Silaturahmi, Pembuka Pintu Rejeki
Rezeki adalah sesuatu yang paling dicari oleh umat manusia dari masa lalu hingga masa kini, bahkan akan terus dicari hingga masa yang akan datang. Bukan tanpa alasan karena rezeki adalah hal yang bisa menopang kehidupan di dunia sebelum pada akhirnya manusia harus rela berpisah dengan rezeki dan menemui kematian. Hal itu berarti rezeki menjadi sebuah kebutuhan yang banyak dicari oleh manusia sebagai kebutuhan manusia selama masih hidup di dunia.
Silaturahmi secara sederhana bisa dikatakan sebagai proses menyambung, merakit, dan mempererat kasih sayang antar kerabat, rekan kerja, dan teman-teman dekat. Silaturahmi biasanya dilakukan dengan saling berkunjung. Menjalin silaturahmi tidak hanya dengan kerabat atau teman dekat, tapi juga dengan orang yang sebelumnya sempat terputus sangat dianjurkan untuk menyambung kembali ikatan silaturahmi yang terputus. Rasulullah SAW bersabda :
“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan.” (HR. Muslim)
“Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki, dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba – hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Muslim)
Hukuman bagi orang yang memutuskan silaturahmi ternyata cukup berat. Bagi Kita, tak ada alasan untuk memutuskan tali silaturahmi dan bermusuhan antara satu dengan lainnya. Sebaliknya, Allah SWT memberikan pahala yang besar kepada orang yang menyambung silaturahmi.
Silaturahmi termasuk salah satu ibadah yang mampu memperlancar rejeki. Seseorang yang rajin membangun silaturahmi akan lebih terbuka pintu rejekinya dibandingkan orang yang jarang membangun tali silaturahmi. Dengan memperbanyak silaturahmi ke kerabat atau ke teman–teman lainnya maka sesungguhnya kita sedang membuka pintu rejeki. Bertemu atau silaturahmi dengan orang lain tentu tidak sekadar bertemu, tapi juga berbincang yang bersangkut paut dengan kondisi keluarga hingga persoalan kerja. Ketika membuka ruang pembicaraan pada wilayah kerja ini, sebenarnya Kita juga membuka pintu baru bagi rejeki.
Jika setiap hari Kita mempunyai target membangun tali silaturahmi lebih banyak maka potensi untuk membuka jejaring pintu rezeki bisa lebih banyak pula. Dalam rangka bersilaturahmi, perbanyaklah mencari teman atau sahabat. Berbaur dan mendekatlah dengan semua kalangan karena hal itu merupakan awal silaturahmi. Sepertinya halnya jika kita terapkan pada pekerjaan sehari-hari, visit ke klien salah satu bentuk silaturrahmi. Dengan berkunjung ke klien selain membuka pintu rejeki, kita juga dapat pahala dengan membantu permasalah yang dihadapi oleh klien kita.
Saat kita bersilaturrahmi dan berbincang-bincang, jangan sekali – kali berdebat yang tidak jelas ujung pangkalnya atau hanya ingin menang karena hal itu akan membuat rasa empati hilang, berganti dengan dendam. Meski Kita melakukan silaturahmi, tapi kerap kali hanya sebatas permukaan. Itulah kenapa debat yang berebut menang hanya akan mendangkalkan nilai silaturahmi. Ketika silaturahmi tidak sepenuh hati dilakukan maka pintu rejeki juga tidak terbuka lebar.
Benyamin Franklin berkata, “Saat Anda bertengkar atau berdebat, bisa jadi Anda akan menang. Tapi, kemenangan itu tidak ada harganya karena Anda tidak akan mendapat simpati dari lawan yang Anda kalahkan.”
Allah SWT memberikan imbalan yang luar biasa bagi orang yang mampu merajut tali silaturahmi secara konsisten dan memberikan hukuman yang tidak sederhana pula bagi mereka yang memutuskan tali silaturahmi.
Kalau ingin rejeki lancar dan umur panjang, rajin-rajinlah menyambung tali silaturahmi. Tapi tujuan utama tentu bukan untuk menambah rejeki, melainkan karena Allah SWT memerintahkan demikian. Niat utama tetap karena Allah SWT sebab tanpa kehendak-Nya, rejeki melimpah tidak akan Kita dapat.
- Iqbal Hilman (Digital Leader PMI)
24 Ramadhan 1442H // 06 Mei 2021














