Kalau kau selalu merasa menjadi korban, kenapa kau keluhkan rasa sakit setelah terantuk batu tadi ?
Kalau kau berperan sebagai pelaku, kenapa kau salahkan orang lain dan lingkungan ?
Kalau kau berperan sebagai penonton, kenapa kau keluhkan akhir kisah tragis dari film barusan ?
alkisah, hiduplah “dia”, yang merasa bahwa dirinya lah orang paling melas sealam semesta. hidupnya selalu ditimpakan kemalangan, mulai sabun mandi yang hilang, makanan yang selalu kurang, kawan yang tidak perhatian, saudara yang tidak sesuai harapan, sampai uang yang selalu kurang untuk dibelanjakan.
Kemudian, pada suatu hari ia sudah tidak tahan lagi dan bercerita tentang keluh kesahnya itu pada angin, namun angin hanya memberinya badai dan hujan yang lebat.
lalu, ia bercerita kepada tanah perihal keluh kesahnya, namun sang tanah hanya memberikan goncangan yang membuatnya terguling merana.
lalu, ia bercerita kepada matahari perihal keluh kesahnya, namun sang matahari hanya membalas dengan mengusir awan agar tidak ada tempat berlindung dari panas sinarnya.
akhirnya, ia merasa lelah dan mulai terbiasa dengan kenertapaan dirinya. hatinya memberontak, namun fikirnya buat apa bercerita dan lebih menambah lara.
di penguhujung usahanya membiasakan diri dengan cobaan, ia menyadari bahwa angin tak lagi memberinya badai dan hujan, tanah tak memberinya goncangan, dan matahari memberinya awan untuk dapat menaungi dari terik sinarnya. penasaran, ia pun bertanya.
“Wahai, angin kenapa kau tak buatkan aku badai dan hujan yang lebat seperti yang lalu?”
“Wahai, tanah kenapa kau tak lagi berikanku goncangan yang dapat menyulitkanku bergerak?”
“Wahai, matahari kenapa kau berikan awan untuk menutupi diriku dari sengatan sinarmu?”
ketiganya hanya menjawab, “Karena kau telah terbiasa, buat apa menguji orang yang hanya pasif menerima, kami bosan kau hanya diam tak menggubris usaha kami menghancurkanmu.”
mungkin, soal hidupku masih usil menguji diriku yang selalu mengaduh.