Berasa boyband lagi syuting iklan shampo 😎 @yusepanwar @yogaanwar @huwaidy.n #rafki (at Pulau Angso Duo Pariaman)

seen from France

seen from United States
seen from China
seen from Australia
seen from China

seen from Türkiye
seen from Azerbaijan

seen from United States
seen from Germany
seen from Türkiye

seen from United States
seen from China

seen from China

seen from Singapore

seen from United States

seen from Canada
seen from Russia
seen from Australia

seen from Canada
seen from Uzbekistan
Berasa boyband lagi syuting iklan shampo 😎 @yusepanwar @yogaanwar @huwaidy.n #rafki (at Pulau Angso Duo Pariaman)
ternyata masih belum capee... joged 3 .. ampuuuunnn... malam yg melelahkan -_- #29-11-13
Dari Balik Lensa
Hidup di Amerika dan bekerja di VOA, begitu banyak yang terjadi. Berjuta kisah diujung telunjuk ingin sekali ditulis, namun waktu terus berpacu dan saya kalah. Semoga foto-foto dalam blog saya kali ini, bisa mewakili apa yang saya lihat dan rasakan dari berbagai kota dan negara bagian di Amerika, menebusnya dari balik lensa.
WASHINGTON, D.C .
Pertama kali tahu akan ke Washington DC, saya mengharapkan sebuah metropolis yang sempurna dengan kenyamanan tingkat tinggi karena inilah jantung ibukota Amerika. Namun, ternyata tak segalanya indah.
Panas-Basah-Basah. The Fourth of July atau hari kemerdekaan Amerika, selalu dinanti. Konser besar di Capitol Hill dengan bintang tamu Barry Mannilow menjadi daya tarik yang berhasil menyeret ribuan orang untuk berkumpul dan duduk di deretan tangga gedung wakil rakyat. Padahal suhu mencapai 40 derajat Celcius.
Tak Pandang Bulu. Sesekali saya begah dengan budaya keteraturan di Amerika yang kadang terasa berlebihan. Pengguna segway pun bahkan harus berhenti, ketika lampu merah menyala.
Ke Perut Bumi. Perjalanan terasa panjang ketika masuk ke stasiun Metro (kereta api bawah tanah) di Washington DC. Terutama stasiun Dupont Circle, yang ketinggian eskalatornya mencapai hampir 60 meter.
Busway ala DC. Pertama kali saya menginjakkan kaki di Amerika, pujianlah yang tergumam karena transportasinya yang lengkap, nyaman dan tepat waktu. Namun, perasaan itu hanya bertahan seminggu. Ketika Metro kerap telat dan perbaikan jalur yang menganggu hampir setiap minggu, pujian itupun tak lagi terucap. Melihat ratusan orang menunggu tanpa kepastian, tak jauh berbeda dengan pemandangan halte TransJakarta.
Inikah yang Dicari? Kathy (kanan) dan Jeannele, baru tiba dari Mississippi untuk menikmati The Mall, kawasan wisata tempat Capitol Hill dan museum-museum gratis berada. Tapi menyusuri National Mall ternyata tidak segampang dan sesingkat yang mereka kira. Carousel dekat Museum Smithsonian menjadi tempat melepas penat.
Sesak Gemilangsari. Banyak yang mengira selalu membahagiakan jadi reporter televisi. Pahit selalu ada di setiap manis dan begitu juga sebaliknya. Misalnya yang dialami reporter PopNews VOA Ribka Gemilangsari, yang harus bersabar gagal mewawancarai Channing Tatum di premier film ‘White House Down’ di Georgetown karena posisinya telah terlebih dahulu diambil Central News VOA.
NEW YORK
Bersama beberapa teman, saya pernah berkelana ke New York karena kami berpikir, belum sampai di Amerika kalau tidak pernah ke New York. Kami hanya menghirup udara New York selama satu hari, tapi sehari itu akan membekas di kenangan selamanya.
Ibukota Dunia. New York City adalah ibukota dunia. Jangan terkejut jika mendengar 800 bahasa berbeda di kota ini.
The Yellow Cab. Coba cari taxi yang lebih ikonik di seluruh dunia selain taxi kuning-nya New York City. Saya yakin tak mudah mencarinya. Melihat mereka tak sengaja berjejer menunggu lampu hijau di bawah reranting musim gugur, membuat hati meleleh.
Autumn in Central Park. Hampir semua orang yang saya temui menyebut musim gugur sebagai musim favorit mereka. Terutama ketika melihat daun-daun menguning, memerah dan berguguran, merasakan udaranya yang sejuk dan langit hangat cerah. Sempurna sekali jika itu semua dirasakan dari salah satu taman paling terkenal di dunia.
Niagara. Tak ada cara yang lebih tepat mengagumi kemegahan Air Terjun Niagara, selain melihatnya dari bawah. Melihat betapa dahsyatnya deru air dan betapa kecilnya kita sebagai manusia.
VIRGINIA
Virginia adalah rumah. Tempat melarikan diri dari letihnya Washington DC. Virginia adalah Bandung di tengah lelah dan membosankannya Jakarta.
Sepeda Pantai. Pantai tidak hanya untuk dinikmati lautnya. Tetapi juga suasananya, apalagi dengan bersepeda.
Dingin… Tidak… Dingin…? Di Indonesia, hampir semua pantai udaranya terasa panas. Tetapi di Amerika, ketika musim semi pantai sangat sejuk, bahkan dingin dengan suhu udara sekitar 15 derajat Celcius. Tak hanya saya yang merasakan dinginnya, dua anak perempuan yang sedang berwisata di Virginia Beach, berusaha keras mengumpulkan nyali untuk menyentuh air.
Hampir Berakhir. Pantai menjadi idola di musim panas. Kursi-kursi pantai di Virginia Beach telah siap untuk digunakan beberapa minggu sebelum kehadirannya,.
Manassas Air Show, Manassas, Virginia
MARYLAND
Memori pertama saya tentang negara bagian ini, khususnya Kota Baltimore adalah serial di The X-Files. Beberapa kasus yang diinvestigasi Mulder dan Scully terjadi di sini. Dengan kekerontangannya, kemisteriusan kota ini mengundang penasaran saya. Namun, ternyata bukan kering lah yang mencuri hati di sini.
Pikat Pelabuhan. Tak banyak yang disisakan Baltimore saat ekonomi perlahan-lahan memburuk. Kota ini seakan mati. Banyak gedung yang ditinggalkan. Sepi ketika mengunjunginya di akhir pekan. Namun, di balik semua itu Inner Harbor diam-diam memompakan denyut kehidupan bagi Baltimore, menjadikannya jantung yang menyemangati seluruh isi kota.
Tatkala Langit Bersabda. Setiap hari feri melayani penumpang menyebrang dari National Harbor, Maryland menuju ke kota tua nan eksotis, Alexandria, Virginia. Tapi sore itu pemandangannya berbeda. Awan tebal dan secercah liang tempat cahaya matahari menyeruak, membuat langit seakan sedang berfirman.
PITTSBURGH, PENNSYLVANIA
Liputan sambil jalan-jalan adalah hal yang selalu ditunggu selama di VOA. Terimakasih untuk mba Nia ‘Ntes’ Iman-Santoso dan temannya Nurhaya ‘Aya’ Muchtar yang membawa saya melihat salah satu skyline paling mencengangkan di dunia.
The Skyline. Saya tak bisa berhenti berdecak mengagumi langit Pittsburgh dan gedung-gedungnya yang perkasa, dibumbui puluhan jembatan-jembatan besi yang mengelilinya. Menatapnya membuat saya teringat sebuah film. Ya, kota inilah yang menjadi setting film Batman, ‘The Dark Knight’. Pittsburgh adalah Gotham City.
Kombinasi Eksotis. Mendengar dan melihat Pittsburgh, sekilas kota ini terlihat kasar. Namun, tak dipungkiri, kekasaran itu membuat keindahannya berbeda. Gedung pencakar langit, disambut sungai, jembatan, dan rumah-rumah di kaki bukit. Di mana lagi bisa menemukan itu di satu tempat?
Gemerlap Kota. Dari Mount Washington, skyline Pittsburgh di malam hari bagai percikan kembang api yang menyilaukan mata tapi menggoda.
CHICAGO, ILLINOIS
Pertama kali saya melihat Chicago, hanya dari bandara, ketika kota ini diselimuti salju. Entah mengapa saya tidak begitu tertarik untuk berkunjung lagi. Saya bersyukur perasaan itu tidak lama, karena untuk kedua kalinya di Amerika, setelah NY, saya tercengang menatap arsitektur modern yang membelalakkan mata.
Chicago O’Hare Therapeutic Airport. Bandara adalah kesan pertama terhadap sebuah kota. Penghubung antar terminal di bandara Chicago ini adalah kesan yang tidak akan mudah dilupakan. Berjalan di bawah lampu, yang mengular bergerak dengan musik lembut, bagai dunia mimpi futuristik. Lelah dan penat hilang sejenak.
Sulur Pucuk Kota. Di puncak John Hancock Center, salah satu pencakar langit tertinggi di Amerika, seperti inilah wajah Chicago dari ketinggian 300 meter.
Si Tua & Si Muda. Tahun 1871 kota ini luluh-lantak hangus terbakar, hanya sedikit bangunan tua yang berhasil bertahan, salah satunya adalah Chicago Water Tower (bawah depan). Bencana ini tak lama melukai Chicago, dalam satu abad kemudian, puluhan gedung pencakar langit tumbuh sambung menyambung dari permukaan bumi, menjadikannya salah satu pusat ekonomi terpenting di Amerika.
Awan Kacang. Inilah kecerdasan yang muncul dari kesederhanaan. Cloud Gate 'hanya'-lah sebuah seni instalasi luar ruangan, yang mengandalkan pencerminan. Terbuat dari baja, karya yang juga dikenal dengan sebutan the bean karena rupanya yang seperti kacang ini, membuktikan bahwa kesederhanaan dan fatamorgana visual bisa menjadi magnet wisata yang kuat. Cloud Gate telah menjadi tujuan wisata terfavorit kedua di Chicago.
Holyluya. Didirikan tahun 1874, rupa ‘Holy Name Chatedral’ ini sesuci namanya.
Hold Me Tight. Latihan Salsa di dalam pekarangan The Art Institue of Chicago hanya diizinkan sampai pukul 4 sore. Waktu para peserta kelas ini pun habis. Semangat membuat mereka melanjutkan latihan di luar pagar.
Selama masih bisa, saya akan terus merekam apa yang terhampar di hadapan mata. Namun, saya tahu kamera hanyalah perwakilan mata. Satu frame untuk sebuah peristiwa. Satu frame untuk secercah alam dan kota yang indahnya jauh melebihi sudut mata. Memang, kadang selembar foto bisa sangat memikat hati, tapi melihat seluruh peristiwa itu langsung, bergerak bersamanya, menghirup udaranya, mendengar derap dan bunyinya, berkali-kali jauh lebih indah. Semoga kamu juga bisa merasakannya.
Rafki Hidayat
twitter : @RafkiHidayat
A Journey To The West: Las Vegas (Part 1)
Awal Perjalanan
Tidak ada cara yang lebih tepat memulai kisah perjalanan empat hari saya ke bagian barat Amerika, selain pertemanan dengan Ryan.
Di hari-hari menjelang akhir musim semi yang lalu, saya mulai berpikir betapa beruntungnya fellow-fellow sebelumnya yang selalu diundang ke Amerika berdua atau bertiga. Mereka bisa memulai segalanya bersama. Setidaknya, seburuk apapun yang terjadi, mereka saling memiliki satu sama lain.
Di tengah kegundahan itu, VOA menerima seorang intern (anak magang) baru. Ryan hadir di VOA sekitar dua minggu setelah kedatangan saya di Washington DC. Dua minggu yang terasa seperti dua bulan, buat saya. Bukan karena saya tidak mensyukuri nikmat Tuhan mengabulkan segala mimpi, tetapi karena saya belum memiliki teman.
Perlahan-lahan, konsep yang sudah lama saya tanamkan, bahwa saya bisa hidup tanpa teman, kembali runtuh. Saya hanya manusia biasa yang butuh membagi kebahagiaan dan kesedihan.
Biasanya saya terlalu malas untuk memulai percakapan dengan orang baru, jika tidak benar-benar niat. Tapi kali ini kondisinya berbeda. Saya dalam status "Darurat Butuh Teman". Tidak hanya memantik percakapan, Ryan bahkan saya ajak makan siang. Sebuah prestasi!
Dalam kurang dari 15 menit, saya tahu bahwa kami sama-sama penggemar berat film. Bedanya, Ryan mengoleksi ratusan blu-ray original, sementara saya mengoleksi sekoper DVD bajakan. Kami sama-sama penggemar Coldplay dan Bon Iver. Kami sama-sama ingin masuk jurusan Hubungan Internasional dan ditolak.
Ryan memutuskan mengejar mimpi dengan kuliah pertelevisian ke Amerika, sementara saya terjebak dengan rumus-rumus dan teorema di jurusan Matematika. Tapi, yang paling penting, kami hobi jalan-jalan dan sangat ingin berpetualang ke bagian barat Amerika.
"Lo tertarik ke Vegas gak?," tanya Ryan, “Kita harus rencanakan!," balas saya.
Dalam kurang dari satu jam perkenalan dengan teman baru ini, sebuah rencana jalan-jalan ke Sin City, kota dosa, Las Vegas tercipta. Kami memilih untuk pergi di awal Juli.
The Dinamic Duo
Satu setengah bulan sebelum keberangkatan kami ke Vegas, Ryan telah menjadi seorang sahabat untuk saya. Tak terkira bantuan yang diberikannya. Di kantor, dia menjadwal berbagai liputan ringan dan mengerjakan hal yang paling malas saya lakukan saat liputan di Amerika; menghubungi lokasi liputan untuk izin.
Tidak seperti di Indonesia yang tinggal datang dan bisa langsung liputan karena banyak orang yang senang direkam kamera atau masuk televisi, di Amerika, semuanya serba diatur dan sebagian besar lokasi harus didahului izin. Lebih sulit lagi, tidak semua orang berkenan diambil gambarnya. Close-up wajah anak-anak bahkan dilarang, kecuali orang-tuanya mengizinkan.
Bersama-sama kami membuat liputan sekreatif mungkin. Karena kami relatif baru sebagai wartawan, berbagai ide angle dan stand-up (penjelasan reporter di hadapan kamera) bermunculan dengan mudah. Misalnya stand-up sambil bertarung menggunakan pedang melawan bajak laut untuk paket tentang Festival Bajak Laut di DC, berpura-pura menjadi kiper sepak bola untuk paket tentang alat pendeteksi gol, atau membuat ulang adegan fenomenal latihan Rocky Balboa dari film "Rocky" (1976) berlari menaiki tangga Philadelphia Museum of Art, saat membuat paket tentang jalan-jalan ke Philadelphia.
Saya sebenarnya salut dengan teman saya ini karena dia bisa tahan liputan dengan saya. Di Indonesia, banyak rekan kerja saya yang bilang, saya bukan orang yang asyik untuk menjadi rekan liputan. Saya terlalu banyak permintaan gambar. Saya tidak nyantai. Untuk sebuah stand-up berdurasi 20 detik, saya bisa take berulang-ulang belasan kali karena kerap salah atau tidak puas-puas.
Saya sering iseng bertanya apakah dia tertekan bekerja dengan saya. Pertanyaan retoris yang selalu berakhir dengan selorohan. Jawabannya mungkin ‘Iya’, tapi apa boleh buat, Ryan tidak punya pilihan, hahaha.
Dari Vegas Hingga Monument Valley
Waktu berlalu, rencana ke Las Vegas, negara bagian Nevada terus berkembang. Saya berpikir, sayang sekali jika sudah jauh-jauh ke Nevada, tetapi tidak mengunjungi Negara Bagian Arizona dan Utah, yang bersebelahan dengan Nevada di bagian timur. Apalagi, ada keajaiban alam Grand Canyon dan ikon Amerika, Monument Valley di dua negara bagian itu. Ryan setuju.
Rencana ini bahkan berkembang menjadi ambisi untuk liputan. Saya teringat janji ketika Konfrensi Pers Penerima Fellowship PPIA-VOA, beberapa hari sebelum saya berangkat ke Amerika. Saya mengatakan sangat ingin berkunjung ke Monument Valley, serta membuat liputan tentangnya.
Saya sebenarnya tidak enak dengan Ryan, melibatkannya dalam ambisi pribadi saya. Tapi seperti biasa, dia tidak menolak, dan saya benar-benar memegang pernyataannya itu, meskipun saya tetap berjanji, "Yang paling penting, jalan-jalan kita 'gak terganggu Bro. Kita harus menikmati. Itu yang utama." Dia mengiyakan, tetapi dalam hati saya tahu, perjalanan tersebut pasti akan terganggu.
Segala perencanaan berjalan lancar. Saya juga sudah membuat Itinerary. Jalan-jalan tersebut akan berlangsung selama empat hari (Sabtu-Selasa). Hari pertama, dari Las Vegas kami langsung menuju ke Grand Canyon melewati Hoover Dam. Hari Kedua, kami lanjut ke Monument Valley. Hari ketiga, dari Monument Valley kembali ke Las Vegas, dan hari keempat, menghabiskan waktu di Las Vegas. Malamnya kembali ke DC.
Kami mendapat tiket pesawat yang lumayan murah, $267 pulang pergi dari Bandara Baltimore, negara bagian Maryland.
Tak Semudah Itu
Untuk bepergian dari Las Vegas menuju Grand Canyon dan Monument Valley, kami perlu menyewa mobil. Dari awal kami sudah tahu itu, karena sewa mobil di Amerika jauh lebih menguntungkan daripada ikut tur yang harganya bisa mencapai ratusan dolar. Tergantung perusahaan penyewa dan Negara Bagiannya, sewa mobil bisa hanya 25 dolar perhari. Dan itu biasanya sudah mobil bagus.
Masalahnya, untuk menyewa mobil perlu kartu kredit dengan nama yang sama dengan pemilik SIM. Rencananya Ryan yang akan mengemudi karena dia yang punya SIM. Tetapi Ryan tidak punya kartu kredit. Di Amerika, kartu kredit nyaris menjadi keharusan, apalagi untuk sewa-menyewa seperti ini. Rekam jejak pembayaran si peminjam, telah tercatat lengkap di kartu kreditnya.
Dua minggu sebelum keberangkatan, kami sibuk mencari jalan keluar untuk solusi ini. Solusi yang hampir menyelesaikan masalah ini adalah beberapa perusahaan rental mobil ternyata memperbolehkan pembayaran lewat kartu debit. Saya punya kartu debit. Tetapi tetap, aturannya, nama pemegang SIM harus sama dengan nama pemilik kartu debit. Masalah malah semakin runyam, karena rasanya tanggung sekali.
Karena penasaran, kami datangi Budget, salah satu perusahaan rental mobil terkenal di Amerika, untuk menanyakan apakah memang tidak bisa SIM dan debit dengan nama yang berbeda. Toh kami jalan-jalannya bersama. Saya berharap, dengan bertanya langsung, bisa mendapat jawaban bagus dan memuaskan. Tapi, belum selesai kami bertanya, penjaga counter tersebut langsung memotong, "No, you can't."
Hitung Mundur Hari-H
Empat hari sebelum pergi, kami belum mendapatkan solusi. Jika kami tidak dapat menyewa mobil, apa yang akan kami lakukan di Las Vegas dengan uang pas-pasan selama empat hari di kota casino itu? Pasti membosankan.
Saya pun mulai mencari tur ke Grand Canyon. Yang paling murah ternyata tidak murah sama sekali, sekitar 80 dolar. Bus tur ke Monument Valley bahkan hampir tidak ada. Kalaupun ada, tur dimulai dari Kota Phoenix, Arizona dan tidak melewati Grand Canyon. Bagaimana cara kami ke Phoenix? Oh, mumet memikirkannya.
Jalan terang seakan melambai-lambai di depan mata, ketika Ryan menemukan ada perusahaan penyewaan mobil di Las Vegas yang bersedia menerima pembayaran dengan uang tunai. Namun, kesannya mencurigakan karena kami harus memberikan deposit $500 di luar biaya sewa, yang akan dikembalikan setelah mobil kembali.
Masalahnya, kami tidak punya uang sebanyak itu untuk di-depositkan. Selain itu, review perusahaan tersebut buruk sekali. Bahkan ada yang bercerita, ketika mobil kembali, uang penyewa mobil ternyata tidak dikembalikan. Di sekeliling kantor banyak anjing buas yang dikandang, yang siap dilepaskan kalau si penyewa macam-macam. Ah, membaca itu saja nyali sudah ciut...
Di saat saya letih berkeluh kesah, ternyata Ryan melakukan hal yang lebih cerdas. Dia membuat kartu debit sendiri, di hari-hari terakhir. Wow! Itulah beda kualitas kami, hahahaha.
Tetapi bukan berarti masalah selesai. Dua hari sebelum berangkat, Ryan membawa kartu debit barunya dengan wajah datar. "Tadi gue tanya Budget di Union Station, katanya gak boleh juga," kata Ryan sambil memperlihatkan kartu debit barunya, yang ternyata belum tercantum namanya, karena dibuat secara kilat.
Ya Tuhan. Ya sudah, saya pasrah luntang-lantung empat hari di Las Vegas.
Delusi dan Optimisme
Di hari terakhir sebelum keberangkatan kami ke Vegas, keyakinan kami tiba-tiba muncul kembali. "Bisa lah, Bro. Lo kan punya kartu debit. Nanti kita di sana pura-pura nggak tahu aja! Jadi lo kasih lihat SIM sama kartu debit lo, plus surat Bank yang menyatakan kartu debit itu memang punya lo. Selesai!,"
Mendengar ocehan saya, Ryan tampaknya terprovokasi.
Kamipun mencoba menelpon Payless, perusahaan rental mobil murah, yang sepertinya sedang berusaha menarik pelanggan sebanyak mungkin untuk mencari tahu. Mungkin saja mereka mau berkompromi.
"Halo, I'm from Washington DC. We plan to go to Vegas this weekend...," saya ceritakan kendala kami dan tanyakan apakah dia bersedia menerima kartu debit tanpa nama milik Ryan.
Penerima telepon dengan suara berirama khas African-American menjawab, "Okay, just come in. If we can swipe it, you're good," jelasnya.
"YES! Okay, thank you, Bye bye!"
Saya dan Ryan sangat girang, meskipun dalam hati, kami tahu ini janggal. Tapi ya sudahlah..., kami sudah letih berpikir negatif. Kami butuh ketenangan sebelum perjalanan.
Jumat pagi, saya dan Ryan tiba di kantor dengan tas ransel dan kamera DSLR kami masing-masing. Yang milik saya untuk foto-foto, sementara milik Ryan untuk merekam video dan wawancara. Rekaman audio wawancara dan untuk stand-up akan diambil menggunakan alat terpisah. Bentuknya seperti kotak berukuran sekitar 25x15x5 sentimeter dan lumayan berat. Tapi kami sudah terlalu bersemangat. Beratnya tas punggung kami tidak lagi jadi kendala.
Semangat kami meluap-luap. Saya tidak sabar lagi menyambut pengalaman yang menanti. Pengalaman yang akan dimulai kurang dari 12 jam. "Yuhuuuu, tunggu kami Vegas!"
Bersambung ke 'A Journey to the West : Las Vegas (Part 2)'
Rafki Hidayat
Email : [email protected]
Twitter : @RafkiHidayat
Oh yes, the past can hurt, but you can either run from it or learn from it
Rafki. The Lion King
Lion King http://weheartit.com/entry/71854557/via/alondra97574641
(7) disney | Tumblr en We Heart It. http://weheartit.com/entry/62223179/via/Fezzii