaannya seperti itu wajib menerapkan SFAS No.33.
SFAS no. 33 itu minta laporan keuangan menghitung 3 laba, yaitu :
holding gains atau loss yang disebut dengan current cost
SFAS 82 ini membuat ketentuan pada akhir tahun 1984 dengan mengeliminasi pengungkapan income pada constant dollar accounting seperti yang disyaratkan pada SFAS No.33 karena terdapat informasi yang overload dan dapat membingungkan pengguna.
Current cost accounting dan replacement cost accounting jadi tidak wajib. Kembali ke historical cost.
Current Cost dan Replacement Cost
Historical cost itu harga yang dibayar pada waktu membeli yaitu pada waktu aset itu masuk ke dalam perusahaan, makanya disebut entry value (nilai masukan). Entry value pada waktu aset itu dibeli namanya historical cost. Sekarang ada namanya current cost atau replacement cost, yaitu cost sekarang, bukan cost waktu dulu beli. Artinya kalo saya beli sekarang costnya berapa, itulah yang disebut current cost atau disebut dengan replacement cost. Itu tetap entry value, kalau asetnya masuk sekarang berapa yang harus dibayar harganya. Itu yang disebut juga entry value. Jadi historical cost, current cost, replacement cost itu semuanya adalah entry value yaitu pada waktu aset itu masuk ke dalam perusahaan. Jadi, akuntansi inflasi kita yang lalu, kalau tidak memakai indeks, kita memakai entry value. Entry valuenya itu current cost atau replacement cost.
Ini ada konsep baru, deprival value adalah pengukuran current atau fair value. Cara menghitungnya, hitung dulu net realizable value (exit value). Kalo barang itu kita jual laku berapa, itu namanya net realizable value atau disebut dengan exit value. Bandingkan dengan present value of future cash flow dari aset itu. Kita punya aset ini, kita akan punya cash flow, hitung present valuenya, bandingkan net realizable tadi dengan present value itu pilih yang lebih tinggi antara net realizable value dengan present value of future cash flow. Pilih angka yang lebih tinggi terus bandingkan dengan replacement costnya. Kita pilih yang lebih rendah. Yang lebih rendah itulah deprival value.
Contoh, kita punya mobil, kalo mobilnya dijual berarti kita punya uang namanya net realizable value (exit price) atau harga jual. Misalnya harga jual mobilnya itu 100 juta, itu exit pricenya, terus kalo mobilnya dipakai cash flow dari mobil itu berapa. Kita harus hitung. Misalnya disewakan, kita terima berapa. Misalnya 5 tahun kedepan. Mobil itu kalo disewakan 5 juta sebulan, berarti setahun 60 juta, kedepan 5 tahun berarti 300 juta. Lalu kita present valuekan dengan tingkat diskonto yang berlaku di pasar. Ketemu angka present value dari future cash flow mobil kita. Kita bandingkan harga jual dengan present value cash flownya. Kita pilih yang lebih tinggi. Kalo dijual 100, kalo disewakan present valuenya 120, pilih 120. Sekarang bandingkan dengan replacement cost. Kalo kita beli mobil itu sekarang berapa harganya. Misalnya kita bisa beli mobil itu dengan harga 90. Deprival value adal ah mana yang lebih rendah antara 120 dengan 90. Pilih yang paling rendah. Kenapa ? Kalo kita beli 90, nilai aset kita 90. Kalo dijual 100, kalo di present valuekan 120, kalo kita beli 90, dipakai yang rendah. Kenapa ? Ini konservatism, tapi menghitung 100 dan 120 juga belum tentu benar. Yang lebih rendah yang dipilih itulah deprival value. Ini tapi tidak dipakai di standar akuntansi. Hanya digunakan untuk analisis.
2. Mengganti Historical Cost dengan Fair Value
Historical cost itu harga belinya dulu, replacement cost itu harga belinya sekarang. Fair value itu exit price, kalau dijual hari ini berapa. Terjadilah perbedaan antara yang dulu. Yang dulu itu historical cost, replacement cost, general purchasing power accounting semuanya berbasis entry value. Fair value berbasis pada exit value.
Dalam SFAC No. 5 ada lima atribut pengukuran, yaitu :
exit price atau net realizable value
present value of future cash flow.
Berarti sbetulnya ada 5 atribut. Atribut yang dulu kita pakai historical cost, pernah juga kita pakai replacement cost. Sekarang kita mau berubah menjadi fair value. Kalo dulu semuanya entry price serang kita mau berubah ke exit price. Masih dalam satu kerangka pemikiran SFAC No. 5.
Kalo kita pakai fair value, berarti kita sudah memasukkan akuntansi inflasi dalam akuntansi. Nilai yang berubah, harga yang berubah, itu sudah termasuk di dalamnya perubahan karena inflasi. jadi yang diceritakan tadi itu sudah tidak ada lagi kalo kita memakai fair value. Kalo masih pakai historical cost itu masih berlaku.
Tadi di awal disebutkan ada 2 cara meng-adjust historical cost, atau yang kedua mengganti historical cost dengan fair value. Ini yang akan dibahas. Berarti mencantumkan aset di neraca itu melihat harga jualnya sekarang, bukan harga belinya. Berarti sekarang sudah berubah. Kalo dulu aset itu adalah jumlah uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul untuk memperoleh suatu aset. Kalo sekarang dibalik, jumlah uang yang diterima atau uang yang timbul dari aset. Kalo dulu entry value, sekarang exit value.
Dari standar akuntansi di dunia ini ternyata bukan IASB yang paling maju, ternyata yang paling maju tetap FASB. Amerika walaupun belum sepenuhnya menerima fair value tapi sudah menerbitkan SFAS No. 157 dan itu menjadi pedoman bagi IASB juga untuk menerbitkan standar akuntansi mengenai fair value.
Jadi, dipakai beberapa pendekatan teknik penilaian, yaitu :
Penentuan harga jual untuk asset dan liability yang identik (sama persis) atau paling tidak yang sebanding. Misalnya, kita punya mobil, mau kita jual, kita liat mobil yang mirip mobil kita, tahunnya sama, mereknya sama, kondisinya sama, tapi buka mobil saya, hanya mirip (similar). Lalu tanya berapa harga jualnya. Itu berarti menilainya dengan harga pasar untuk produk yang similar.
Kalau tidak ada yang identik di pasar, tidak ada yang similar di pasar, kita bisa pakai pendekatan income. Income approach yaitu cash flow atau laba di masa yang akan datang didiskontokan untuk mengira-ngira harga jual. Misalnya, buat gedung untuk kost-kostan. Aset terdiri dari kamar dan gedung. Ada 100 kamar kost. Setiap kamar sebulan 1 juta rupiah. Berarti 100 juta rupiah, dikurangi biaya macem-macem misalnya 40 juta, tinggal 60 juta. Berarti cash flow 60 juta. Gedungnya di present value-kan. Kalau lebih rendah tidak dijual. Tidak ada pasarnya. Untuk itu kita perlu menaksir harga jualnya pakai present value. Laba atau present value cash flow. Itulah nanti fair value yang menggunakan income approach.
Cost approach yaitu menggunakan current cost untuk mengganti kapasitas jasa aset itu. Kalo kita belinya sekarang berapa.
Jadi penentuan penilaian fair value tekniknya ada 3, market, income, cost.
Kalo kita pakai market approach, hirarki penentuan fair value ada 3 level :
Level 1 : Yaitu harga yang dicantumkan di bursa (quoted price) dalam pasar aktif untuk aset atau utang yang identik. Contoh, kita punya saham PT Astra, sudah kita beli beberapa waktu sebelumnya, kalo kita mau cantumin di neraca, kita menggunakan harga saham Astra penutupannya di bursa. Karena Astra dengan Astra yang dibursa itu identik dan kita menggunakan quoted price. Ini penentuan fair value yang terbaik.
Level 2 : kalau tidak ada level 1, tidak ada yang identik di pasarnya, yang ada itu similar, kita menggunakan level 2 ini. Level 2 menunjukkan harga quoted price untuk harga aset dan hutang yang mirip di pasar aktif. Contoh, ada dealer jual beli mobil bekas, bisa cek harga jualnya disana. Level ketepatannya dibawah level 1
Level 3 : input yang berasal dari situasi dimana pasar aktifnya itu kecil. Marketnya ga ada, inputnya jadinya unobservable. Oleh karena itu, informasi yang berasal dari input yang tidak diobservasi harus didasarkan pada informasi terbaik yang tersedia. Informasi terbaik yang tersedia itu mencakup juga asumsi yang dibuat oleh perusahaan yang melaporkan itu tentang bagaimana pasarnya menentukan harga. Masalah comparability dan reliability menjadi sangat penting di dalam level 3 ini. Cara menentukan fair value di level ini ditaksir oleh appraiser.
Inilah masalahnya fair value. Kalo kita punya neraca, neraca kita itu kita beri catatan fair valuenya itu pakai level. Level 1 nya berapa rupiah, level 2 nya berapa rupiah, level 3 nya berapa rupiah. Kalo proporsi rupiah level 3 nya tinggi berarti sebetulnya kita punya masalah dengan fair value. Tapi kalo level 1 yang proporsinya besar sekali, bagus tidak ada masalah. Fair value itu tidak mengatasi semua masalah, lebih relevan iya, tapi ada masalah baru yang muncul, tergantung level berapa yang dipakai.
Dengan berakhirnya chapter ini maka berakhir pulalah #catatankuliahTA ini..
Sesungguhnya seluruh catatan ini dibuat untuk memudahkan saya belajar dan memahami pelajaran serta memudahkan saya dalam menjawab soal ujian. Semoga catatan ini bermanfaat juga untuk orang lain yang menemukan catatan ini.
Semoga diberi kekuatan ingatan dan pemahaman untuk menjawab soal ujian..
Mohon maaf lahir batin.. mohon doanya :’)
Yogyakarta, 14 Desember 2015 | 01.12 am | annisafithria