RUANG HAMPA
Aku kira aku sudah keluar dari gelap itu. Ternyata aku kembali terperosok. Langkah yang kupijak tergelincir salah. Batu yang ku ambil sebagai pegangan terlalu lemah. Aku kembali di sini.
Aku tidak lagi berharap indah itu di depan sana. Tuhan, aku tidak lagi berharap cahaya yang kau janjikan di atas sana. Aku terlalu lemah memaknai setiap perjalanan ini. Harapku terlalu besar hingga tumbuhkan kecewa.
Kini sepi itu kembali menemani. Kini sedih itu kuterima sepanjang hari. Aku tidak lagi mengistimewakan yang hadir. Yang bisa aku andalkan adalah diriku sendiri.
Tuhan, aku tidak lagi merasakan bahagia yang kau berikan. Semua terasa tak berarti dan hampa. Tawa yang menggema seakan menguap tak bermakna. Setiap perjalanan yang mengantarkanku ke rumah ternyata lebih ingin kuperlambat sebab pulang tak kurasakan kembali maknanya.
Apa pulang pada-Mu lebih bermakna?













