Sebuah Resapan
Segala kadang menjadi jelas dengan sendirinya Tapi kadang, kita yang mesti membuka hal itu Dan kadang, segala bisa juga tersirat Dan hanya perkara kepekaan yang bisa membukanya
Ada seorang baru, yang entah benar adanya “Sang Pendatang”, sebutku
Berjubah besar bermata riang
Perkara hati yang salah dan benar,
Itu bukan ahliku
Bersenyum khusus mengarahku
Berbuat hal indah Menelisik (yang kadang tajam) kepada sang rasa Berharapan warna-warni nan indah, serasi Sang jubah besar bermata sendu, Mengiring kepada taman Yang berhamparan bebungaan Burung-burung, jejamuan dan segala surgawi sesaat.
Dan aku melihat setitik nila di ujung sana Menatapku dengan tajam, Bersenyum bengis bergigi taring Dan aku yakin, dia bisa tumbuh dengan cepat Secepat reaksi fusi panas Yang meluluhlantakkan dua kota di negeri mentari terbit
Usahaku untuk menghindar pun hampir sia-sia Karena tatapan lembut sang jubah besar
Memabukkanku, melembutkanku Dan hampir menelanjangiku Kujadikan puisi ini sebagain tameng, Agar rasa yang tetap sama, Terus memancar dalam sukma Tak terdistorsi oleh sekelebat yang kadang muncul tiba-tiba itu
Tapi di bawah itu semua, Aku bisa merasakan Resapan-resapan Yang masuk perlahan Dan melembutkan hati ini
Tentu suatu hal yang ganjil Jika aku ternyata terpaut tergerak Hanya dengan hal yang seperti ini
Tapi kini pun, Aku sedang menatapnya Membiarkan resapan itu berjalan Lebih jauh masuk ke dalam














