Sudah beberapa bulan aku menjauh dari isu-isu perempuan. Bukan karena aku tidak peduli lagi—justru karena terlalu peduli sampai rasanya setiap kata bisa membuka luka yang belum benar-benar mengering. Terakhir kali aku berani menulis atau membaca tentang perempuan adalah saat menyelesaikan tesis, dan setelah sebuah kejadian beberapa waktu lalu, aku merasa tidak punya tenaga untuk kembali ke ruang itu.
Bagi sebagian orang, isu perempuan mungkin hanya wacana. Tapi bagiku, ia selalu seperti teman lama: tempat pulang, tempat di mana aku bisa melihat diriku apa adanya. Karena itu, sempat ada rasa takut untuk kembali. Takut kalau aku menemukan bahwa aku tidak sekuat yang dulu. Takut kalau aku tidak lagi layak bicara soal kemandirian perempuan ketika diriku sendiri terasa rapuh.
Tapi menonton Pangku membuatku sadar bahwa ketakutan itu tidak sepenuhnya benar. Masih ada perih yang muncul, masih ada bagian yang menusuk, tapi film ini justru seperti tangan yang mengulurkan keberanian. Pelan, hangat, tanpa memaksa.
Reza Rahadian dan Felix K. Nesi menghadirkan perempuan—ibu tunggal, perempuan marjinal, perempuan yang sering tak terdengar—tanpa perlu mengumbar kesedihan. Tidak ada eksploitasi air mata. Tidak ada dramatisasi yang murahan. Yang ada justru sunyi: tatapan yang berat, gerak tubuh yang tertahan, ruangan sempit yang berbicara lebih banyak daripada dialog panjang. Semua itu terasa seperti cara film ini mengatakan, “Aku mendengarmu.”
Dan di tengah itu semua, aku merasa dirangkul. Bukan sebagai penonton, tapi sebagai seseorang yang pernah terluka oleh dunia yang sama.
Ternyata, kembali ke isu perempuan tidak membuatku runtuh seperti yang kutakutkan. Justru membuatku ingat bahwa kemenangan tidak selalu tampak seperti apa yang digambarkan banyak orang.
Kadang, kemenangan itu sesederhana keberanian untuk masuk kembali ke ruang yang pernah membuatmu berhenti.
















