#randomajadah . . Frekuensi Barangkali aku adalah orang yang sok tahu. Yang sering posting dengan kalimat-kalimat yang seringnya belum sepenuhnya diterapkan dalam setiap langkahku. Tapi dibalik itu aku suka bingung, karena banyak notice justru dari orang-orang yang jauh dariku. Bukan dari orang terdekatku. Kemudian aku bergumam : oh jadi gini yang dimaksud Rasulullah bahwa dakwah dengan saudara itu memang lebih sulit. Dan hari ini aku dibuat berfikir ulang, kata ummi jangan berhenti jadi bermanfaat karena kita tidak tahu dari mana seseorang mendapatkan hidayah atau kebaikan. Katanya dulu adiknya saja menjadi lebih baik dari teman kuliahnya, bukan dari beliau. Dan aku menyimpulkan : oh ini yang namanya sefrekuensi kali ya. Aku pernah membaca sebuah buku, kira-kira isinya begini : 'Seseorang akan dipertemukan dan dibersamakan dengan orang-orang yang frekuensinya sama. Mereka yang kemudian menjarak perlahan adalah orang-orang yang tidak sefrekuensi dengan kita, tidak sepemikiran dan sepemahaman' Dari sini aku tahu bahwa kita tidak bisa memaksa seseorang untuk selalu sepaham. Tidak juga bisa memaksa seseorang mengertikan apa yang kita maksud, kita sampaikan. Bahwa pesan yang selewat batas bukan berarti pesanmu tidak mempunyai makna. Namun mereka tidak dalam frekuensi yang sama. Tahu dong rasanya muter radio cuma buat dapet channel yang pas ? Ada yang gresek-gresek, yang ada suaranya tapi tetep gresek-gresek, dan yang pure suara jernih si penyiar. Itulah, cari frekuensi yang pas. Biar enak diajak diskusinya. :) . . . #diskusirasa #hariketigabelas #29harimenulis #februarychallenge #februarimanis https://www.instagram.com/p/B8gn0C_DP00/?igshid=10icukcjt9pa9










