Time stops for no one. I hate nostalgia.
we're not kids anymore.
trying on a metaphor
AnasAbdin
noise dept.

No title available
I'd rather be in outer space 🛸
i don't do bad sauce passes

#extradirty
h

roma★
Lint Roller? I Barely Know Her

ellievsbear
wallacepolsom

@theartofmadeline

★
styofa doing anything
Today's Document

No title available
TVSTRANGERTHINGS
Keni

seen from United Kingdom
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Singapore
seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Brazil

seen from United States

seen from Uzbekistan
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
@bungajurang
Time stops for no one. I hate nostalgia.
review laptop asus tuf gaming
saya menggunakan laptop asus tuf gaming a15 ini selama hampir 2 tahun. bobot laptop dengan chargernya adalah 3 kg. touchpad-nya lumayan nyaman. tapi, pengalaman memakai laptop ini lebih maksimal ketika saya pakai mouse, apalagi untuk pekerjaan teknis yang butuh banyak klik.
dengan prosesor amd ryzen 9, laptop ini bisa diajak multitasking. saya pernah membuka beberapa software berat sekaligus. waktu itu saya lagi mau buat peta, jadi saya membuka qgis dan youtube untuk melihat tutorial. pertengahan jalan, saya baru sadar kalau perlu mengumpulkan data sekunder lain. jadi saya berselancar lagi di google chrome, buka website bps beberapa daerah, buka ms. excel dan ms. word. setelah itu membalas peran di whatsapp, dan mengikuti diskusi online (masih sambil sesekali buka qgis).
setelah itu saya mulai merasa jenuh dengan kerjaan. saya memutuskan main gim di steam. saya main disco elysium selama kurang lebih 30 menit. kemudian saya coba main gim lain yaitu a little to the left selama kurang lebih 15 menit. tanpa menutup software steam, saya kembali ke qgis. sambil bolak-balik ke youtube untuk melihat tutorial. laptop ini juga sering saya ajak bekerja keras dan menyala selama hampir 24 jam. jika sedang banyak task, dia akan menyala lebih dari 12 jam selama 7 hari.
saat dipakai melakukan banyak hal, laptop ini bisa menahan suhunya jadi tidak terlalu panas. namun kalau ia dipakai untuk main gim, suhunya bisa naik drastis dan suara kipasnya jadi terdengar. tapi kenaikan suhu dan suara kipas ini masih bisa dimaklumi. yah, kalau di ruangan tertutup yang sepi, suara kipasnya akan kedengeran oleh teman kerja di dekatku, sih.
soal performa dan kualitas layar, saya puas menggunakan laptop ini. satu lagi komponen laptop ini yang sangat saya suka: KEYBOARD. laptop badak ini punya keyboard yang luas, EMPUK, suaranya cukup renyah, dan pas untuk tangan saya. tiap mengetik di laptop ini, pergelangan tangan saya akan menempel di sebelah touchpad, dan jari-jari saya bisa lincah bergerak menyusuri tiap alpabet, nomor, dan tanda baca. saya suka sekali mengetik di laptop ini :") saya rela menjadi notulen selama berjam-jam.
tapi laptop ini pernah ngambek :( kadang saya meninggalkannya dalam mode sleep terlalu lama. akibatnya ia tidak bisa berfungsi. layarnya menyala, tapi tidak merespon touchpad, keyboard atau mouse saya. akhirnya saya menunggu dia pulih. untungnya, dia selalu mau pulih tanpa saya bawa ke tempat servis
sayangnya, laptop ini tidak cocok untuk dibawa pergi-pergi jauh dan berpindah-pindah karena berat. Kalau saya mengajaknya pergi, artinya saya perlu bawa tas ransel yang besar agar ia aman. Perpaduan tas dan laptop ini akan terlihat terlalu ganteng ketika saya sedang ingin cantik. baterainya juga tidak terlalu awet, apalagi kalau membuka banyak aplikasi dan pekerjaan. tiap bepergian membawa laptop ini saya merasa was-was, takut ia menyenggol benda lain dan lecet. dan sebaliknya, saya khawatir laptop ini menyenggol benda lain dan dialah yang lecet. saya pernah membayangkan satu skenario begini: kalau saya pergi bersama laptop ini dan berjumpa orang yang menyebalkan, laptop ini bisa menjadi pelindung. caranya adalah saya menampar wajahnya dengan si laptop. niscaya dia akan merengek minta ampun.
mungkin, hari ini adalah hari terakhir saya menggunakan laptop ini :) ia akan kembali ke pemiliknya yang sesungguhnya. saya belum punya laptop milik sendiri, atau mengutip istilah teman saya, “laptop yang otonom”. jadi setelah ini saya akan mencari pinjaman laptop sampai tabungan cukup untuk beli atau mencicil laptop baru. anyway. saya sedang mengingat-ingat kemewahan yang saya rasakan/alami ketika menggunakan laptop ini.
performa baik, keyboard empuk, dan bisa diatur backlight-nya dengan berbagai warna juga, lho. saya paling suka pakai warna hijau dan biru
layar lebaaaarrrr dan jernih untuk nonton! sejak tahun 2020 saya terbiasa dengan layar laptop lebar (15-16 inci), jadi mata saya bisa leluasa melihat layar.
sensasi punggung pegal setelah seharian jalan bersama si badak. iya, pegel dan kadang sampai sakit :”) tapi saya tetap anggap ini adalah pengalaman yang baik :d
selalu mengecek keberadaan soket listrik saat tiba di suatu tempat
bisa bolak–balik buka tutup aplikasi tanpa nge-lag (kecuali saat kondisi laptop sudah cukup panas setelah dipakai dari pagi sampai malam selama beberapa hari. kadang dia nge-lag sedikit)
buat split screen lancar sekali :)) saya bisa buka zoom sambil buka google documents untuk mencatat, sembari buka google untuk browsing dan whatsapp untuk mengecek pesan. cukup seamless.
kalau dari awal laptop ini adalah milik saya dan tidak ada perjanjian mengembalikan, saya mau kok memakainya terus. yah, dengan segala konsekuensinya hehe. laptop ini juga menyediaan 2nd ssd slot :) jadi bisa upgrade ketika butuh.
itu hanyalah 7 kemewahan dan kebaikan yang paling saya ingat. terima kasih, laptop badak. kamu sudah menemani dan membantu saya dalam banyak hal. kamu juga sudah menjadi laptop tangguh yang saya bawa ke mana-mana. maaf ya, kadang saya ceroboh membenturkanmu dengan meja atau dinding. maaf juga saya kurang rajin dalam membersihan layar, keyboard, kipas dan sampah digital saya.
ternyata jenuh juga menjadi yang selalu diam dan hening, mengalah dan meredupkan diri, mundur dan sembunyi. bagaimana kalau aku melampaui batas-batas ketakutan itu dan membiarkan suara-suara yang terbenam muncul ke permukaan?
kebiasaan buruk yang masih aku pelihara adalah mengalah terus dalam obrolan. oh, kelihatannya dia mau bicara, berarti aku diam saja. wah, kayaknya dia jauh lebih paham, artinya aku diam saja.
nah, kan.
catatan yang belum punya judul
Kemarin saya dan beberapa kawan ketemu Hendro Sangkoyo, salah satu penggagas School of Democratic Economics di Indonesia. Laki-laki usia 50an yang akrab disapa Om (atau mas) Yoyok ini mengajak kami mendengarkan hasil pemikirannya tentang energetika dan Energi. Ia menunjukkan satu bagan yang mempunyai 4 cabang. Pertanyaan inti yang ia sematkan pada kepala bagan itu adalah:
ENERGI - menurut siapa? buat apa? kebutuhan siapa? atas pengorbanan siapa?
Dari kepala bagan itu ia menarik garis ke kanan. Tiap garis mewakili satu topik, yang diantaranya adalah “konstruksi epistemologi Ekonomika Energi”, konstruksi mitos Energi dan agenda belajar–yang salah satunya adalah kritik terhadap NGO-NGO yang mendaku diri sebagai agen penggerak transisi energi, ketika sejatinya mereka adalah kontraktor donor yang memperkeruh masalah per-Energi-an. Kini, Energi bukan lagi sekadar alat untuk kapitalisme bergerak dan bereproduksi. Energi telah berubah menjadi kapital itu sendiri.
Bayangkan, produksi listrik di Pulau Jawa itu sudah berlebihan. Sekali lagi, dikatakan oleh banyak sumber, sudah lebih dari cukup. Meski jika berbicara soal distribusi, itu hal lain lagi. Pada akhir tahun 2023 saya singgah di salah satu kampung di Cilacap. Area kampung ini dulunya adalah lahan perkebunan karet dan pertanian yang diolah secara turun temurun sejak zaman kolonial Belanda, digarap oleh warga, hingga direbut oleh pemerintah melalui PTPN. Listrik di area itu baru masuk pada tahun 2010. Benar kata Ina Slamet, makna terpinggirkan itu tidak hanya secara geografis, tapi juga secara kultural dan sosial. Secara geografis, Cilacap ada di pulau terpadat di Indonesia, tapi listrik belum lama masuk. Bagaimana dengan kampung-kampung lain yang semakin jauh dari ibukota?
Namun, kelistrikan ini mungkin perlu dilihat dari sisi yang berbeda. Bisa jadi, hadirnya listrik juga mengubah sesuatu yang sebelumnya merupakan kebiasaan, bahkan syarat kehidupan, menjadi sesuatu yang dilupakan dan ditinggalkan. Tunggu, tapi saya tidak ingin jadi menyebalkan. Saya tidak ingin bilang listrik ini gak baik, atau perkembangan modernitas ini enggak baik. Pelan-pelan, deh. Anyway, tadi saya mau bilang, produsen listrik banyak tapi yang boleh beli di Indonesia cuma PLN.
Mas Yoyok membagikan ceritanya berkunjung ke salah satu kampung di Pulau Rote. Orang-orang di sana memakai biji kemiri sebagai bahan membuat lampu penerangan. Tiga butir kemiri digerus sampai halus, lalu dipakai sebagai campuran bahan penerang yang dibakar. Kata Mas Yoyok, satu biji kemiri bisa dipakai untuk menerangi ruangan selama 1 jam. Sejak listrik masuk ke kampung itu, orang-orang mulai meninggalkan penggunaan bahan seperti kemiri dan buah-buahan lokal sebagai bahan bakar. “Kami malu mau pakai itu, karena yang lain sudah pakai listrik.” kata seorang Mama yang ditemui Mas Yoyok.
Kepulauan Mentawai punya kisahnya sendiri. Orang Mentawai punya kedekatan dengan kegelapan. Bagi mereka, kegelapan adalah salah satu syarat keselamatan. Mereka sering mengarungi sungai untuk mencari ikan dan berburu pada malam hari, ditemani cahaya rembulan yang dipantulkan oleh air dan benda-benda di sekitarnya. Bagi seorang teman Mas Yoyok yang sejak kecil tinggal dan tumbuh di Mentawai, bahkan kegelapan adalah waktu untuknya bisa bersinar. Waktu malam datang dan sekitarnya jadi gelap, wajahnya bersinar, matanya berbinar. Ia langsung mengambil dayung dan perahu, lalu menyusuri sungai di kampungnya.
Dua cerita itu mengingatkan saya dengan seorang kawan dari Kuningan, Kang Mentari (bukan nama sebenarnya), yang beberapa waktu lalu berkunjung Bogor. Ia mengikuti kelas pendidikan fasilitator, yang juga mengundang Mas Yoyok. Kang Mentari bilang, “Ah, berarti, air adalah keselamatan ya.” Dalam hal ini, air itu bukan hanya air si benda cair yang sering kita pakai mandi, minum dan mencuci. Namun air dalam artian satu entitas yang memiliki energi dan kekuatan untuk mengubah sesuatu.
Intinya, syarat kehidupan dan keselamatan orang itu beragam. Apa syarat hidup dan keselamatan saya?
Pada waktu itu Mas Yoyok bercerita soal bagaimana ruang-ruang di kampung itu dipecah oleh batas-batas administrasi yang dibuat oleh pemerintah kolonial. Batas desa, kecamatan, kabupaten, dan provinsi, mengkotak-kotakkan orang. Padahal semua kampung itu terhubung–oleh tanah, aliran sungai, udara, angin, dan budaya. Contoh gamblang (yang saya petik secara agak ngasal), PLTU yang dibangun di sekitar Kota Jakarta menyumbang hawa panas dan sumuk di kota sibuk itu. Pembangunan sumur produksi dan pemrosesan geothermal di satu desa di Dieng mengalirkan limbah cemaran air dan udara ke desa-desa lain. Semua itu terhubung.
Sebelum kami mengakhiri obrolan santai di ruang kerja Salihara yang mengharuskan kami membayar Rp60.000 per orang hanya untuk mengakses ruang dengan kursi, meja dan internet, Mas Yoyok melempar pertanyaan pada kami: apa rencana belajar invidu kalian setelah ini? Gong. Pertanyaan itu membunyikan gong di kepala saya. Waduh, lha pertanyaan itu memang sudah mengetuk pintu hatiku selama beberapa minggu ini. Minta jawaban. Sekarang malah ada yang nanya.
Beginilah jawaban saya: rencana terdekatku adalah aku mau merapikan isi kepala dulu, Mas. Dalam 8 bulan terakhir, saya mengerjakan sesuatu secara lompat-lompat. Proyek soal reforma agraria, disusul topik dinamika kelas, diikuti proyek masyarakat adat, disambung tema transisi energi, lalu pergi ke salah satu pusaran geothermal di Jawa Tengah, lalu sekarang berkutat dengan sistem tenurial dan agraria pesisir. Tema-tema besar yang sama sekali tidak mudah itu membentuk jaringan ruwet di kepala saya. Jadi, aku ini mengerjakan apa, untuk siapa, untuk apa, dan…kenapa aku mau mengerjakan itu?
Mas Yoyok menatap saya dengan simpatik–atau setidaknya itulah yang saya rasakan, yah, agak ge-er memang. Ia menghela napas, lalu bilang, “Saya pernah mengalami apa yang kamu lalui sekarang,” sambungnya, “Waktu itu saya mikir, mau ngapain dan ke mana ya. Kemudian saya membuat rencana, selama 5 tahun, bagaimana saya memanfaatkan hidup saya sebaik mungkin.” Jawaban itu cukup menenangkan hati. Tentu, ada beberapa jawaban yang tidak ingin saya tuliskan di uggahan ini. Terakhir, ia bilang, perempuan itu kerap berada di posisi yang sulit. Perempuan ada di tengah-tengah konflik dan kesemerawutan dunia ini. Yang terpenting, “kamu perlu punya kemerdekaan hati,” Tapi, Mas, bagaimana caranya mencapai kemerdekaan hati.
Bogor, 26 September 2024
tiga kali, loh, lagu ini diputar di kafe yang saya kunjungi sejak 2 jam lalu.
kondisi lingkungan bisa membentuk siapa diri kita--atau setidaknya ikut menyumbang isi serpihan-serpihan diri kita. selama beberapa bulan tinggal di satu tempat ini, telingaku menjadi terbiasa mendengar imbuhan seperti anjay, anjir, njing, anjas, cuy, fak, gilss pada hampir tiap kalimat yang terucap oleh teman-temanku maupun orang yang tak kukenal. malam ini aku mendengarkan lagu letto berjudul ruang rindu. lalu saat lirik berbunyi, <Kupegang erat dan kuhalangi waktu; Tak urung jua kulihatnya pergi> aku secara spontan bilang, "anjas!"
save me :") please.
chappell oh roan
akibat menyusun modul bahan bacaan fasilitator kampung pesisir hanya dalam waktu 5 hari:
[mau mengeluh]
CAPEK CAPEK CAPEKK.
sedikit-sedikit dibilang, "kok kamu kurang aktif?"
kurang aktif gimana lagi?! coba dicek pembagian job desc-nya. apakah tiap saat harus kasih kabar update, "hari ini saya baca ini, menulis itu, mengerjakan sekian, dengan hasil demikian."
kalau memang kualitas kerja, kualitas hasil laporan, kualitas tulisan, dan kualitas-kualitas lain kurang, bilanglah. sejauh ini saya selalu mengerjakan tugas yang di-plot-kan, bahkan belum pernah melewati tenggat waktu pengumpulan.
mau nangis, karena cuma itu yang bisa saya lakukan. nangis nangis nangis setelah itu kembali bekerja sebelum ditanya lagi, "kok kamu kurang aktif?"
[sekian]
ya Allah pengin privasi dan pengin istirahat tanpa dicariin/ditanya-tanyain/digosipin
mandornya mondar-mandir terus
intelektuil
buku kentang....
dalam beberapa hari terakhir membaca dan mendengar kritik dan tanggapan yang, saya mau lebay, bertubi-tubi datang dari berbagai sisi. ada beberapa poin yang sudah saya tebak akan orang katakan, namun ada beberapa hal yang menarik saya ke inti terdalam bumi, titik terendah bumi jika dilhat dari permukaan mana saja. gakk kuattt, saya gak kuaatt.
saya cuma pengin curhat di sini, dan saya pengin divalidasi. saya sedang enggak ingin mendengar pujian atau penyemangat, atau dalam bahasa jawa mirip dialem/ngalem.
saat melakukan riset, banyak sekali kesulitan yang saya temui, baik secara personal maupun substansial. saya perlu mempelajari banyak sekali materi yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah. teknis pengambilan data saya dapatkan dari hasil membaca referensi dan mengamati teman-teman yang sudah canggih. tapi apa yang sudah dicetak, disebar dan dikonsumsi tidak akan bisa ditarik kembali dari memori tubuh orang-orang. it is what it is.
saya tidak pernah ngira kalau implikasi bukunya akan sejauh ini. kayak, ya Allah, tahu gitu saya enggak usah mendaftarkan nama ke program itu. biarlah beasiswanya dipakai orang lain yang layak menerima, orang-orang yang cemerlang dan giat belajar.
buku kentang, insignificant, autopsi 'tubuh mati', tidak bermanfaat, miskin sikap politik, pemuas libido intelektual, buku mentah. wew, saya enggak pernah menyangka bisa merasa se-jatuh ini hanya karena mendengar tanggapan orang lain atas sesuatu yang saya tulis. kayak, pengin nangis, tapi juga harus memasang wajah tegar biar tidak disangka baper. mungkin saya baper, mungkin saya butuh lebih sering bertemu dengan beragam karakter orang agar tidak lagi terkejut.
pengin nangis dan sembunyi dulu selama 1 tahun sampai 1 abad. tapi kalau sembunyi, kasihan betul bagian diri saya yang masih pengin memperbaiki hal-hal yang bisa diperbaiki, memperdalam hal-hal yang potensial, dan menambal bagian kapal yang bolong. kayaknya memang saya butuh berdiam diri beberapa saat. saya ingin menyerap semua tanggapan hingga tak bersisa layaknya spons dan tisu, kemudian mengendapkannya agar menjadi arang yang bisa dibakar.
aaAAAA ingin noodles
Perasaan tidak berguna
Perasaan tidak berguna menghampiri pagi dan malamku. Mendorong ingatan-ingatan soal kebodohan maju ke depan layar sebagai persembahan pagi dan malam. Tidak berguna, kataku pada pantulan wajahku di genangan air. Bogor hujan sejak semalam. Tanpa ampun tetes air menghujam tanah, atap dan tubuh-tubuh tak beratap, serta tubuh-tubuh tak berjiwa. Tidak berguna, kataku pada bayangan yang mengikuti ke manapun cahaya menyinari.
Tidak ada gunanya ribuan kalimat yang tersusun di layar laptop ini. Tidak ada gunanya ribuan kalimat dan tanda baca, serta rujukan-rujukan, yang dicetak dengan tinta hitam itu. Tidak ada gunanya ratusan detik yang dilalui dengan duduk melamun, mengurung diri dari masalah yang nyata. Tidak ada gunanya, kataku pada pantulan bayangan di layar laptop yang tertidur.
Manusia sok berguna. Manusia yang sombong dengan dirinya, sulit mengakui bahwa ia tidak tahu. Manusia sombong. Penuh dengan dirinya.
Perasaan tidak berguna ini begitu kuat hingga ia mewujud menjadi air yang menghujam pipi, menghapus bedak dan lipstik yang ditempel untuk menutupi kemurungan, dan membasahi pakaian kering yang baru dilipat tadi malam. Tidak berguna. Hanya menulis omong kosong. Hanya merenung tanpa berpikir. Hanya berbicara untuk menyalurkan kalimat-kalimat basi.
Perubahan apa yang aku bicarakan? Cuma angan-angan abstrak, tak berwujud, tak berjiwa. Omong kosong.
Malu melihat wajahku terpampang di poster. Malu melihat senyum pahit itu. Malu melihat sorot mata kosong, seperti otak di baliknya. Tiada seorangpun yang bisa menghapus ketidakbergunaanku. Kesombongan ini kembali, ia tak ikut hanyut bersama arus deras air yang mengikis tanah pekarangan. Benci. Benci. Benci. Pada diri sendiri. Namun tak melebihi benciku pada dunia.
Apa yang perlu aku lakukan?
Menuang air pada api yang membara.
Fiksi yang makan hati.
Sore ini aku berencana jalan kaki mengitari trotoar kebun raya sambil menunggu waktu berbuka. Niat itu urung aku lakukan karena hujan.