omon-omon 1
"Halah, Partai Buruh. Kok kaya di Inggris aja bikin partai-partaian buruh." - ujarnya, mencemooh satu partai progresif, sambil menghembuskan asap rokok dan scrolling X melalui iPad-nya.
seen from Germany

seen from Germany
seen from South Korea

seen from India
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Italy
seen from China

seen from Greece

seen from Singapore
seen from India
seen from China
seen from Sweden

seen from Australia
seen from Singapore
seen from Germany
seen from Greece
seen from Poland
seen from Germany
seen from China
omon-omon 1
"Halah, Partai Buruh. Kok kaya di Inggris aja bikin partai-partaian buruh." - ujarnya, mencemooh satu partai progresif, sambil menghembuskan asap rokok dan scrolling X melalui iPad-nya.
Wings 👼 #angelstoday #anglesinthemaking #writer #writing #poems #poetry #quotes #shortwritings #shortpoems #lifequotes #lovequotes #life #fantasyworld #powertous #wings #angel #art #artist #words #wordsofinstagram #wordporn #wordgasm #tumblr #tumblrwriter
Marah-marah di kantor.
Pagi ini aku berangkat ke kantor dengan perasaan kacau. Rupanya sisa kekesalanku kemarin masih ada, bahkan setelah tidur dan rehat di rumah. Kemarin aku sampai di kantor pukul 8.30. Waktu yang normal untuk datang ke kantor bukan. Rekan kerja satu timku datang pukul 9.30, 10.30 dan yang terakhir pukul 11.30 WIB.
Padahal aku berniat mendiskusikan sesuatu. Teman-temanku datang siang membawa aura yang tidak menyenangkan. Entah mereka sedang punya masalah pribadi atau hanya karena kepanasan di jalan. Semua orang jadi sensitif.
Beberapa minggu ini aku mengambil pekerjaan sampingan. Kemarin aku beres-beres pukul 3 sore, pikirku, porsi pekerjaanku sudah aku lakukan. Sisanya akan aku selesaikan hari ini. Namun satu temanku nyeletuk, "Jam segini kok udah pulang." Aku refleks membalas, "Lha kamu jam 11.30 kok baru datang. Aku dah sampai sini jam 8.30, kerja dan sekarang aku mau ngerjain hal lain." Dia terdiam. Akupun membeku. "Ya salahnya berangkat pagi-pagi." lanjutnya sambil menatap layar laptop.
Aku menggendong tas. Pamit sekenanya. Lalu pergi.
Rupanya aku tidak cocok bekerja di lingkungan dengan jam kerja yang bebas. Kecuali posisi yang aku lamar menyebutkan statusku sebagai freelancer, aku lebih suka bekerja dengan waktu yang tetap. Mau 8-4, 9-5, bahkan 10-6 juga akan aku lakukan. Selama di luar waktu itu aku tidak lagi memegang pekerjaan utama.
Lha ini, kantorku tidak punya jam tetap. Semua rekan kerjaku berangkat sesuka hati. Tapi kalau ada yang pulang sebelum jam 4, pasti ditegur dan ditanya-tanyain. Padahal ia yang pulang itu sudah datang sejak pagi.
Doa yang selalu aku ucapkan pada pagi hari, selama beberapa bulan terakhir, adalah aku ingin mendapat pekerjaan yang bisa membantuku berkembang, pekerjaan dengan lingkungan yang sehat, kantor yang menyediakan ruang atau meja pribadi untuk pekerjanya, dan soal upah, selama itu sesuai dengan standar upah minimum di daerah itu, aku akan baik-baik saja (kecuali UMR DIY).
Perasaan tidak berguna
Perasaan tidak berguna menghampiri pagi dan malamku. Mendorong ingatan-ingatan soal kebodohan maju ke depan layar sebagai persembahan pagi dan malam. Tidak berguna, kataku pada pantulan wajahku di genangan air. Bogor hujan sejak semalam. Tanpa ampun tetes air menghujam tanah, atap dan tubuh-tubuh tak beratap, serta tubuh-tubuh tak berjiwa. Tidak berguna, kataku pada bayangan yang mengikuti ke manapun cahaya menyinari.
Tidak ada gunanya ribuan kalimat yang tersusun di layar laptop ini. Tidak ada gunanya ribuan kalimat dan tanda baca, serta rujukan-rujukan, yang dicetak dengan tinta hitam itu. Tidak ada gunanya ratusan detik yang dilalui dengan duduk melamun, mengurung diri dari masalah yang nyata. Tidak ada gunanya, kataku pada pantulan bayangan di layar laptop yang tertidur.
Manusia sok berguna. Manusia yang sombong dengan dirinya, sulit mengakui bahwa ia tidak tahu. Manusia sombong. Penuh dengan dirinya.
Perasaan tidak berguna ini begitu kuat hingga ia mewujud menjadi air yang menghujam pipi, menghapus bedak dan lipstik yang ditempel untuk menutupi kemurungan, dan membasahi pakaian kering yang baru dilipat tadi malam. Tidak berguna. Hanya menulis omong kosong. Hanya merenung tanpa berpikir. Hanya berbicara untuk menyalurkan kalimat-kalimat basi.
Perubahan apa yang aku bicarakan? Cuma angan-angan abstrak, tak berwujud, tak berjiwa. Omong kosong.
Malu melihat wajahku terpampang di poster. Malu melihat senyum pahit itu. Malu melihat sorot mata kosong, seperti otak di baliknya. Tiada seorangpun yang bisa menghapus ketidakbergunaanku. Kesombongan ini kembali, ia tak ikut hanyut bersama arus deras air yang mengikis tanah pekarangan. Benci. Benci. Benci. Pada diri sendiri. Namun tak melebihi benciku pada dunia.
Apa yang perlu aku lakukan?
Menuang air pada api yang membara.
Fiksi yang makan hati.
omon-omon 2
"Halo, selamat sore para kelas menengah yang berbahagia. Di sini semua yang hadir kelas menengah ya, tidak ada kelas pekerja." - kata bapak-bapak yang membuka acara diskusi tentang Marxisme dan "Kelas Menengah".
i am in this agrarian studies universe forever. haha
Tiba-tiba saya ingin menikah, lalu tinggal di hunian yang memungkinkan saya untuk berkebun. Keinginan untuk punya hunian* dan berkebun itu sudah ada sejak lama, bahkan menjadi salah satu kriteria "Hidup Layak" bagi saya. Tapi keinginan menikah yang sangat ingin ini datangnya dari mana, ya? Saya sedang bertanya pada diri sendiri.
*punya hunian ini maksudnya menetap di satu tempat yang bisa disebut rumah, terlepas dari status hunian itu apa. Milik pribadikah, sewakah, kontrakkah, KPR-kah. Apapun.