Rasionalisasi?
“Udah lama banget nih ngga jatuh cinta,” ujar temanku berseloroh, sembari memperbaiki letak kacamatanya. Pandangannya merasuki ke dinding yang memperlihatkan siluet kipas angin yang ringkih berputar.
“Butuh, emang?” aku menyambar, tanpa ikut-ikutan melihat ke arah dinding. Kulihat, lautan matanya kosong tanpa arus, apalagi sekadar riak-riak.
“Ya, gimana ya. Butuh lah fik, udah lama banget rasanya.” ia terkekeh.
Drama saling sesap sebatang rokok terulang kembali dalam rangkaian senyap yang sulit dibahasakan. Bahkan, hingga apinya menuju ujung dari filter, aku bahkan belum menemukan bahasa yang tepat untuk menjahit pembicaraan.
Jatuh cinta? Buat lelaki berumur dua puluh lima, nonsense. Tapi, memang, tanpa cinta... perhatian... atensi... semua hampa. Tapi rasionalisasinya, semua membutuhkan harga. Tak ada yang sia-sia. Mana ada yang mau memberi, tanpa setidaknya ada ikatan berupa seutas janji?
Lagipula, semakin dewasa maka hidup bukanlah lagi telenovela. Ada-ada saja keinginan yang dihancur-leburkan oleh logika. Stigmasisasi usia kadang benar-benar bahaya, seakan-akan tak pantas lagi untuk memiliki ingin seperti anak-anak yang bebas bercuap semaunya ; termasuk, soal jatuh cinta.
Cinta, bagaimana merawatnya? Sedangkan kami-kami ini adalah populasi yang dituntut oleh paradigma generasi ; kerja rodi seminggu lima hari, sedangkan dua hari tersisa dipakai untuk mereduksi segala lelah agar di penghujung minggu kembali bersiap lagi menyanjung senin yang begitu cepat kembali. Lain tidak, tidak ada waktu untuk bercumbu, menyediakan waktu, begitu mahal bila penuh dengan roman picisan sia-sia yang seharusnya sudah dilakukan sejak remaja.
Kenapa keinginan itu muncul sekarang? Apa benar, usia senja remaja juga seiring dengan terbitnya keinginan berkeluarga? Ah, punya apa kami ini. Gaji yang mutlak tersisa hanya seperlima ; sebagian besar habis menjadi ‘kotoran’ impak biaya makan yang habis kontan, juga uang transportasi yang raib dibakar bersama macetnya lalu lintas yang jahanam. Bermimpi membangun rumah saja pontang-panting, apalagi memikirkan untuk berkeluarga?
“anjing, anjing...” tetiba aku tertawa, sedangkan lamunan temanku buyar, lalu ia bangkit dengan terkaget-kaget.
“kunaon sia, euy?” sergahnya.
“Henteu.. haha, cuma tadi mikir selewat.”
Aku menghabiskan salah satu puntung terabstrak dalam minggu ini. Terhitung, sudah dua puluh puntung aku habiskan dari hari Senin. Segalanya terhitung, terasionalisasi. Biaya makan, biaya jalan, biaya lain-lain... segalanya harus kukontrol agar tak sengsara merajalela menjelang tanggal dua lima. Lalu, aku seperti dicambuk...
..”Eh, terasionalisasi, ya?”
Aku seperti dalam ‘aha’ momen. Segalanya terasionalisasi, kenapa? Apakah soal perasaan juga perlahan menjadi rasional? Kenapa jatuh cinta menjadi setakut itu? Apakah karena logika itu sudah jadi baku?
Aku mengajukan pertanyaan balik pada temanku, “... jangan-jangan, kita udah terlalu rasional, bro. Terlalu menimbang baik-buruknya. Mengukur untung-ruginya. Kalau dipikirin terus, mau gimana bakal jatuh cinta?”
Temanku terdiam mencari definisi. Sementara aku mengawang.
Mencoba jatuh cinta di umur ini, memang tidak bisa sebebas dulu. Entah. Rasionalisasi, mengacaukan pilinan DNA milik perasaan. Pada akhirnya, kita jadi takut bertaruh sekaligus berkorban, menjadi urung untuk mencoba menjadi yang pertama, malas untuk menjadi antusias, lalu enggan untuk kembali meresapi kemungkinan patah hati.
...
Lalu, akhirnya kami tenggelam dalam lamunan sendiri-sendiri. Berkali-kali.
Buah Batu, 9 Oktober
-miftahulfk













