Dulu, pohon pohon penuh menyesaki tanah borneo yang menawan.
Dulu, pohon pohon berdiameter sungguh besar menjadi gelondongan.
Dulu, sungai sungai mengapungkan bergunung-gunung kayu bernilai jutaan.
Dulu, paru paru dunia, katanya, karena hutan.
Dulu, hutan hujan tropis kaya flora dan fauna seperti Enggang dan anggrek hitam.
Hari ini, Hutan mana yang masih bersisa. Apa mereka yang masih bersisa lalu di bakar, meninggalkan asap putih yang mencekam.
Hari ini, hutan di babat, dirampaslah sebuah harta karun tanpa permisi, tanpa bersalah, tanpa tanggung jawab, tanpa reklamasi apa lagi reboisasi.
Hari ini, yang tersisa adalah kubangan. Kubangan tambang yang menganga lebar. Yang siap melahap korban jiwa tak berdosa. Mereka yang seharusnya tidak bertanggung jawab atas cacatnya alam raya.
Hari ini, lubang tambang tidak hanya satu. Lubang tambang ada dimana mana. Dekat rumah warga, dekat jalan raya, menjadi tempat wisata sampai menenggelamkan satu desa. Itu nyata. Ada. Silakan cari di mesin pencari ternama.
Hari ini, emas hitam menggantikan posisi kayu mahal, berlenggak lenggok menelusuri sungai. Pemandangan yang berbeda dari beberapa tahun sebelumnya. Saat perusahan kayu bak jamur di musim penghujan. Tidak juga mencengangkan.
Hari ini, era telah berganti, eksploitasi kelewat batas terhadap harta karun Indonesia masih terjadi. Dan kita tidak bisa hanya berdiam diri.
Dari dulu hingga sekarang, tak dapat dipungkiri, semua itu memberikan banyak tabungan dalam bentuk uang. Dan nyatanya hari ini, semua itu juga meninggalkan banyak kerugian.
Inilah sebuah kisah, bukan cerita sedih di hari minggu. Namun cerita di sebuah tanah subur yang berlalu. Yang sering di elu elukan kekayaannya. Namun tak berdaya untuk dijaga. Inilah tanah borneo yang kaya. Tanah surga berlimpahkan hasil alam, tanah kalimantan.