Komodo, antara masa lampau dan sekarang
Pertengahan Agustus, saya berkesempatan mengunjungi pulau yang menjadi habitat hewan purba satu satunya di dunia, Komodo. Kapal berlabuh di Loh Buaya, gerbang masuk ke pulau Rinca. Para Ranger sudah bersiap menunggu di pelabuhan. Jangan pernah sekalipun masuk ke pulau ini tanpa di dampingi ranger. Para ranger akan menjaga kita dari keganasan Komodo. Komodo masih merupakan hewan yang penuh misteri. Bahkan sampai saat ini masih banyak hal tentang Komodo yang menjadi pertanyaan.
Pulau Rinca tandus dan berdebu. pemandangan khas daerah Nusa Tenggara. Dilarang berpencar, dilarang terlalu berisik, dilarang melakukan gerakan mengayun adalah beberapa aturan yang harus dipatuhi. Bisa komodo membunuh hanya dalam hitungan hari. Sifat ganas dan kanibal menjadi ciri khas Komodo. Komodo dewasa biasa memakan anak anak komodo yang masih kecil. kewaspadaan menjadi prioritas saat mengunjungi Komodo.
Anak komodo berusia 5-6 tahun menjadi awal perkenalan saya. Dia berlari cepat menuju samping rumah perlingungan. Belum selesai rasa takjub saya, dari belakang muncul komodo dengan ukuran badan 3 kali lipat. Dia berjalan pelan namun memberikan rasa mengancam. Hewan yang dijuluki ‘dinosaurus terakhir di muka bumi’ berjalan pongah di depan kami yang berdiri diam di belakang ranger.
Selalu waspada. Begitu yang diingatkan ranger kepada rombongan. Warna dan bentuk komodo yang menyerupai batu menyulitkan kami mengidentifikasi keberadaannya. 2 ekor komodo dengan nyaman tiduran di bawah sinar matahari. Biasanya setelah makan mereka akan berjemur untuk membantu proses pencernaan makanan.
Memasuki hutan pulau rinca, kami berjalan menuju sarang komodo. komodo membangun sarangnya di tanah. mereka membuat lubang lubang untuk menyembunyikan telur agar tidak dimangsa predator. Selama perjalanan kami tidak bertemu komodo sama sekali. mungkin karena saat itu musim kawin banyak komodo yang masuk ke hutan yang dalam.
Populasi komodo yang didominasi pejantan membuat setiap musim kawin terjadi perkelahian antara komodo jantan untuk memperebutkan komodo betina. Saat akan kembali ke rumah perlindungan ranger, saya bertemu dengan rusa yang kehilangan sebelah tanduknya. Hewan hewan yang menjadi mangsa komodo ini tidak di suplai dari pulau lain melainkan dibiarkan sesuai proses alam.
Komodo banyak berkumpul di rumah perlindungan karena mencium bau makanan dari dapur. Mereka berdiam di bawah rumah panggung dengan santai.
Sungguh beruntung saya bisa berkesempatan melihat secara langsung hewan yang menjadi peninggalan masa purba. Berdiri dan melihat langsung bagaimana hewan yang menjadi salah satu keajaiban dunia yang ada di Indonesia merupakan pengalaman yang tidak dimiliki setiap orang. Komodo menjadi bukti keterikatan antara masa ini dan masa dahulu. Bukti nyata jejak sejarah yang masih ada sampai saat ini. Salah satu kekayaan alam Indonesia yang menyimpan banyak misteri.
Sepantasnya kita terus menjaga dan melestarikan segala kekayaan alam yang ada di dunia ini. kelak agar anak cucu kita lebih mencintai negara dan bumi tempatnya berpijak.