Remidi (Sebuah Refleksi)
Mari, kita ukir ulang jejak, selagi mentari masih sudi menyapa. Tancapkan keyakinan, gusur bayangan ragu yang membelenggu. Dekap erat impian, biar langkah menjadi sayap. Jatuh? Bangkitlah! Ulangi, ulangi, sebab keberanian adalah mencoba, bukan menanti.
Ketahuilah, duka ini hanyalah selingan nada di tengah simfoni. Setiap keluh kesah, adalah tempaan yang mengukir baja di jiwamu. Kebenaran sejati tersembunyi di balik keberanianmu melangkah. Jika ada kabut yang menyelimuti pemahaman, bertanyalah, biarkan cahaya menembus. Jika keresahan membebani dada, bicaralah, biarkan kata menjadi pelipur lara.
Kau adalah manusia, dan itu adalah hakmu. Rangkul penuh setiap gelombang emosi: Dari perihnya sedih hingga ledakan gembira, Dari derasnya tangis hingga bebasnya tawa, Dari bara amarah hingga dinginnya kecewa, Dan puncaknya, hening kelegaan yang membasuh jiwa.
Kau tak sendirian di medan hening ini. Lihatlah ke sekeliling, Setiap helai napas adalah kemewahan yang terabaikan. Setiap fajar yang menyingsing, adalah izin baru untuk memulai.
Jangan biarkan kemarin merampas hari ini. Jangan biarkan target membunuh proses. Sebab, seringkali keajaiban bukan pada tujuan, Melainkan pada pelajaran yang kau pungut di sepanjang perjalanan, Dan pada tangan yang kau genggam saat badai menerpa.
Namun, saat kau tersentak di titik nol, di ujung labirin. Saat cermin batin memantulkan keraguan akan daya juangmu. Saat kau mulai meraba-raba, mencari peta dari keputusan yang telah kau ambil.
Lalu, jiwa bertanya dalam sunyi: Arah mana yang kita tuju? Di persimpangan ini, hendak berlabuh di mana kita? Apa sesungguhnya bekal yang kita cari? Dan di penghujung usia, tumpukan harta ini, untuk arti apa?
Hentikan sebentar deru langkah. Duduklah di keheningan yang menanti. Sebab, semua tanya besar yang berteriak —Kita kemana? Mau kemana?— Jawabannya takkan pernah ada di keramaian dunia.
Ia tersimpan rapi, di bawah lapisan kebisingan ambisi, di balik cemas akan penilaian mata, dan di ujung penantian sebuah pengakuan hampa.
Jalanmu tak perlu persetujuan siapa-siapa. Makna tak perlu dicari dalam tumpukan yang kau kumpulkan, melainkan pada jejak yang kau tinggalkan, dan cahaya yang kau pancarkan.
Maka, hadapi titik buntu itu dengan senyum lega. Sambut keraguanmu, sebab ia adalah kompas tersembunyi. Ia menuntutmu kembali pada inti, pada alasan mengapa kau memulai dahulu.
Cinta adalah bekal. Damai adalah tujuan. Kehadiran adalah kekayaan sejati.
Teruslah ulangi, teruslah hidup. Biarkan hidupmu menjadi puisi paling jujur yang pernah ada.
















