Cookbook, Ketika Isolasi Mengembalikan Luka Hati
Cookbook, film pendek karya Ifa Isfansyah yang tergabung dalam Quarantine Tales nampaknya bercokol lama dalam benak saya. Pasalnya, saya menonton Cookbook sudah sekitar 3 minggu yang lalu. Namun, scene demi scene dan runtutan kisahnya berhasil membuat saya terhenyak sampai kini.
Jika sebelumnya saya menuliskan komentar saya pada tiap bagian omnibus Quarantine Tales di sini, kini saya ingin membagikan pemahaman saya khususnya pada film pendek Cookbook. Cookbook menceritakan kehidupan seorang chef bernama Halim di masa pandemi. Keterbatasan atau isolasi yang ada memaksanya untuk beraktivitas di dalam rumah. Dipertontonkan pula kalau chef Halim tinggal di rumahnya seorang diri. Interaksi sosial yang ditemukan hanyalah dengan seorang lelaki yang membantu menerbitkan buku resepnya. Itu pun melalui jalur daring.
Buat yang belum nonton, silakan nonton dulu ya supaya nggak kena spoiler. Nah, lanjut. Sebetulnya Ifa sudah memberikan clue pada penonton sejak bagian awal film ini. Kejadian absurd dan aneh selalu terjadi saat Halim tertidur atau terlelap. Lalu berubah kembali menjadi realita setelah ia terbangun. Penggarapan film yang seolah mencampur realita dan apa yang hanya terjadi di kepala Halim-lah yang membuatnya menarik.
Film ini mengingatkan saya pada film horror klasik tahun 1980 garapan Stanley Kubrick berjudul The Shining. Di The Shining, isolasi juga membuat karakter utamanya, Jack Torrance (Jack Nicholson) mengalami perubahan status mental.
Agaknya tema yang dipilih Ifa justru barangkali banyak dialami orang-orang di masa pandemi. Secara cerdas, ia bisa menangkap konsekuensi apa yang dapat ditimbulkan dari perubahan cara hidup yang kita alami. Nggak hanya pendapatan yang menurun, kesulitan mencari pekerjaan, tingkat kesakitan dan kematian yang melonjak, aktivitas media sosial yang semakin ramai, tapi juga sesuatu yang nggak bisa kita lihat secara kasat mata. Sesuatu yang hanya bisa kita rasakan masing-masing.
Pada Cookbook dan The Shining, isolasi telah menjadi trigger perubahan mental atau jiwa manusia. Di Cookbook, isolasi mengembalikan memori Halim terkait traumanya pada peristiwa Mei 1998. Pengalaman traumatis yang tak pernah muncul itu, tiba-tiba menyeruak dengan sangat hebat. Hingga membuat Halim mengalami night terror dan bahkan halusinasi. Isolasi telah mencetuskan post traumatic stress disorder pada dirinya.
Karantina di masa pandemi memang menjadi hal baru bagi sebagian besar populasi dunia. Social distancing rasanya baru kita alami setahun terakhir. Pembatasan sosial harus kita jalani. Coping mechanism kita terhadap perubahan besar ini pun nggak mungkin sama orang demi orang. Ada yang dengan mudah mengiyakan, ada yang sampai sekarang masih eyel-eyelan.
Bagi saya, Cookbook seolah ingin mengingatkan pada penonton pentingnya kesehatan mental di masa pandemi. Berbagai macam stressor yang menubruk fisik dan psikis harus pandai-pandai kita siasati.
Sama sekali tidak mudah berkawan dengan pandemi. Namun jika kita terus-terusan menyangkalnya, kita justru yang akan kelelahan. Baiknya kita terima pelan-pelan perubahan ini. Kalau kita jadi lebih memperhatikan kesehatan fisik kita sejak pandemi, bukankah seharusnya kesehatan mental juga?
Kita menyediakan masker dan vitamin untuk diri kita. Tapi sudahkah kita mengelola jiwa kita yang terkungkung selama pandemi? Sudahkah kita menyiasati kebosanan yang berlangsung entah sampai kapan ini? Sudahkah kita berusaha mengenali sedini mungkin kalau-kalau stres yang berlebihan menghampiri?
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat bahwa pandemi dapat menjadi pengalaman stressful bagi sebagian atau bahkan banyak orang. Di masa-masa inilah, kita tidak boleh kehilangan social support. Untuk mengurangi efek ‘terisolasi’, sebaiknya kita terus melakukan koneksi sosial, misalnya dengan menelpon keluarga atau video call dengan teman. Selain itu, kita juga dapat mengurangi stres akibat pandemi dengan mengurangi paparan terhadap berita-berita yang tersebar di media sosial. Mendengar atau melihat berita tentang pandemi secara kontinu dan berlebihan bisa bikin kita kelelahan.
World Health Organization (WHO) juga mengeluarkan panduan berjudul Doing What Matters in Times of Stress. Panduan ilustrasi menarik ini berisikan manajemen stress yang dapat kita lakukan sehari-hari. Buku ini akan mengajak kita melatih diri menjadi lebih fokus, mengelola perasaan-perasaan buruk, menghadapi stres, dan memahami kembali value apa yang ingin kita capai dalam hidup kita masing-masing.
Kembali pada segmen Quarantine Tales, Cookbook mengambil rupa sebagai contoh ekstrem bagaimana pandemi dapat berefek pada sisi psikologis manusia. Awalnya tidak begitu kelihatan keanehannya, tampak seperti normal-normal saja. Namun, jika dibiarkan, akhirnya mampu melukai hati dan menghancurkan diri.
Stay safe dan jangan lupa bahagia 😊.











