Watching Barbie: An attempt to revive my inner child’s happiness.
Mungkin disini nggak asing lagi ya, sama kebiasaan kita yang kadang suka rewatching kartun-kartun jaman kecil dulu. Doraemon, Shinchan, Ninja Hattori, Minky Momo, Spongebob, Naruto dll yang nggak pernah absen kita tonton tiap minggu pagi, atau Jumat sore sehabis pulang ngaji.
Gue juga salah satunya kok. Menjelang 3 bulan lagi gue umur 23 tahun, sembari menunggu kelulusan dan akhirnya lepas dari beban skripsi gue malah nonton marathon semua film/series Barbie di Netflix. Mana Netflixnya sharing account-nya mas pacar pula. Untung dia nggak masalah karena yang punya akun justru yang paling jarang nonton, merelakan watching list-nya dijajah oleh film khas anak wedok yaitu Barbie.
Kenapa harus Barbie? Karena film Barbie tahun 2001-2007 yang masih ditonton pake VCD itu sangat lekat banget dengan masa kecil gue yang berimajinasi menjadi peri, image princess-y layaknya anak perempuan pada umumnya, dan masanya emang harus seperti itu. Setelah tahun 2007 udah nggak nonton lagi karena ya umur sudah berubah dan tontonan udah semakin banyak.
Gue mulai dari film pertama yaitu Barbie in the Nutcracker (2001) sampai yang terbaru, Barbie: Big City, Big Dreams (2021). Tentu nggak semuanya banget ditonton soalnya ada beberapa yang nggak ada di Netflix, tapi gue notice banyak beberapa perubahan dari segi animasi, pembawaan dan kultur seiring berjalannya tahun.
Dari 2001 (Nutcracker) - 2008 (The Diamond Castle) adalah era Barbie yang animasinya paling gue favoritin, terutama yang 12 Dancing Princesses (2006) . Elegan, nggak terlalu banyak warna yang nabrak, proporsi wajah dan badan sangat pas, masukin unsur cerita klasik (Swan Lake, Rapunzel & Nutcracker) dan musik klasik kayak Mendelssohn, Tchaikovsky, dll. Cuma emang masih kulturnya princess yang plotnya married-with-prince-and-happily-ever-after.
Nah setelah tahun 2008 itu berubah sih animasinya kayak lebih mirip ala Disney 3D nya Frozen, warnanya lebih vivid dan colorful. Tapi kultur dan valuenya makin kesini makin diverse, ngelibatin temen-temen Barbie yg multikultur, background yang beragam nggak cuma princess/fairy aja, dan mulai ada sisi girl power-nya.
Tetapi meskipun animasinya yang gue kurang suka, ada salah satu tontonan Barbie 10 tahun terakhir yang gue raved akhir-akhir ini, yaitu seriesnya yang Dreamhouse Adventure (2019), Go Team Roberts (2020) sama series sekuel dari film terbarunya, yaitu It Takes Two (2021). Karena di series itu ngegambarin kehidupan Barbie yang realistis sebagai anak umur 19 tahun, dengan keluarganya dan teman-temannya, yang di setiap episode beda-beda ceritanya dan masalahnya. Gue sebagai orang yang lebih dewasa pun enjoy nonton series itu karena genre nya slice-of-life, feel good yang nggak terlalu banyak intrik/konflik, nggak cringey dan nggak terlalu banyak unsur fantasi tapi juga nggak ngebosenin. Vibesnya kayak nonton Hannah Montana, Victorious dan teen sitcom khas tahun 2009-an, tapi bedanya ini nggak ada backsound ketawa komedik aja. Sampai seriesnya selesai kok…kayak gabisa move on :(. Nyaman dan hangat aja ditonton.
Overall, intensi gue nonton Barbie di Netflix selain bernostalgia, yang lain dan tak bukan adalah membuat inner child gue happy dan mencari kenyamanan dan kehangatan tersendiri. Setelah gue nonton rasanya biasa aja, tapi menenangkan. Mengingatkan diri sendiri bahwa untuk melihat setitik imajinasi dari setiap realitas hidup yang udah jahat ini dengan ngeliat lagi masa-masa indah itu. Moral value yang sangat sederhana dari kehidupan anak-anak yang kadang suka kita lupain seiring bertambah dewasa. Dan jangan pernah biarin jiwa imajinatif diri kecil lo itu makin redup ketika realitas yang sudah banyak menggerogoti kehidupan, yang nantinya juga bakal diwariskan ke anak-anak nanti. Mereka kelak juga akan sama kayak kita pada fasenya.
Di tengah gempuran ‘pick me girl’ yang menganggap feminimitas adalah tanda kelemahan, gue nggak malu mengakui bahwa ya tontonan masa kecil gue adalah Barbie. Karena nggak ada yang salah dengan itu dan memang pada fasenya ya memang begitu.
So it is definitely okay, kalo kita sekali-kali nonton kartun masa kecil kita untuk mendapatkan kehangatan itu. And it’s okay to watch girly movies, because every little girl once was a little princess.
- I.K.-













