"Matanya indah." Katamu ditengah langkah lalu. "Mungkin itu bukan mata, biar ku sebut ia celah surga, sebab disana segala nikmat ku dapat." Sanggahku dibalik pundakmu.
seen from Türkiye
seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from United States

seen from Algeria
seen from China

seen from United States

seen from Italy

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Algeria
seen from Canada
seen from United States
seen from China
"Matanya indah." Katamu ditengah langkah lalu. "Mungkin itu bukan mata, biar ku sebut ia celah surga, sebab disana segala nikmat ku dapat." Sanggahku dibalik pundakmu.
Jalan Memutar? Jalan Saja!
Untukmu yang melalui jalan memutar.
Saya paham perasaan itu. Sebuah rasa dengan sesal sebab tahu bahwa untuk mengetahui jalan yang seharusnya kita lalui ketika kita berada di tengah jalan yang telah kita pilih sekarang. Semacam perasaan tersesat dan ingin mengembalikan waktu yang telah dijudikan diawal melangkah. Kamu tidak sendiri, saya pernah merasakannya. Sering malah. Makannya saya paham.
Jelas, tidak sama. Cerita kita berbeda.
Jalanmu di sana dan jalan saya di sini. Tapi tetap, kita sama – sama saling berpindah dari sini ke sana kan? Pun dengan kesempatan memilih yang sejatinya setiap insan memilikinya. Saya berkesempatan memilih hal yang saya butuhkan. Kamu pun sejatinya berkesempatan memilih apa yang patut diperjuangkan. Dalam setiap keharusan yang diberikan, selalu ada iya dan tidak kan? Melakuan atau membiarkan. Menuruti atau meninggalkan.
“Bagaimana dengan orang sekitar kita yang menuntut ini itu, orangtua, keluarga, juga beberapa rekan dekat?!”
Hei, ini jalanmu bukan jalan mereka.
Kamu selalu yang lebih tau apapun yang kamu butuhkan. Orangtua, keluarga, juga beberapa rekan dekat hanya media untuk menyuarakan beberapa masukan, meski kadang kurang menyenangkan namun kamu tetap memiliki wewenang untuk menyaringnya menjadi alat membangun diri. Data – data yang barangkali akan kamu butuhkan dalam perjalanan yang akan kamu perjuangkan.
“Lantas bagaimana jika sudah sampai menjelang akhir dari perjalanan yang salah ini. Saya merasa salah jurusan.”
Saat kita bertemu dengan batu bebal, hanya ada dua pilihan. Menjadi air untuk si batu atau menjadikan si batu sebagai loncatan melanjutkan langkah. Kita sudah cukup lama menjadi air, maka saatnya menjadikan batu itu loncatan ke depan. Melangkahlah dengan senyum senang sebab kamu segera melunasi jalan itu. Ketersesatan yang telah kamu sadari dan lekan membenahi langkah selanjutnya dengan percaya diri.
Jika ini perkara pendidikan dan pekerjaan di masa mendatang, its ok Dear! Meski kebanyakan orang menempuh pendidikan untuk mencari pekerjaan, bagaimana jika kita membuatnya berbeda? :”) Menjadikan pendidikan semacam ladang ilmu untuk sebagian bekal menghadapi esok, mengambil ilmu sebanyak – banyaknya. Lantas pekerjaan itu semacam melakukan hal yang menyenangkan hati dengan tetap menyertakan konsep kebermanfaatan. Sederhanannya pendidikan itu serupa kampus / sekolah yang mempertemukan kita dengann ragam materi (yang terkadang sedikit berguna untuk kita :v ) juga mempertemukan kita dengan orang ragam karakter, komunitas dengan ragam visi, dan tentu di sanalah kita menemukan banyak kacamata. Toh faktanya banyak yang bekerja tidak selalu sesuai dengan jalur pendidikannya. Lulusan fakultas keguruan yang berwirausaha, lulusan fakultas pertanian yang bekerja di bank, lulusan fakultas teknis yang jadi penulis, lulusan fakultas ekonomi yang menjadi fotografer, juga lulusan lulusan lain yang membelok jauh dari ilmu yang ditimbanya di bangku pendidikan. Barangkali bukan sebab tidak sesuai passionnya, tapi itu memang jalannya. Terkadang untuk menjadi diri sendiri sepenuhnya, kita terpaksa menjadi orang lain dulu. :”) (Jujur ini sangat menyebalkan, tapi kenyataannya demikian. Sabar adalah kunci melaluinya.)
Melihat beberapa rekan yang nampak nyaman dengan jalannya. Pilihan juruan yang sesuai passion dan restu orangtua serta banyak dukungan. Beberapa yang jalannya lekas mencapai sukses. Beberapa yang nampak tak ada masalah. Beberapa yang selalu bahagia. Menggoda untuk iri memang, tapi sungguh menikmati ketersesatan ini pun bukan tanpa tujuan Tuhan. Rencana Allah untuk kita selalu lebih menakjubkan bukan? Nikmati saja, sebab jalan yang katanya tersesat ini adalah cara Ia memberikan banyak pandangan untuk kita. Kesabaran, perjuangan, berbaik sangka, kesyukuran, kesungguhan, komitmen, konsistensi, juga kepasrahan dan percaya penuh pada.Nya adalah bekal kita untuk menikmati jalan ini.
“Bagaimana dengan usia yang kian senja?”
Agak menyesak? Iya, tentu. Tapi setidaknya kita sudah merasakannya dan dari sana kita belajar melindungi anak cucu kita dari perasaan semacam yang kita rasakan ini. Membekali kepahitan dan ketertatihan kita sebagai kewaspadaan serta memudahkan anak cucu kita. Insya Allah.
“Jadi?”
Teruskanlah perjalananmu. Jalan saja. Berpindahlah. Terus bergerak. Meski selangkah yang penting kita tidak terseret arus penyesalan terlalu lama. Nikmati perpindahan ini. Oksigen dan atmosfer yang berubah – ubah adalah hikmah membawa berkah. Insya Allah.
Semangat menangani impianmu dengan penuh cinta meski dengan jalan yang berputar – putar. ^_^
Kasih Ibu
Kasih ibu kepada beta.
Tak terhingga sepanjang masa.
Hanya memberi tak harap kembali.
Bagai sang surya menyinari dunia.
Empat baris yang jika diresapi betul betul akan benar benar menganaksungaikan bukit pipi.
Lantas bagaimana sepasang bibir kecil itu melontarkan tanya atas kasih ibunya yang ia lupa melihatnya dimana? Mempertanyakan apakah ia putri yang benar dulu dikandungnya atau hanya putri yang tertukar serupa tontotan tipi yang jauh dari mutu itu?
Saya rasa, mencintai adalah naluri yang muncul alamiah dari seorang yang telah menjadi ibu. Rasa kasih, mengayomi, juga melindungi, adalah karunia Allah yang diberikan kepada setiap Ibu, tanpa kecuali.
Sekalipun perempuan itu, yang usianya hanya sembilan belas tahun diatas saya lebih sering memperlakukan saya sebagai wanita dibanding anaknya. Tapi saya paham dan percaya bahwa dia sangat mencintai saya.
Usapan sepertiga malamnya, pembebasannya untuk memilih kepercayaan, senyum sepulang saya dari Solo, juga tatap percayanya dalam lantunan cerita suka duka selama jarak nyata membentang, pun dengan suara valsetonya, omelan – omelannya, kalimat satirnya. Dia tetap mencintai saya.
Bahkan untuk perkara pamrih, terkadang mengingat air membuatku ragu akan ketulusan Surya menyinari Bumi. :v Menyangsikan ketulusan sang surya menyinari bumi. Sebab kerap air menguap ke udara dalam serta sinar surya, apakah itu bentuk balas budi Bumi? Entahlah. Tapi yang jelas, Ibu atau yang lebih sering saya panggil Mamak adalah orang yang hanya meminta saya bahagia. :”)
Berbahagialah.
Perempuan yang setiap hela nafasnya adalah doa.
Setiap langkahnya adalah pengabdian.
Setiap harinya adalah telinga tersabar di dunia.
Bagaimana dengan omelan – omelan pedasnya? Sindiran, serta beberapa perilaku tidak menyenangkan darinya? Masihkah itu disebut cinta? Masihkan itu menandakan saya anak kandungnya?
Tentu.
Itu adalah cara ia menempa saya. Pun denganmu jika pernah merasakannya. Betapa menjengkelkannya ketika seorang Ibu mengomel terhadap apapun yang kita lakukan. Bahkan kita selalu paham ada alasan dari setiap tindakan kita. Bahwa sejatinya apa yang kita kerjakan bukan suatu yang membawa kesia – siaan. Bahwa kita sedang mengikhtiarkan sesuatu.
Itu adalah bentuk percaya darinya. Percaya bahwa kita mampu melewati ini. Percaya bahwa kita mampu menangani luka dengan suka. Percaya bahwa kita akan tumbuh kuat dalam tempaannya.
Sering, seorang Ibu bertindak menjengkelkan, menampakan sisi yang seolah tidak manusiawi. Tapi jauh dilubuk hatinya ada cinta untuk kita, dalaaaaaam dan penuh kesungguhan. Barangkali di belakang sikapnya yang begitu tidak menyenangkan, ada tetes sesal yang ia curahkan hanya kepada Tuhan, yang tidak ingin dilihat oleh kita, yang dengan rapat ia sembunyikan. Untuk apa? Agar kita tidak melihat kelemahannya, sebab harus ada teladan akan kekuatan perempuan. Dan kita sedang membutuhkan teladan itu bukan? :”) Maka kuatlah. Tak perlu menyerah. Sebab perempuan itu pulalah yang selalu mendoakan kita untuk tidak mudah menyerah. :”)
Hanya ada dua pasal perkara kasih ibu.
Setiap Ibu pasti mencintai anaknya.
Jika Ibu terlihat tidak mencintai anaknya, maka kembali ke pasal satu.
Untukmu yang masih mencari kasih ibu, temukanlah ia di sajadah panjang yang setiap hari menampung sujud dan doanya.
Untukmu yang masih mencari kasih ibu, temukanlah ia di garis hitam bawah matanya yang setiap waktu terjaga mengawasi kita penuh percaya.
Untukmu yang masih mencari kasih ibu, temukanlah ia di hela nafas kala ia usai berteriak seakan marah, ada doa kekuatan padamu.
Untukmu yang masih mencari kasih ibu, temukanlah ia di telapak kasarnya yang tak henti mengikhtiarkan kemudahan langkahmu.
Untukmu yang masih mencari kasih ibu, temukanlah ia di bebalnya telinga pada duniamu, sebab ia percaya kamu mampu.
Untukmu yang masih mencari kasih ibu, temukanlah ia di asap dapur, dasar lantai, anak kunci, selembar jendela, sebalik pintu, juga kibar tirai rumah. Merekalah saksi bisu ungkapan cinta yang kadang sulit kita cerna.
Untukmu yang masih mencari kasih ibu, tak perlu ragu. Peluklah ia sekarang! Maka diawal kekakuannya menerima peluk, ada hangat yang sungguh sangat ia rindukan dari kita. Biarkan ia mencarikan pencarian kita. Sebab dari semua kata yang ingin dijelaskan, hanya perlu satu tindakan untuk mengungkapkannya. :”)
Serius ituuu…………
#Serius itu yang ke rumah, bukan yang bikin lelah. #Serius itu yang optimis mengikhtiarkan, bukan yang pesimis dan sibuk ngelist. #Serius itu yang bilang sayangnya bareng keluarga besar, bukan yang update citra di sosial media dan mengumbar kabar. #Serius itu yang memintamu kepada orangtua, bukan pas kalian lagi berdua. #Serius itu yang mengajakmu menyatu bukan yang membuatmu sibuk merindu. #Serius itu yang menguatkan untuk kebaikan bukan yang membuatmu berpangku tangan. #Serius itu bukan yang merubahmu jadi cinderella tapi yang membuatmu penuh daya untk jadi perempuan lebih berguna untk sesama. #Serius itu #kita, bukan saya atau kamu.
Solo,25/10/2014
-R-
Di Luar Sana
Di luar sana akan ada bnyak perempuan yg lebih cantik daripada saya,maka yg saya butuhkan adalah lelaki yg tidak memedulikan hal itu.
Di luar sana, akan ada bnyak perempuan yg lebih kaya dripada saya, maka yg saya btuhkan adalah lelaki yg tidak memedulikan hal itu.
Di luar sana, akan ada bnyak perempuan yg lebih cerdas daripada saya, maka yg saya btuhkan adalalah lelaki yg tidak memedulikan hal itu.
Adalah lelaki yang sedia membersamai saya dalam langkah perbaikan. :')
Klaten, 7 Maret 2015