Tentang IBU : Ruang Kosong
Kalau dipikir-pikir Aku dan Adik-Adikku tidak memiliki bonding yang kuat dengan Ibu. Karena sejak kecil kami sudah sering ditinggal merantau. Bahkan di saat Adikku baru berusia 3 tahun, yang seharusnya sangat butuh perhatian dari seorang Ibu.
Hal yang wajar jika dibanding Ibu, Aku lebih dekat dengan Adik-Adikku. Wajar jika mereka lebih nyaman ketika ber-cerita/curhat dengan-ku. Wajar jika mereka lebih memilih minta pendapatku daripada pendapat Ibu. Bahkan tak jarang juga aku menjadi perantara, ketika Ibu ingin menyampaikan sesuatu kepada mereka.
Seperti ada ruang kosong antara Kami dan Ibu. Ruang Kosong yang tidak belum terisi. Ya. Kami. Adalah Anak-Anak yang tidak cukup mendapat dekapan dari seorang Ibu.
Tidak. Aku tidak ingin menyalahkan Ibu terkait hal ini. Ibuku punya alasan kenapa meninggalkan kami sejak kecil, ia hanya ingin mengusahakan yang terbaik untuk Kehidupan Anak-Anaknya.
Ya. Seorang Ibu yang terpaksa meninggalkan Anaknya yang masih balita untuk mengikhtiarkan kehidupan yang layak. Seorang Ibu yang harus Ikhlas kehilangan waktu bersama Anak-Anaknya, hanya demi kebahagiaan mereka. Seorang Ibu yang begitu Kuat dan Sabar menghadapi pahit getir kehidupan yang menimpanya. Ialah, seorang Ibu yang sangat Hebat untuk Ketiga Anaknya.
Beruntung setelah lulus kuliah Aku diberi kesempatan oleh Allah untuk tinggal bersama Ibu. Sehingga Kami bisa lebih mengenal satu sama lain. Dan, Ruang Kosong itu perlahan mulai terisi.
Dua Setengah Tahun belajar kembali mengenali Ibu, tentu tidak selalu berjalan dengan mulus. Kami kerap berselisih pendapat, bahkan untuk hal-hal sepele seperti : cara menjemur pakaian (red: pakaian-nya harus menghadap satu arah, kanan semua atau kiri semua). Dari sini aku tahu kalau Ibuku seorang OCD (Obsessive-Compulsive Disorder).
Terkait makanan, juga sering menimbulkan perdebatan, semacam Aku terlalu Indomie untuk Ibuku yang terlalu Mie Sedaap. Ibu suka lauk yang digoreng sampai kering coklat (well done) sedangkan aku tidak (medium/medium well). Ibu suka taste yang kuat, sedang aku tidak. Yang menurut Ibu sudah pas rasanya, menurutku terlalu asin atau manis.
Tapi, dari sini Aku banyak belajar. Belajar sabar, tentunya dan belajar menerima perbedaan serta menyeimbangkan perbedaan itu.
Dan tentu, Aku yang paling beruntung diantara kedua Adikku, karena memiliki waktu lebih lama bersama Ibu. Jadi, wajar jika dibanding mereka Aku yang paling dekat dengan Ibu.
Ibu adalah tipe orang yang tidak mau merepotkan Anaknya. Merasa sungkan ketika meminta sesuatu kepada Anaknya. Bahkan disaat ada kebutuhan yang mengharuskan aku mengeluarkan tabungan, Ibu selalu minta maaf:
"Maaf ya, tabunganmu berkurang."
Momen yang sangat membuatku haru adalah ketika lebaran kemarin Ibu harus off kerja karena merawat nenek pasca operasi. Akhirnya arisan-arisan Ibu, Aku yang membayar, termasuk biaya hidup Ibu di Kampung. Beberapa bulan setelahnya, ketika telepon Ibu bilang:
"engko nek wes oleh arisan e, duit e kanggo awakmu ae, wong sing nyetori yo awakmu, enthek duitmu nggo kebutuhan e buk e karo cah-cah."
Seketika dada langsung sesak, refleks kujauhkan telepon biar Ibu tak mendengar suara sesenggukan.
"Ya Allah, Buk. Bahkan pemberianku itu tidak akan pernah sebanding dengan perjuanganmu selama ini membesarkanku dan Adik-Adik."
Jika ingin mendeskripsikan Tentang Ibu. Rasanya tidak akan pernah selesai dan cukup dalam se buah tulisan.
Barakallah fii Umrik, Buk.
Terima kasih untuk seluruh kekuatan, kesabaran dan pengorbanan selama ini. Semoga senantiasa diberi kesehatan, kebahagian, dan perlindungan oleh Allah SWT. Serta diberi keberkahan di sisa umurmu. Aamiin, Aamiin yaa Rabbal'alaamiin.
Tentang IBU | @desitaaulia1112
Surabaya, 10 Januari 2022