[Rabu Review] The Magic Library: Belajar Teori Sastra dan Istilah Dunia Perbukuan Melalui Sebuah Novel
Judul : The Magic Library: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis : Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerjemah : Ridwana Saleh
Penyunting : Andityas Prabantoro
“Tak ada aturan bagi seseorang dalam menulis, demikian juga dalam berpikir.”
Karya Jostein Gaarder adalah karya-karya abadi yang maknanya termasuk mendalam. Terkenal dengan novelnya yang berjudul Dunia Sophie, Jostein Gardeer membidik sasaran pembaca yang lebih muda lewat novel ini. The Magic Library tidak ditulis Gaarder sendirian, ia berduet dengan Klaus Hagerup. Jika dilihat dari dua tokoh utama novel ini, Berit dan Nills, bisa jadi kedua penulis berbagi peran untuk menuliskan masing-masing tokohnya.
Berit dan Nills adalah dua saudara sepupu yang tinggal di kota berbeda dan berkomunikasi lewat sebuah buku surat; yakni sebuah buku yang ditulis oleh seseorang lalu dikirimkan kepada yang lain dan kemudian dibalas oleh si penerima di buku yang sama. Begitulah seterusnya yang terjadi selama mereka tinggal berjauhan. Secara bergantian, mereka menulis dan mengirimkan buku surat tersebut.
Di dalam buku surat, kedua saudara itu tak hanya menanyakan kabar satu sama lain. Mereka juga menyelipkan karya puisi atau membicarakan buku yang mereka baca. Para penulis dengan piawai menghadirkan komunikasi atau cara dialog yang menarik bagi dua tokoh kutu buku di dalamnya, seolah mereka tidak tinggal berjauhan. Sebuah kejujuran murni, namun sarat pengetahuan.
Menariknya, seorang perempuan aneh mengusik ketenangan Berit dan Nills. Dan novel ini menceritakan bagaimana kedua anak itu mencari informasi mengenai si perempuan aneh yang berliur ketika melihat barisan buku. Nills bertemu si perempuan tua dan berpikir jika ia memiliki sikap nyentrik yang cenderung mencurigakan. Perempuan itu meminta untuk membayar buku yang sudah dibeli Nills, dan Nills sama sekali tak sanggup menolak.
Jika Nills bertemu si perempuan tua di Sogndal, ternyata Berit juga bertemu dengan orang yang sama di dermaga dekat rumahnya. Pada suatu waktu, Berit membuntutinya sampai di depan rumah si perempuan tua, dan mendapati sebuah kebetulan bahwa si perempuan tua berada dalam satu lingkungan tempat tinggal yang sama. Dari sana pula, ia mendapati sepucuk surat yang tak sengaja jatuh, yang menjadi titik terang bahwa si perempuan tua itu bernama Bibbi.
Istilah dalam dunia perbukuan dikupas cukup lengkap di dalam novel ini sehingga pembaca bisa belajar tentang sejarah filsafat dari zaman awal mula ditemukan sampai modern di Dunia Sophie. Pembaca juga akan menemukan banyak sekali wawasan menarik mengenai dunia perbukuan serta sastra lewat buku surat Berit dan Nills.
Contohnya, dua anak tersebut membicarakan mengenai istilah bibliografer. Bibbi Bokken adalah seorang bibliografer, yang berarti penggemar berat buku. Dari sini lah, berkembanglah kecurigaan keduanya mengenai motif Bibbi mendekati tempat tinggal mereka. Berit yang sangat penasaran, nekat menyelinap masuk ke rumah Bibbi. Tetapi sayang, ia tak menemukan hal-hal yang mencurigakan.
Beberapa teori dikembangkan oleh Berit dan Nills, dari hal yang biasa sampai terkesan brutal. Imajinasi mereka menjadikan karakter Bibbi hidup dalam variasi yang berbeda-beda. Penggemar Jostein Gaarder harus membaca novel ini, terutama untuk kamu yang mengaku sebagai penikmat buku. Teori sastra, buku-buku berpengaruh, dan beragam penerbitan pun disinggung oleh Berit dan Nills. The Maggic Library merupakan sebuah karya berbobot yang sangat seru dan menyenangkan.
Ditulis oleh: Reffi Seftianti