Forever with My Best Friend - is Not Always
“Forever with my best friend”, sebuah caption yang cukup mengguncang minggu sore ini. Adalah Maudy Ayunda Si Penyandang gelar artis multi talent dengan segala kebisaannya dan predikat akademiknya muncul dengan berita ‘tiba-tiba-nikah’ dan udah bukan ‘tiba-tiba-cinta-datang’ lagi (re: memasuki hari patah hati jilid 3 kata netijen, setelah raisa, isyana, kemudian ayunda :D). Si Mod’s hubby sepertinya adalah orang Korea yg dibesarkan di US dan bestie selama kuliah di Stanford (https://medium.com/going-southeast/moving-to-jakarta-part-1-the-why-134b9c0b0541 sila kepo medium beliau wkwk). Well, congrats buat Mod ya.
Terlepas dari berita gempar di atas yg masih berlangsung sampai sekarang dan semakin trending di twitter, yang cukup menggelitik adalah caption tersebut, ya “forever with my best friend”. Hubungan pertemanan antara laki-laki dan perempuan tanpa tendensi romantisme atau biasa disebut hubungan platonik bisa saja terjadi. Emosi yang timbul di awal ketika berteman memang pure hanya di lingkup rasa kagum satu sama lain, kesamaan minat, dan sudut pandang.
Pada laman tirto https://tirto.id/mengenal-cinta-platonik-definisi-dan-karakteristiknya-f9LN dijelaskan bahwa karakteristik yang paling dominan dalam hubungan platonik antara lain:
Kejujuran: terbuka, terus terang, dan se-transparan itu. biasanya masing-masing saling bisa menunjukkan sisi rapuhnya tanpa khawatir akan luntur citranya atau semacamnya.
Penerimaan tanpa syarat: kita tidak berekspektasi lebih terhadap lawan platonik kita. Tidak butuh emosi kuat untuk meletakkan harapan bersama.
Tidak melibatkan hasrat seksual: ini hal yang menjadi pembeda paling identik dimana dalam hubungan platonik tidak ada tendensi romantisme. batasan ini yang perlu dijaga agar tidak beralih ke hubungan romantisme.
Oke, sekilas teori di atas akhirnya cukup menampar saya pada hubungan romantisme saya yang berakar dari cinta platonik sebelumnya (hampir semua mungkin). Sejauh 30 tahun ini, pengalaman cinta platonik yang berujung ke romantisme seperti menjadi sarapan sehari-hari. Riset saya membuktikan bahwa ketika ada salah satu pihak sudah ‘berekspektasi lebih’ dengan lawan platoniknya maka akan berujung pada retaknya relasi ‘platonik’ yang dibangun sebelumnya, kecuali ekspektasi itu sama-sama datang dan compromised dari kedua belah pihak sehingga retaknya platonik tergantikan dengan hubungan romantisme.
Percayalah, dua hubungan terakhir saya yang berasal dari cinta platonik pada akhirnya bisa sepakat ‘berubah’ ke fase romantisme. Namun perubahan tersebut tidak permanen, karena ternyata ada kesalahan dalam menghitung variabel independen dan variabel intervening (ya mari bahas dengan analogi ini-Si Paling Ngerti 👉🏼👈🏼).
Dalam kasus variabel independen yang sangat terikat dan menjadi penentu dari output-nya ternyata sangat sulit untuk dikontrol dan diubah keadaanya. Konteks variabel independen ini adalah 'benteng yang tinggi’ - yak! peri cintaku marcell, atau kalo masih bingung dengan metafora saya, konteksnya adalah beda agama 😮💨. Mengusahakan atau kompromi untuk menjadi ‘satu’ sudah pernah ada dalam diskusi. Namun seperti halnya variabel independen yang sulit untuk diubah, ketika salah satu mantap mengiyakan untuk ‘convert’, yang lainnya malah ragu dan tidak berani ambil risiko. Ketika ragu menguasai, maka berujung kandas untuk keduanya baik platonik maupun romantisme.
Sedangkan untuk kasus variabel intervening, seperti sifatnya variabel penyela ini tidak bisa diukur dan diamati di awal. Konteks variabel intervening ini adalah ‘restu Ibunda’. Dalam percobaannya, variabel ini memang terabaikan karena kedua belah pihak merasa yakin tidak ada masalah ke depannya. Namun dalam perjalanannya yang sudah ‘hampir’ muncul ‘tanggal ketetapan’-nya dan cukup berhasil dengan pertemuan keluarga kedua belah pihak, si Ibunda tiba-tiba memutar balik haluannya yang tadinya setuju mejadi tidak setuju. Element of surprise seperti di film-film plot twist berhasil terjadi in my late 20′s (lagi-lagi Si happy-go-lucky turns problematics 🫠).
Putar otak berdua untuk kompromikan hal ini, mulai lakukan plan a, b, c, etc yang sangat menguras waktu, hati, dan pikiran (cukup lama bagi dia, 2 tahun sebelumnya dia sudah mulai lebih dulu - kami masih di fase platonik (bagi saya) tahun ke 5, dan 2021 akhirnya dia declare). Ketika dua orang sama-sama berjuang maka mungkin bisa akan terus, namun ketika sudah ada satu yang menyerah maka cepat atau lambat akan berakhir juga. Tinggal siapa yang berani ‘tarik pelatuknya’. Untuk kasus ini, yang berakhir memang hanya hubungan romantismenya, platoniknya retak sedikit tapi masih bisa berjalan, karena masing-masing secara dewasa sudah berdamai dan menyadari kesalahan bukan terletak pada variabel independen maupun dependennya dan keduanya memilih untuk berteman baik, saling mendoakan, serta saling mempersilahkan untuk membuka diri dengan orang baru (walaupun berat bagi keduanya).
Sekali lagi, saya hanya mencontohkan bahwa ternyata tidak semua hubungan platonik yang berubah ke romantisme bisa mulus permanen seperti kasus Mod dan her hubby. Ada variabel-variabel di luar sana yang lupa dihitung bahkan terabaikan di awal, padahal sangat fundamental dan bisa saja mengancam going concern hubungan (w ngomong apaaaan siiih, mabok lu bet :D). Sederhananya, kalo jodoh ga kemana, kalo belum jodoh ya semoga setelah kemana-mana jadi berjodoh (kata netijen sih 🫣) .
Bonus THE REAL CINTA PLATONIK yang awet permanen sampai maut memisahkan dan bahkan berdoa untuk dikumpulkan di surganya Alloh, AAMIIN.
(Tolong Si Monyet dikondisikan!!!)
P.S. Selamat menikmati hidup lah ya, ude dikasih ujian macem-macem kaga usah banyak mikir fafifu-nye. Paling gampang udah jangan pusing-pusing ambil porsinya Tuhan buat nge-gol-in segala jenis macem perduniawian EKSPEKTASI. Cukup jadi manusia yang usaha-doa-pasrah-liat Tuhan bekerja dan yang paling penting tetep berbaik sangka sama Yang Punye Idup. Dahlah! 🫶🏼