Di sudut ruangan, beberapa menit lalu harapanku melambung tinggi. Aku optimis kau akan memilih tempat tepat di sebelahku. Sebagaimana yang direncanakan sebelumnya. Namun, aku keliru. Mereka yang lebih ceria lebih asyik sepertinya menjadi teman berbicara.
Kau berjalan santai seperti gayamu sehari-hari. Meletakkan leptop di atas meja tepat di dekat dua teman perempuanku yang usianya lebih muda. Kau mengambil posisi di tengah. Beruntung, aku masih bisa melihatmu dari jarak ideal. Meski di dalam sini tak nyaman sekali.
Rasanya tak adil. Seharusnya bukan di sana tempatmu berada. Apa semua tanda itu tak bisa kau kenali? Atau sengaja kau abaikan karena banyaknya orang-orang? Berbeda saat kita hanya berdua?
Salahku memang tak mendekatimu. Salahku tak berani bergabung dalam obrolan kalian. Tapi, jauh di dalam sini masih berharap kau lebih peka. Agar kau datang dengan sendirinya.
Tadi pagi, di lain ruang kau tampak berbeda. Kebetulan kedatangan kita hampir bersamaan. Senyum mengembang itu tak pelak membuatku senang. Terlebih saat langkahmu membelok ke tempatku. Hati ini kian berdebar.
"Gimana? Sudah beres semua?" tanyamu sambil mendekat. Mengulurkan telapak tangan.
Aku terdiam. Biasanya tak pernah seperti ini. Seumur-umur tak pernah kau berani melakukannya.
"Kurang satu laporan," jawabku sambil menjabat tanganmu.
"Kok bisa? Kemarin sore belum diprin?"
Aku mengangguk kecil untuk kemudian kembali melihat ke depan. Jantungku seperti bergeser dari posisi semula saat sebentar sekali tatapan kita bertemu.
"Hmmm. Ya udah sini aku bantu."
Aku menggeleng. Bagiku tidak perlu.
Tangan itu masih setia. Terasa sedikit penekanan di telapak tanganku. Kau menjabat dengan sepenuh hati. Seolah kita rekan sejati.
"Iya. Persiapan buat presentasi, aja."
Kau pun mengangguk seraya melepas jabat tangan pertama kita. "Oke. Aku langsung ke ruang seminar, ya."
Kembali langkahmu terayun meninggalkanku. Memperlihatkan cara berjalan yang sedikit membungkuk. Sungguh biasa. Tidak istimewa bahkan. Tapi aku … suka.
Seminar berlangsung. Seperti yang sudah-sudah, kau mampu membungkam para peserta kelas dengan sangat baik. Bahkan, aku yang sering mendampingimu menyiapkan banyak hal tetap saja terpukau. Riuh tepuk tangan pun terdengar.
"Baik, apa ada pertanyaan tentang penggunaan platform pendidikan ini?" tanyamu di tengah forum.
Beberapa peserta tampak saling melempar pandang. Ada yang mulai mencatat di bukunya. Ada juga yang lebih memilih memainkan ponsel. Masing-masing menampakan reaksi yang berbeda. Aku tersenyum kecil. Harusnya ada banyak pertanyaan. Aku pun ikut mengamati pergerakan mereka karena dengan cepat harus mencatat jika ada yang bertanya. Itu tugas yang kau berikan hari ini.
Satu pun tak ada yang berniat mengangkat tangan.
"Bu Rifa, mungkin bisa dibantu?" tanyamu lembut.
Aku pun mengangguk. Senang sekali mendapat kesempatan. Segera aku berdiri. Berjalan anggun ke arahmu. Sebaik mungkin aku melakukannya.
"Baik, Bapak, Ibu, ada yang mau ditanyakan?" tanyaku mengulang pertanyaanmu. Hanya saja kutambahkan senyum ramah. Kuyakinkan pada mereka tidak ada yang salah dari bertanya.
"Baik, Mbak Diyan?" tanyamu. Kau lebih cepat melihat pergerakan itu.
"Begini, Pak. Saya sudah coba donwload, tapi kok nggak bisa, ya. Apa memorinya penuh atau bagaimana?"
Kau tersenyum. Ya. Tersenyum seperti biasa dan untuk siapa saja.
"Coba saya lihat hpnya, ya," katamu sambil berjalan ke arah Dian. Perempuan yang tadi kau ajak bicara.
Memang begitu sikapmu. Baik pada siapa saja. Di acara seminar seperti ini kadang aku lupa diri. Kau adalah aktor yang harus memainkan peran dengan penuh penghayatan. Kau memang harus bersikap seperti itu. Meski di dalam sini tak rela saat setiap kali acara menyaksikannya.
"Makasih, ya, Pak. Sudah bisa ini."
"Makanya jangan penuh-penuh, Mbak. Dihapus dulu itu foto-fotonya," ujarmu. Mungkin kau sedang berusaha melucu.
Dian. Adik tingkatku waktu kuliah. Beda prodi tapi satu fakultas. Akan kutandai setiap ia mengikuti kelas. Aku tidak suka dia terlalu menunjukkan ketertarikan padamu.
Kau kembali mengambil alih panggung. Melanjutkan materi dengan tema lain. Mau dengan gaya apa pun, tetap sama. Selalu memesona. Dan sayangnya, dua perempuan lain di ruangan ini juga mengakui. Biasanya hanya aku saja karena kelas yang kau buka lebih banyak peserta laki-lakinya.
Seminar selesai. Kukira kau akan langsung keluar dari ruangan ini, namun kau masih menjawab beberapa pertanyaan lanjutan dari Dian dan temannya. Aku pun tak melibatkan diri.
"Tunggu di kantor, ya," ujarmu.
"Mbak Rifa sombong amat. Sini dulu, lah, gabung sama kita," seloroh Dian.
Aku tersenyum tipis sambil mengangkat tangan. Malas.
Ruang kerja terasa lebih sepi. Seorang diri aku menunggu. Mungkin Dian dan temannya menahanmu di sana. Dan kau, menanggapi seperti yang sudah-sudah juga. Akhirnya kusibukkan diri dengan merapikan beberapa berkas.
Pintu terbuka. Kau melangkah dengan penuh wibawa. Di mataku. Kau mendekati meja kerja yang menghadap langsung ke pintu.
"Aku balik dulu, ya," ujarmu lembut.
"Tumben?" tanyaku sambil melirik jam.
"Sama istri sama anak, lah, siapa lagi?" jawabmu dengan senyum menghias di bibir.
Pada tahap ini seharusnya aku sadar diri. Tak semestinya aku menempatkan perasaan itu padamu. Tadi saat dengan peserta kelas perempuan saja aku tak nyaman, sekarang ditambah dengan seseorang yang jelas tidak mungkin bisa kukalahkan.
"Pasti, Rifa. Kamu pulang naik motor?"
Aku mengangguk. Memang itu satu-satunya kendaraan yang bisa membawaku.
"Lain kali aku antar, ya."
Aku tersenyum getir. Untuk apa?
Ponselmu bergetar. Sebuah panggilan video tampak di layar. Dengan bangga kau menggeser tanda hijau. Membiarkan panggilan itu berlangsung.
"Iya, bentar, Dik," ujarmu.
"Nanti telat, Mas! Udah siang ini!"
"Bentar lagi. Ini kasihan Bu Rifa beresin sendirian."
"Oh sama Bu Rifa? Mana orangnya?"
Ya. Istrimu kerap begitu. Mengakrabkan diri dengan rekan-rekanmu termasuk aku.
Sedikit memaksakan diri, aku menyapa seseorang yang tidak mungkin kukalahkan tadi.
"Iya, Bu. Ini sudah mau pulang."
"Maaf ya, Bu Rifa. Dirusuhin suami saya terus, ya? Maaf nih, nggak bisa bantu buat hari ini."
Meski dalam hati kesal setengah mati. Jam kerja suaminya belum selesai. Harusnya masih bisa bersamaku sebentar lagi.
"Ya udah, Dik. Mas siap-siap dulu, ya. Tunggu di rumah."
Sapaan itu … yang kuinginkan. Sapaan itu … yang kuharapkan darimu. Tapi, jelas tidak mungkin. Aku sendiri tak yakin dengan apa yang kurasakan.
"Lain kali ngobrol panjangnya."
Kau tersenyum tipis. Kembali mengulurkan tangan. Buat apa?
"Aku balik dulu," ulangmu.
"Iya." Kali ini tak kuraih. Aku memilih berjalan meninggalkan ruangan.
Setelah mobilmu meninggalkan area kantor, aku kembali ke posisiku. Menyelesaikan beberapa laporan juga menyusun jadwalmu besok. Seperti ini terus setiap hari.
Setelahnya aku mengambil ponsel. Mengetuk nomormu. Memandangi foto profilmu. Berdua dan tampak mesra. Berbeda denganku yang setia menjadi bayang tanpa pernah mendapat pengakuan.
Kusingkirkan benda pipih itu seraya meluruskan punggung di sandaran kursi. Sejenak memejamkan mata. Satu atau dua jam ke depan kau akan merajut status WA. Memperlihatkan dengan pasti kebahagiaan keluarga kecilmu itu dan aku … tidak suka.