Saya adalah manusia target. Manusia yang hidupnya dipenuhi langkah sistematis dan perhitungan. Serba logika. 1 + 1 = 2. Pasangan saya harus pria dengan kemampuan IT mumpuni karena saya ingin membuat aplikasi perpustakaan yang user friendly, dan gratis. Beliau juga harus pria yang mencintai buku karena saya ingin mempunyai taman baca, memberikan pelatihan kepada siapapun, pelatihan komputer dan ketrampilan sederhana yang sekiranya bermanfaat. Taman baca akan menjadi tempat dimana siapapun bisa belajar apa saja tanpa perlu mengeluarkan biaya. Saya dan suami yang akan mengusahakan. Saya mengenal seseorang, istimewa seperti harapan saya, membagi semuanya, kami sepakat, impian saya menjadi impian kami. Saya bahagia, dia? Tampaknya tidak, ada impian lain yang hinggap dalam pikirannya yang kemudian membuat kami tak sejalan. Saat itu saya belajar, hidup bukan matematika. Tidak semua dapat dihitung. Tidak semua dapat diprediksi. Pengharapan itu baiknya sekedarnya, secukupnya. Berharap itu pada Allah,bukan makhlukNya. Allah memiliki semesta, Ia berkuasa menjadikan ada atau tiada. Kini, jalani saja. Makhluk perhitungan, sistematis menghilang. Saya ketakutan, takut bertemu, takut berharap, takut berhitung. Yang terbodoh, saya takut berharap, bahkan pada Allah. Terserah Allah sajalah, padalah Allah suka kita meminta, Allah suka kita berharap-harap padaNya. Saya sedang kembali belajar. Belajar berdoa yang baik, berharap pada Allah dengan cara yang baik bukan seenaknya. Salam