Jantung Kinna berdegup kencang. Sudah setengah jam yang lalu ia menunggu Melani di sebuah coffee shop langganannya. Kinna sengaja datang lebih awal. Ia tak mau membuat Melani menunggu.
Tangannya sudah berulang kali meraih cangkir americano-nya. Kedua kakinya menghentak-hentak pelan di lantai bergantian. Matanya terlalu gamang untuk menatap pada satu titik, membuat fokusnya terdistorsi setiap detik. Kinna mengeluarkan sapu tangan dari saku celana jeans-nya dan mengusap peluh yang hampir terjun bebas dari keningnya.
Berlalunya waktu tidak ia hiraukan lagi karena satu-satunya yang ia khawatirkan adalah jantungnya yang mengancam untuk meledak sewaktu-waktu, seiring langkah kaki seorang wanita yang baru saja memasuki coffee shop. Jaket hitam, topi hitam, dan ransel biru, Melani melintas ruangan dengan karisma yang tak terbantahkan, sedikit lebih cepat dari berjalan.
Nafas Melani terdengar keras di telinga Kinna meskipun suasana cafe yang bising.
“Maaf terlambat,” kata Melani, sama cepat dengan tarikan nafasnya. “Lo bawa barangnya?”
Kinna menahan nafas sebelum menjawab. “Ya.”
“Bagus.” Melani duduk di seberang Kinna. Tangannya mengoper sebuah buku yang ia keluarkan dari dalam ranselnya.
Dengan tangan gemetar, Kinna meletakkan sebuah chip di sela-sela halaman buku tersebut. Masih saja ia tidak percaya ia mau melakukan ini. Demi Melani. Hanya demi Melani.
Melani menarik kembali buku miliknya dan memasukkannya kembali ke dalam ransel. Kepala Kinna bisa saja terkantuk meja jika ia tidak menahan bebannya. Seluruh bagian tubuhnya lemas.
“Setelah ini, kamu mau kemana?” Dengan suara sedikit gemetar, Kinna memberanikan diri untuk bertanya.
“Ke London,” jawab Melani. Suaranya terlalu tenang untuk seseorang yang mempertaruhkan nyawa demi pekerjaannya. Kinna membalas dengan tatapan tajamnya.
“Plis, Mel, berhenti,” pinta Kinna dengan mata berkaca-kaca.
“Nggak bisa. Ini passion gue.”
Kinna mendesah, menghembuskan nafas sepanjang-panjangnya.
“Setelah ini, mungkin lo nggak akan denger kabar dari gue selama berhari-hari, atau berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun.” Melani bersiap untuk berdiri. Kinna menahan tangannya di atas meja.
“Jangan...” Kina menggelengkan kepalanya. “Ini kriminal. Kamu dalam bahaya.”
Melani tersenyum, begitu polosnya, begitu tenangnya sampai-sampai hasrat Kinna untuk membencinya begitu besar. Belum benar-benar ada, namun tumbuh perlahan-lahan seiring langkah mundur Melani.
“Gue masih perlu bantuan lo. Mungkin.” Melani berkata untuk terakhir kalinya, sebelum ia memutar tubuhnya dan keluar dari coffee shop. Pandangan mata Kinna mengikuti sosoknya yang menyeberang jalan dari kaca besar.
Dengan berat hati dan tubuh lunglai, Kinna melangkahkan kaki keluar dari cafe itu. Beberapa bulir air matanya menetes dari matanya, turun ke dagunya. Bahkan saat ia sampai di rumahnya, kegamangan yang tersisa dari pertemuannya dengan Melani tadi masih terasa begitu besar hingga memblokir jalan udara kerongkongannya. Ponselnya berbunyi. Ia membukanya dan membaca headline-headline berita yang membuat nafasnya tercekat. Melani benar-benar dalam bahaya. Orang yang ia sayangi, benar-benar dalam bahaya. Namun ia ingat ia harus membenci wanita itu, menjauhinya. Sejauh mungkin.
Kinna menangis sembari menutup pintu kamarnya. Dalam hati ia berkata, ia tidak akan mau bertemu dengan Melani lagi. Selamanya.