Bucin, Volyn Oblast, Ukraine.
seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from China
seen from China
seen from China

seen from Singapore

seen from Germany

seen from Germany

seen from Australia
seen from Australia
seen from Yemen
seen from China

seen from Malaysia
seen from Saudi Arabia
seen from Germany

seen from Netherlands

seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from Germany
Bucin, Volyn Oblast, Ukraine.
Kamu, Kematian Kecilku.
Sejujurnya, aku tidak tahu harus menulis apa.
Aku tidak tahu ingin menulis apa. Kisah kita sudah selesai bertahun-tahun yang lalu, dan seharusnya saat ini, aku sudah berhasil melupakanmu. Seharusnya saat ini, aku sudah berhasil melepaskanmu. Aku tidak tahu apa yang membuatku masih belum berhasil melupakanmu, namun aku tahu bahwa kamu sudah tidak seharusnya menjadi bayangan yang aku gambarkan ketika aku sedang berpikir tentang cinta–bahagia–selamanya. Sebab, mengapa kamu masih menjadi orangnya? Kamu sudah menghancurkanku, dan aku pun sudah menghancurkanmu. Kisah kita memang singkat, namun kita telah melalui badai yang cukup hebat. Mengapa aku tak kunjung mampu melupakanmu?
Di hari-hari di mana aku mengingat wajahmu, aku juga mengingat sentuhan-sentuhan kecil kita. Aku mengingat ucapan-ucapan kecilmu yang manis, yang masih dengan sadar aku beri senyuman kala ia mendatangi malam-malamku yang sepi. Sungguh begitu bodoh, bukan? Ucapku di dalam hati penuh penyesalan. Namun aku tahu, aku akan mengulanginya lagi ketika wajahmu kembali mendatangiku. Sampai aku bosan. Sampai mataku memerah sebab ternyata air mataku tengah diam-diam menyeberangi pipiku. Mengapa aku tak kunjung mampu melupakanmu?
Di manakah letak memori-memori tentangmu mengendap? Adakah ia bersembunyi di balik ketiak gaun bunga-bunga merah muda yang pernah kau hadiahkan kepadaku—ataukah ia sebenarnya masih ingin bertengger di langit-langit kamarku layaknya hantu penghuni kamar yang tidak mau diusir? Ada banyak hantu di dalam hidupku, biasanya mereka bersembunyi di balik kepalaku. Beberapa tahun ke belakangan, aku menyadari kalau kamu telah menjadi salah satu dari mereka.
Sumpah demi Tuhan, dan demi mimpi-mimpi kita yang telah hancur, aku sungguh lelah. Aku sungguh amat lelah. Aku telah mencari-cari tangan-tangan baru. Aku telah mencari kehangatan-kehangatan baru. Belum ada satu pun dari mereka yang mampu memberiku kehangatan, sebagaimana kedua tanganmu pernah menyentuhku. Belum ada satu pun dari mereka yang mampu membasuh luka-lukaku, sebagaimana bibirmu mencium tangisan-tangisanku. Kamu memang berakhir menjadi lukaku yang lain, namun tak bisa kupungkiri bahwa kamu juga pernah menjadi tempat yang aman di mana aku memulangkan kesedihan-kesedihanku. Atau setidaknya, begitulah yang aku rasakan ketika aku masih bisa mendekap harum hoodie favoritmu.
Entah sudah berapa ember air mata yang kutumpahkan. Di titik ini, mereka seperti saksi-saksi hidupku yang memalukan, yang membuatku terus bertanya-tanya, sampai kapan aku harus mengemban berat wajahmu yang pudar. Aku seperti manusia yang tidak punya kendali atas dirinya sendiri, dan bagiku, itu sungguh lucu. Bagi teman-temanku, itu juga sungguh lucu. Sebab, aku dan teman-temanku selalu berpikir bahwa aku adalah seorang wonder woman. Bahkan, beberapa teman laki-lakiku mengira aku adalah perempuan yang tidak pernah menangis. Aku adalah teman perempuan mereka yang tangguh, yang selalu tahu bagaimana caranya menghadapi hari dengan senyum sumringah, dan candaan-candaanku yang gila. Sungguh lucu, bukan? Bagaimana bisa seorang perempuan tangguh menangis berember-ember hanya karena sebuah kisah cinta yang bodoh.
Akhir-akhir ini aku jadi menyadari kalau mungkin sebenarnya, akulah yang bodoh. Bukan kisah cinta kita, bukan juga dirimu yang pernah membuatku mengumpat-umpat sebab aku tidak percaya telah jatuh cinta pada seorang laki-laki sepertimu. Kamu yang jauh dari nilai standarku. Kamu yang jauh dari laki-laki impianku. Kalau aku bertanya pada mereka yang membaca tulisan ini, mereka pasti akan mengamini kalau akulah Si Bodoh itu. Namun, persetanlah dengan diriku yang bodoh. Sebab ibuku bilang, tidak ada perasaan yang salah. Ibuku bilang, perasaan tidak bisa disalahkan, meski kita menganggap keberadaannya terlalu hina untuk kita akui. Ibuku bilang, ia mengerti dan memaklumi kalau anak perempuannya pernah menaruh hati pada seseorang yang jauh dari bayangannya.
Ibuku memang halus dan sungguh menyayangiku. Kamu pun tahu itu. Kamu pun dulu sangat menyukai ibuku. Nah, sekarang, bagaimana aku harus mengakhiri tulisan ini? Aku menahan malu ketika menulis ini. Meskipun aku tahu, kemungkinan kecil kamu akan membaca tulisanku. Meskipun aku tahu, kemungkinan kecil orang-orang akan tahu, sosok siapa yang sedang aku tangisi. Ya, kamu. Sosok yang pernah amat aku sayangi. Lihat, sayang, betapa aku masih bertingkah sangat bodoh dan memalukan di depan banyak orang. Aku sudah berubah, namun juga tidak terlalu banyak berubah. Aku masih sering membuat orang-orang di sekitarku merasa kesulitan saat menghadapiku. Sebagaimana dulu kamu pernah bilang, kalau aku adalah kekasih yang terlalu overwhelming buatmu. Ya, kamu. Kematian kecilku.
Bagaimana aku harus mengakhiri tulisan ini? Bagaimana aku harus mengakhiri penderitaanku ini? Aku tidak pernah membayangkan kalau aku akan dibuat sebegitu menderitanya hanya karena seseorang. Kalau kamu mengira ini adalah sebuah pencapaian, maka kamu telah salah besar. Sebab, sampai hari ini, kamu tetaplah kematian kecilku. Kematian kecilku yang pernah membuatku susah payah mencari gairah hidupku kembali. Kematian kecilku yang pernah membuatku kehilangan kepercayaan pada semua laki-laki di sekitarku. Kematian kecilku yang pernah membuatku berpikir kalau sebaiknya, aku tidak usah merasakan indahnya jatuh cinta lagi.
Kamu, kematian kecilku. Aku masih bisa merasakan sentuhan-sentuhan kecilmu di setiap sudut tubuhku. Aku masih bisa mendengarkan bisikan-bisikan manismu di balik bantal, gulingku. Aku masih bisa mencecap kebohongan-kebohongan pahitmu merayap di dinding-dinding rumahku. Kamu, kematian kecilku, yang ingin kukubur dalam-dalam di pusaran kegelapanku. Yang ingin kulempar jauh-jauh ke jurang kehampaanku, dan yang—sumpah demi Tuhan—ingin kumusnahkan selamanya, sampai waktuku telah habis sepenuhnya.
━ Zalfaa Daughtervy
Saat gemerlapnya dunia selalu menuntutmu untuk menjadi yang paling sempurna, saat lautan kenyataan menghantammu dengan kuat atau saat dimana kau harus menukarkan materi, keringat, air mata dan ruang di hatimu untuk sebuah kepahitan di dunia.
---Aku mau jadi pria pertama, yang akan memberikanmu senyum termanis dan terhangat seraya mengelus kepalamu dan mengucapkan kalimat yang meyakinkanmu bahwa "aku ada dalam setiap keadaanmu, do'a dan dukunganku akan selalu menyertaimu".
Izinkan aku jadi penenang diantara riuhnya isi kepalamu dan menjadi rumah untukmu pulang, menjadi tempatmu untuk mengungkapkan dan merebahkan semua beban yang menuntutmu.
Pada apapun keadaanmu, aku akan jadi sorak paling bangga, yang menemanimu asalkan, dirimu bisa bersyukur dan menghargai usaha serta keberadaanku disini.
Gagal-berhasil, sedih-bahagia, jatuh-bangunmu, dan segala situasi yang terjadi, biarkan aku yang terus jadi orang pertama yang hadir dan berperan dalam setiap kondisimu.
Dunia ini keras dan tempatnya lelah, ketika kelak kita bersanding, biarkan aku yang berjuang untuk masa depan kita, yang kubutuhkan hanya dirimu yang menjadi "support system" ku yang terindah.
Semoga Allah senantiasa memudahkan jalan kita, karena aku akan selalu membutuhkan kamu, begitupun sebaliknya.---
"Kita tidak akan pernah siap kehilangan seseorang yang tersayang, untuk itu, ada sebagian kecil manusia memilih untuk meninggalkan dibanding ditinggalkan. Hanya saja pergi bukan jawaban. Karena seseorang yang tersayang akan selalu tertawan di salah satu bilik hatimu selamanya"
#08032022 #QuotesENH
Bucin Setelah Nikah is Normal?
Akan ada masa kemana - mana pengen ditemenin Tiap waktu pengen dibahagiakan Sedikit - sedikit minta bantuan dan lain sebagainya
Kita menjadi lebih manja dari sebelumnya Adalah hal wajar?
Namun perlahan kamu merasa gerak mu tidak secepat dahulu Wajar karena tanggung jawab bertambah?
Jika ingin pergi cepat, berangkatlah sendiri Jika ingin pergi jauh, berangkatlah bersama
Ungkapan rasa cinta tiada bosan rasanya satu sama lain mengutarakan Melalui perkataan maupun perbuatan
Namun kita perlu waspada, Sejenak refleksikan diri.. Apakah memang harus seperti ini?
Berulang kali sepasang suami isteri yang baru menikah mengungkapkan bahwa mereka saling cinta dan saling sayang. Namun ada cinta yang lebih utama diatas cinta kepada makhluk, yaitu kepada Sang Pencipta.
Rasanya jarang kita ungkapkan: Aku Cinta Allah Aku Cinta Islam Aku Cinta Rasulullah Aku Cinta Quran
Sering kita memohon ampun, bersyukur, dan berdo'a. Namun, seberapa sering kita mengungkapkan cinta kepada Sang Pencipta?
Sudah kah kita mencintai pasangan kita karena Allah? Sudah kah kita lebih sering mengungkapkan rasa cinta kita kepada Allah lewat perkataan maupun perbuatan yang lebih sering daripada ungkapan kita kepada makhluknya?
Astagfirullah.. Jagalah cinta kita kepada Allah lebih tinggi daripada cinta kita kepada yang lainnya.
Saksikanlah Aku MencintaiMu Ya Allah.. Aku MenyayangiMu Ya Allah.. Aku Rindu padaMu Ya Allah..
Bertolucci secondo il cinema (1976) - Robert De Niro getting his make up as Alfredo Berlinghieri
Aku sampai dititik dimana aku menyayangi seseorang sampai tidak tahu caranya untuk berhenti.
-bucinakut.
Ada yang nanya...
"gimana sih cara ngukur cinta?"
Gua jawab (kali aja bener ye kan)
"coba liat seberapa dia cemburu"
Xixi
@hananhanavi | 2021