NATUNA - Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Ranai Kolonel Laut (P) Maman Nurachman, menerima kunjungan Duta Putera Puteri Maritim Indonesia (PPMI) angkatan ke 5 tahun 2023 berasal dari Kabupaten Natuna, bertempat di ruang kerja Komandan Lanal Ranai Jl. Yos Sudarso, Kamis (04/01/2024). Kunjungan Duta Putera Puteri Maritim Indonesia ( PPMI ) ke Mako Lanal Ranai...
Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Ranai Kolonel Laut (P) Maman Nurachman, menerima kunjungan Duta Putera Puteri Maritim Indonesia
Nama ku Laras dan umur ku 22 tahun. Beberapa bulan kemarin aku mendapatkan gelar sarjana ku, bersyukur aku dapat menyelesaikan studi S1 ku. Setelah hari dimana bandulan toga ku di geser dari kiri ke kanan, aku mulai kewalahan dengan diri sendiri. Aku mulai menyadari aku sudah harus tumbuh dewasa dan harus mempertanggungjawabkan setiap apa yang aku punya seperi ilmu, kemampuan dan status ku sebagai sarjana INDONESIA.
Tentu, bahasa ku sebelum menjadi sarjana sangatlah tinggi, aku dikte diri ku sendiri dengan perintah-perintah yang memang menjadi beban di benakku. “setelah ini, Apa yang kau berikan bagi Indonesia?” “kau sarjana, di bidang apa saja sebagai anak bangsa berkewajiban untuk membangun Negara ini dari sisi mana pun!” atau dengan kata-kata “jangan sampai kau menua tanpa memberikat sebulir beras pun bagi INDONESIA!”.
Aku faham, aku produk anak 94, dulu tenggang rasa, patriotism, dan cerita-cerita tentang kepahlawanan masihlah akrab ditelinga ku. Terlebih lagi, kakek ku seorang ankatan darat yang hampir mati membela Negara ini. Aku tidak bergurau, rahang beliau, tulang rusuk beliau, lebam, bekas luka jahitan di paha dan senyum beliau menjadi bukti bisu tentang perjuangan beliau mengibarkan bendera merah putih.
Jujur saja, aku tidak sempat berbincang dengan beliau. Saat itu aku masih kecil, dan ‘aki’-begitu aku memanggilnya, sudah berada di atas kasur dan mulai mendekati surga yang dijanjikan Tuhan. Aku masih sangat kecil, yang aku ingat adalah duduk di sebelah bibi ku yang sedang menyuapi kakek ku.
“Aki, ieu eneng. Putrina si Enok!” kata bibi ku dengan khas logat sundanya.
Beliau tentu segera memandangi ku dari kasurnya. Walau tak banyak mengerti saat itu, aku mampu merasakan kebahagiaan aki. “Putri yang itu adalah cucukku!” mungkin itu pikirnya. Aku hanya tersenyum, aku yang masih polos tak banyak berpikir macam-macam “Aki makan yang banyak ya…” aku bilang begitu. Dan nyatanya, memang Aki menghabiskan makanannya.
Ya Tuhan aku bahkan tidak mengingat saat itu sarapan, atau makan siang atau bahkan makan malam. Yang aku ingat hanyalah air mata kebahagiaan di sudut matanya saat melihat ku menemaninya.
Sejak saat itu aku sadar dan aku bangga, KAKEK KU SEORANG PEJUANG. Tak jarang ku sering lontarkan kata-kata bodoh sejak kecil, seperti ketika aku mampu melakukan hal baru atau mendapatkan nilai bagus aku kan berkata “cucuknya Aki Ating- nama kakek ku,”. Memang, aku sangat bangga! Yang benar saja, kakek ku menjadi bagian dari sejarah berkibarnya bendera INDONESIA bukan hanya itu kakekku menjadi pejuang untuk diterapkannya PANCASILA sebagai dasar Negara.
Sekarang aku mencoba untuk menengok ke sekitar. Tanpa mengingat-ingat masa lalu, aku ingin memahami apa yang terjadi sekarang ini. Entah sejak kapan, INDONESIA yang aku kenal menjadi sangat mengkhawatirkan. Aku sudah mulai tidak nyaman, dan akhirnya aku coba menulis tulisan ini.
Sebenarnya aku sudah marah ketika si Merah Putih mereka tuliskan entah apa itu. Aku tidak mengerti, memang kata-kata yang dituliskan itu bukan kata-kata buruk, tapi aku sadari BUKAN BENDERA ITU YANG KAKEK KU PERJUANGKAN DULU. Syukurlah kakek ku sudah membusuk di dalam tanah, ada bagusnya beliau tidak melihat fenomena itu.
Dan sekarang….. bukan hanya itu. PANCASILA pun sudah tidak dihargai lagi. Mereka yang egois, mencampur adukkan antara Kepercayaan, Etnis, Politik dan kepentingan menjadi satu sehingga terlihat bias. Aku tidak mampu melihat dengan jelas sekarang, yang aku rasakan PANCASILA yang diperjuangkan kakek ku… menjadi sia-sia. Beruntung kakekku tidak mendengarnya dari liang lahatnya.
Ketika “Putri itu adalah cucuk ku!” atau mungkin “Putra itu adalah cucukku!” yang tersirat di benak pahlawan-pahlawan bangsa. Demi apa pun, perih, sakit, darah yang bercucuran, air mata yang ditahan, dan penderitaan ketika dijajah menjadi terbayarkan. PERJUANGAN MEREKA TIDAK SIA-SIA. Putra putri Indonesia mampu hidup, belajar dan tumbuh tanpa darah yang keluar dari lobang akibat bubuk mesiu, Putra Putri Indonesia mampu memajukan bangsanya tanpa harus mendengar suara-suara tembakkan disekitarnya, dan Putra Putri Indonesia mampu tersenyum tanpa harus kehilangan sanak saudaranya yang dijadikan tahanan.
Kakek, atau Kakek-Kakek ku…. Maafkan kami ini yang menganggap remeh hal yang kalian perjuangkan. Maafkan kami ini yang menjadi tidak toleran dengan kepercayaan antara saudara setanah air, dan maafkan kami ini yang melupakan PANCASILA.
Aku berjanji, mulai saat ini, tidak akan menodai lagi apa yang dinamakan MERAH PUTIH dan PANCASILA karena kami adalah cucuk mu, PUTRA PUTRI INDONESIA.