Saat Aku Terjatuh Akibat Senyumanmu
Mampukah aku mengungkapkanya? Bagiku. Mudah. Sukar. Sudahlah biarkan ini menjadi kenyataan.
Jika ada temanmu yang sedang meneliti tentang dampak keresahan orang yang jatuh cinta aku ingin mendaftarkan diriku. Dengan suka rela. Jika ia membatasi dampak jatuh cinta terhadap meningkatnya produktifitas si pelaku maka ia akan bertemu dengan orang yang tepat. Karena aku kira aku adalah orang tersebut. Yang sedang dilanda kegusaran akibat rasa suka pada seseorang. Karena tidak mampu mengungkapkannya sebagai akibat dari beberapa keterbatasan maka aku lebih memilih untuk menyalurkannya pada blog ini. Terkaang juga terhadap media lainnya. Intinya satu. Aku bingung. Kalut. Tidak tahu harus bagaimana. Makin bertanya makin tidak menemukan jawaban. Aku ingin mencari orang pertama yang mengemukakan malu bertanya sesat di jalan. Karena nyatanya semakin aku bertanya aku merasa semakin tersesat. Ingin pulang namun aku menyukai tersesat ini. Rasanya telah masuk ke dalam labirin tiada ujung. Di dindingnya menempel penyejuk udara. Lantainya terbuat dari marmer terindah yang bisa dibikin manusia. Atapnya berhias lukisan karya Picasso. Sepanjang jalan mengalun indah four season karya Vivaldi dari Italy. Kadang juga diselingi musik - musik gubahan Mozart. Indah dan membelenggu. Aku tak ingin keluar.
Damai dan tenang. Sejuk dan hangat. Aromanya mungkin tak seharum kasturi atau parfum bulgari maupun kenzo. Tapi aku tetap menyukainya. Ini semacam perasaan yang tidak kurang dan tidak berlebihan. Pas. Terukur dengan tepat. Takaran yang sesuai. Kini aku sudah tak tahu lagi berapa lama aku mengembara di dalamnya. Aku begitu menikmati setiap buaiannya. Terlelap dalam sebuah tempat yang begitu menyenangkan.
Kau tahu kabarku? Mungkin seperti inilah yang disebut jatuh hati. Rasanya tidak ada manusia lain yang lebih menyenangkan daripada orang itu. Tapi mari kita telisik lebih jauh. Tidak bijak rasanya jika aku senantiasa terjebak dalam keadaan seperti ini. Mencoba bermimpi boleh, menurutku. Namun jangan lupa kita masih menapaki tanah. Aku berniat mengutarakan apa - apa yang sebenarnya aku rasakan terhadapnya. Namun urung. Ada beberapa penghalang kau tahu. Ini tidak semudah itu. Idealnya adalah 4 bulan kata temanku. Namun hati manusia siapa yang tahu. Kini aku mengerti kenapa kita harus memperhitungkan setiap derap langkah yang kita ambil. Aksi reaksi. Dalam setiap keputusan yang kita buat akan ada konsekuensi terhadapnya. Seperti makan. Setelahnya kita harus membayar. Jika tidak ada individu lain yang akan terdampak maka aku akan merasa biasa saja. Kini lain keadaannya. Setiap manusia yang berpotesi akan terkena imbas dari penyampaian perasaan harus dikenal dengan baik. Pun lingkungan masing - masing pihak. Rasanya tidak adil dan merepotkan. Perjuangan mana yang tidak beresiko bung? Setiap perjuangan tentu membutuhkan mahar yang harus dibayarkan. Opportunity cost.
Termenung dan terbujur kaku. Aku duduk diam. Hanya jemari yang bergerak tangkas menari di atas keyboard. Saatnya membuat keputusan. Ambil atau tidak. Dekati atau jauhi. Genggam atau lepaskan. Sampaikan atau lupakan. Sama sekali. Tidak mudah. Dan membuat gelisah.
Surakarta, 29 Mei 2016








