seen from United States

seen from Argentina
seen from United States

seen from Brunei

seen from China

seen from Indonesia
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Argentina

seen from Finland
seen from China

seen from Russia
seen from Malaysia
seen from Brunei
seen from Argentina
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
Bahkan persamaan juga memisahkan...
“Bisa tinggal sebentar?”, katanya mendongak. Tanpa senyum. Tangannya memutar-mutar bolpen yang dia gunakan corat-coret project mock-up timnya. Gue yang sudah berdiri dari kursi, urung meninggalkan tempat, duduk lagi.
“Gue duluan boleh ya?”. Cika, temen gue yang satu itu langsung kabur tanpa sempat gue ngasih persetujuan.
Suasana ruang meeting hari ini berasa lebih horor daripada tadi waktu kami show off project baru, kompetisi tiap tim. Jun diam, sibuk, menunduk corat-coret beberapa spot diatas kertas. Dan gue tau itu pura-pura. Gue mati-matian menahan jantung yang bisa loncat kapan saja dari tempatnya. Pemandangan dimana ada Jun yang sedang sibuk bekerja benar-benar adiktif, bikin jantung buru-buru menjejalkan darah ke arteri.
“Lapar nggak kamu?”. Tanyanya sambil tetap sibuk. “Nggak.” “Makan aja yuk.” “Nggak lapar, Jun.” “Yaudah.”
Hening.
“Jun...” “Sebentar. Jangan kemana-mana.”. Katanya. Pendek. Maigat!
Jun tetap khusuk corat-coret cetakan mock up garapan timnya, sementara gue? Pfff. Cika kadang ngakak dibelakang gue setiap kali gue sedang pasrah menerima apa adanya Jun. Ya beginilah, gemes-gemes nyebelin. Suka banget bikin orang menderita karena penasaran apa maunya dia, atau dia suka tiba-tiba super duper perhatian, atau tiba-tiba bikin gue jadi orang yang benar-benar spesial, atau tiba-tiba cluelessly sweet, atau tiba-tiba nggak ada kabar berhari-hari. And, i am ok with those all.
“Saya mau ngomong sama kamu.”, katanya. IYA GUE NGERTI DARI TADI. AH ELAH.
“Apa?”. Tanyaku, kayaknya sambil senyum. Taraaaaa, itu yang keluar dari mulut gue, bukan sumpah serapah penuh ungkapan depresi.
Laki-laki yang jadi supervisor kerja gue, sekaligus teman gue, sekaligus kakak yang gue hormati karena ketegasannya, sekaligus bocah yang kadang pengin banget gue sleding kepalanya tiap kali kumat jahil ini tiba-tiba jadi highlight di hidup gue lagi beberapa hari ini. Tiba-tiba jadi begitu dekat. *tepok dada, dihati*
“Kamu pulang jam berapa?”, tanyanya. Hopeless. “Auk ah, Jun. Gue lanjut kerja aja.” “Jangan, ntar saya antar pulang.” “Juuuunnn! Kamu mau ngomong atau cuma basa-basi ngulur waktu kerja gue sih?”. Gue tau Jun kepengin ngomong serius, hanya saja kali ini dia benar-benar menyebalkan. ”Saya cuma pengin lebih lama ada kamu di sekitar saya.” ”What?”. Sumpah! Kesel! “Saya mau ngajakin kamu nikah, Zo...”. Katanya, dengan mimik muka yang...ah, nggak tau lagi gue definisinya. Entah karena memang mimik mukanya sedang bingung atau memang otak gue yang sedang...hah? Nikah?
“Kamu lagi deket sama siapa sekarang?”, tanyanya lagi. “Kamu.”. Jawabku spontan. Yaiyalah cuma ada kita berdua di ruangan ini. Niat hati gue mau bales nyebelin dengan jawaban realistis untuk menjawab ajakannya yang ngasal itu. Tapi ternyata malah on-point banget.
Entah gimana pemandangan dari luar ruangan yang bisa dilihat teman kerja kami yang seliweran di depan pintunya. Udah kayak Drama Kethoprak tapi lempar pantun. Kaku di tempat.
“Mau?” “Kapan, Jun?”. Bego! Pertanyaan gue aselik kayak tanya deadline laporan. “Tahun depan?”. “Sebulan lagi tahun depan.” “Look, I know you and i love you already. But please, i need more time. Kita jalani dulu sampai waktu yang kita tentukan.” “Kamu mabok ya?”. Tanyaku. Dibikin terbang trus dibanting seketika dengan kata-katanya yang cuma sebaris itu benar-benar mulai bikin gue marah. Salah satu hal tidak mengenakkan dari titel menggemaskan Jun itu ya beginilah. Sak karepe dewe, seenaknya sendiri.
“Jun, jalani saja itu berpotensi jadi tinggalin saja. Kamu tau itu nggak?” “Saya harus gimana supaya kamu yakin? Kamu enggak mau pacaran, Zo. Sementara, kita butuh waktu buat siapin ke arah yang lebih serius.” “Jadi sekarang kamu belum serius?” “Karirku, Zo. Kita ini jenis manusia yang sama, tidak tau kemana lagi saya akan explore. Tapi please, saya butuh tempat pulang. And she’s you.” “Kamu nggak ada komitmen?” “Komitmen trus bubar ditengah jalan atau tiba-tiba nikah? Pilih mana?” “Trus kenapa ngomong sekarang?” “Saya takut kehilangan kamu lagi, Zo.” “Lagi?” “Iya. Saya kira dulu kita beda banget. Sekarang kita ada di zona yang sama. Lagi asik sama karir. Kamu tau cita-citaku kedepannya, kamu tau saya masih mengupayakannya. Saya tau rasanya, Zo. Sudah bisa dipetakan. It’s just like, saya masih punya deadline, tapi morning rollcall saya bukan sama tim, tapi sama kamu. Ngerti?”
Gue diam, geli dengar penjelasannya yang teknis abis! He just made a brief statements. Sebenarnya gue kepengin banget rasanya bilang kalau dia ini egois. Tapi gue kenal Jun, sebagai Agile learner, pola pikirnya sudah sangat terstruktur. Bukan gue sok tau, tapi karena memang gue salah satu diantaranya. Dan gue masih surprised dengan keputusannya untuk jujur. Berapa hari nggak bisa tidur tuh bocah buat ngomong beginian hari ini?
Jun tipe orang hebat yang kliatannya aja bego. Kenapa? Karena dia enggak bilang apa-apa soal kemampuan dan history skill-nya. Tapi sekali kamu mengenalnya, lo akan tau kalau dia adalah orang yang mempersiapkan segalanya. Selalu tau gimana menyebarkan positive-vibes ke segala arah di sekitarnya. Nggak punya prasangka, nggak ada takut.
“Zo?” “Jun, nggak cuma perbedaan yang memisahkan. Tapi bahkan persamaan juga bisa memisahkan.”
Juniar Athaillah, laki-laki yang barusan ngajakin gue nikah ini terdiam. Kemudian tersenyum.
“Yaudah.”. Katanya singkat. “Yaudah?” “Saya tau kamu enggak pernah approve hal-hal yang tidak pasti, Zo. That’s why i really love you for years. Saya sudah sampai di titik yakin, Zo. Let’s burn the bridge. Tidak apa-apa kan kemana pun saya explore? Soalnya kamu ikut.”.
Si lelaki jahil itu tersenyum. Tetap berdiri ditempatnya. Mengingatkan soal cerita jembatan khayal yang harus kita bakar kalau sudah menemukan orang yang cocok. ‘Cocok’, sederhana banget ya kosakata dia. Gue diam, berusaha menerjemahkan maksud kata-kata panjangnya tadi. Bingung.
Pintu dibuka, kepala Cika menyembul dibaliknya.
“Udah 10 menit lebih nggak ada tanda Jun? Sorry, gue interupsi. Cincin gue yang bawa soalnya. Diterima, Jun?” “Iya, Juli tahun depan saya sama Zona mau nikah.”. Jawab Jun, PD. Wait, whaaat? “WOI, DITERIMA GAESSSSSS!!!”. Teriak Cika ugal-ugalan.
Whaaaatttt?
Penghuni lantai 2 kantor kami seketika kompakan menyerbu ruang meeting tempat gue dan Jun adu ngeyel tadi. Cika berhambur memeluk gue seenak jidatnya, sambil megap-megap cari udara, gue tengok Jun yang senyum-senyum minta ditonjok. Sejak kapan? Skenario apaan ini?
“Jun! Gue bahkan belum jawab iya!!!”. Teriakku sekencang-kencangnya. “Maaf, Zona. Saya nggak ada pilihan. I’ve burned my bridge, our bridge. We can’t go back.”. Jawab Jun di seberang meja yang disambut cie-cie pasukan lantai 2.
“Jun, lo mau pakaiin cincinnya nggak?”, teriak Cika. Teriakan yang enggak perlu. Ngomong biasa aja kedengeran! “Jangan, itu biar ibu saya aja. Belum mahrom saya hehehe.”
Aselik! Lelaki gue ini parah banget gemesinnya!
Wait, ‘lelaki gue’? Bhahahahaha!
Rap Sheet Jan/Feb 1996
Rap Sheet Aug 1997
We’ve all seen the detective programs on TV where a suspect is in the interrogation room, the captain tells the two arresting detectives “I pulled this guy’s rap sheet and it is a mile long. He’s been committing crimes since he got out of juvenile hall.” At that point they all nod their heads knowing that this guy is going down and will get indicted and convicted when he appears before the judge.
In the legal world, the vast majority of us don’t have a rap sheet, but in the spiritual world we all have a rap sheet so long that if we had to appear before the throne of heaven, we would ALL definitely be in big trouble! Think about this! If you committed only ONE SIN each day of your life, by the time you were 21 your sin rap sheet would be over 7,000 lines long, by 40 over 15,000 infractions and by 65 almost 24,000 lines long. Then at the end of your life as today’s scripture describes, there will be a time when you will have to go to a heavenly court and stand before the Almighty Judge, and given your rap sheet, do you think you will be acquitted?!? Hardly!! God is loving, but he is also JUST and “…your sins shall find you out.” (Numbers 32:23)
But here is the GOOD NEWS! YOU CAN SETTLE OUT OF COURT! But did you know that you have to have a heavenly lawyer with connections that will wipe away your rap sheet?:
“If any man sin, we have an advocate (literally: Lawyer) with the Father, Jesus Christ the righteous.” - 1 John 2:1
Friend, do not come to the end of your life without receiving Christ as your personal Advocate & Saviour! He represented you before the court of heaven at the Cross at Calvary, wiped clean the slate of EVERYONE’s rap sheet and all you have to do is agree that you are a sinner and simple receive this free gift to forgive you of all your (rap sheet) sins and HE WILL.
God Bless Your Day, Jesus Loves Y-O-U!
@repboebert #heehaw #whitetrash #terrorist #capitolriots #rapsheet #laurenboebert #laurenboebertmustresign #laurenboebertkilledacop #14thamendment #trash @speakerpelosi @repadamschiff #filth #traitor https://www.instagram.com/p/CKPZuS_Fmm3/?igshid=hqdn37y751wu
Stream What's done in the Dark pt. 1,2&3 TODAY #Whatsdoneinthedark #Part1twoand3 #trilogy #Raps4thaRemnant #rapsheet #BlackHistory https://www.instagram.com/p/By1JwQcnGm-/?igshid=11htejdwnmafo