Sudah menjadi sebuah kebiasaan umum dalam kalangan bangsa bangsa di dunia ini, bahwa awal mula perhitungan tahun (kalender) ditengarai oleh sebuah kejadian yang tidak dapat dilupakan lintas zaman karena mengandung nilai nilai sejarah dan filosofi. Sebut saja dengan kalender masehi atau kalender matahari, merupakan sebuah awal mula perhitungan hari dari Peradaban Barat yang diawali oleh sebuah peristiwa yang dikenang seluruh dunia, peristiwa yang tertanggal 1 bulan 1 tahun ke 1 Masehi terjadi di tanah suci tiga agama samawi, Yerussalem atau sekarang kita sebut sebagai Palestina; kelahiran Isa putra Maryam.
Dari Masjidil Aqsa bergeser sedikit ke Selatan, sekitar enam abad setelah persitiwa tersebut. Peradaban Timur yang kala itu diwakili oleh bangsa Arab, yang siapapun tidak pernah menyangka bahwa dari rahim padang pasir itu terlahir seorang revolusioner yang merubah peradaban dunia. Tidak kurang dari 23 tahun kepemimpinannya, ketika 13 tahunnya digunakan untuk menciptakan kader kuat nan beriman seperti Abu Bakar, kemudian 10 tahun sisanya beliau gunakan untuk mencontohkan bagaimana menjadi suri tauladan terbaik dari bidang muamalah: ekonomi, politik, sosial, pendidikan, dll. Kerennya lagi, setelah beliau wafat ajaran yang beliau sampaikan masih berbekas, sampai pada puncaknya dua hegemoni besar kala itu dipaksa untuk merendah. Persia ditundukan tidak kurang dari 12 tahun setelahnya dan Romawi Timur (Byzantium) masih diberikan waktu bernafas sedikit lebih panjang sampai tahun 1453M . Maka tak heran, apabila pada masa Khalifah Umar Bin Khattab diadakan sebuah syuro’ atau musyawarah untuk melakukan pembahasan kapan akan dimulai perhitungan kalender Islam guna mengenang jasa Kanjeng Nabi Rasulullah SAW.
Sebuah titik balik, selalu dimulai dari sebuah persitiwa penting. Katakanlah di pertemuan tersebut ada tiga pilihan. Opsi yang pertama adalah memulai penghitungan hari dengan mengkiblat pada hari maulid (kelahiran) Kanjeng Nabi. Dibersamai dengan konsekuensi logis akan meniru kaum Quraisy (generasi sebelumnya) yang terlebih dahulu telah menetapkan tahun Gajah sebagai dimulainya perhitungan hari. Serta konsekuensi yang jauh lebih berat daripada sekedar gengsi atas nenek moyangnya; yaitu ketakutan akan ada dwi pemaknaan, karena kala itu ada satu cerita lagi yang membersamai kelahiran Rasulullah. Penyerangan Ka’bah oleh tentara gajah Raja Abrahah dari Kerajaan Habsyi. Opsi yang kedua adalah hari meninggalnya sang Rasul, hal ini ditolak karena menimbang bahwa kodrat Muhammad adalah manusia biasa. Meskipun ketiga pilihan sama sama bertepatan pada bulan Rabiul Awal, akhirnya diputuskanlah untuk memilih opsi yang ketiga sebagai titik awal perhitungan kalender Islam; Peristiwa Hijrahnya Kanjeng Nabi dari Mekah keYastrib yang kemudian diganti nama menjadi Madinatur-Rasul (kota rasul) atau Madinah.
Hijrah atau berpindah adalah persitiwa sarat makna. Bukanlah hanya sebuah cerita yang melengkapi sirah nabawiyah saja. Dalam hijrah Nabi dan pengikutnya terkandung selayang pandang yang kuat, cerita yang mengharukan, keimanan yang teguh, dan yang jelas kesepakatan visi bersama untuk mencapai jannah. Masih ingat dalam benak ini, bagaiman hijrah dimaknai sebagai mangkatnya seseorang dari cahaya dunia menuju cahaya akhirat, dari kekayaan dunia menuju kekayaan hakiki, dan dari kegelapan menuju cahaya illahi.
Seperti ketika Shuhaib, seorang keturunan romawi (rumi) kaya raya yang telah lama tinggal di Mekah. Waktu itu aqidah dan cintanya pada Allah dan Kanjeng Nabi menuntunnya untuk bernai berhijrah. Kemudian, berkatalah orang Mekah kepadanya, “Telah kaya engkau sekarang, setelah engkau mengumpulkan kekayaan di negeri kami, sekarang engkau hendak pindah, sombongnya engkau.”
Lalu Shuhaib menjawab, “Jika seluruh harta ini aku tinggalkan buat kalian untuk kalian bagi bagi, apakah kalian masih mengomel juga jika aku hijrah?”
“Tidak!” Jawab mereka dengan kasarnya, maka, berkatalah Shuhaib “Ambillah harta bendaku itu semuanya, biarlah badan tunggalku saja yang keluar, tetapi aku hijrah jangan halangi!”
Dengan tulus ikhlas Shuhaib melakukannya, tidak seperti Umar yang hijrahnya menjadi mudah karena beliau ditakuti, tetapi Shuhaib membuatnya mudah dengan caranya sendiri.
Ada pula cerita legendaris dari Bilal bin Rabah, budak hitam pekat keturunan Habsyi (orang sekarang memanggilnya dengan negro). Tuannya adalah seorang aristokrat Quraisy yaitu Umayyah bin Khalaf. Alkisah, Bilal mempertahankan hijrahnya dari penyembah berhala menjadi hanya menyembah kepada Allah. Sampai suatu hari, tahuidnya diketahui oleh majikannya. Umayyahpun murka besar, karena budak penyembah berhala yang dulunya menuruti setiap kemauan tuannya sekarang menjadi seorang pembangkang karena mempertahankan keislamannya. Ditelanjangilah Bilal dan dijemur di pasir panas padang pasir. Walaupun sudah hampir bercerai nyawa dengan badannya, namun Bilal tidak mau menyembah berhala lagi. Umayyah menambah level penyiksaannya dengan menempatkan sebuah batu besar di dadanya.
“Ahad... Ahad!” merupakan satu satunya kekuatan seorang Bilal bin Rabah
Sekiranya saat itu tidak datang Abu Bakar, mungkin cerita legendaris mengenai muadzin kesayangan Rasulullah tidak akan sampai ke telinga kita. Terlambat sedikit saja, tewaslah Bilal. Dimintanya Abu Bakar harta yang pantas untuk menebus budak Umayyah. Sang Tuannya berkata bahkan 10 dinarpun merupakan harga yang mahal untuk Bilal. Maka disetujui kesepakatan itu dan Abu Bakar menjawab, jika tadi engkau menawarkan 1000 dinar pun, pasti akan ku bayar sekarang juga.
Mush’ab bin Umair anak kaya raya yang dikatakan dulunya seorang yang manja, seorang pemuda tampan bertahtahkan emas. Ia adalah delegasi pertama Kanjeng Nabi, berhijrah ke Yastrib beberapa bulan lebih dulu untuk melakukan lobbying dan dakwah kepada kaum Anshar. Ketika terjadi peperangan Uhud, Mush’ab adalah pemegang panji panjinya. Saat tangan kanannya terpotong, dia memindahkannya ke tangan kiri, ketika tangan kirinya ikut putus, lalu dikepitnya bendera itu dengan sisa kedua tangannya, sampai ia jatuh tak bangun lagi. Jenazahnya syahid dan hendak dikuburkan, akan tetapi kain penutup badannya amat pendek. Kanjeng Nabi menangis terharu meliatnya, bagaimana seorang pemuda tampan kaya raya meninggal dalam keadaan seperti ini. Bahkan tidak ada benda untuk menutupi jenazahnya selain kaki dan kepalanya yang terbuka ditutup memakai rerumputan.
Sunggu dari sebuah peristiwa besar yang dikultuskan, muncullah sebuah kesepakatan bersama yang diakui dari kesepakatan pribadi masing masing orang. Terkadang seperti itulah Hijrah. Selalu banyak cerita, pengorbanan, dan makna dibelakangnya. Menjadi suatu hal yang tidak mengherankan, apabila satu kata tersebut dijadikan sebagai penanda dimulainya kalender Hijrah. Membuat setiap insan di dunia ini bisa memastikan rencana kehidupannya setiap harinya. Membuat setiap target, menapaki hari dengan parameter, dan menilaiya dengan indikator.
Dewasa ini kita menyebutnya sebagai resolusi tahun berjalan. Seorang tuan guru dari Padang yang namanya disingkat Hamka pernah berkata, “Jikalau tidak ada tulisan, maka tidak akan pernah ada ilmu di dunia ini”. Koleganya dalam berdialetika, Om Pram lain lagi memaknai sebuah tulisan, “Menulislah! Karena namamu akan abadi.”
Izinkanlah diriku mengabadikan diri...