Sepekan bersama Rajutan Puan, goresan tentang kisah Adiwarna saat bersamanya.
Tempo yang singkat saat aku mencoba meraih tangan kananmu.
Jarum jam terus berputar menghitung setiap detik dan menitnya. Berakhir hatiku menjerit dihantam oleh waktu, menyadarkan sang Puan, bahwa aku tidak akan pernah bisa meraih-nya.
Seminggu sebelumnya, aku belum mengenal Renjana. Hari dimana masih ada benang yang meruntai jauh, tangan lembut itu merajutnya dengan sangat lihai. Detik yang tidak pernah melupakannya, memori tangan itu yang selalu mengusap ujung rambutku. Wanita terhebat, yang biasa aku sebut ia Nenek.
Ingatan yang tidak akan pernah hilang meskipun dihantam ribuan ombak saat tangan itu melindungi tubuh mungilku dari ribuan jarum dan duri, aku masih mengingatnya. Saat aku ingin menyelam ke dalam air, tangannya mengangkat tubuhku agar tidak tenggelam. Sebelum aku mengenal Renjana.
Cakrawala yang menuntunku hingga bertemu dengan dirinya, jarum jam yang berputar seperti sedang berhenti. Tubuhku yang lemah, menatap mata biru elang yang mengulurkan tangannya untukku.
Musim terus berganti, setiap detik dan menit kaki ini melangkah tetapi masih jauh jua. Sang Tuan tersenyum, seolah dia membawa segudang harapan. Selama aku bernafas, belum pernah aku merasakan lukisan bahagia ini.
Kala itu, aku tidak mengerti dengan Renjana yang masih terus memutarkan perasaan ini. Bingung seperti sedang ingin pulang dan membawanya bersamaku.
Semua insan berkata takdir adalah takdir, tidak bisa mengukirnya kembali dengan yang baru. Tetapi, aku masih ingin terus meraih-nya seperti saat aku meraih tangan Nenek.
Benang itu kembali ditarik oleh sang Puan, mempertemukannya kembali bersama untaian yang lain.
Aku selalu bertanya, pada bulan dan bintang bahkan alam semesta. Apakah aku bisa menyatukan untaian benang, seperti saat Nenek memberikan baju hangat berwarna merah untuk melindungi tubuhku dari udara malam. Benang itu bisa bersatu karena keringat dan usaha milik Nenek.
Sepekan bersama Renjana, benang itu mulai bersatu. Sang Puan melepaskan tawa bahagia yang sudah lama ia menundanya.
Kusebut kebahagiaan, namun jua kehancuran. Sebab dia masih tidak bisa aku bawa pulang. Tubuhku tak berdaya, nafasku sudah tidak mengikuti tempo-nya dan berlarian sampai aku memohon untuk kembali.
Tangan kanan yang menjadi gunting itu dengan secepat kilat memutuskan setiap benang-nya. Mata biru pekat yang berubah menjadi hitam pekat yang menyilaukan, kegelapan Renjana sudah datang.
Suara gemuruh terdengar hingga membangunkan aksawala. Petir tidak hadir saat itu, lalu siapa yang membangunkannya?
Aksawala, dibangunkan oleh tangisan Sang Puan.
Renjana; biasa aku sebut dia dengan cinta yang sedang diharapkan, pergi dihapus oleh Senja. Kusebut dia Renjana Senja, ia menghancurkan Sepekan saat aku bersamanya. Kata Nenek, cinta itu segalanya, bahagia saat ketika insan dicintai dan mencintai.
Nyatanya, Cinta merusak benang yang terhubung dengan kebahagian, dan berubah menjadi kehancuran. Terputus dan tidak bisa disatukan kembali, seperti saat aku ingin menggenggam-nya.
Apakah ini yang disebut seluruh Insan sebagai Takdir?
Jika tangan lembut yang melindungi tubuh mungil milik diriku masih ada, aku mungkin sudah meminta tangan itu untuk memelukku. Menangis bersama angin malam.
Aku masih tidak mengerti, berharap semua ini terjawab oleh Senja yang berhasil menghapus memori saat keringat yang hampir menyatukan setiap benangnya. Benang yang akan bersatu mengukir kisah indah bersama dirinya, berakhir hampa.
Hari ini, saat Sepekan sudah pergi, barulah aku mengenal Renjana. Kebahagiaan, kehancuran, keindahan, kepahitan menjadi satu untuk mengukir sebuah seni pada canvas kehidupan. Cinta membawamu bahagia, tetapi dia juga membawamu mengelilingi lingkaran yang selalu berputar. Lingkaran itu akan berhenti pada jalan masing-masing, yang biasa disebut kehancuran dan kebahagiaan. Disitulah, kisahmu baru dimulai.
Nenek, jika aku tidak bisa meraih Renjana, izinkan aku untuk membuat benang itu bersatu menjadi rajutan yang indah.