RangkumRasa #1 : Bingkai Rintihan
Kesekian kali mata ini membatasi
Wajah sayu tidak akan lama disini
Bukan pergi, hanya jati diri
Terus menegakkan kaki sembari menguatkan hati
Terik matahari sembilan puluh derajat diatas kepala sepertinya tidak bisa diajak untuk kompromi dengan hati yang terus merintih. Tidak seperti awan mendung dikala pagi hari tadi, tanpa meminta dia meneduhkan raga sembari memercikan air dari atas kepala.
Pikiran ini seperti bingkaian yang sepertinya sulit dicocokan dari masing-masing permasalahan yang ada. Berimajinasi sebagai gambaran solusi kecil dalam menenangkan pikiran, dan lebih tepatnya sebagai bentuk pelarian. Aku seperti pecundang yang berkoar sebagai pahlawan berego, namun ketika musuh datang aku lebih memiliih menyalahkan keadaan.
Ada hati yang tanpa pamrih untuk disiksa
Ada rasa yang siap memaksa berbahagia
Ada jiwa yang akan berevolusi menjadi dewasa
Ada secercah harapan melihat ini lebih bijaksana
Rintihan kian terapung, seiring rumitnya hati dalam menerjemahkan kondisi. Rumit dimunculkan ketika hati dan pikiran punya ego masing-masing serasa paling benar. Kita tidak bisa bersikap subjektif melihat kondisi seperti ini, karena akan menyiksa. Objektif jalan satu-satunya untuk keluar dengan kerumitan. Ini tidak ada rumusnya dalam berkompromi, hanya masing-masing hati yang memiliki kejernihan saja mampu berelaksasi