Manusia memang begitu suka menjuluki dirinya makhluk berakal, namun jarang yang benar-benar berpikir.
Mereka hanya mengulang-ulang gema pemikiran yang terdengar aman, yang tidak menggoyahkan, yang tidak mengusik. Kita tumbuh dalam sebuah peradaban yang memuja kepintaran namun gemetar di hadapan kebebasan berpikir.
Inovasi didengungkan di mana-mana, sementara keberbedaan dicap sebagai ancaman yang mesti dijinakkan.
Lihatlah bagaimana anak-anak kita ditempa. Mereka dilatih melontarkan jawaban dengan patuh, bukan merangkai pertanyaan dengan tangguh. Mereka diukur dari kepiawaian meniru teladan, bukan dari keberanian menggugat kemapanan. Maka lahirlah generasi yang penuh orang pandai, namun betapa sedikit yang sungguh merdeka, yang jiwanya tidak terbelenggu oleh rantai tak kasat mata.
Masyarakat kita gemar menertawakan kebodohan sesama tanpa menyadari bahwa diri kita sendiri jauh lebih bodoh.
Sebuah kebodohan bernama kepatuhan buta, kebiasaan mengikuti arus tanpa pernah bertanya ke mana sesungguhnya air itu akan membawa kita; apakah ia membawa berkat atau bencana. Kita menyembah hierarki dengan nama tata krama, padahal seringkali ia tak lebih dari selubung halus agar yang berkuasa tetap nyaman di singgasananya.
Di tengah segala kemunafikan ini, terbentuklah sosok manusia yang nampak begitu santun, begitu teratur. Namun sayangnya, ia telah kehilangan kemampuan paling hakiki yang dimiliki manusia bahwa kejujuran ada pada suara batinnya. Ia membungkuk bukan rasa hormat benar-benar bersemayam dalam benaknya, melainkan ia sudah terlampau lama lupa bagaimana rasanya menggunakan akal.













