Kebanyakan yg ada di kepala kita bukanlah fakta, hanya prasangka. Jarang menjadi kenyataan. Sialnya, kita seakan tak pernah lelah bergumul dengannya..

seen from Slovenia
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from China
seen from Germany
seen from Brazil

seen from India
seen from United States
seen from South Korea
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Luxembourg

seen from Saudi Arabia
seen from United States

seen from Belgium

seen from United States
seen from Netherlands
Kebanyakan yg ada di kepala kita bukanlah fakta, hanya prasangka. Jarang menjadi kenyataan. Sialnya, kita seakan tak pernah lelah bergumul dengannya..
Kenyataan
@gndrg
Rasa menyakitkan merupakan hasil kekhidmatan sebuah harapan yang biasa disebut sebagai kenyataan.
@padangboelan
Ya Tuhan, beri aku kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi situasi yang tak nyaman. Juga beri aku keikhlasan, untuk menerima segala kenyataan yang sering kali tak sesuai harapan.
@milaalkhansah
Kita seringkali dibuat lemah oleh kenyataan, bahwa ketulusan kita dalam mencintai, tidak pernah setengah-setengah.
@hardkryptoniteheart
Aku percaya, bahwa perjumpaan kita waktu itu bukan sebuah kebetulan; mengenalimu adalah sesuatu yang tak pernah terbayangkan, mencintaimu adalah suatu perasaan yang sedang kurahasiakan, dan memilikimu adalah angan yang sangat ingin kuperjuangkan; agar kelak menjadi kenyataan yang membahagiakan.
@calonmanusia
Semua ini nyata adanya, banyak cahaya di sekelilingku, bukan dalam mimpi, nyata, sangat nyata. Disaat aku gelap gulita, cahaya-cahaya terang itu muncul, cahaya dari Tuhanku, cahaya dari sinar fajar, cahaya dari rembulan. Di dalam rahim yang gelap gulita ini, akan kupeluk semua cahaya itu, hingga aku bertemu denganmu dengan senyum yang tak terkira bahagianya.
@manusiafajar
Nyata yang menyala itu begitu mengusik malam - malam, menusuk membunuh ketenangan, kian tajam menghabisi, menyayat tubuh, memisahkannya dengan keberanian.
Begitulah langkah tanpa cahaya harap dan percaya, kalah ia diterkam kejamnya 'nyata'. Teguhlah! Dan butalah pada menyerah, tetap disana jangan berbalik arah.
Pada harapan yang semestinya dekat pada kenyataan, Bersinarlah! bersinarlah agar terang jalan - jalan, Menyilaukan mata gelap mereka sebab memilih mengutuk keadaan. Bersinarlah! Dan luluh lantahkan pasukan keraguan, berdebam berjatuhan segala ketakutan.
@shofiyah-anisa
Sebetulnya kenyataan yang kita hadapi kini, segala peristiwa yang kerap kita jumpai adalah hasil permintaan kita di masa lalu kepada yang Maha segala Maha. Namun tak banyak dari kita yang menyadarinya. Maka darinya Tuhan kita memerintahkan untuk selalu berdo'a yang berisikan kebaikan, karena kebaikan tersebut pasti akan kembali kepada kita meskipun do'a yang di panjatkan teruntukkan orang lain. Serta selalulah berkata baik, karena bisa jadi suatu ketika hal itu pula akan berbuah nyata. Wallahu a'lam.
@penaalmujahidah
Anganku berkata bahwa aku tidak akan lagi menjatuhkan hati kepada siapa pun. Namun, siapa sangka bahwa kenyataannya tidaklah demikian. Sejak kamu hadir, pertahananku runtuh dibombardir. Aku kalah dan hatiku jatuh padamu. Akhirnya aku harus tunduk, padamu Tuan Sang Penakluk.
@afifaharyani09
Jadi anak kecil kayanya enak ya, Bisa main tanpa kendala Bercerita mimpi setinggi langit Tertawa saat menghayal menjadi dewasa
Namun pada kenyataannya, Menjadi dewasa tidak penuh dengan tertawa Dewasa memiliki batas Atas kendali hati nurani, logika dan ego.
Menjadi dewasa nyatanya, tidak semudah itu. Hebat sekali orangtua kita menghadapi segala hal dalam ruang lingkup orang dewasa:)
"kamu tidak bisa menyenangkan semua orang. Kamu lakukan usaha semaksimal mungkin untuk bertindak tapi keputusan akhir berkata lain, beberapa pihak tersakiti, yaa tidak apa-apa, kamu sudah berusaha"
— Nasihat salah satu teman seperjuangan
Seringnya kita dipertemukan dengan hal hal yang tidak kita sukai dan tidak membuat kita nyaman,agar kita bergerak dan berusaha belajar menerima segala kondisi. dan agar kamu mengerti didunia ini bukan hanya tentang yang membuat dirimu nyaman,bukan hanya soal yang kamu sukai tapi juga ada bagian dimana kamu harus bisa menerima dan mendewasa.
Bekerja
Saat masih anak-anak dan remaja, kita seringkali melontarkan pernyataan "mau cepat besar, mau cepat bisa kerja dan punya uang sendiri jadi bisa beli apapun yang diinginkan". Pernyataan itu terlontar dari kita yang masih polos dan belum tersentuh dengan kenyataan tentang kehidupan. Setelah benar-benar memasuki usia yang cukup untuk bekerja dan tersentuh kehidupan yang sesungguhnya, kita baru menyadari bahwa menjadi besar/dewasa itu bukanlah sesuatu yang selalu menyenangkan, termasuk dalam hal bekerja.
Nyatanya, tidak semua orang bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah dan sesuai ketika sudah dewasa. Dan lagi, tidak semua orang yang sudah bekerja bisa membeli apapun yang diinginkan tanpa banyak berpikir.
Namun seperti sudah menjadi pola kehidupan, ketika sudah dewasa akan ada banyak sekali tanggung jawab yang harus dijalani termasuk bekerja. Sayangnya, kebanyakan orang menganggap bekerja adalah kegiatan yang melelahkan karena harus dilakukan secara terus menerus untuk mempertahankannya. Meski begitu, banyak orang yang memilih untuk tetap bekerja karena sadar bahwa tanpa bekerja akan sulit sekali menjalani kehidupan dan memenuhi kebutuhan.
Tapi, apakah yang didapatkan dari bekerja hanya berupa uang dan rasa lelah? Tentunya tidak. Sebagai anak-anak dan remaja, mungkin yang kita pahami saat itu hanya "akan dapat uang kalau sudah bekerja". Kenyataannya, ketika kita bekerja ada banyak hal lain yang bisa kita dapatkan. Selain ilmu dan pengalaman baru yang hanya bisa didapatkan ketika sudah bekerja, kita akan mendapatkan teman dan kolega secara profesional serta wawasan yang semakin luas.
Kalau memang tujuan kita bekerja hanya untuk mendapatkan uang, tidak apa-apa. Itu tidak salah, tidak juga dilarang. Namun, baiknya kita juga memperhatikan "benefit" lainnya ketika bekerja karena mungkin saja berguna untuk diri sendiri dan orang lain di kemudian hari.
Karena besok akhir pekan, jangan lupa manjakan diri sendiri sesekali, ya! Biar angan-angan ketika anak-anak atau remaja-nya bisa terkabul hihihi.. Kalau yang tetap bekerja di akhir pekan, jangan lupa makan enak supaya tetap semangat!
Lambang Cinta
Bunga perlambang cinta adalah mawar merah. Bunga perlambang ketulusan cinta adalah mawar putih. Bunga perlambang cinta terdalam dan tak lekang waktu adalah edelweis. Edelweis adalah lambang dari cinta abadi.
Sedalam apapun cinta, jika takdir mengisyaratkan untuk tidak dapat bersama apalah daya. Dia yang telah berada di hati mungkin tak akan terganti. Berharap kenyataan akan segera menyadarkan yang seharusnya dan mengganti yang harusnya terganti. Walaupun kenyataan tak selalu beriringan dengan harapan, tapi bukan berarti dilanda keputusasaan.
#25 — Hangatnya Berkesadaran
Ada kalanya, upaya yang kita lakukan tak kunjung jelas ujungnya. Bertemu putaran masalah yang itu-itu saja, tak jarang melaju ke kondisi yang sukar solusi.
Seperti terjebak dalam labirin yang sebetulnya kita sedang melintasinya. Sekat demi sekat, berjalan bahkan berlari sekuat tenaga. Bertemu persimpangan jalan, memilih jalur mana yang layak dilalui, disertai rasa gusar, bingung, tak jarang dengan penuh ragu.
Ada yang dimulai dengan tergesa-gesa, penuh pertimbangan atau seruduk tanpa arah. Kadang terasa ngos-ngosan padahal baru saja dimulai, kadang terasuk sebuah rasa tanpa hasrat. Tidak ingin lagi, tidak suka atau mau mengakhiri saja. Tanpa alasan atau bingung kenapa dan ada apa. Sekedar tidak mengerti, entahlah.
Di saat itulah,
Kita perlu berhenti sejenak. Rehat atau istirahat. Mengosongkan pikiran yang semrawut, meredupkan perasaan yang labil sejadi-jadinya, serta meringankan beban fisik yang berat sana-sini.
Ya, belajar untuk melangkah secara perlahan.
Sesekali, itu perlu. Tidak ada yang tertinggal dan meninggalkan, hidup ini bukanlah kompetisi. Sempit sekali definisinya, perluaslah segera. Persetan dengan segala omongan orang, kita jadi kerdil jika dirasa, perkuat aksimu.
Selalu ingat,
Saat ini, detik ini. Kita adalah manusia yang penuh sifat kesementaraan.
Ada lelahnya, ada emosionalnya, ada sejuknya, dan itu sangatlah wajar.
Seringkali, bukan beban hidup atau masalahmu yang rumit.
Tetapi, kitalah yang mempersulitnya. Sadarkah?
Misalnya nih. Waktunya istirahat bukannya dimanfaatkan dengan baik, malah tetap sibuk katanya produktif padahal sedang terjerembab dalam perilaku toxic kepada diri sendiri.
Sebelum,
Terucap, bertekad, tiba-tiba membuat rencana radikal. Semua-semua berfokus dengan luar dirimu. Ya, liburan, nonton hiburan atau lainnya.
Ada baiknya, kita mulai mencoba fokus ke dalam dirimu.
Merefleksikan apa-apa yang telah menjadi sebuah langkah, keputusan, pilihan bahkan gulungan salah, keliru, dan gagal yang kini telah menempuh jalur rasa pada dirimu. Entah rasa yang mendorong untuk tidak mendekati orang, hubungan atau masalah tertentu.
Boleh jadi,
Kita tidak membutuhkan kegiatan hura-hura yang membuang materi dan waktu secara berlebihan, tetapi kegiatan sederhana yang memastikan dirimu nyaman dengan dirimu sendiri.
Tidak ada salahnya untuk menghibur diri melalui pernak-pernik di luar diri.
Lucu gak sih, boleh jadi sering dialami oleh kita, sudah membara dengan energi yang terakumulasi jegar-jeger ke dalam jiwa. Eh, ternyata saat menghadapi realitas, balik lagi, healing lagi, balik lagi. Begitu terus sampai tidak ada ujungnya, sayang sekali.
Pada simfoninya,
Titik bahagia diciptakan bukan dicari. Dengan pemahaman yang konsisten dan tahan banting, mulai merajut dari yang sedang dan kini bersama dengan dirimu, ya, fisikmu, jiwamu, perasaanmu dan pikiranmu. Satu hal penting yang seringkali kita teralihkan dengan komponen di luar diri, yaitu:
"Daya untuk setia merawat diri seutuhnya. Seni dalam berfokus dalam seapaadanya. Tanpa dan dengan adanya orang lain, dirimu tetap bisa bahagia, sejuk, tenang dan bertumbuh semestinya."
Kita ada karena ketiadaan, semua ada masanya, termasuk orang, hubungan serta beban berat yang ditopang selama hidupmu. Bertumbuhlah menjadi tangguh, beranikah?
Selamat bertumbuh bersama semesta!
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin
Dimotivasi dan Memotivasi
Langit tidak pernah gagal mengguncang kekaguman siapapun yang dapat melihatnya. Hamparan luas, biru bagai filosofi pemaknaan warna yang sesungguhnya. Kehadiran awan putih atau hitam juga mengandung senyum. Menghiasi warna hidup sesiapapun yang tengah memikirkan masa depan. Dengan kegiatan "sembari menengadahkan muka."
Langit sore, mendung. Jam kerja tidak pernah menabur hening. Jalan akan selalu ramai oleh berbagai macam profesi. Seperti orang kantoran yang tengah perjalanan menuju singgasananya, penjual kelontong yang mulai membuka palang untuk menerima berbagai jenis rezeki di hari itu ia mempersilahkan, termasuk sosok yang berdiri ditengah persimpangan. Beliau tidak kenal takut dengan ganasnya emosi manusia kala terjebak macet. Ia berdiri dengan keyakinan, tanpa modal jual beli barang melainkan berbekal niat untuk Tuhannya semata.
Kali ini aku telah mendengar mu mengeluh kembali tentang keruhnya arti nikmat kehidupan. Lagi, merasa paling bodoh dari sejumput orang yang kau tahu telah lari hingga ujung sana, yang mana sering engkau sebut dengan sukses. Kembali hidup membuatmu lebih membuka mata. Terjadi sedikit percakapan dalam benakmu. Hatimu, mulai kembali patuh.
Lihat. Berbagai macam profesi sudah lewat secara real didepan matamu. Bahkan detik ini. Mereka berasal dari berbagai macam latar belakang pendidikan, kecepatannya menyesuaikan dari umur yang jelas sangat terlihat pada raut mukanya. Begitu, bagaimana? Sudah paham?
Halo diriku. Aku tak akan mengatakan padamu kalau kamu harus begini begitu. Keluarlah. Masuklah ke kebiasaan yang kamu tak pernah sering rasakan itu sebelumnya. Temukan jawabannya dengan pemahaman. Rasakan sensasinya. Maka yang seperti itu akan lebih membuatmu bersyukur jika kamu selalu tidak sesering itu untuk mengingat.