Swallow dan Wakai yang Berbeda
5 miliar lebih manusia mendiami bumi kecil kita ini. Saya kurang paham apakah angka itu benar atau tidak adanya. Namun saya yakin bahwa penduduk bumi ini cukup banyak.
Dari sekian banyak penduduk bumi, sebagian kecil saya kenal mereka. Ada Yogi, Zahra, Arum, Addin, dan masih ada lagi yang rasanya saya malas menyebutnya disini. Kalau ada yang ingin tahu boleh lah kapan - kapan pinjam hp saya dan baca saja di aplikasi kontak.
Sedikit manusia yang saya kenal. Apabila dibandingkan dengan jumlah total penduduk bumi tentu saja kenalan saya tidak ada apa - apanya. Bisa jadi kurang dari 0,00001% atau entah seberapa. Yang jelas saya enggan menghitungnya. Lebih baik saya menghitung dosa - dosa yang sudah saya perbuat. Itu lebih dan jauh lebih bermanfaat mungkin.
Saya menyukai beberapa manusia. Dalam hal ini saya menympan perasaan terhadap mereka. Lebih mendetail lagi saya kira ini adalah rasa suka antar lawan jenis yang lazim disebut masyarakat Indonesia dengan cinta. Ya atau sejenisnya. Terserah saja. Uniknya, tak satu pun dari yang saya sukai itu berhasil saya ajak makan siang bersama atau disebut kencan oleh kawula muda. Ya atau sejenisnya. Terserah saja. Demikianlah kehidupan asmara saya. Menyedihkan dan tiada kenangan apa - apa disana.
Kandasnya harapan saya dalam meraih hati si pujaan membuat saya belajar bagaimana cara membunuh perasaan itu. Saya akan mencari pembenaran sebagai alasan selogis mungkin mengapa saya tidak dapat bersama gadis sial tersebut. Alasannya bisa karena tingkat ekonomi yang teramat jauh berbeda. Bisa juga karena saya sadar saya bukanlah pria tampan yang akan dilirik gadis. Bisa juga dengan alasan kapasitas otak yang sangat membuat saya minder. Saya bukanlah manusia bermodal banyak. Mengajak gadis makan berarti adalah mengajak gadis untuk makan bersama dengan uang sendiri - sendiri. Ada pun tampang saya memang tidak menarik bagi gadis cantik. Terlebih kapasitas otak saya tidak akan mampu diajak berbicara mengenai hal - hal yang berat seperti politik dan ekonomi.
Terkadang saya akan mengutuki diri saya sendiri mengapa tertarik dengan seseorang yang nyata - nyata berlevel jauh lebih tinggi. Sedihnya hal itulah yang kerap saya alami. Namun sebagaimana yang saya utarakan tadi. Saya telah terlatih untuk membunuh perasaan sejenis ini. Misalnya saya naksir seorang gadis pengguna wakai sebagai alas kaki. Di situ saya akan melirik ke swallow di bawah kaki saya dan kemudian tersenyum. Saya tidak akan pantas berjalan beriringan dengan si pemakai wakai tadi.
Jawa Tengah, 9 Februari 2018











