I used to write anything on my mind. I used to tell people my stories. I used to be that person now I don't.
seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Germany
seen from China
seen from Canada
seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from Switzerland

seen from United States
seen from China

seen from Switzerland

seen from Türkiye

seen from Switzerland

seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States
I used to write anything on my mind. I used to tell people my stories. I used to be that person now I don't.
Beberapa hari ini, scrolling tulisan lama. Aku rindu kalian.
Sekadar muter-muter makan di Keputih-Mulyos. Atau-pun cuma Sakinah.
Aku rindu.
rejeki.
kalau memang rejeki, nggak bakalan kemana.
saya masih percaya sama kata-kata itu. kalau memang rejeki, ya mau sampai di tangan orang, nanti juga baliknya ke si tuan. kalau memang rejeki, mau sekarang, besok, atau lusa juga pasti sampai ke si tuan.
sudahlah, gak usah khawatirin besok. bersyukur dulu aja sama yang hari ini.
Rasa
Hai, kamu apa kabar? Aku rindu. Rindu dengan akhiran sekali. Entah berapa kali kamu menyelingi malam. Ha ha ha, Kebodohanku, hanya kebodohanku. Mengingat rasamu, membayangkan rasamu. Kamu yang begitu lama, kamu yang begitu familiar... dalam hati. Pernahkah sekali kamu bertanya kabarku? Bertanya apa aku baik baik saja? Bertanya apa masih ada rindu? Ah, tentu kamu tak peduli. Iyalah kamu tak peduli. Untuk apa peduli. Aku menyukai laut, kamu menyukai laut. Dan laut yang menghubungkan. Semoga begitu sampai seterusnya. Karena melupakan dan menghilangkan jejak di rasa tidak semudah menghilangkan jejak di pasir pantai. Bahkan sudah membatu, bukan hanya karang yang rapuh terkena gempuran air laut. Bukan, tapi batu kokoh yang tak tergoyahkan. Bagaimana bisa hal ini terjadi? Sekali lagi, kebodohanku, hanya kebodohankulah... Maaf, Hai kamu lelaki penyuka laut, Hei kamu lelaki berwarna biru, Semoga kamu baik baik saja, Dari Aku yang rindu,
entah
Entah mengapa saya menyukai berada di jalan, Berada di kerumunan orang asing. Mendengar bahasa yang asing di telinga. Mencoba berkomunikasi dengan segala keterbatasan. Hingga akhirnya menyadari kita hidup di dunia yang begitu luas. Ada begitu banyak cerita, banyak kebahagiaan, banyak kesedihan, banyak tawa, banyak air mata.
Mereka, seperti kita, hidup dengan segala mimpi dan prasangka mengenai kehidupan orang lain. Begitu terlihat sempurnanya hidup orang lain di mata diri sendiri.
Padahal jikalau mau menilik sebentar saja, tidak semua yang terlihat di depan mata sesuai dengan apa yang ada di baliknya. Panggung sandiwara, begitu banyak aktor dan aktris yang tercipta dari kejamnya kata dewasa.
Apalagi dengan banyak bermunculan media sosial yang membuat semua manusia seolah tersedot dalam dunia maya. Iri hati, dengki, kemarahan, kesedihan adalah beberapa pengaruh buruk dari media sosial. Tanpa disadari semua penyakit hati itu merayap dan melingkupi hati manusia secepat tangan mengeklik tombol ‘post’.
Entahlah, semua itu seperti dunia semu yang hampir banyak orang terjebak di dalamnya. Mungkin sama seperti saya sekarang, terjebak di dunia maya, meniti menit demi menit dalam layar kotak penuh dengan kepalsuan.
Seminggu lagi.
Mulai terseok-seok. Merangkak. Jangan sakit dulu. Nanti dulu. Bentar lagi udahan. Can i turn back in time? Andai bisa, kenapa kita nggak deket dari awal? Kenapa aku pernah ngebandingin sama susunan sebelumnya? Sayang kalian.
Today isn’t a good day. Just not.
Missing atuk like crazy. Wanna scream out but no one can hear my sounds. Doing my tasks but found something wrong on it. Wanna tell others what i thought but i just can’t say anything. Home sick and feels like nothing so good to the place where i belong. Today….just not so good.