Ramadhan sudah di depan mata,dimana bulan yang 10 hari pertamanya ialah rahmat, pertengannya ampunan, sedangkan 10 hari terakhirnya pembebasan dari api neraka.
Kebiasaan masyarakat kita sebelum ramadhan yakni nyekar/ziarah kubur orang tua yang sudah meninggal.Namun dalam kondisi yang seperti ini dari pihak pemerintah memberi himbauan untuk tidak melaksanakan ziarah kubur dahulu di tahun ini. Akan tetapi mau bagaimana lagi, namanya sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun dari orang tua kita dulu, “klo mao romadhon minta maap ama orang tua khususnya enyak ama baba, saba in guru ngaji lu noh kepelin jia fulus, klo kga bawain apaan gituh, abis ntuh ke kuburan orang tua lu, mana kuburan udah ada ilalangnya, rumputnya pada tinggi-tinggi, koredin gidahh tong” Nahh sedikit susah untuk tidak melakukan ziarah tahunan ini. Untuk saya pribadi menanggapi himbauan itu biasa-biasa saja,namun bagi mereka yang hanya setaun sekali ziarah kubur yang merasa gelisah
Untuk yang ziarah harus selalu mengikuti protokol dari WHO, harus menggunakan masker dan tetap jaga jarak. Hari minggu kemarin saya ziarah, kondisi TPU seperti biasa hanya ada beberapa orang saja yang ziarah. Tetapi kemarin sore ketika saya menemani mpo saya ziarah, jalan di sekitar TPU saja sudah macet total, Saya pun parkir di pinggir jalan dan itu jauh dari pintu masuk TPU. Ternyata TPU sudah dipadati masyarakat sampai berdesakan, parkiran motor pun ramai sampai keluar gerbang. sepertinya masyarakat banyak yang tidak mengetahui himbauan dari pemerintah. Padahal di gerbang TPU sudah dipasang himbauan untuk tidak berdesakan ketika ziarah. Para petugas TPU pun sudah kewalahan mengatur masyarakat yang semakin sore jumlah masa yang datang semakin bertambah banyak dan ramai. Salah satu pihak yang diuntungkan dari adanya situasi ini yakni tukang bunga disekitar makam ekonominya sedikit terbantu, barang dagangannya pun sampai habis…
Numpang liwat para handai taulan:
Waya begini kudu nombok uli
Putu mayang make santen kelapa
Karna Ramadhan udh di dpn mata