“Kang mas, aku bingung sama kondisi di negeri timur jauh.”
“Timur jauh itu negeri yang katanya dulu pernah berjaya itu ya le?”
“Iya kang mas betul sekali, kalau boleh cerita di negeri tersebut setidaknya ada beberapa perkoro yang aku sendiri jadi merasa trenyuh. Yo, mbuh kui trenyuh lantaran aku pernah tinggal disana atau lantaran aku memang masih tinggal disana.”
“Kaping pisan, pamong masyarakat disana itu mas, kalau ada orang mau ngajak urun rembug warganya ga di sumangga-aken kang mas. Jadi, apa pun itu, yang terutamanya sih perihal bantuan, kudu lewat pamongnya dulu kang mas.”
“Lhokok ngono? Jadi untuk sekedar kongkow-kongkow gitu, ga dibolehin?”
“Iya kang mas. Utamanya sih kalau misal urun rembug nya perihal bantuan. Alasannya nanti malah menimbulkan benih-benih harapan warga, terus warga jadi mboten sabar, dan sering menuntut ke pamongnya kang mas.”
“Oh gini le. Mungkin itu bentuk rasa eneg warga terhadap janji-janji lima tahunan sekali, makanya mereka terbiasa berharap, mabur duwur eh dijatuhkan begitu saja tanpa jluntrungan.”
“Oh ngono toh.”
“Terus le, perkoro yang selanjutnya apa?”
“Perkara yang selanjutnya kang mas, mengko sesuk wae kang. Sekarang sudah waktunya ngaso.”