Perasaan yang sulit ku hentikan
Dear mas,
Harusnya tulisan ini aku kirim ke kamu secara langsung. Tapi, aku tidak cukup berani untuk melakukannya. Akhirnya aku memutuskan untuk menulis di platform ini dan berdoa agar kamu mau mampir dan baca tulisan ini.
Mas, ada banyak waktu yang mau aku lalui bersama kamu. Pertama kali ku ajak bertemu, penolakan yang ku dapati dan ku mencoba mengerti karena kamu sibuk bekerja. Namun, di kesempatan berikutnya ku ajak bertemu. Masih penolakan sampai akhirnya aku memilih berhenti mengajak dan menunggumu yang akan mengajak. Walaupun aku tau hal itu hampir tidak mungkin terjadi.
Mas, tolong kasih tau aku, aku harus bagaimana melalui hari tanpa hadirnya kamu. Tolong beri tau aku, apa kita masih ada di garis komitmen yang sama?.
Aku tau hadirku tidak bisa membantu mengurangi beban yang kamu tanggung saat ini. Tapi aku bisa membantu di lain hal jika kamu butuhkan. Sayangnya, kamu belum sepercaya itu untuk melibatkan aku.
Mas, aku tau prioritasmu saat ini bukan untuk aku. Tapi, sejak hari kamu mengiyakan kita untuk berproses ke hubungan yang serius, ku pikir aku akan kamu libatkan dalam hidup kamu perlahan.
Mas, kamu sadar ga ya kita udah lama ga ketemu? Mas, kamu kangen ga ya sama aku? Mas, hilangnya kamu sejak kemarin sampai saat aku tulis ini udah buat aku lelah dan ingin sekali menyerah. Tapi, entah mas kenapa Tuhan masih memberikan aku perasaan ini. Perasaan yang tujuannya ke kamu.
Kamu pernah bilang dan kasih respon atas cerita aku yang engga mau kasih kesempatan ke orang yang sebelum kamu, karena bukan dia orang yang aku mau. Sejujurnya, aku memikirkan 'self-worth' aku. Apa aku tidak semenarik itu buat kamu? Aku pernah tanya aku harus apa supaya perasaan kamu bisa tertuju buat aku? Mas, aku menulis ini dengan sedikit rasa sesak yang ku rasa hampir setiap malam belakangan ini.
Mas perasaan aku ke kamu engga sedangkal itu. Perasaan aku ini tulus. Aku pun bertanya-tanya kenapa aku bisa sedalam ini mengagumimu. Cueknya kamu, sibuknya kamu selalu bisa aku maklumi. Aku pun mempertanyakan, standar hubungan ku dengan lawan jenis jadi sejauh ini.
Mas, ini usaha terakhirku. Aku selalu dan masih menyebut namamu dalam setiap doa. Ketika aku tidak mampu menahan rasa rindu dan ingin sekali aku mengganggu hari sibukmu yang tanpa aku itu. Mas, kasih aku jawaban atas pertanyaan ku "apakah kita masih ada di garis komitmen yang sama? Jika iya, lalu bagaimana prosesnya?"










