Was listening to music randomly, then this song came, and I became overwhelmed with so many memories, so many feelings, ahh...
It was many moons ago. Saya masih SD, setiap sore didampingi Bapak menulis pikiran-pikiran dan pengalaman-pengalaman saya di komputer. Di meja selalu tersedia satu gelas besar jus yang dibuatkan Mama sebagai penyemangat.
Sesi menulis selalu ditemani musik. Berbagai jenis musik. Salah satunya koleksi lagu dari para musisi dalam negeri. Album Rio Febrian, khususnya lagu ini, menjadi salah satu yang paling sering diputar, sampai saya hafal tanpa berusaha menghafalkan. Entah kenapa. Saya bahkan tidak ingat, apakah saya atau Bapak yang memilih musik.
Ah, tapi apalah artinya tahu itu pilihan siapa. Sama sekali tidak penting. Yang penting adalah penyadaran bahwa bahkan dalam hal sesederhana mendengarkan sebuah lagu pun, ada jejak manusia-manusia nan tercinta dan penuh cinta dalam tapak kaki saya yang abadi dalam garis waktu.
Diriku kecil entah paham atau tidak dulu, makna dari lirik-lirik yang bahkan sampai kini masih bisa dilafalkan lidah, bahkan setelah bertahun lamanya tidak pernah didengarkan.
Childhood is special in that way. Kehangatan yang mendalam melekat pada hal sesederhana apapun.









