Berawal dari Jogja
Sungguh ketika Allah berkehendak, manusia hanya mampu mengikutinya. Jogja menjadi awal bagiku dimana ku merasa dunia itu begitu luas. Tak hanya sebatas kuliah yang dibatasi tembok tinggi, bak penjara yang terkunci namun ada hal lain yang menjadi awal mimpiku mulai terwujud. Mengapa aku bilang begini? Ya, di kuliah ku yang pertama, di kota Semarang, di sebuah kampus yang aku hanya berpikiran sebagai mahasiswa yang kuliah, pulang, organisasi, dan tentunya main dengan teman. Namun ternyata ketika diizinkan Allah untuk menuntut ilmu lagi di Jogja, pemahaman itu berubah.
Aku merasa bahwa dunia di luar sana begitu luas, kemana aja aku selama ini? Contoh saja, sewaktu aku kerja sebelum kuliah lanjut, aku baru menemukan komunitas online yang terdiri dari berbagai macam golongan. Komunitas tersebut berkecimpung di dunia tulis - menulis. Selama di S1 tak pernah aku menemukannya, bahkan sekedar terpantik untuk mencarinya. Jadi kupikir saat itu aku mungkin masih pakai kacamata kuda.
Lanjut kuliah di Jogja, ada hal lain lagi yang membuka tabir pikiranku. Yakni, mahasiswa ya kerjaannya riset, nulis, dan publish lalu ikut conference dan tentunya jalan - jalan gratis. Menyenangkan bukan? hehe... Sungguh, dulu gak pernah kebayang kalau ternyata jadi mahasiswa bisa seperti itu. Sebenarnya bukan poin jalan - jalan gratisnya ya, itu hanya bonus. Tapi inti dari hal ini adalah bagaimana menjadi mahasiwa yang produktif terutama di ranah akademik. Bisa menghasilkan jurnal yang publish di kancah internasional itu adalah suatu prestasi nyata, ada bukti yang bisa dijadikan “hujjah” bahwa aku telah berkarya.
Dulu, aku hanya berpikiran kalau kuliah ya hanya untuk masuk kelas, ikut himpunan atau organisasi di kampus, dan ikut lomba - lomba yang berasal dari event organisasi. Mikirnya dulu itu, yang suka bikin paper hanya untuk mahasiswa berprestasi aja. Yang suka presentasi karya ilmiah hanya untuk jurnal kampus aja. Eh... ternyata semua itu hanyalah asumsi pikiranku semata. Diriku tersempitkan oleh cara pandang waktu itu.
Lalu semua terbuka di kala bergabung dengan tim riset di bidang fisika material. Semua dijelaskan step by step oleh seorang sensei yang membuka cara pandangku sebagai mahasiswa. Yang akhirnya aku bisa bepergian dengan biaya dari beasiswa dan dari lembaga riset di Thailand. Sungguh tak menyangka bahwa aku bisa sampai di titik itu.
Flash back....
Sebelum aku bekerja sebagai pengajar mapel fisika di SMK, aku berniat kuliah di Bandung, Berbekal surat rekomendasi dosen dan mencoba peruntungan beasiswa DIKTI. Ternyata aku termasuk nama - nama yang ditunda pengumumannya, karena mereka (pihak kampus) lebih menyetujui untuk masuk prodi pengajaran fisika, bukan fisika. Jelas, aku mundur. Karena DIKTI tidak menyediakan beasiswa di jurusan pengajaran fisika saat itu. Pun Ibuku lebih setuju supaya aku bekerja terlebih dahulu. Dari hal tersebut aku pun sebagai anak ya manut. Karena kurasa nasehat ibu adalah yang terbaik.
Lambat laun, setelah mengajar aku pun mencoba beasiswa lainnya, LPDP yang menjadi pilihanku. Ternyata saat itu gagal di bagian wawancara. Ketika aku pulang, ternyata memang ketika kutanya ibuku, beliau masih belum terlalu ridla anaknya kuliah lagi. Baiklah...
Hari berlanjut, sudah resign mengajar, beasiswa gagal, aku pun fokus ngelesin dan hanya bekerja dari rumah. Ya menulis, hasil dari bergabung dengan komunitas menulis. Lalu ibuku sakit selama 3 bulan dan akhirnya meninggal. Alhamdulillah, saat itu aku benar - benar fokus untuk di rumah merawat ibu. Jadi gak menyesal untuk menunda kuliah. Pesan terakhir padaku adalah supaya aku kuliah lanjut.
Dengan tekad bulat, aku mendaftar beasiswa LPDP lagi. Ini yang kedua kalinya, jika gagal maka aku tidak akan pernah bisa mendaftar lagi. Begitulah menurut peraturan saat itu. Saat itu pun aku sudah tidak “ngoyo” lagi untuk mendapatkannya, tapi tetap mempersiapkan yang terbaik. Bahkan lebih memasrahkan diri.
Alhamdulillah, saat pengumuman aku dinyatakan di terima untuk kuliah di Jogja.
MasyaAllah, saat itu aku nangis sendirian di kamar malam - malam, pengin banget ngasih tahu Ibuku. Mungkin inilah sebagai hadiah dari Allah buatku karena aku mencoba mengikuti apa kata ibu dan juga mungkin inilah doa ibu yang akhirnya terwujud. Ternyata ibu ingin ditemani sampai akhir hidupnya, sehingga aku tidak dibolehkan untuk kuliah terlebih dahulu. Allah Maha Besar.
Now...
Alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Berawal dari Jogja pikiranku semakin terbuka. Bagaimana menjadi seorang mahasiswa, bagaimana menjadi seorang anak. Dimana aku lebih fokus di dunia akademik, lebih menyayangi bapak sepeninggalan ibu. Jujur ada juga rasa sedih, karena ga bisa menemani bapak di rumah. Tapi tekad ini sudah bulat untuk lanjut kuliah saat itu, jadi hanya bisa menelpon bapak ketika kuliah.
Berawal dari Jogja pun aku bertemu dengan jodohku sekarang ini. Bukan, bukan karena jodohku orang jogja. Justru karena perantara ta’arufku adalah orang yang kukenal baik saat SMA di Purwokerto dan perihal taaruf tercetus ketika kami bertemu di Jogja.
Begitulah... Berawal dari Jogja bagiku ^^ Thankyou sudah membaca
Maaf yaa... ceritanya jadi macem - macem. hehe
writing with love
sna B-) <3












