Berani Meng-aku-i
Akhir-akhir ini aku mencoba memaknai kata “mengakui” lebih dalam dengan sempit dan rumitnya pemikiranku. Dalam proses selesai dengan diri sendiri, sebelumnya aku merasa cukup dengan kata “menyadari”, kita pun lebih familiar dengan self-awareness dibanding self-admission, kan?
Mengutip dari KBBI, mengakui adalah :
1) mengaku akan (kesalahan, dosa, dan sebagainya)
2) menyatakan sah (benar, berlaku, dan sebagainya)
3) menyatakan berhak (atas)
4) memasuki (tentang jin, setan, dan sebagainya)
Oke, aku hanya akan memakai arti poin 1-3 saja :v
Bagiku, dalam “mengakui” ada tanggung jawab pada suatu hal, sedangkan “menyadari” hanya sebatas tau, bahkan taking for granted; merasa hal itu ada karena sebuah kewajaran. Contohnya, ada banyak orang melakukan hal yang kurang baik, ia mungkin sadar kelakuannya tidak sesuai dengan nilai yang berlaku atau dengan orang kebanyakan. Lantas apa? Ya dibiarkan saja, katanya hiduplah sesukamu.
Sedangkan untuk “mengakui” ada proses yang lebih panjang dari itu. Jika contohnya seperti tadi, ia akan bertanggung jawab dengan apa yang dia lakukan, bersedia menanggung apapun resiko yang bermunculan dan mengungkapkan hal itu, entah tetap lanjut dengan sikapnya atau justru kembali pada fitrahnya.
Ah kenapa contohnya berat sekali haha. Oke, kita coba contoh lain.
Ketika kita punya saudara atau teman yang kelakuannya memalukan atau menjengkelkan, bukannya terkadang muncul keinginan untuk tidak mengakuinya? Haha, oke kita sadar mereka bagian dari lingkaran kita, tapi ada rasa untuk tidak dikaitkan. Beda lagi kalau kita mengakui, hal-hal yang berurusan dengan mereka pasti kita merasa terlibat dan harus turut andil kan?
Oh really, what I’ve been thinking about?
Sebenarnya beberapa waktu lalu aku sedang belajar mengakui perasaan sendiri. Perasaan kesal, malas, kecewa dan lainnya yang ingin segera kuhilangkan. Selama ini sepertinya aku terlalu cepat ingin kembali baik dan membuatnya netral saja. Padahal sepertinya tak salah mengakui sebentar emosi-emosi negatif itu daripada membiarkannya mengganjal. Mengakui emosi positif juga kadang tak semudah yang dikira sih hehe.
Jangan lupa, ada “aku” dalam “mengakui”. Pastikan setiap pengakuan yang kita beri, hadir dari diri yang utuh, tidak ditutupi atau dibohongi.
p.s : Lama sekali tak kemari, ada cerita menarik yang kulewati?
















