“Bahasa Arab? Sejak kapan kamu suka bahasa Arab?”
Pertanyaan itu muncul sendiri dari benakku. Masih ingat ketika MTs dahulu, aku yang paling lemot dengan pelajaran bahasa Arab. Butuh waktu beberapa lama untuk bisa menghafal kira-kira 10 murfodat (kosakata) ketika itu. Aku mencoba membandingkan kembali dengan sekarang. Alhamdulillah,aku tak selemot dahulu😄😄 masih lemot sih. Di semester 2 kemarin, salah satu mata kuliah jurusan mengadakan ujian akhir semester dengan model hafalan kosakata satu buku, kira-kira ada beberapa ratus lembar. Dengan waktu semalam aku ngafalin satu buku itu, ngelanjutin hafalan yang baru beberapa puluh halaman, sedangkan besok aku harus setorkan untuk ujian. Yaudah, bismillahi majreha deh, (jiah, malah baca doa itu)😄 pokoknya bismillah ngapalin sambil tutup mata d asrama (tidur malah kalau gitu). Intinya, aku bismillah coba ngafalin. Ketika itu aku mutusin buat nginap di asrama putri jurusan tafsir Alquran dan hadis (siapa tahu aja nular otak encer mereka hafalan. Biasa kan mereka ngafalin Alquran sama hadis-hadis gitu)hehe… Yaudah, aku mulai hafalan sambil komat-kamit sampai ketiduran. Sampai besoknya diulang-ulang kembali hafalannya dan disetorkan ke ustadzah. Asykuru lillah, aku bisa deh. Walau nggak di tes sebuku sih. Nah, aku merasa beda banget sama yang dulu. Ketika memutuskan masuk pondok pesantren, beda lagi masalahnya. Untuk bahasa Arab dari segi kosakata aku mulai terbiasa. Karena selama di pondok (kecuali kegiatan pramuka) komunikasi kudu pake bhasa Arab sama bahasa Inggris. Kalau Inggris aku rada pasiv, gak tahu kenapa 😔😔 Tapi sampai sekarang sedang berusaha aktiv. Kembali ke masalah di pondok. Masalahku ini masalah baru, soalnya belum pernah aku temui selama di MTs, yaitu Nahwu dan Sharf. Nahwu-Sharf? Apaan tuh? Hehe. Itu dua di antara cabang ilmu bahasa Arab. Otakku rada berat banget buat mahamin kedua cabang ilmu itu. Dan dengan keduanya aku mempunyai pengalaman yang sama-sama luar biasa. Luar biasa membanggakan. Yang Nahwu, aku sering diberdiriin ketika di kelas. Soalnya paling lemot pahamnya. Apalagi disuru i'rab (nerangin seluruh kedudukan kata dalam kalimat atau paranggraf) kalau kata orang Sulawesi “so itu dia yang beken taputar otak.” Jadi setiap ditanyaiin ustadzah, atau giliranku yang jawab pertanyaan, pasti aku selalu jawab, “Laa a'rif” (Anaa gak tahu) dan ujung-ujungnya si ustadzah bakal bilang “Yaaa Allah, Syindi. Qumiyy fii makaniki” (Berdiri di tempatmu). Mau gak mau harus berdiri. Kira-kira ada dua tahun kayak begitu terus. Sampai ustadzah Nahwuku berangkat ke Mesir, aku gitu-gitu aja. Yang kedua, Sharf. Beda lagi sama Nahwu, kalau Sharaf aku pernah dijemur. Karena….. Gak setor hafalan. Apa coba yang mau disetor, orang aku aja gak hafal ketika itu. Disuruh hafalan bab-bab awal kitab amtsilatutasrifiah, kitab perubahan kata beserta timbangan dan contohnya. Sungguh! Susah banget aku ngafalin kitab itu dulu. Sampe jadi langganan di jemur di depan kamar ustadzah. Tapi, Alhamdulillah sekarang aku sudah hapal setengah dari bab di dalam kitab itu (semoga gak lupa). Itu semua terjadi sekitar 3 tahun setelah kejadian jemur-menjemur waktu itu. Bayangkan prosesnya. Bukan proses ngapalinnya, tapi prosesku untuk mencintai ilmu Sharf ini. Sampai akhirnya aku pindah pesantren. Di pesantren yang baru, aku diamanahkan untuk menjadi bagian kebahasaan pondok. Rasa sukaku pada bahasa Arab mulai muncul. Karena amanah dan tanggung jawab itu perlahan aku terbiasa. Bagaimana tidak, tugasku memberi hukuman kepada santri yang tak menggunakan bahasa Arab di pondok. Untuk Sharf, karena aku masuk sebagai santri akhir dan ternyata santri akhir di pondok baruku sudah tak diajarkan lagi mata pelajaran Sharf. Yang tersisa hanyalah Nahwu. Aku lebih bersahabat dengan Nahwu. Lebih, tapi tak lebih-lebih amat😄. Masih suka lemot buat paham. Tapi lebih baik dari di pondok sebelumnya. Sampai-sampai kata ustadz, “Gak apa-apa kalau gak bisa sekarang. Setahun, dua tahun atau beberapa tahun kemudian pasti bakalan bisa. Ilmu itu gak langsung berfungsi pas saat ini juga.” Kata beliau demikian. Aku masih sangat ingat itu. Dan sekarang aku merasakannya. Sedikit-sedikit berkat pelajaran yang pernah aku pelajari dulu, aku lebih mudah menyesuaikan dalam proses perkuliahan. Terkhusus Nahwu dan Sharf. Jika dulu aku yang paling menggerutu kalau sudah bertemu dengan hari yang terjadwal pelajaran Nahwu-Sharf, sekarang aku berusaha untuk yang paling menanti keduanya. Aku jadi lebih paham dengan i'rob (yang dulu selalu menjadi sebab aku diberdirikan). Untuk hafal menghafal aku juga lebih semangat dan sangat suka. Pokoknya aku jadi sangat menyukainya. Waktu menghantarkan rasa cinta itu. Sekali lagi, karena ilmu tak langsung berfungsi saat itu juga. Bisa jadi kita yang paling susah pemahamannya tentang sesuatu hal di hari ini. Tapi siapa yang bisa menebak, kelak kitalah seorang pakar terhadap hal itu. Dan kenapa aku bilang kalau pengalaman itu adalah pengalaman-pengalaman yang paling membanggakan? Karena, karena kegagalan itu aku belajar dan berusaha untuk bangkit. Dan hasil yang dibangun dari kegagalan adalah hasil yang lebih, lebih luar biasa bagiku. Hmmm… Kegagalan itu gak ada sih. Yang ada hanya proses menuju kesuksesan dan hal yang biasa dikenal dengan kegagalan itu adalah bagian dari proses itu. Dan ada harus ada cinta dalam proses itu. Dan cinta itu tumbuh seiring dengan proses itu.
Sampai memutuskan untuk menjadi mahasiswi di jurusan bahasa Arab. Hingga sekarang aku bangga bergelut dengan dunia Arab, meski belum pernah ke Arab dan bertemu sama Rasulullah yang orng Arab.😄😄
Ada beberapa hal yang menguatkan rasa cinta itu; Alquran diturunkan di Arab, bahasa Arab merupakan lughotuddin (bahasa Agama kita-Islam) serta Alquran dan hadis yang menjadi pedoman kita berbahasa Arab.
Sekarang aku sedang belajar. Belum ada apa-apanya dengan ilmu ini. Dan tahukah? Jika kamu ingin menikmati apa yang sedang kamu kerjakan, maka cintai hal itu. Dahulu aku sadar, aku begitu sulit dan tak menikmati belajar Nahwu - Sharf karena aku tak menyukai keduanya, aku tak mencintai keduanya. Makanya ketika aku sudah jatuh cinta, aku menikmatinya dan merasakan kemudahan. Tak ada kesulitan yang dahulu tercipta itu.
Allah sesuai prasangka hambaNya. “Dan apa-apa yang kamu anggap sulit pasti akan sulit walaupun ia mudah. Juga apa-apa yang kamu anggap mudah, pasti akan mudah, walau ia sulit.” Kata sorang ibu kepada anaknya yang diceritakan kembali kepada mahasiswanya di kampus.
Tulisan ini merupakan salah satu tulisan dari rangkaian menulis #ProjectRamadhan yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema bebas. Setiap harinya, tulisan-tulisan ini in syaa Allah akan di posting di tulisansyindi.tumblr.com pada pukul 22.00 WITA. Untuk membaca tulisan lain dalam projrct ini, klik disini










