does the food and behavior can change our genes?
You are what you eat!
Berawal dari menulis ini karena melihat sebuah tulisan singkat di website yang concern soal wanita (ibu, anak, kecantikan dan kesehatan). artikel tersebut mengulas bagaimana daily food culture di wilayah Blue Zone. Blue Zone adalah wilayah dimana masyarakatnya memiliki harapan hidup lebih panjang/ live longer than other zones. Di dunia ternyata ada enam wilayah yang termasuk ke wilayah Blue Zone diantaranya Okinawa – Japan, Nicoya – Costa Rica, Sardinia – Italia, Loma Linda – California, dan Ikaria – Yunani.
Nah tulisan ini akan mencoba mengulas apakah benar gen-gen kita dapat berubah susunannya karena pengaruh faktor makanan? apakah ada makanan tertentu yang dapat mengubah ekspresi dan susunan gen kita? artikel ini daku coba simpulkan dari berbagai sumber yak.
first impression ide menulis ini muncul dari judul video liputan yang diunggah di Channel Youtube TONIC. Sangat menarik mulai dari judul hingga perekamannya gaes.‘Can Your Diet Change Your Genes?’ liputan sesi ini dilakukan di Okinawa - Japan, salah satu wilayah yang masuk kategori Blue Zone.
oke, let’s start...
Apakah benar semua yang kita konsumsi akan menyebabkan DNA kita berubah dengan sendirinya? Bagaimana mekanisme perubahan tersebut? apa yang perlu kita perhatikan agar tetap sehat (dan untuk merencanakan agar kita tetap sehat) ?
Recent studies mencoba memaparkan alih-alih gen pada DNA berubah secara otomatis dengan sendirinya, hal ini lebih disebabkan perubahan jumlah gugus metil ( -CH3 ) pada DNA yang dipengaruhi oleh sinyal Epigenetics.
Sinyal-sinyal epigenetics tidak akan mengubah gen kita directly tetapi dapat mengubah bagaimana sel-sel tubuh menerjemahkan kode-kode sekuens DNA.
Sinyal epigenetic dapat melakukan turn off dan turn on pada ekspresi gen. Sinyal epigenetic dihasilkan dari sistem biologis dan lingkungan kita. Oleh karena itu diet/pola makan dan behavior/latihan fisik merupakan hal yang dapat mengubah sinyal-sinyal yang dikeluarkan oleh epigenetics. Epigenetics merupakan studi yang mempelajari bagaimana sinyal-sinyal dari sistem biologis yang kita miliki dan faktor lingkungan mengubah ekspresi gen.
Bagaimana kerja Epigenetics?
Epigenetics dapat mempengaruhi ekspresi gen dengan berbagai cara diantaranya Epigenetics yang mengubah jumlah gugus metil pada gen, modifikasi protein histon ada gene dan tipe epigenetics Non-coding RNA.
Epigenetics akan berkembang dimulai sejak sebelum kita dilahirkan atau dapat dikatakan dimulai pada saat pembentukan janin. DNA methylation bekerja dengan menambakan gugus CH3 pada DNA. Gugus metilasi ini berperan dalam menerjemahkan kode-kode DNA untuk perkembangan dan diferensiasi sel-sel. Jumlah gugus metil berkorelasi lurus dengan usia. Semakin muda usia seseorang semakin banyak gugus metil yang menempel/attach pada DNA seseorang. Maka dari itu kita sering mendengar pertumbuhan dan perkembangan anak atau remaja lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Bahkan orang dewasa/tua cenderung stuck. Contohnya pada proses terapi patah tulang. Anak-anak atau remaja yang mengalami fraktura/cedera patah tulang cenderung akan recovery lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Hal tersebut dapat diasosiasikan dengan cepatnya regenerasi sel pada usia muda (karena jumlah metil DNA lebih banyak) dibandingkan usia dewasa.
Transduksi sinyal epigenetics tidak permanen
Seperti yang telah dipaparkan diatas, bahkan epigenetics sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan behavior.
Apa yang kita makan, bahkan apa yang kita cemil sehari-hari benar-benar menjadi sesuatu yang dapat diturunkan ke anak bahkan hingga ke cucu kita kelak. Contohnya jika orang tua suka minum dan makan manis, masak dengan rasa asin yang cenderung lebih kuat, keturunan berikutnya akan mengadpatasi kebiasaan dan gaya hidup kita.
references : https://www.youtube.com/watch?v=D18P7duyZ6Q
https://www.cdc.gov/genomics/disease/epigenetics.htm
https://www.niehs.nih.gov/health/topics/science/epigenetics/index.cfm
continue...
















