Putih dan Abu
Balon-balon hitam dan putih dilepaskan menuju angkasa oleh ratusan orang manusia, yang tak lupa, diiring raut-raut wajah gembira dan hati penuh suka cita.
Di tiap pucuk bundarnya, tertempel beberapa kata tentang asa, cita, dan cinta para pujangganya. Sebagai pesan tertulis terakhir, katanya. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat yang selama tiga tahun ini, menjadi rumah kedua yang selalu hangat oleh cinta orang-orang didalamnya.
...
Hari itu menyebalkan bukan main. Angka 30 besar-besar di ulangan harian, tumpukan tugas dengan deadline besok menunggu diselesaikan, bersitegang dengan teman, dan sebuah kelas yang jauh belum saling mengerti dan belum sepemahaman. Benar-benar menyebalkan.
Hal menyebalkan lain datang silih berganti setiap harinya, sering sekali kadarnya lebih dominan dari hal baik dan menyenangkan yang ada. Kebanyakan datang dari ego, benci, ambisi, ketidaknyamanan, perbedaan, dan sikap-sifat jauh belum dewasa lain yang sering singgah pada fase remaja.
Ditambah para staf, siswa, pengajarnya dan setiap unsur yang menyempurnakan kekurangannya, sempurna sudah aku tidak menyukai tempat ini dan semua di dalamnya.
...
Tiga tahun lalu.
Guru konseling yang katanya berdasar hasil psikotes, dan orang tua yang tidak sempat mengajak bicara putranya karena super sibuk kesana kemari mengurus bisnisnya. Kompak memberi komando.
Waktu itu aku yang masih bocah dan belum berpikir apa-apa tentang masa depan, menurut saja tanpa perlawanan. Aku dimasukkan ke kelas sains, dan, tak butuh waktu lama, untuk menyadari bahwa langkahku keliru. Sebab sedari dulu, aku telah jatuh cinta pada manisnya kata-kata. Pada bait-bait syair para pujangga. Pada indah dan takjubnya sastra bertutur kata. Bukan pada fisika dan rumus-rumus rumitnya, atau kimia dan zat-zat radioaktifnya.
...
Lama-lama, aku menjadi benci dan semakin sebal dengan tempat ini dan semua hal didalamnya. Bukan sekali dua kali terpikirkan untuk pindah, bahkan kadang terbesit untuk sekaligus pindah tempat tinggal, agar semua hal yang menyebalkan ini bisa tersingkir sempurna.
Sering terpikir, sambil mendengus kesal. "Mana, yang katanya SMA itu salah satu masa paling menyenangkan dan bahagia? Yang ada masa paling buruk dan menyebalkan yang pernah ada."
Namun ternyata benar, pada akhirnya itu hanya menjadi salah satu umpatan paling bodoh, dan salah satu penyimpulan paling keliru yang pernah terpikirkan.
...
Beruntung, ternyata kala itu sudah di penghujung semester dan hari ini ujian akhir beres dilaksanakan. Artinya, tinggal tunggu dua minggu lagi menuju libur panjang. Cukup panjang untuk menghilangkan sebagian benci dan ketidaknyamanan, juga untuk memikirkan tentang kepindahan dan menepi dari tempat ini.
Sebelum pulang ketika merapikan alat tulis dan lainnya, tepukan halus pada bahu dan sebuah sapaan terdengar. Suaranya tak asing.
"Bro, beres ujian akhir ada acara?" ucapnya
"Eh lu, kirain siapa. Nggak ada, tapi rencana minggu depan mau pergi ke rumah paman di Malang. Liburan lebih awal, sekalian ngobrol lagi rencana pindah ke sana, hehe."
"Hmm yaa ngerti-ngerti. Tapi sambil nunggu minggu depan, ada acara rame nih, dijamin ga akan nyesel. Ikutan yuk!" ajaknya antusias, sambil memperlihatkan poster sebuah acara keagamaan yang akan dihelat organisasi keagamaan sekolah
Ketika sedang menimbang-nimbang dan mencari cara untuk menolak, ia kembali mengajak, dengan antusias yang lebih kuat dibanding ajakan pertama.
"Udah ikut aja, itung-itung ini kalau lu ga rubah pikiran jadi good farewell sebelum pindah ke Malang. Syukur-syukur rubah pikiran, hehe."
Meskipun tadinya sangat malas, karena untuk apa juga ikut acara-acara keagamaan seperti itu. Pasti garing dan pasti bikin bosan setengah mati, ujarku dalam hati.
Tapi demi menghormati ajakan orang yang selama hampir satu tahun disini benar-benar menjadi sahabat karib, akhirnya aku ikut dan mendaftarkan diri. Toh, menurut keterangan pun lamanya hanya 4 hari, bukan berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
...
Ternyata benar!
Walalupun acaranya masih banyak kekurangan disana-sini. Meski baru setengah dari semua pelaksanaannya, ternyata acara ini benar-benar mengagumkan.
Kegiatan ini berhasil menjadi awal mengagumkan yang mengubah paradigmaku tentang agamaku sendiri, tentang Islam. Berhasil mencerahkan beberapa hal keliru yang sering aku lakukan, berhasil memicu keingintahuan baru untuk kembali belajar Islam beserta semua keagungan dan keindahannya.
Serta, ya, berhasil meyakinkanku untuk tetap di tempat ini. Membuatku menyadari bahwa sebagian induk masalahnya bersumber dari diri sendiri, dan menyadarkanku bahwa yang terpenting adalah selalu berdamai dengan dunia dan diri sendiri. Sebab seburuk apapun dunia, pilihan untuk selalu menjadi pihak yang baik akan selalu tetap ada.
Pula, disini kali pertama aku melihat wajah ceria itu, ia yang raut mukanya selalu berhasil membuat orang terhibur karenanya, terbawa aura kebahagiaan yang selalu dibawanya. Mungkin, orang lain akan berkata ia bukan yang paling 'cantik' dari semua wanita yang ada. Namun entah kenapa jantungku seringkali berdegup lebih cepat saat melihatnya walau dari kejauhan mata.
Mungkin, sebab ini pula orang berkata bahwa kecantikan itu relatif, sebab ia tercipta tanpa satuan pasti, dan tiap manusia mempunyai takaran berbeda untuk mengukurnya. Dan entah kenapa, hatiku tertaut kepadanya secara tiba-tiba, bahkan ketika kita belum pernah saling bertukar sapa. Untukku, seakan-akan kau lah yang paling memenuhi kriteria relatifnya.
...
Beberapa waktu berlalu, beberapa bulan terlewati.
Datang semester baru, sudut pandang baru, dan hati yang baru bersiap untuk menghadapi dunia dan segala retorikanya. Demi keputusan yang ku ambil hari itu, aku memutuskan untuk menghabiskan pendidikan menengahku di tempat ini, apapun rasanya kelak. Yang entah hari ini dan kedepan akan lebih menyenangkan, atau menjadi lebih buruk dan lebih menyebalkan.
Syukur, ternyata usai beberapa hari dan seterusnya, benar menjadi sebaliknya dari yang dibayangkan.
Seiring berjalannya waktu. Ego, ambisi, ingin menang sendiri, dan sikap-sifat kekanak kanakan lain yang sering menjadi sebab pertikaian lama kelamaan memudar, terganti oleh tumbuhnya kedewasaan. Tidak ada lagi yang namanya keras kepala, atau cekcok sebab berbeda cara. Rupanya benar, waktu menyembuhkan segalanya. Tempat ini, kelas ini, yang dulu pernah aku benci berangsur-angsur menjadi salah satu yang paling pantas kurindui.
Tidak butuh waktu lama, himpunan ini benar-benar menjadi satu keluarga, keluarga terbaik. Yang saling menjaga satu sama lain, yang saling menguatkan ketika ada satu yang jatuh, yang saling bahu membahu menghangatkan ketika ada satu darinya membeku karena sebuah kegagalan.
Semoga selalu terjaga seperti ini, semoga. Sampai tutup usia.
...
Sejak awal semester baru, aku tertarik untuk mengikuti ekstrakurikuler lain. Keingintahuan yang kuat untuk mendapat ilmu dan pengalaman baru akhirnya menuntunku untuk mengikuti organisasi dimana aku belajar dan mendapat banyak hal tentang berharganya pengalaman, bersinarnya ilmu, dan kuatnya persaudaraan.
Oh, ya. Tentangmu,
Kau tahu? Entah kenapa sedari pertama melihatmu, aku selalu berharap dan merindukan bisa melihat senyum teduh dan raut bahagia itu lebih lama. Agar bisa mengecap perasaan manis itu lebih panjang. Pula, entah mengapa, semesta selalu mempunyai alasan dan cara untuk membuat dua orang manusia bertemu dan bercengkrama tanpa bisa diduga-duga.
Keputusanku untuk mengikuti organisasi yang kebetulan sama dengan yang kau ikuti. Secara tidak sengaja membuat kita sering bertemu, berbincang, dan mengenal lebih dekat. Entah dalam ruang-ruang rapat, diskusi-diskusi program kerja dan kegiatannya, atau diluar forum-forum yang ada. Baik lewat hangatnya dunia nyata, maupun di gempita dunia maya lewat sosial media.
Semenjak mengenalmu, ada lonjakan kuat untuk selalu lebih giat agar menjadi yang terbaik. Entah mungkin telah menjadi hobi baru, untuk selalu berbuat yang terbaik agar bisa membuatmu bangga dan terkesan pada setiap hal yang aku capai dan dapatkan.
Setiap berpapasan melihatmu di kejauhan. Sungguh, aku harus berusaha keras memalingkan pandangan atau pura-pura berkelakar dengan payahnya sembari terus memerhatikan jalan, atau terkadang menyerah dengan membalas sapaan riangmu oleh sedikit salah tingkah dan sebuah senyum tertahan.
Mendengar tawamu di ujung selasar, melihatmu dari deretan balkon atas lantai dua, atau melihat senyum riangmu setiap berpapasan. Membuat tiap saat hidupku lebih bahagia, lebih manis, dan lebih menyenangkan dari yang pernah aku bayangkan.
Ternyata, ini rasanya jatuh cinta? Manis, sangat. Aku rela jatuh berkali-kali untuk bisa terus merasakannya setiap kali.
...
Siapa yang tidak ingin, untuk saling bertukar cerita dan kata-kata manis di bangku taman. Mendengar cerita dan tawa bahagianya dibarengi hangat kopi dibawah konstelasi bintang. Atau berboncengan erat diatas motor tua bersamanya dalam derai rintik hujan?
Namun ternyata,
Semakin lama aku belajar, semakin aku tahu bahwa cara yang paling baik untuk membuktikan sebenar-benarnya cinta adalah dengan memuliakannya, menjaganya, dan mengagungkannya dengan teramat sangat.
Yang paling baik adalah dengan mencukupkan mendambamu dalam diam, mendoakanmu dalam tiap tengadah doa-doa, memohonkan hal-hal baik untukmu dalam keheningan langit malam. Dengan itu, tiap-tiap cinta yang ada pada tiap hangat hati manusia akan tetap menjadi salah satu hal paling agung dan mulia.
Setidaknya, sampai waktunya tiba dan mengikhlaskannya beranjak lebih lama, untuk menampakkan sendiri jawaban terbaiknya.
Puan, izinkan aku mendambamu dalam-dalam. Dalam degup-degup kerinduan. Dalam tenang, bersamamu.











