Wayang Urip
Di panggung malam, segerombol mereka menyuguh punggung. Lakon muda dan mudi yang tak jelas sedang apa. Dialog sepanjang tontonan yang hanya bicara soal “Yang Lainnya”. Lantas apa beda dari ibu-ibu siang hari yang tengah menggosip isu terkini? Aku penonton yang datang terlambat. Perkenalan para tokoh “Yang Lain” tak sempat kulihat. Imajiku pun enggan menduga siapa, hanya jadi sumpal di benak. Biarlah olehku tak pernah terterka. Telinga juga sudah bosan mendengar. Mulut pun enggan beri komentar. Rasanya diri ingin menghindar. Tapi nanti dikata orang : antisesama. Tak ikut aku menyuara tentang “Yang Lainnya”. Bukan membela. Hanya sebab diri telah banyak dosa dan tak ingin menambahnya. Jadi, haruskah aku melanjut bersama mereka bila nurani berkata itu tak seharusnya? – hati yang mendiksi












