Rain In December
Untuk: Kamu
Hai kamu.
Bagaimana kabarmu? Aku harap kamu baik-baik saja:)
Masihkah kamu ingat saat pertama kali kita berjumpa atau tepatnya saat pertama kali aku melihatmu.
Hahahaa, tentu saja kamu tidak ingat
karena bagimu aku bukan siapa-siapa.
Karena kamu tidak ingat akan kuceritakan awal dari semua kisah ini dimulai. Hari itu langit kelabu. Awan hitam bergerak beriringan, menyembunyikan tetesan air hujan. Kulihat sosokmu dari sebuah bangku.
Bangku yang menjadi titik temu kita. Karena jika aku tidak duduk di sana, kemungkinan aku tidak akan pernah menyukaimu hingga saat ini.
Perlahan-lahan tetesan air hujan jatuh ke atas permukaan. Mulanya-mulanya kecil, namun semakin lama membesar. Bukannya berteduh, kamu malah bermain di bawah hujan.
Ada sebuah mitos yangmengatakan bahwa hujan yang turun membawa keajaiban. Kamu pasti enggak akan percaya dengan mitos tersebut. Tetapi, aku memercayainya.
Saat mataku melihat sosokmu, aku sadar bahwa aku telah terperangkap pada mitos tersebut yang dinamakan keajaiban cinta.
Tertawalah sepuasmu:(
Mungkin ini terdengar menggelikan, tetapi aku mengatakan yang sejujurnya jika hari itu tidak hujan mungkin aku tidak akan duduk di bangku itu untuk berteduh dan aku tidak akan melihatmu.
Awalnya aku hanya penasaran dengan sosokmu. Percayalah aku bukan orang yang suka dengan seseorang sejak pertama kali melihatnya. Tetapi, aku merasa bahwa kamu berbeda. Aku merasa bahwa kita memang sudah ditakdirkan untuk bertemu pada hari itu. Dan anehnya, aku memiliki kepercayaan bahwa kamu adalah orang yang tepat.
Oke, ini memang terdengar aneh, tapi hatiku yang mengatakannya.
Hatiku seolah-olah mengatakan, He is the best for you. Trust me:)
Kehadiranmu bagaikan obat yang menyembuhkan luka di hatiku. Saat aku pertama kali melihatmu, hatiku sedang hancur, tetapi kedatanganmu ke dalam ruang hatiku, menyusun kembali kepingan-kepingan yang sudah hancur. Mungkin kamu berpikir bahwa rasa sukaku hanya berupa pelampiasan, tetapi percayalah bahwa rasa sukaku tulus karena hingga saat ini kamu masih menjadi bagian dari hati kecilku.
Saat pertama kali mengenalmu, tak pernah terpikirkan olehku untuk bisa menjadi milikmu. Ya, walaupun terkadang, kerap kali aku berharap seandainya kamu menyimpan perasaan yang sama. Lagipula aku ini manusia? dan manusia pasti tidak pernah berhenti berharap.
Namun, semua harapan itu selalu aku tepis jauh-jauh karena semakin kita berharap akan suatu hal, maka akan semakin besar pula rasa kecewa kita kelak. Lagipula tidak mungkin kamu menyukaiku karena sosokmu terlalu jauh untuk aku jangkau. Mengenalmu dan menjadi temanmu saja sudah cukup untukku.
Tahukah kamu,
Menjadi temanmu itu sangat sulit. Jika saja hari itu aku tidak sengaja mengirimkan pesan untukmu, mungkin sampai saat ini aku tidak akan berani untuk memulai menyapamu dan kamu tidak mungkin mengenalku.
Dan, ternyata berbicara denganmu menguras energiku untuk berpikir keras. Karena kau hanya menjawab seadanya. Singkat, padat, dan jelas. Namun, perlahan-lahan, kamu mulai membuka sebagian dirimu. Membiarkan aku untuk memasuki hidupmu dan menganggumu, hehe:)
Sikapmu yang sulit untuk didekatkan mengingatkanku akan tokoh film yang kusukai dan membuatku semakin tertarik kepadamu. Dan, menurutku kamu cukup istimewa. Di balik sikapmu yang sedingin patung es, kamu menyimpan kehangatan. Aku bisa merasakan saat dimana aku melalui hari-hari yang berat dan kamu selalu berada di sampingku, menguatkanku.
Aku sangat berterima kasih akan hari-hari itu. Jika aku mengingat hari-hari itu, aku mengingat saat dimana aku menangis sangat keras kepadamu dan sungguh itu sangat memalukan jika diingat. Rasanya aku ingin mengubur wajahku dalam-dalam.
Namun, suatu hari, aku pergi menjauh darimu. Maaf jika kamu berpikir bahwa aku tidak sungguh-sungguh, tetapi percayalah bahwa perasaanku kepadamu sampai saat ini masih sama seperti dahulu. Memang, beberapa orang datang ke ruang hatiku, tetapi perasaanku kepadamu berbeda dengan perasaanku kepada mereka.
Kalau diibarakan perasaanku kepadamu layaknya air. Tenang, dingin, tetapi terkadang hangat, dan diam-diam menghanyutkan. Sedangkan perasaanku kepada orang-orang yang pernah tinggal di hatiku bagaikan api yang membara, menggebu-gebu untuk mendapatkannya.
Dan, aku lebih menyukai perasaan yang bagaikan air karena menurutku perasaan tersebut memiliki daya tariknya sendiri. Perasaan yang membuatku tidak serakah dan menjadi sosok yang egois.
Sampai sini aja surat dariku. Terimakasih karena telah hadir dan aku harap kamu tidak sakit mata saat membacanya. Dan terimakasih untuk hujan di bulan Desember yang telah mempertemukanku denganmu:)
-17 Desember
Saat hujan turun dan sebuah kisah baru dimulai











