Mama Ida, Yoga dan Yiruma
Tulisan ini akan sedikit berbau wanita, sensitif tapi bukan soal baperness ya.
Saya punya tante yang menakjubkan. Hamidah namanya. Tapi saya lebih senang memanggilnya mama ida. Beliau tidak punya anak, pun suami, pasca perceraian puluhan tahun yang lalu. Saya tidak tahu pasti usianya berapa sekarang, tapi mungkin sudah mendekati angka 70. Diusia yang tidak muda lagi, mama ida masih melakukan pekerjaan-pekerjaan berat. Seperti ke kebun dan membersihkannya, memotong kayu bakar, memperbaiki kandang bebek, dan berbagai aktivitas yang seharusnya dilakukan bapak-bapak enerjik. Saya kadang merasa khawatir, apakah mama Ida tidak kecapean dan tidak kewalahan melakukan hal-hal berat di usianya tuanya. Bahkan saya pernah meminta Bapak menyuruh mama Ida pindah saja di rumah kami, di Makassar.
Jadi, di kampung, di Belawa, mama Ida tinggal bersama adik bungsunya (tante saya), suami tante bungsu, dan Kakek saya yang usianya sudah memasuki kepala 9 dan mendekati angka seabad. Tiap kali salah satu kerabat melakukan hajatan, beliau selalu hadir dan menempati seksi konsumsi. Pun ketika waktu saya masih kecil, dan Ummi keluar kota, berangkat haji, atau sekedar berlibur ke luar pulau, pasti mama Ida diminta datang. Nantinya mama Ida yang akan menggantikan peran Ummi sebagai ibu dan membantu saya bersaudara melakukan daily chores. Mama Ida adalah salah satu orang yang akan selalu saya kagumi ketulusannya. Pernah saya bertanya mengapa mama Ida selalu bekerja dan tidak menolak datang jika kerabat melaksanakan hajatan, Ummi saya bilang, beliau sudah terbiasa melakukan banyak aktivitas berat-berat sejak kecil, sehingga jika beliau diam dan berleha-leha sehari saja, dia akan langsung jatuh sakit.
Sejak beberapa bulan lalu saya menjadikan Yoga sebagai olahraga yang harus saya lakukan tiap minggu, minimal sekali. Dari salah satu konselor, yang juga abang saya, saya diminta untuk melakukan refleksi agar tetap kalem pada fase-fase emosi yang tidak stabil (baca: menstruasi). Setelah mencoba meditasi (duduk dan mengatur nafas), seiring berjalannya waktu saya malah condong ke yoga karena didalamnya juga ada meditasi. Saya lebih cocok ke yoga daripada harus jogging keliling pantai lapangan. Percaya atau tidak, jogging tidak membuat saya berkeringat. Dan yoga, hanya dengan tiga puluh menit saja, kalori telah berubah menjadi keringat yang bercucuran. Membikin saya merasa makin langsing dan seksi. Haha~ Oh andai yoga itu manusia! -.- Oh abaikan!
Jadi, Dua minggu kemarin saya tidak melakukan yoga. Entah kenapa saya tetiba saja mudah cemas, anxiety, mikirin hal-hal sepele, tapi kok menyita perhatian. Mendadak saya pusing, mau tidur tapi tidak bisa, gejala demam, dan jadwal saya terlambat 8 hari. Oh no. Dan, setelah melakukan beberapa mengapa oh mengapa, saya sadar telah melupakan rutinitas penting itu. Setelah melakukan yoga 54 menit, tsaaah saya langsung ngantuk, badan ringan, pusingnya hilang, dan ya, saya langsung kedatangan tamu, detik itu juga. Hari ini juga, saya sudah terlambat sehari untuk melakukan yoga, dan badan saya mulai meriang. Mungkin ini yang disebut rutinitas yang sudah terpola di alam bawah sadar. Seperti mama Ida, jika saya tidak melakukan yoga, tidak work out per-minggu, tubuh saya tidak akan stabil. Yoga menjadi candu yang membawa kebaikan buat saya. Haha ~
Saya menyarankan yoga ini untuk teman-teman perempuan dengan masalah yang sama. I strongly suggest you ladies. Tidak perlu ke gym, cukup download saja di youtube. Disana banyak untuk beginner. Semakin kesini, saya merasa lebih senang mengimprovisasi gerakan yoga. Jadi, saya mendownload posternya saja. Makin kesini, saya merasa olahraga, khususnya yoga benar-benar bisa merefresh pikiran. Dulu sih saya tidak pernah berolahraga kecuali itu karena ekskul wajib saat SMA. Saat kuliah pun saya tidak pernah olahraga. Hanya aktivitas harian yang membuat saya berkeringat. Setelah membaca Do bikinan Handoko Hendroyono, saya jadi ngeh mengapa olah raga itu penting. Lalu kemudian saya membaca beberapa artiket soal orang-orang penting, dan salah satu rutinitas wajib mereka adalah olahraga. Misalnya nih ya, Obama, Handry Satriago, Dian Siswarini, bahkan pak Habibie. Mensana in corporesano.
Ada hal penting lain dalam yoga. Setelah pernafasan, memilih instrumen penting buat saya. Buat saya instrumen atau musik pengiring yoga suangat sensitif. Saya ingat ketika SMA dulu, instruktur yoga saya lebih sering memutar musik-musik zen, oriental, dan entah tergolong musik apa, pokoknya ada suara seruling-seruling, ada angin, ada aliran air sungainya juga. Sekarang, saya lebih memilih menggunakan aplikasi Relax Melody. Paling favorit adalah Icy Snow duet Medieval dengan binaural beats-nya deep meditation. Saya sebenarnya juga ingin kepo, orang lain memutar apa ketika mereka yoga. Siapa tahu bisa jadi inspirasi, kan?
Lalu akhirnya saya iseng memutar A Moment to Remember. Dan wah! enakeeeeeuuuuun euy! Kemudian saat jalan-jalan ke Gramedia, saya mendengar musik klasik yang membikin pingin tidur. Isenglah saya browsing di google dengan keyword instrumen yang diputar di Gramedia. Haha~ Voilaaaa saya menemukan Yiruma. Jadi sekarang saya sudah punya playlist baru: Yiruma. Ceileh~ Seriusan, saya jadi suka banget sama Yiruma, meskipun saya sadar, saya nih buta not. Tidak bisa berfilsafat dan berfilosofi soal musik. Saya hanya bisa menjadi pendengar yang duduk manis saja.
River Flows in You menjadi andalan saya sa. Terlebih saat saya menonton Roommate edisi Chan Yeol EXO-K memainkan Yiruma. Aduuhaai, nyetrum banget. Kapan-kapan saya akan mencoba Kenny G, mungkin ada beberapa tiupannya yang bisa membuat jatuh hati, dan tentu bisa dijadikan instrumen yoga.