Ramadan Talk #5 (Fiksi)
Perempuan itu tertunduk meneliti arakan semut di depannya. Sudut matanya mengikuri arah barisan kecil itu, sedang pipinya basah oleh resah.
Sudah kali kedua ia duduk di teras masjid sore ini. Kemarin di jam dan tempat yang sama ia menghabiskan sisa senja dalam resah yang serupa. Mungkin tak usai saat itu, sehingga ia bawa lagi hari ini.
Tak ada yang tahu isi hatinya. Pun isi kepala yang kini sudah seramai pasar. Semua pikiran melintas, kenangan masa lalu dan ketakutan masa depan sahut-sahutan menjajakan kecemasan. Bazar duka baru saja dimulai tepat saat gerimis di matanya mulai turun.
Segala yang ia kira indah, ternyata tak selalu berjalan mudah. Impian demi impian seakan lepas dari genggaman, melayang tak terjangkau.
Bukan, bukan kegagalan yang membuat langkahnya terasa penuh beban. Melainkan harapan dan anggapan orang atas segala yang pernah ia dapatkan. Menempatkannya pada titik tak boleh mengecewakan.
Sementara kenyataan hidup tak semudah yang diangankan. Ia jatuh lagi, kali ini lebih lama dan berjalan pelan. Setapak demi setapak yang ia usahakan membuatnya terlihat lamban. Amat pelan jika dibandingkan dengan sekitaran.
Benarkah ia melambat? Benarkah ia terlambat? Sudah lepaskah impian yang ia tambat?
Gerimis di sepasang matanya mulai berganti badai. Kedua pundaknya bergetar menahan gelombang sesak yang kian mendesak. Tak bisa, ia tak bisa mengelak.
Kali ini hatinya hancur. Ia lebur.













